Pasar Ngrancah, Jejak Sejarah Pasar Pemerintah di Gunungkidul

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pasar Ngrancah, sebuah pasar yang menjadi bagian dari pengelolaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gunungkidul, memiliki daya tarik sejarah yang tak ternilai. Terletak di Kemantren Pasar Rongkop, sebuah wilayah yang dikelola oleh seorang mantri pasar, Pasar Ngrancah menjadi pusat kegiatan perdagangan yang menarik perhatian masyarakat sekitarnya. Menurut Supangadi (58 tahun) warga sekitar, pasar ini memiliki akar sejarah yang melibatkan masa kolonial Belanda. Dibangun pada masa tersebut, Pasar Ngrancah awalnya hanya terdiri dari dua los besi, yaitu Los B1 dan B2. Pasar ini bukan hanya tempat biasa untuk berjualan, namun juga menjadi pusat aktivitas ekonomi pada hari pasaran Kliwon dan Pahing. Supangadi mengungkapkan bahwa pada masa lalu, aktivitas pasar dimulai dari jam 6 pagi hingga jam 12 siang. Namun, seiring berjalannya waktu, pola jam pasaran berubah menjadi jam 3 pagi hingga jam 8 pagi. Fenomena ini mencerminkan perubahan kebiasaan masyarakat dan dinamika ekonomi di sekitar Pasar Ngrancah. Seiring dengan pertumbuhan dan keberlanjutan pasar, banyak perubahan terjadi. Los pasar bertambah jumlahnya karena Pasar Ngrancah tumbuh besar dan ramai. Di sekeliling pasar, berdiri banyak kios dari bahan kayu, memberikan nuansa tradisional dan kentalnya aroma pasar tradisional yang ramai. Wartiyem (54 tahun), menambahkan bahwa pada tahun 2012, pasar ini mengalami renovasi. Proses renovasi melibatkan penggantian bagian wuwung, genteng, usuk dan reng kayu, serta penambahan lisplang dan keramik. Renovasi ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mempertahankan keberlanjutan dan kenyamanan pasar. Namun, seperti yang diungkapkan oleh Supangadi, Pasar Ngrancah yang dulu sangat ramai mulai mengalami sepi setelah tahun 2000. Pada masa tersebut, pasar ini menjadi sangat sibuk karena adanya terminal bus di sebelah barat pasar. Banyak aktivitas penduduk yang ingin melakukan perjalanan dengan bus, membuat Pasar Ngrancah menjadi tujuan utama. Sayangnya, setelah tahun 2000, Pasar Ngrancah mengalami perubahan dramatis. Kesibukan pasar menghilang dan pasar ini mulai sepi hingga saat ini. Faktor-faktor perubahan ini bisa saja disebabkan oleh perkembangan infrastruktur transportasi dan perubahan kebiasaan masyarakat. Menariknya, Pasar Ngrancah tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah. Dianggap sebagai peninggalan kolonial Belanda, pasar ini telah melewati berbagai fase perkembangan, dari dua los besi awal hingga mengalami renovasi pada tahun 2012. Pasar Ngrancah bukan hanya menjadi tempat transaksi jual-beli, tetapi juga menjadi bagian hidup masyarakat di sekitarnya. Dengan perubahan yang dialaminya, pasar ini menghadirkan nuansa nostalgia dan mengingatkan kita pada sejarah panjang perdagangan di Gunungkidul. Meski sepi saat ini, Pasar Ngrancah tetap menjadi salah satu penanda kaya akan cerita dan jejak sejarah di Kabupaten Gunungkidul. (mif) Baca juga :

Read More

Imam Al Ghazali Menyampaikan Sesuatu Yang Sangat Dahsyat

Surabaya — 1miliarsantri.net : Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menyampaikan sesuatu yang sangat dahsyat sehingga sesuatu itu bobot atau beratnya melebihi tujuh lapis langit atau tujuh lapis bumi. Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali mengutip beberapa sabda Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW pernah berpesan kepada Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, “Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya tiap-tiap amal kebaikan yang kalian kerjakan akan ditimbang kelak di hari kebangkitan (hari kiamat/akhirat), kecuali kalimat La ilaha illallah tidak akan ikut ditimbang.” “Sebab, jika (kalimat La ilaha illallah) diletakkan di salah satu bagian pada timbangan sebelah (kiri), di mana tujuh petala (lapis) langit maupun tujuh petala bumi diletakkan pada posisi timbangan yang sebelah kanan, niscaya posisi timbangan kalimat La ilaha illallah masih jauh lebih berat.” (HR Imam An-Nasa’i dalam kitab Amalul Yaum Wal Lailah) Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Seandainya seseorang melakukan dosa seluas langit, maka setelah mengucapkan kalimat La ilaha illallah, Allah akan mengampuninya.” (HR Imam At-Tirmidzi) Nabi Muhammad SAW juga pernah berpesan, “Wahai Abu Hurairah, ucapkanlah La ilaha illallah bagi orang yang akan meninggal dunia, niscaya dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah SWT.” Abu Hurairah bertanya, “Ya Rasulullah, jika itu merupakan pahala bagi orang yang meninggal dunia, lalu bagaimana pahala bagi orang yang masih hidup dan mengucapkannya?” Rasulullah pun menjawab, “Akan lebih menghapuskan lagi dan lebih menghapuskan dosa.” (HR Abu Manshur ad-Dailami dalam Musnadul Firdaus) Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan sebagian ulama di kalangan sahabat dan tabi’in ada yang mengatakan, Allah ‘Azza Wa Jalla telah berfirman, “Apabila Aku melihat seorang hamba yang qalbunya terus-menerus ingat kepada-Ku, Aku akan mengurusi (mencukupi) segala kebutuhannya, dan Aku menjadi sahabat, penasihat, sekaligus kawan dekatnya.” Selalu ingat kepada Allah SWT maksudnya selalu berdzikir. Karena dzikir dan sholat termasuk aktivitas mengingat Allah SWT. Al-Hasan al-Bashri Rahimahullah juga pernah mengatakan, “Ada dua jenis dzikir. Pertama, dzikir kepada Allah Azza Wa Jalla yang dilakukan di dalam qalbu. Kedua, dzikir yang lebih baik, yaitu ingat kepada Allah ‘Azza Wa Jalla saat terdorong hendak melakukan maksiat, sehingga tidak jadi melakukannya.” Sebagian ulama lainnya ada yang mengatakan setiap jiwa akan keluar dari dunia ini dengan rasa dahaga yang luar biasa, kecuali orang yang selalu ingat kepada Allah Azza wa Jalla. Sahabat Mu’adz bin Jabal Radhiaylahu anhu juga pernah mengatakan, “Para penghuni surga nanti tidak akan bersedih oleh apapun, kecuali disebabkan oleh waktu yang terbuang ketika berada di alam dunia tanpa diisi dengan berdzikir.” (yat) Baca juga :

Read More

Survey Menunjukkan 50 Persen Gen-Z Aktif Boikot Produk Pro Israel

Jakarta — 1miliarsantri.net : Sebuah studi baru-baru ini di Turki mengungkap bahwa Generasi Z atau Gen Z paling tinggi berpartisipasi dalam memboikot merek-merek yang mendukung Israel. Persentasenya adalah sebanyak 50 persen. Studi komprehensif itu dilakukan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Istanbul, Departemen Pemasaran yang dipimpin oleh Pofesor Süphan Nasir dan asisten peneliti Merve Kır. Menurut laporan tersebut, dari 1.384 tanggapan valid dari total 1.545 peserta, 50 persen Generasi Z secara aktif atau sebagian memboikot merek yang ditargetkan. “Sementara Generasi Y menunjukkan tingkat partisipasi sebesar 40 persen. Sebaliknya, partisipasi Generasi X dan Baby Boomers hanya berkisar 20 persen,” ungka Nasir seperti dikutip dari Daily Sabah, Kamis (25/1/2024). (Iin) Baca juga :

Read More

Motaz Azaiza, Seorang Jurnalis Palestina Terpaksa Putuskan Mengungsi Keluar dari Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Jurnalis foto Palestina, Motaz Azaiza, memutuskan akan mengungsi dari Jalur Gaza, setelah 110 hari menyaksikan kebrutalan Israel pada rakyat Palestina. Hal tersebut disampaikan Motaz melalui unggahan video di media sosialnya, Selasa (23/1/2024). “Saya harus mengungsi karena banyak alasan, Anda semua tahu sebagian tapi tidak semuanya. Terima kasih semuanya. Berdoalah untuk Gaza,” tulisnya di platform media sosial X. Motaz merupakan salah satu jurnalis yang tetap tinggal di Jalur Gaza untuk menyampaikan informasi terkini. Ia rutin memberitakan kondisi terkini yang terjadi di Gaza sejak pecah perang Hamas-Israel pada 7 Oktober 2023 lalu. “Ini terakhir kalinya Anda melihat saya mengenakan rompi yang berat dan bau ini,” kata Azaiza dalam sebuah video Instagram, sambil menunjuk rompi biru dengan tulisan press. Motaz mengaku menyesal meninggalkan Gaza dan berharap bisa kembali untuk membangun daerah tersebut. Dalam video yang diunggahnya, tampak Motaz dikelilingi rekan-rekan dan anggota keluarganya. Mereka membantu melepaskan rompi pers dan memeluknya saat ia mengucapkan selamat tinggal ke Gaza. Seluruh masyarakat dunia telah menyaksikan perang yang terjadi di Gaza lewat lensa orang-orang Palestina. Para jurnalis warga ini, melalui postingannya di Instagram dan X, memperlihatkan dengan gamblang wajah konflik tersebut. Melansir Al-Arabiya, awalnya karya Motaz berfokus pada potret kehidupan sehari-hari di Gaza, sebelum ia mulai meliput perang di daerah tersebut pada tahun 2014 dan 2021. Pengikut Instagram-nya pun tumbuh secara eksponensial, dari 25.000 menjadi 18 juta, dalam 100 hari sejak Israel merespons serangan Hamas. “Ingatlah bahwa kami tidak puas untuk dibagikan, kami adalah bangsa yang sedang terbunuh dan kami berusaha untuk tidak dibersihkan secara etnis,” urainya dalam postingannya baru-baru ini. Selain Motaz, jurnalis terkemuka lain di Gaza adalah Plestia Alaqad. Wanita berusia 21 tahun dari Gaza ini membagikan kabar terkini setiap harinya. Ia pun selalu merespons pertanyaan dari hampir 5 juta pengikutnya. Menurut data Reporters Without Borders (RSF), lebih dari 80 jurnalis, sebagian besar warga Palestina, tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober. Dari jumlah tersebut, 18 jurnalis tewas saat bertugas. Terkait itu, Komisioner Hak Asasi Manusia PBB menyatakan prihatin atas tingginya angka kematian pekerja media di Gaza. Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengatakan, 10 minggu pertama perang menjadi masa paling mematikan bagi jurnalis, di mana sebagian besar wartawan terbunuh di satu lokasi dalam satu tahun. Sementara Pengadilan Kriminal Internasional, pada 9 Januari, mengkonfirmasi bahwa mereka sedang menyelidiki potensi kejahatan terhadap jurnalis sejak pecahnya perang Israel di Gaza. Israel telah berulang kali membantah klaim membunuh jurnalis, dan mengatakan bahwa mereka hanya menargetkan militan Hamas. Mahkamah Agung Israel pada 9 Januari menolak permintaan media internasional untuk akses gratis ke Gaza. (zul/AP) Baca juga :

Read More

NU Care – Lazisnu PBNU Serahkan Bantuan Untuk 200 Penjaga Masjid Al Aqsa

Jakarta — 1miliarsantri.net : NU Care-Lazisnu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui lembaga mitra nya Althoure-Silwan Woman Center (AWC) menyalurkan ratusan paket bantuan dalam bentuk voucher belanja bagi kebutuhan para penjaga Masjid Al-Aqsa. Penyaluran bantuan kemanusiaan NU Care-Lazisnu untuk Palestina, salah satunya menyasar para penjaga Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, Palestina. Direktur Eksekutif AWC, Abeer Zayyed mengungkapkan bahwa bantuan tahap kedua dari NU Care-Lazisnu yang dilakukan sejak 16 Desember 2023 hingga 7 Januari 2024, secara keseluruhan sudah diterima oleh lebih dari 5.000 warga Palestina, yang menyasar sejumlah titik di wilayah Gaza, Yerusalem, dan Tepi Barat. “Bentuk bantuannya berupa makanan siap saji, paket bahan makanan pokok, belasan ribu liter air bersih, hygiene kit, obat-obatan, paket nutrisi anak, serta paket bantuan untuk 200 petugas atau penjaga Masjid Al-Aqsa,” terang Abeer kepada media, Selasa (23/1/2024). Abeer menjelaskan para penjaga Masjid Al-Aqsa diberikan bantuan dalam bentuk kartu (voucher) belanja. “Kartu-kartu belanja itu dibagikan kepada para penjaga Masjid Al-Aqsa, kemudian digunakan untuk membeli apa yang mereka butuhkan secara langsung. Prosesnya setiap karyawan para penjaga Masjid mendaftar untuk menerima kartu tersebut,” urainya. Para penjaga Masjid Al-Aqsa Palestina sedang berbelanja menggunakan voucher belanja dari NU Care-Lazisnu. Para penerima bantuan, sambungnya, adalah petugas atau panjaga Masjid yang bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara Masjid Al-Aqsa. “Yang menerima bantuan yaitu tim pagi dan sore, regu pemadam kebakaran, regu keamanan, dan tim rekonstruksi. Mereka adalah kelompok-kelompok yang selalu ada di Masjid (Al-Aqsa) dan berisiko mengalami cedera dan penangkapan oleh penjajah (Israel),” sambungnya. Saat pendistribusian bantuan, Abeer pun melaporkan situasi dan kondisi Masjid Al-Aqsa yang masih berada dalam kepungan milisi Israel. “Masjid Al-Aqsa masih dikepung, dan hanya mereka yang bekerja di sana yang bisa memasukinya setelah melalui pemeriksaan yang ketat, dan terkadang dengan ancaman penyerangan. Sejumlah petugas Masjid ditangkap dan yang lainnya terluka selama periode ini. Pengunjung asing diizinkan masuk. Hampir setiap hari, jamaah Palestina dilarang masuk,” ungkapnya. Dirinya mengungkapkan tim dari AWC menghadapi sejumlah hambatan selama proses pendistribusian bantuan. “Pasukan Israel menyerang jalan tempat kami bekerja, menembakkan peluru di daerah tersebut, dan menempatkan penghalang di sekitar daerah tersebut,” paparnya. Abeer menambahkan, para penjaga Masjid Al-Aqsa menyampaikan syukur dan ucapan terima kasih atas bantuan kemanusiaan yang diterima dari Nahdlatul Ulama. “Ini termasuk bantuan kemanusiaan, terutama parsel dan kartu belanja. Para penerima bantuan bersyukur bahwa Nahdlatul Ulama dan masyarakat Indonesia masih mengingat Masjid Al-Aqsa dan para penjaganya, serta berdiri di samping mereka di masa sulit ini,” katanya. Salah seorang petugas Masjid Al-Aqsa, Ulas Sadani mengatakan bantuan dari Nahdlatul Ulama sangat membantunya. “Bismillahhirrahmanirrahim, saya Ulas Sadani atau Muzafi dari Al-Quds. Kami berterima kasih kepada Nadlatul Ulama Indonesia atas bantuannya. Ini sangat membantu bagi kami. Kami dari Masjid Al-Aqsa Al Mubarok, semoga Allah membalas dengan kebaikan,” ucapnya. (wink) Baca juga :

Read More

Moment Dimana Buya Hamka Menitipkan Sang Ayah Kepada Bung Karno Dengan Menitikkan Air Mata

Jakarta — 1miliarsantri.net : Kisah ini bermula dari kasus pengasingan yang menimpa Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA), atau yang juga akrab disapa Haji Rasul. Laki-laki kelahiran Nagari Sungai Batang Maninjau Oud Agam pada 10 Februari 1879, adalah ayah kandung dari Haji Abdul Karim Amrullah – atau yang akrab disapa Buya HAMKA Residen Whitlaw dalam Memorandum van Overgave di Sumatra Westkust, merilis sebuah tulisan yang menguatkan peran HAKA dalam menggerakkan Muhammadiyah. Dalam laporannya untuk Penasehat Urusan Bumiputra di Batavia, Whitlaw menulis, bahwa Haji Rasul berada di belakang lahirnya Muhammadiyah di Padang Panjang (Sufyan, 2021). Meskipun digadang-gadang Whitlaw selaku pionir Islam Berkemajuan di ranah Minang – Residen Sumatra Barat itu juga menulis HAKA sebagai seorang dubbelhartig. Posisinya pun serba susah. Ia tidak mendapat tempat di mata murid-murid dan guru Sumatra Thawalib yang berafiliasi ke Kuminih, namun ia lebih tidak dipercayai Whitlaw karena tidak pernah menegaskan posisinya sebagai pembenci Kuminih. Dalam tulisan akhirnya, Whitlaw mengingatkan pada para penggantinya, untuk tidak mempercayai HAKA. Padahal, Whitlaw hanya berpedoman pada surat kaleng yang tidak jelas siapa pengirimnya. Dalam surat kaleng itu ditulis,”Lahirnya dia berpihak pada pemerintah, batinnya memihak pada Communisten. Buktinya paduka tuan mulia lihat sendiri, yaitu murid-muridnya hampir semuanya berhaluan merah.” (Mailrapport No.2488/1926). Dua tahun kemudian, pemerintah Kolonial Belanda kembali mencatat perlawanan dari pendiri Sumatra Thawalib dan majalah Al Munir Al Manar itu. HAKA memainkan peran penting dalam penolakan Ordonansi Guru tahun 1926. Bersama ratusan ulama dan guru agama dari sekolah Islam partikelir, ordonansi itu batal diterapkan. HAKA terus melawan kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Selain kebijakan pemerintahan dan adat, ada juga Ordonansi Guru dan Sekolah. HAKA dicap berbahaya. Controleur di Maninjau, asisten residen di Fort de Kock, dan residen Sumatra Westkust telah memanggil dan meminta pertanggung jawabannya sebanyak dua belas kali. Sejumlah siswanya ditangkap karena berpartisipasi dalam aktivitas politik. Keluarganya, adiknya, anaknya, dan kemenakannya dianggap bersalah dan dihadapkan pada proses hukum. Semuanya dinilai berdasarkan ceramah dan tulisannya yang dianggap melawan pemerintah dan otoritas adat. Di hadapan Contrelur di Maninjau, HAKA menegaskan pendirinya, “Jangan tuan ancam saya!” Saya sudah bosan dengan ancaman. Tuan memiliki kekuatan! Saya dibuang jatuh dari ketinggian. Dengan pedang tuan yang tajam, leher saya genting. Namun, saya tidak dapat berhenti mengajar agama. Saya akan berhenti hanya jika saya dapat menghentikan setiap nafas yang saya ambil dari tubuh saya!” Sampai akhirnya, ia pun di bui dan dihadapkan ke meja hijau. Hoofddjaksa Oud Agam menegaskan, bahwa penyelidikan yang dilakukan terhadap HAKA tidak ada hubungannya dengan aliran agama (Islam modernis) yang disebarkan olehnya. Namun, penyelidikan itu semata-mata karena tindakan politik yang dilakukan oleh HAKA di sekitar Sungai Batang dan Tanjung Sani Maninjau. Penyelidikan yang dilakukan otoritas jaksa Oud Agam itu menyasar pada pengajian yang dilakukanya pada 10 Mei 1940 (Sumatra Bode, 17 Juli 1941). Haji Rasul dituding melakukan penghasutan, dan menyebar perlawanan terhadap otoritas adat dan pemerintahan di SungaiBatang dan Tandjung-Sani yang berpenduduk sekitar 11.000 orang. Ia pun dituding telah merusak rust en orde. “Haji Amarullah melakukan agitasi politiknya, hampir tidak dapat menegaskan dirinya lagi. Meskipun telah berulang kali diperingatkan, Haji Amarullah tetap melanjutkan aksinya, yang merugikan ketentraman dan ketertiban umum.” (de Sumatra post, 19 Juli 1941). Dari persidangan, Jaksa menuduh murid Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi telah melanggar pasal 153a Strafwetboek dan Regeeringsbesluit tertanggal 13 Januari 2010, No. 2x. Pasal dan tuduhan bertubi-tubi disematkan padanya. HAKA dituduh secara sistematis, merongrong kewibawaan negara, menyebar ujaran kebencian terhadap Pemerintah Hindia Belanda, dengan tujuan akhir menggulingkan pemerintah. Putusan akhir pengadilan menjatuhkan hukuman buang terhadap Haji Rasul. Keputusan itu kemudian dikuatkan dengan putusan Residen Sumatra Westkust, “Rasul Gelar Dr Haji Abdul Karim Amarullah, yang dijuluki Hadji Rasul, guru agama di Sungai Batang (Sumatra Westkust) Demi kepentingan ketenangan dan keamanan masyarakat, Sukabumi telah ditetapkan sebagai tempat tinggal. Perlu dicatat bahwa pengasingan Dr Amrullah tentu saja didasarkan pada upaya politiknya” (Bataviaasch nieuwsblad, 21 Juli 1941).” Tiga tahun berlalu. Hamka masa itu berusia 36 tahun. Ia masih ingat dengan kisah ayahnya yang diundang makan oleh Bung Karno. HAKA tidak lagi berada di pengasingan, berkat bantuan Bung Karno, ia dibebaskan serdadu Jepang, dan dipindah ke Jakarta. HAKA diundang untuk bersantap siang di kediaman Soekarno, yang beralamat di Jalan Pegangsaan Timur. Ia telah berada di ruang makan bersama dengan suami dari Fatmawati itu. Sedang makan, Soekarno berkata: “Inyik tetap sajalah di Jakarta, Soekarno ini anggap sajalah sebagai ganti Hamka, untuk mengurus Inyik”. HAKA, hanya mengangguk pelan. Ayahnya menceritakan kisah itu. Dan Bung Karno pun menceritakan sebaliknya kepada penulis Tenggelamnya Kapal vander Wijk itu. Hamka pada bulan April 1944 telah berada di Jakarta dan menemui sang ayah yang dirindukannya. Ia pun hendak kembali ke Medan, beberapa hari kemudian. Hatinya remuk redam meninggalkan ayahnya yang sudah sepuh dan sakit-sakitan di Jakarta. Ia membatin, barangkali hari itu lah akhir dari pertemuannya dengan Sang Ayah. “Saya tidak bisa melihat wajah ayah lagi.” Hamka membatin. Dengan tertatih-tatih karena tuanya, Haji Rasul mengantarkan putra yang telah ditunggu-tunggu sepuluh tahun kelahirannya itu, ke stasiun Tanah Abang. Soekarnopun turut mengantar Hamka. Ketika kereta api akan berangkat, Hamka pun meciumi ayahnya. Dengan berbisik lirih ke Soekarno, Hamka pun berpesan, “Ayah kita Bung! Bung ganti saya”. “Jangan kuatir, berangkatlah” Mereka pun berpelukan. Tanpa terasa airmata keduanya pun menetes, dan disaksikan oleh Haji Abdul Karim Amrullah yang telah berusia 65 tahun dan sakit-sakitan. Mata itu berair, menyaksikan kepergian anaknya, seiring menjauhnya kereta api yang membawa Hamka. (yan) Baca juga :

Read More

Rasulullah SAW Memiliki Pribadi Yang Sangat Luar Biasa, Meski Dalam Candaan Terasa Berwibawa

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Contoh-contoh canda Rasulullah SAW adalah sisi potret kehidupan Rasulullah SAW yang jarang menjadi bahasan. Padahal contoh-contoh tersebut menjadi penting dibahas agar menjalankan keseharian dengan proporsional dan seimbang juga tetap dalam tuntunan syariah. Sesungguhnya Rasulullah SAW adalah teladan dan referensi dalam setiap sisi kehidupan, termasuk dalam canda. Walaupun banyak tanggung jawab dan bebannya, tetapi ia bercanda dan tidak berkata kecuali yang benar dan membersamai para sahabat dalam keseharian seperti masyarakat pada umumnya. Membersamai mereka pada saat bermain dan bercanda, juga membersamai mereka dalam kesedihan dan kesusahan. Dalam bukunya, Malamih al-Mujtama’ al-Muslim alladzi Nunsyiduhu, Syekh Yusuf al-Qardhawi Rahimahullah menjelaskan contoh-contoh canda dan rehat Rasulullah SAW. Di antara contoh-contoh tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut. (1) Rasulullah SAW adalah pribadi yang semringah, ceria, dan santai. Kesimpulan ini sebagaimana dikutip Syekh Yusuf al-Qardhawi dari Kanzu al-‘Umal. “Para sahabat menilai bahwa Rasulullah SAW termasuk pribadi yang banyak canda di antara kami” (Kanzu al-‘Umal, 18400). (2) Rasulullah SAW senang membuat orang lain terhibur dan gembira, khususnya dalam momentum seperti hari raya dan pernikahan. Sebagaimana dijelaskan al-Qardhawi, “Adalah Rasulullah SAW senang membuat para sahabat dan masyarakat itu gembira dan bahagia khususnya dalam momentum seperti hari raya dan pernikahan.” (3) Rasulullah SAW bukan sosok yang menyendiri dan terpisah dari para sahabat dan lingkungannya. Tetapi Rasulullah SAW itu membersamai para sahabat dalam setiap sisi kehidupan mereka: dalam suka dan duka, dalam sedih dan canda mereka. Sebagaimana yang disampaikan oleh Zaid bin Tsabit. “Sahabat Zaid bin Tsabit menjelaskan bahwa ia diminta untuk menjelaskan kondisi Rasulullah SAW, kemudian ia menceritakan, ‘Saya adalah tetangganya pada saat wahyu turun kepadanya, maka ia meminta saya untuk menuliskan wahyu. Dan pada saat kami mengingat dunia, maka ia menjelaskannya bersama kami. Dan pada saat kami mengingat akhirat, maka ia pun mengingatnya bersama kami. Dan pada saat kami menyebutkan makanan, maka ia pun menyebutkannya bersama kami.’ Ia berkata, ‘Ini yang bisa saya jelaskan kepada kalian tentang Rasulullah SAW’.” (HR Thabrani dengan sanad hasan sebagaimana dalam Majma’ Az-Zawaid 9/17). (4) Canda Rasulullah SAW dengan istri-istrinya. Potret di dalam rumah tangga Rasulullah SAW, bagaimana Rasulullah SAW mengisi sebagian waktunya bersama istri-istrinya dengan mengajak mereka bermain, bercanda, serta mendengarkan kisah dari istri-istrinya. Potret tersebut yang disaksikan para sahabat di rumah Rasulullah SAW, saat bercanda dan bermain dengan istri-istrinya. Termasuk Rasulullah SAW juga mendengarkan cerita dan kisah istri-istrinya. Sebagaimana dalam hadis Umi Zar’ yang terkenal dan diabadikan dalam Shahih Bukhari. (5) Canda Rasulullah SAW dengan seorang nenek. Pada saat seorang perempuan lanjut usia meminta doa kepada Rasulullah SAW agar masuk surga. Kemudian Rasulullah SAW merespons permintaan tersebut dengan menjelaskan bahwa penghuni surga itu tidak ada yang berusia senja. Jawaban itu tidak bermaksud mengategorikannya bukan ahli surga karena faktor usia, tetapi jawaban Rasulullah SAW itu bernada canda. Intinya, saat masuk surga, setiap yang lanjut usia akan menjadi gadis. Sebagaimana diceritakan dalam hadis, “Kami juga melihat Rasulullah SAW bercanda dengan seorang perempuan tua yang datang dan berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Doakan aku agar aku bisa masuk surga.’ Rasulullah SAW menjawab dan mengatakan kepada perempuan itu, ‘Tidak akan masuk surga, surga itu tidak akan dimasuki oleh orang tua.’ Kemudian perempuan tersebut menangis karena memahami perkataan apa adanya. Rasulullah SAW menjelaskan, ‘Bahwa pada saat ia masuk surga, maka ia tidak akan di usia senja, tetapi kembali menjadi seorang gadis terbaik.’ Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman Allah SWT tentang perempuan-perempuan surga, ‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari itu) secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan yang penuh cinta (lagi) sebaya umurnya.’ (QS al-Waqi’ah: 35-37).” Hadis ini diriwayatkan at-Tirmidzi dalam asy-Syamail, ‘Abdu bin Hamid, Ibnu al-Mundzir, al-Baihaqi, dan lainnya, dihasankan oleh al-Bani dalam Ghayatul Muram. (6) Kisah laki-laki Damim. Adalah seorang laki-laki yang memiliki dua istri, kemudian ia menemui Rasulullah SAW dan menawarkan salah satu istrinya untuk dinikahi Rasulullah SAW. Pada saat itu ‘Aisyah mendengar dan kemudian berkomentar, “Apakah salah satu istrimu tersebut lebih baik ataukah engkau?” Laki-laki itu menjawab, “Aku lebih baik dari istriku.” Kemudian, Rasulullah SAW tersenyum dengan pertanyaan ‘Aisyah kepada laki-laki itu karena memiliki fisik yang kurang baik. Sebagaimana diriwayatkan, “Dhahak bin Sufiyan Alkalabi meriwayatkan adalah seorang laki-laki yang berparas tidak bagus pada saat dibaiat oleh Rasulullah SAW, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku memiliki dua perempuan yang lebih baik daripada Humairah. Pada saat itu ayat hijab belum turun. Apakah aku boleh melepaskan salah satunya agar engkau bisa menikahinya.’ Padahal, saat itu ‘Aisyah duduk dan mendengar perkataan itu, kemudian ‘Aisyah menjawab, ‘Apakah dia lebih baik ataukah dirimu?’ Ia menjawab, ‘Aku lebih baik dan lebih dermawan.’ Dan Rasulullah SAW tertawa dengan pertanyaan itu kepadanya karena ia adalah damim (fisiknya tidak begitu bagus).” (yus) Baca juga :

Read More

LaNyalla : Mubaligh Wajib Sampaikan ke Umat, Cinta Tanah Air Bagian dari Iman

Surabaya — 1miliarsantri.net : Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti memaparkan peran penting Mubaligh terhadap umat. Mubaligh merupakan orang yang menyampaikan ajaran Islam, baik secara lisan maupun tulisan. Oleh karenanya, Mubaligh menjadi ujung tombak bagi umat dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Termasuk, pesan-pesan keagamaan terkait bagaimana kita sebagai umat Islam ikut andil membangun bangsa dan negara. Sebab, kata LaNyalla, mencintai Tanah Air juga merupakan bagian dari iman. LaNyalla mengutip Kiai Baha’udin Nursalim atau akrab dipanggil Gus Baha yang mengatakan bahwa terdapat Hadist Nabi yang menyatakan bahwa memikirkan kemaslahatan umat, bangsa dan negara, itu nilainya setara dengan ibadah selama 60 tahun. “Oleh karenanya, saya sampaikan terima kasih kepada Ikatan Mubaligh Indonesia (IMI) Kota Surabaya yang masih memikirkan tentang penguatan sistem bernegara Indonesia, khususnya sebagaimana dirumuskan para pendiri bangsa kita,” ungkap LaNyalla kepada 1miliarsantri.net, Selasa (23/1/2024). Menurut LaNyalla, peran yang diambil oleh para Mubaligh dalam membangun bangsa dan negara dari perspektif teologis merupakan hal yang lumrah. Sebab, Allah SWT telah memerintahkan kepada kita untuk menjaga bumi dari kerusakan. Sebab pada hakikatnya, Senator asal Jawa Timur itu menyebut kita tidak punya hak memiliki bumi ini. “Maka, kita wajib menjaga dari kerusakan dan tindakan yang melampaui batas. Oleh karena itu, membahas dan membicarakan tentang sistem bernegara atau aturan main dalam menjalankan negara menjadi sangat penting,” tutur LaNyalla. Berbicara aturan main, LaNyalla menyebut tentu saja kita akan membahas konstitusi atau Undang-Undang Dasar yang merupakan payung hukum tertinggi di semua negara, termasuk Indonesia. Hal ini menurutnya merupakan bagian dari ikhtiar kita untuk menjaga bumi dari kerusakan. “Karena sejatinya, nilai-nilai spiritualisme tidak boleh dikalahkan oleh nilai-nilai materialisme,” tegas LaNyalla. Pada kesempatan itu, LaNyalla menegaskan bahwa ia tak memiliki agenda politik untuk terlibat dalam pemenangan salah satu calon presiden dalam kontestasi Pemilu Langsung yang tengah berjalan. Satu-satunya agenda yang diusung LaNyalla adalah mengalahkan mazhab individualisme, pragmatisme dan materialisme yang telah menyusup ke dalam sistem bernegara di Indonesia, sejak Undang-Undang Dasar 1945 diubah atau diamandemen pada tahun 1999 hingga 2002 yang lalu.Ini penting untuk didengarkan dan dipahami,” kata LaNyalla menjabarkan. LaNyalla melanjutkan, sebagai sebuah bangsa, Indonesia telah memiliki sistem bernegara tersendiri. Sistem yang paling sesuai dengan watak asli bangsa Indonesia yang super majemuk. “Sistem yang telah dirumuskan oleh para pendiri bangsa. Sistem tersebut bukanlah nilai-nilai barat yang liberal dan individualistik serta kapitalistik. Tetapi sayangnya, sistem itu kita buang dan kita ganti pada saat Reformasi, hanya karena penyimpangan yang dilakukan Orde Baru,” papar LaNyalla. Padahal seharusnya, yang dilakukan pada saat Reformasi adalah membenahi penyimpangan yang terjadi di era Orde Baru. Bukan sebaliknya, mengganti sistem bernegara. Sebab, kata dia, para pendiri bangsa kita telah melakukan uji tuntas atas semua sistem bernegara, baik ala Barat maupun Timur. “Sistem ala Barat maupun Timur tak ada yang cocok diterapkan di Indonesia. Maka, para pendiri bangsa kita telah merumuskan sistem sendiri yang berlandaskan Pancasila yakni Demokrasi dan Ekonomi Pancasila. Sistem asli yang lahir dari pemikiran para pendiri bangsa,” tegas LaNyalla. Yang terjadi kemudian, sejak Era Reformasi bergulir, kita merasakan betul bagaimana degradasi moral dan semakin marak terjadi. Oligarki ekonomi dan politik pun semakin menggurita. Pun halnya masyarakat, terjadi polarisasi dan pembelahan yang begitu terasa hingga ke akar rumput. Kemiskinan struktural dan ketidakadilan terjadi di mana-mana. Juga semakin banyak paradoksal yang kita lihat dan rasakan. Sekali lagi perlu saya sampaikan bahwa bangsa ini sebenarnya sudah punya sistem asli yang tak lagi kita terapkan. “Inilah yang saya katakan bahwa saya berniat dan berjuang untuk mengembalikan kemenangan mazhab bernegara yang sesuai dengan rumusan para pendiri bangsa, yaitu negara yang berfalsafah kepada asas Pancasila, dengan sistem bernegara asli Indonesia, yaitu sistem Syuro, yang sesuai dengan nilai-nilai yang diperjuangkan Islam,” urai LaNyalla. LaNyalla berharap para Mubaligh yang tergabung di dalam Ikatan Mubaligh Indonesia memiliki kesadaran kolektif, untuk kita mengajak umat Islam khususnya, dan seluruh bangsa Indonesia untuk bertaubat dari penerapan sistem liberal Barat yang dipaksakan diterapkan di Indonesia. “Yang ternyata memiliki daya rusak yang luar biasa terhadap nilai-nilai luhur bangsa dan negara ini. Mari kita hentikan kontestasi politik yang semata-mata ingin sukses meraih kekuasaan dengan cara Liberal. Karena telah menjadikan kehidupan bangsa kita kehilangan kehormatan, etika, rasa dan jiwa nasionalisme-patriotisme. Karena hanya menghasilkan buzzer-buzzer dimedia sosial yang memproduksi narasi-narasi jahat dan saling hujat,” ajak LaNyalla. Pada kesempatan itu, Ketua DPD RI didampingi Staf Khusus Sefdin Syaifudin, Pengamat Ekonomi-Politik Ichsanuddin Noorsy, Pegiat Konstitusi dr Zulkifli S Ekomei, Ketua Kadin Jatim Adik Dwi Putranto beserta jajaran dan Ketua Kadin Kota Surabaya HM Ali Affandi LNM beserta jajaran. Hadir pula ratusan anggota IMI Kota Surabaya di bawah kepemimpinan Ainur Rofiq. (har) Baca juga :

Read More

Sedikitnya 100 Ulama Syahid, 1.000 Masjid Hancur di Jalur Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Pembantaian yang dilakukan teroris Israel di Jalur Gaza menyebabkan 100 ulama di Jalur Gaza syahid sejak 7 Oktober lalu. Selain itu, menurut Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza,serangan udara Israel menyebabkan 1.000 masjid hancur dari 1.200 masjid yang ada. “Pembangunan kembali masjid-masjid ini akan memakan biaya sekitar $500 juta,” pernyataan Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza, Selasa (23/1/2024). Menurut kementerian terseut, lebih dari 100 ulama syahid dibunuh serangan Israel dan membongkar puluhan pemakaman serta menggali kuburan. “Pasukan pendudukan Israel terus menghancurkan puluhan pemakaman dan menggali kuburan, melanggar kesucian mereka dan mencuri jenazah di dalamnya, pelecehan terang-terangan terhadap piagam internasional dan hak asasi manusia,” sambung pernyataan tersebut. Menurut pernyataan tersebut, sebuah gereja, beberapa bangunan administratif, sekolah-sekolah Al-Quran, dan kantor pusat bank juga hancur dalam serangan Israel. “Kami mengajak bangsa Arab dan Islam serta orang-orang yang punya1 nurani untuk memenuhi tanggung jawab mereka terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza,” tutupnya. (zul) Baca juga :

Read More

Pelunasan Bipih Sudah Mulai Dibuka Hingga 12 Februari 2024

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) bagi jamaah haji reguler dibuka sejak 10 Januari 2024 lalu, dimana seluruh jamaah harus memenuhi syarat istitha’ah kesehatan sebelum melakukan pelunasan. Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie mengatakan, jamaah haji reguler yang sudah melakukan pemeriksaan kesehatan dan memenuhi syarat istitha’ah kesehatan hampir 50% dari total kuota Indonesia. “Sebanyak 100.181 jemaah sudah melakukan pemeriksaan dan hasilnya dinyatakan memenuhi syarat istitha’ah kesehatan. Jumlah ini akan terus bertambah karena proses pemeriksaan kesehatan jemaah terus berjalan,” terang Anna Hasbie kepada 1miliarsantri.net di Jakarta, Selasa, (23/1/2024). Jamaah yang sudah memenuhi syarat istitha’ah kesehatan, lanjut Anna, selanjutnya dapat melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih). Untuk tahap pertama, proses pelunasan akan berlangsung hingga 12 Februari 2024. “Siskohat mencatat sudah ada 22.927 jamaah haji reguler yang telah melunasi biaya haji,” sebut Anna. Jamaah yang melunasi ini terdiri atas 22.161 orang yang masuk kuota jamaah berhak lunas, 277 jamaah kuota lanjut usia prioritas, dan 489 jemaah cadangan. Dari data Siskohat, Anna melihat ada tren kenaikan jemaah yang melakukan pelunasan. Kalau tiga hari pertama jumlahnya masing-masing di bawah 1.000, dalam dua hari terakhir mencapai 6.130 dan 8.064 jamaah. “Pelunasan pekan depan saya duga akan naik signifikan. Sebab, jamaah yang sudah memenuhi syarat istitha’ah kesehatan juga lebih 100 ribu,” sebut Anna. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas telah menandatangani MoU terkait penyelenggaraan ibadah haji 1445 H dengan Menteri Haji dan Umrah Saudi Tawfiq F Al Rabiah pada awal Januari 2024. Indonesia mendapat kuota 241.000 jamaah, terdiri atas jamaah haji reguler dan haji khusus. Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah telah menerbitkan Keputusan Nomor 83 Tahun 2024 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pembayaran Pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji Reguler Tahun 1445 Hijriah/2024 Masehi. Pelunasan Bipih 1445 H/2024 M tahap pertama dibuka dari 10 Januari – 12 Februari 2024. Tahap pertama ini diperuntukkan bagi:a) jamaah haji masuk alokasi kuota keberangkatan pada musim haji tahun berjalan;b) prioritas jamaah haji reguler lanjut usia; danc) jamaah haji reguler cadangan. Mekanisme Pelunasan Jamaah yang sudah melakukan pemeriksaan dan memenuhi syarat istitha’ah kesehatan dapat melakukan pelunasan Bipih. Keputusan Dirjen PHU mengatur mekanisme pelunasan bagi jamaah haji reguler masuk alokasi kuota keberangkatan tahun ini sebagai berikut: 1) Jamaah haji melakukan pembayaran Bipih pada Bank Penerima Setoran (BPS) Bipih yang sama dengan setoran awal atau BPS Bipih pengganti; 2) Pembayaran Bipih jamaah haji adalah sebesar besaran Bipih per embarkasi dikurangi setoran awal Bipih dan virtual account dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH); 3) Jamaah haji yang telah melakukan pembayaran Bipih melapor ke Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota. Berikut Besaran Bipih Jamaah Haji 1445 H/2024 M: a. Embarkasi Aceh sebesar Rp49.995.870b. Embarkasi Medan sebesar Rp51.145.139c. Embarkasi Batam sebesar Rp53.833.934d. Embarkasi Padang sebesar Rp51.739.357e. Embarkasi Palembang sebesar Rp53.943.134 f. Embarkasi Jakarta (Pondok Gede dan Bekasi) sebesar Rp58.498.334g. Embarkasi Solo sebesar Rp58.562.008h. Embarkasi Surabaya sebesar Rp60.526.334i. Embarkasi Balikpapan sebesar Rp56.510.444j. Embarkasi Banjarmasin sebesar Rp56.471.105 k. Embarkasi Makassar sebesar Rp60.245.355l. Embarkasi Lombok sebesar Rp58.630.888m. Embarkasi Kertajati sebesar Rp58.498.334 (wink) Baca juga :

Read More