Hadapi Perkembangan Jaman, Pesantren Cendekia Amanah Kembangkan Pertanian Hidroponik

Jakarta — 1miliarsantri.net : Menurut Al-Syaibani, usaha-usaha perekonomian terbagi atas empat macam, yaitu sewa-menyewa, perdagangan, pertanian, dan perindustrian. Di antara keempat usaha perekonomian tersebut, Al-Syaibani lebih mengutamakan usaha pertanian dari usaha lain. Menurutnya, pertanian memproduksi berbagai kebutuhan dasar manusia yang sangat menunjang dalam melaksakan berbagai kewajibannya. Dalam perekonomian, pertanian merupakan suatu usaha yang mudah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Allah telah menyediakan sawah dan ladang untuk bercocok tanam. Dan makanan yang kita makan merupakan hasil dari pertanian. Pertanian hidroponik adalah model pertanian modern yang dikembang oleh Pesantren Cendekia Amanah bersama mitra beberapa pesantren di Jakarta, Depok, Bekasi dan Bogor (Jabodetabekbog). Hasil sayur yang melimpah digunakan utamanya untuk memenuhi kebutuhan santri. Namuan nyatanya masih lebih banyak sehingga hasilnya dijual kepada wali murid, jemaah pengajian pesantren dan sampai supermarket. Kini petani Pesantren Cendekia Amanah selain sebagai petani juga sebagai agrrigator yang membina lebih dari 10 pesantren yang telah mengikat menjadi ekosistem ekonomi pesantren. Semua itu mengikat dalam Asosiasi Gerakan Pengasuh Pesantren Indonesia (GAPI). Pada hari Minggu, 17 Maret 2024 Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjoyo meresmikan gedung Distributio Center (DC) Pesantren Cendekia Amanah di Depok beserta Green House delapan Pesantren mitra, yaitu Pesantren Alkaukab Cibinong Bogor, Pesantren Algiebra Bogor, Pesantren Assa’adah Bogor, Pesantren An-Nahdlah Depok, Pesantren Ar-Rahmah Cibubur, Pesantren Darul Rahman Bogor, Pesantren Nurul Huda Bekasi, dan pesantren Pendawa Parung, Bogor. Hadir dalam acara peresmian gedung Distribution Center itu Muliaman D Haddad Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia, Plt. Direktor Pesantren Kemenag RI Prof. Waryono Abd Ghafur, wakil Wali kota Depok Imam Budi Hartono, dan para pengasuh pesantren..Kiai Cholil menjelaskan, pesantren Cendekia Amanah selain menyiapkan calon-calon pemimpin masa depan juga ingin mencetak kader interpreneur. “Dan ingin menjadikan pesantrennya sebagai inkubator pengembangan ekonomi dan ketahanan pangan berbasi Pesantren. Kini usaha-usaha selain hidroponik juga ada pertanian ikan dan dan ayam petelur. Semua itu utamanya untuk kebutuhan pesantren dan lebih diperdagangkan,” terangnya..Dalam sambutannya Gubernur BI memaparkan tentang pentingnya ketahanan pangan berbasis pesantren. Sebab diantara fungsi pesantren selain pendidikan dan dakwah juga pemberdayaan. Maka tepat menjadikan pesantrem sebagai sentra ketahanan pangan dan bisnis pertanian. Karena biasanya pesantren berbasis wakaf dan masih banyak tanah yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian. (Iin) Baca juga :

Read More

Polresta Cirebon Buka Pesantren Kilat Untuk Jalan Hijrah Anak Berhadapan Hukum

Cirebon — 1miliarsantri.net : Selama bulan Ramadhan, Polresta Cirebon mengadakan kegiatan pesantren kilat bagi Anak Berhadapan Hukum (ABH). Kegiatan yang diadakan di Masjid Syarif Hidayatullah Asrama Polisi Polresta Cirebon, Kelurahan Kaliwadas, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon itu dimulai pada Senin (18/3/2024). Kapolresta Cirebon, Kombes Pol Sumarni mengatakan, diadakannya Pesantren Kilat ABH tersebut menyikapi terjadinya beberapa kasus yang terjadi sejak awal Ramadhan. Saat menggelar kegiatan KRYD dan Patroli Sahur, petugas kerap mendapatkan anak yang melakukan kegiatan negatif. Seperti perang sarung, bawa sajam, tawuran, mabuk-mabukan dan lainnya. “Sebagai generasi muda penerus bangsa, anak-anak harus mempersiapkan diri dari sekarang. Pasalnya, tantangan hidup kedepan akan semakin sulit. ‘Sehingga sekarang saatnya berubah, hijrah, jangan lagi ikut-ikutan kegiatan yang tidak ada gunanya,’’ terang Sumarni kepada 1miliarsantri.net, Rabu (20/3/2024). Dalam Pesantren Kilat Polresta Cirebon, para ABH akan mengikuti kegiatan selama lima hari hingga 22 Maret 2024, mulai pukul 15.00 WIB – 20.00 WIB. Mereka akan menerima pendidikan agama/tausyiah, termasuk pula pelatihan ekonomi kreatif, seperti barista coffee, pembuatan menu makanan untuk jualan dan telur asin. ‘’Setiap jam 15.00 WIB, anak-anak sudah hadir di Masjid Syarif Hidayatullah Aspol Kaliwadas, dan harap diikuti dengan serius. Agar anak-anak bisa menyerap arahan dan tausiyah dari para ulama agar bisa menjadi generasi muda yang lebih baik,’’ pungkas Sumarni. (gung) Baca juga :

Read More

Kisah Masjid Quba yang Memiliki Dua Kiblat di Madinah

Jakarta — 1miliarsantri.net : Semua orang pasti sudah mengetahui masjid bersejarah yang penting, dimana dikenal sebagai salah satu masjid paling awal dalam Islam. Didirikan pada masa Nabi di lingkungan terpencil di Madinah. Maknanya terletak pada kenyataan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW menerima perintah untuk mengubah kiblat atau arah shalat dari Masjid al-Aqsa di Yerusalem ke Masjidil Haram (Ka’bah) di Makkah, seluruh jamaah yang dipimpin oleh seorang pendamping di masjid ini berpindah haluan dalam shalat. Selanjutnya masjid ini dikenal dengan nama Masjid al-Qiblatayn (masjid dua kiblat) karena kedua kiblat tersebut berhadapan dalam satu shalat. Al-Bukhari dalam Shahihnya meriwayatkan kejadian tersebut sebagai berikut: “Ketika Nabi SAW datang ke Madinah, pertama-tama beliau tinggal bersama kakek atau paman dari pihak ibu yang berasal dari Ansar. Dia salat menghadap Baitul-Maqdis (Yerusalem dan Masjid al-Aqsa) selama enam belas atau tujuh belas bulan, namun dia berharap bisa salat menghadap Ka’bah (di Makkah). Sholat pertama yang dipanjatkannya menghadap Ka’bah adalah salat Asar dengan ditemani beberapa orang. Kemudian salah satu orang yang salat bersamanya keluar dan melewati beberapa orang di masjid yang sedang rukuk saat salat (menghadap Yerusalem). Dia berkata kepada mereka: ‘Demi Allah, aku bersaksi bahwa aku telah sholat bersama Rasul Allah menghadap Makkah (Ka’bah).’ Mendengar hal itu, orang-orang itu segera mengubah arahnya menuju Ka’bah. Orang-orang Yahudi dan ahli kitab dulu senang melihat Nabi menghadap Yerusalem dalam shalat, tetapi ketika beliau mengubah arahnya menuju Ka’bah, saat shalat, mereka tidak menyetujuinya (Sahih al-Bukhari). Secara arsitektural, masjid ini dengan cermat memperhatikan banyak kepribadian gaya sepanjang sejarah Muslim. Banyak program perluasan, pembangunan kembali dan renovasi dilakukan. Salah satu tokoh pertama yang melakukan hal ini adalah Umar II. Kesultanan Ottoman juga unggul dalam hal yang sama. Bentuk masjid yang sekarang berasal dari tahun 1987. Masjid ini dibangun sebagai bagian dari berbagai inisiatif pembangunan di Madinah oleh Raja Fahd. Denah dan desain masjid mengacu pada bahasa dan kosa kata arsitektur tradisional Islam sebagai sumber inspirasi. “Secara eksternal, kosakata arsitektur terinspirasi oleh elemen dan motif tradisional dalam upaya yang disengaja untuk menawarkan citra otentik untuk sebuah situs bersejarah” (archnet.org). Arsiteknya adalah Abdul-Wahid al-Wakil dari Mesir. Masjid ini jauh lebih kecil dibandingkan Masjid Quba’. Hal ini mungkin terjadi karena tempat ini tidak termasuk dalam daftar tempat yang direkomendasikan Nabi SAW untuk dikunjungi di Madinah. Luasnya yang relatif kecil merupakan ajakan tidak langsung kepada masyarakat untuk tidak menganggapnya penting untuk dikunjungi sebagaimana tempat yang telah ditentukan secara eksplisit, sehingga tidak berduyun-duyun ke sana jika tidak diperlukan. Interior masjid ini sangat mirip dengan masjid Ahmad ibn Tulun dan beberapa masjid Fatimiyah di Kairo. Terdapat dua menara di sisi kanan dan kiri pintu masuk utama. Meski agak lebih pendek, namun menyerupai empat menara masjid Quba’. Basis menaranya berbentuk persegi dan porosnya berbentuk segi delapan. Ada tiga balkon di setiap menara, yang kedua dan ketiga ditopang oleh muqarnas. (yan) Baca juga :

Read More

Israel Tembak Mati Polisi Pengaman Konvoi Bantuan Palestina

Gaza — 1miliarsantri.net : Salah satu Jenderal Polisi di Palestina ditembak mati oleh pasukan zionis Israel saat bertugas mengamankan masuknya truk bantuan kemanusiaan ke Gaza utara. Peristiwa penembakan itu terjadi pada Senin (18/3/2024) pagi. Faiq Mabhouh, direktur jenderal operasi polisi Gaza, dikreditkan untuk koordinasi baru-baru ini antara para pemimpin lokal dan badan pengungsi Palestina PBB, UNRWA, untuk mengamankan dan mendistribusikan bantuan yang datang dari selatan. Dilansir dari Middle East Eye pada Rabu (20/3/2024), lebih dari dua lusin truk bantuan memasuki Kota Gaza selama akhir pekan dan mencapai daerah terpencil di utara untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan. Usahanya menghasilkan masuknya truk bantuan dengan aman selama dua malam berturut-turut. Namun, setelah beberapa pekan, Israel menargetkan konvoi dan pencari bantuan. Menurut militer Israel, Mabhouh tewas dalam baku tembak dengan pasukan selama serangan yang sedang berlangsung di Rumah Sakit al-Shifa dan Kota Gaza barat. Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan bahwa sekitar satu dari tiga anak sekarang kekurangan gizi akut dan dua dari 10 ribu meninggal karena kelaparan. Lebih dari setengah populasi yang berada di ambang kelaparan berada di kegubernuran utara, di mana akses kemanusiaan sangat terbatas. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB mengatakan, pada Senin, bahwa kelaparan diperkirakan terjadi di Gaza utara kapan saja antara sekarang dan Mei. Israel telah membantah membatasi masuknya bantuan ke Gaza, mengklaim bahwa PBB bertanggung jawab untuk memblokir pengiriman bantuan. Pada 21 Oktober, bantuan kemanusiaan terbatas telah diizinkan untuk mengalir melalui persimpangan, dengan beberapa bantuan diizinkan melalui persimpangan Karem Abu Salem (Kerem Shalom) di Gaza selatan pada akhir Desember. Penyeberangan kemudian ditutup lagi pada bulan Januari di tengah protes Israel yang memblokir bantuan ke jalur tersebut. Penyeberangan Rafah antara Gaza dan Mesir, satu-satunya pintu masuk dan keluar dari jalur yang tidak dikendalikan oleh Israel, telah tunduk pada pembatasan ketat dan beberapa serangan udara Israel sejak 7 Oktober, menciptakan hambatan truk bantuan di perbatasan. (zul) Baca juga :

Read More

Makna Bulan Ramadhan Bagi Calon Jamaah Haji Nusantara di Masa Lalu

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pada zaman dahulu bulan Ramadhan bagi para haji adalah bulan impian. Selain soal ibadah puasa dalam rukun Islam, bagi para jamaah haji kala itu adalah waktu-waktu yang sangat nikmat. Mengapa? Ini karena saat itulah mereka sudah sampai ke Makkah setelah melalui perjalanan panjang yang berbahaya, dimana mereka naik kapal laut dan tiba di pelabuhan Jeddah, setelah melalui rute panjang mengarungi samudera luas, dari Nusantara menuju pelabuhan di India dari pelabuhan Aceh –ada yang singgah di Singapura – lalu berlayar ke Jeddah. Ini baru rute utamanya. Sedangkan kecilnya, rute dalam negeri, ketika di nusantara mereka pun menempuh dalam waktu panjang dan berbahaya. Mereka datang dari kampung-kampung dari seantero Nusantara lalu naik kapal besar –misalnya Nederland Loyd—dari pelabuhan yang ada di Sulawesi, Kalimantan, Surabaya, Batavia, lalu ke Singapura. Sungguh perjalanan yang rumit dan teramat panjang. Nah, ketika sampai ke Makkah pada bulan Ramadhan itulah mereka jelas merasa sangat bahagia. Selama waktu tinggal di Tanah Suci itu atau sembari menunggu bulan haji (Dzulhijah), mereka belajar aneka rupa ilmu agama Islam dan manasik haji. Mereka belajar pada mukimim nusantara yang ada di Makkah, yang lazim di kenal sebagai orang ‘Jawah’. Salah satu Madrasah legendaris yang dijadikan tempat menimba ilmu adalah Al-Shaulatiyah di Makkah. Salah satu tempat belajar utama para jamaah haji dan pelajar Nusantara di Makkah waktu itu. Dua orang lulusan madrasah ini sangatlah terkanal sampai kini, yakni KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Letaknya tak jauh dari pelataran Masjidil Haram. Sekarang gedung madrasah ini lokasinya sudah dipindahkan ke luar kota Makkah. Seorang Wakil konsul Belanda di Jeddah kala itu, Hoesin Iscandar pada tahun 1931 sempat menulis soal situasi jamaah haji ketika berada di Makkah. Dia berkisah begini: ‘’Orang Jawa adalah satu-satu komunitas di Makkah yang tidak mencari uang, melainkan membelanjakan uang di Tanah Arab. Kebanyakan mereka tidak mempunyai profesi yang menghasilkan upah, dan mereka yang berdagang pun hanya berlangganan sesama orang ‘Jawah’ saja, sehingga penduduk Makkah asli mendapat untung besar dari komunintas ini. Dari catatan arsip Belandadari Snouck Hurgronje, menyatakan bahwa komunitas Mukimin merupakan wujud hubungan paling konkret antara ‘Jawah’ dengan Haramain. Inti dari dari mereka (komuntas mukimin Jawah) adalah para guru dan siswa. Di Makkah, merekalah yang dipandang tertinggi. Mereka amat disanjung oleh sesama orang Nusantara yang nak haji, dan dari Makkah mereka memimpin kehidupan-keagamaan desa-desa asli mereka.” Jadi para haji zaman dahulu memanfatkan bulan Ramadhan hingga tibanya bulan haji untuk belajar agama. Bukan berdagang atau aktivitas lainnya. Mereka belajar dan menemui para ulama ‘Jawi’ yang mengajar di Makkah yang pada abad ke-19 jumlahnya banyak dan dipandang tinggi. Para ulama masyhur itu ternyata juga kebanyakan mengajar di rumah seperti Syekh Nawasi al Bantani. Para calon jamaah haji mendalami berbagai risalah dan kitab. Mereka belajar juga soal kitab fiqih karangan ulama ‘Jawi’ di Makkah selama ini yang ada di pesantren. Pada Ramadhan itu mereka belajar langsung pada sumbernya, Memang dibanding para pelajar yang bermukim di Makkah, para calon haji ini belajar dalam waktu relatif singkat, yakni dari dari bulan Ramadhan sampai ke bulan Dzulhijah, yakni ketika waktu berhaji telah tiba. Namun, arti kehadiran mereka di Makkah yang sekitar tiga sampai empat bulan, sangat penting artinya. Sebab, dari merekalah ajaran ulama yang ada di Makkah tersebar. Jamaah haji zaman dahulu selain berguru dan membawa kepingan ajaran ulama Makkah, mereka juga pulang dengan membawa sejumlah kitab dalam bentuk naskah. Di antara naskah-naskah agama dari para jamaah haji yang membawa pulang itu, kini tersimpan dalam berbagai perpustakaan umum di Indonesia, Malaysia, serta luar negeri lainnya. Ketika mereka tiba di rumah ternyata kemudian menyalin nya dan menyebarkannya ke masyarakat. Jadi itulah arti bulan Ramadhan bagi jamaah haji zaman dahulu. Mereka memanfatkan masa tinggalnya ketika menunggu bulan haji, dengan memperdalam ilmu agama dan ilmu Alquran. Mereka ternyata di sana tidak untuk mencari kerja atau uang. Mereka mencari ilmu ternyata, Maka itulah cerminan pada haji zaman dahulu ketika memanfatkan datangnya bukan Ramadhan ketika sudah tiba di Makkah. Aktivitas mereka selama itu – sekitar tinggal tiga bulan– dipakai untuk belajar dan menyalin naskah karya para ulama termashur tersebut. (mif) Baca juga :

Read More

Prajurit TNI di Sorong Papua Barat Ikrar Masuk Islam

Sorong — 1miliarsantri.net : Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Sorong, Papua Barat, membimbing seorang warga masuk Islam. Warga tersebut bernama Rudy Akerina, seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (TNI) dengan pangkat Sersan Dua (Serda). Rudy Akerina mengucapkan dua kalimat syahadat di Mushala Kantor PCNU Kota Sorong, Sabtu (16/3/2024). Ia dibimbing oleh Koordinator Dakwah dan Ideologi Lakpesdam PCNU Kota Sorong Ustadz Muhammad Mahersya Putra. Suasana haru dan bahagia menyelimuti acara tersebut. Rudy Akerina mengaku senang dan nyaman atas sambutan hangat dari PCNU Kota Sorong. “Tidak menyangka yang hadir sebanyak ini untuk menyaksikan prosesi saya masuk Islam,” terang Rudy Akerina yang namanya ditambah menjadi Muhammad Hasan Rudy Akerina kepada 1miliarsantri.net, Selasa (19/3/2024). Prosesi yang berlangsung menjelang waktu berbuka puasa itu penuh haru, disaksikan Ketua Lakpesdam PCNU Kota Sorong Alvita Yan Hanggono, Mustasyar PCNU Kota Sorong Haji Abidin, pengurus IPNU, serta keluarga Rudy, dan masyarakat umum. Koordinator Dakwah dan Ideologi Lakpesdam PCNU Kota Sorong Ustadz Muhammad Mahersya Putra berharap, Muhammad Hasan Rudy Akerina dapat meluruskan niatnya memeluk agama Islam semata karena Allah. “Mudah-mudahan saudara Muhammad Hasan Rudy Akerina dapat meluruskan niat daripada masuknya dia ke Islam agar benar-benar karena Allah,” ucap Ustadz Mahersya. Usai prosesi pembacaan dua kalimat syahadat, acara dilanjutkan dengan penandatanganan pernyataan mualaf, pemberian zakat dari PCNU Kota Sorong kepada Rudy, dan ditutup dengan buka bersama serta shalat maghrib berjamaah. Mustasyar PCNU Kota Sorong Haji Abidin berharap nama yang diberikan kepada Rudy Akerina dapat membawanya istiqamah, serta iman dan Islamnya semakin kaffah (sempurna). “Nama baik yang diberikan oleh ustadz Maher semoga membawa keistiqamahan agar iman Islamnya semakin kaffah,” harap Haji Abidin. Sementara itu Ketua Lakpesdam PCNU Kota Sorong Alvita Yan Hanggono mengaku senang dan terharu atas pilihan Rudy Akerina untuk memeluk Islam. Hal ini menambah prosentase Muslim di Sorong. “Senang dan terharu atas masuknya saudara Muslim yang baru masuk Islam, dikarenakan Muslim di Sorong sekarang baru mencapai 44 persen. Dengan adanya tambahan saudara seiman di Kota Sorong maka akan menambah, tidak hanya kuantitas tetapi kualitas umat yang ada di kota Sorong,” ungkap Alvita. Mayor Natshir Dimyati dari Dislambair Koarmada III yang turut hadir dalam acara tersebut menyatakan dukungannya terhadap Rudy Akerina. “Kami dari TNI AL mendukung penuh langkah saudara Rudy Akerina untuk memeluk agama Islam. Semoga beliau dapat istiqamah dalam menjalankan syariat Islam,” pungkas Natshir. (lum) Baca juga :

Read More

Anna Hasbie : Tak Ada Larangan Gunakan Pengeras Suara di Masjid

Jakarta — 1miliarsantri.net : Meski Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas telah menerbitkan Surat Edaran No 05 tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Edaran ini terbit pada 18 Februari 2022. Namun Juru bicara Kementerian Agama Anna Hasbie menegaskan tidak ada satu poin pun dalam edaran tersebut yang melarang penggunaan pengeras suara dalam beragam aktivitas keagamaan, baik di masjid dan musalla. Menurut Anna, edaran ini mengatur penggunaan pengeras suara dalam dan pengeras suara luar. “Tidak ada larangan penggunaan pengeras suara di masjid dan musalla. Syiar Islam harus didukung. Kemenag terbitkan edaran untuk mengatur penggunaan pengeras suara dalam dan pengeras suara luar,” tegas Anna Hasbie di Jakarta, Selasa (19/3/2024). Penegasan ini kembali disampaikan Anna Hasbie mengingat masih ada sejumlah pihak yang belum memahami substansi edaran tersebut. Sayangnya, pihak tersebut lantas menyampaikan ke publik bahwa Pemerintah melarang penggunaan pengeras suara dalam aktivitas keagamaan di masjid dan musalla. Padahal, sama sekali tidak ada larangan penggunaan pengeras suara. Apalagi, masih ada yang menyebut bahwa azan dengan pengeras suara juga dilarang. “Masih ada yang gagal paham terhadap edaran SE 05 tahun 2022, lalu menyebut ada larangan penggunaan pengeras suara. Kami harap agar edaran itu dibaca dengan seksama. Jelas tidak ada larangan, yang ada hanya pengaturan pengeras suara. Bahkan, edaran ini secara tegas menyebutkan bahwa pembacaan Al-Quran sebelum azan dan juga saat azan, dapat menggunakan pengeras suara luar,” sambungnya. Anna Hasbie mengajak masyarakat untuk membaca dengan teliti dan memahami edaran Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala. Edaran ini disusun semata untuk mewujudkan ketenteraman, ketertiban, dan kenyamanan bersama dalam syiar di tengah masyarakat yang beragam, baik agama, keyakinan, latar belakang, dan lainnya. Untuk itu, diatur juga bahwa suara yang dipancarkan melalui pengeras suara perlu memperhatikan kualitas dan kelayakannya, suara bagus atau tidak sumbang, serta pelafalannya juga baik dan benar. “Ketentuan ini juga didukung banyak pihak, termasuk NU, Muhammadiyah, Dewan Masjid Indonesia, dan Komisi VIII DPR. Ini juga bukan edaran baru, sudah ada sejak 1978 dalam bentuk Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978. Di situ juga diatur bahwa saat Ramadan, siang dan malam hari, bacaan Al-Qur’an menggunakan pengeras suara ke dalam,” jelasnya. Aturan di Negara Muslim Pengaturan penggunaan pengeras suara di masjid atau musalla, kata Anna Hasbie, tidak hanya ada di Indonesia. Peraturan sejenis juga diterapkan di beberapa negara, antara lain Arab Saudi, Mesir, Bahrain, Malaysia, Uni Emirat Arab, Turki, dan Suriah. Arab Saudi, misalnya, menerbitkan edaran agar volume azan dan iqamah tidak melebihi sepertiga dari volume penuh pengeras suara. Mesir sejak 2018 juga memberlakukan pengaturan pengeras suara di masjid karena dinilai terlalu kencang. Sebagaimana Indonesia, Bahrain juga menerbitkan imbauan penggunaan pengeras suara. Untuk azan, menggunakan pengeras suara. Sedangkan pelaksanaan beragam ibadah Ramadan menggunakan pengeras suara dalam. Di Selangor, Malaysia, azan dan bacaan Al-Quran menggunakan pengeras suara luar. Sedang ceramah dan pembelajaran dibatasi hanya pada lingkungan masjid dan musalla. Sementara di Uni Emirat Arab (UEA), ada imbauan agar volume pengeras suara azan masjid tidak melebihi 85 desibel, lebih kecil dari Indonesia (100 desibel). Di Turki, penggunaan pengeras suara diperbolehkan saat azan dan khutbah Salat Jumat. Volume azan dan khutbah masjid juga tidak terlalu keras. Di Suriah, ada juga aturan bahwa penggunaan pengeras suara luar hanya untuk azan. Sementara Khutbah Jumat atau pengajian, menggunakan pengeras suara dalam. Berikut Tata Cara Penggunaan Pengeras Suara sesuai edaran No SE 05 tahun 2022 a. Waktu Salat: 1) Subuh:a) sebelum azan pada waktunya, pembacaan Al-Qur’an atau sholawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) menit; danb) pelaksanaan Salat Subuh, zikir, doa, dan Kuliah Subuh menggunakan Pengeras Suara Dalam. 2) Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya:a) sebelum azan pada waktunya, pembacaan Al-Qur’an atau sholawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) menit; danb) sesudah azan dikumandangkan, yang digunakan Pengeras Suara Dalam. 3) Jumat:a) sebelum azan pada waktunya, pembacaan Al-Qur’an atau sholawat/tarhim dapat menggunakan Pengeras Suara Luar dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) menit; danb) penyampaian pengumuman mengenai petugas Jumat, hasil infak sedekah, pelaksanaan Khutbah Jumat, salat, zikir, dan doa, menggunakan Pengeras Suara Dalam. b. Pengumandangan azan menggunakan Pengeras Suara Luar c. Kegiatan Syiar Ramadan, gema takbir Idul Fitri, Idul Adha, dan Upacara Hari Besar Islam: 1) penggunaan pengeras suara di bulan Ramadan baik dalam pelaksanaan Salat Tarawih, ceramah/kajian Ramadan, dan tadarrus Al-Qur’an menggunakan Pengeras Suara Dalam; 2) takbir pada tanggal 1 Syawal/10 Zulhijjah di masjid/musalla dapat dilakukan dengan menggunakan Pengeras Suara Luar sampai dengan pukul 22.00 waktu setempat dan dapat dilanjutkan dengan Pengeras Suara Dalam. 3) pelaksanaan Salat Idul Fitri dan Idul Adha dapat dilakukan dengan menggunakan Pengeras Suara Luar; 4) takbir Idul Adha di hari Tasyrik pada tanggal 11 sampai dengan 13 Zulhijjah dapat dikumandangkan setelah pelaksanaan Salat Rawatib secara berturut-turut dengan menggunakan Pengeras Suara Dalam; dan 5) Upacara Peringatan Hari Besar Islam atau pengajian menggunakan Pengeras Suara Dalam, kecuali apabila pengunjung tablig melimpah ke luar arena masjid/musalla dapat menggunakan Pengeras Suara Luar. (wink) Baca juga :

Read More

Waktu Paling Mustajab Saat Berdoa di Bulan Ramadhan

Surabaya — 1miliarsantri.net : Ramadhan adalah bulan suci yang penuh berkah, rahmat dan ampunan. Setiap Muslim tentu bergembira dalam menyambut bulan mulia ini. Di bulan ini pula nilai ibadah dilipatgandakan serta doa-doa dikabulkan. Namun, ada waktu-waktu mustajab di mana doa tidak tertolak selama Ramadhan. Waktu mustajab untuk berdoa adalah waktu-waktu tertentu yang memiliki keutamaan. Seorang muslim yang berdoa pada waktu mustajab niscaya Allah akan mengabulkan doanya. Berikut waktu-waktu mustajab untuk berdoa berdasarkan hadits Rasulullah SAW : عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala setiap malam turun ke langit dunia ketika sepertiga malam, lantas Ia berkata, ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku maka aku beri, siapa yang meminta ampun kepada-Ku maka Aku ampuni.” (HR. Bukhari). Ibnu Hajar menjelaskan hadits di atas dengan berkata, “Do’a dan istighfar di waktu sahur mudah dikabulkan.” (Fath Al-Bari, 3: 32). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ دُونَ الْغَمَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ بِعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga orang yang tidak akan ditolak doanya; imam yang adil, orang yang berpuasa hingga berbuka dan do’a orang yang teraniaya. Allah akan mengangkatnya di bawah naungan awan pada hari kiamat, pintu-pintu langit akan dibukakan untuknya seraya berfirman: “Demi keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu meski setelah beberapa saat.” (HR. Ibnu Majah). عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Keadaan seorang hamba yang paling dekat dari Rabbnya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim). عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ قَالَ جَوْفَ اللَّيْلِ الْآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي ذَرٍّ وَابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ جَوْفُ اللَّيْلِ الْآخِرُ الدُّعَاءُ فِيهِ أَفْضَلُ أَوْ أَرْجَى أَوْ نَحْوَ هَذَا Dari Abu Umamah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya; wahai Rasulullah, doa apakah yang paling di dengar? Beliau berkata: “Doa di tengah malam terakhir, serta setelah shalat-shalat wajib.” Abu Isa berkata; hadits ini hasan dan telah diriwayatkan dari Abu Dzar serta Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Doa di tengah malam terakhir lebih baik dan lebih diharapkan….” Atau seperti itu. (HR. Tirmidzi). عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ Dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan tertolak doa antara adzan dan iqamah. (HR. Abu Dawud). Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ “Dua doa yang tidak akan ditolak: doa ketika adzan dan doa ketika ketika turunnya hujan.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi) قيل يا رسولَ اللهِ! أيُّ الدعاءِ أسمَعُ؟ قال جوفُ الليلِ الآخرِ ودبرُ الصلواتِ المكتوباتِ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Wahai Rasulullah! Doa apa yang paling didengar?” Beliau menjawab, “Di akhir malam dan di akhir salat wajib.” (HR. Tirmidzi No. 3499 dan An-Nasa’i No. 9936) Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ يُرِيدُ سَاعَةً لاَ يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا إِلاَّ آتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ “(Waktu siang) di hari Jum’at ada 12 (jam). Jika seorang muslim memohon pada Allah ‘azza wa jalla sesuatu (di suatu waktu di hari Jum’at) pasti Allah ‘azza wa jalla akan mengabulkannya. Carilah waktu tersebut yaitu di waktu-waktu akhir setelah asar.” (HR. Abu Daud, no. 1048; An-Nasa’i, no. 1390) (yat) Baca juga :

Read More

Mossad dan Hamas Akan Bernegoisasi Dengan Mediator dari Qatar dan AS

Gaza — 1miliarsantri.net : Sebuah sumber mengatakan, Kepala intelijen Israel David Barnea diperkirakan akan memimpin perundingan gencatan senjata dengan mediator saat negosiasi dilanjutkan di Qatar untuk merespons proposal gencatan senjata baru Hamas. Sumber tersebut merupakan orang yang mengetahui perundingan tersebut. Perundingan antara Kepala Mossad David Barnea, Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani, dan pejabat pemerintah Mesir akan fokus pada sisa perbedaan antara Israel dan Hamas. Termasuk, mengenai pembebasan sandera dan bantuan kemanusiaan. Pada Jumat (15/3/2024) lalu Israel mengatakan akan mengirim delegasi ke Doha, Qatar, tetapi tidak mengungkapkan kapan atau siapa yang akan terlibat dalam perundingan. Reuters melaporkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diperkirakan akan mengadakan rapat kabinet keamanan sebelum perundingan. Pejabat pemerintah Israel belum dapat dimintai komentar karena Sabtu (16/3/2024) merupakan hari Sabat Yahudi. Barnea terlibat dalam perundingan dalam kesepakatan sebelumnya. Gencatan senjata pada November lalu, disepakati dan berlaku setelah ia berpartisipasi dalam perundingan di Doha. Pertemuan terakhirnya dengan perdana menteri Qatar terjadi pada Januari lalu yang mengarah pada proposal yang ditolak Hamas. Israel mengeklaim dalam serangan mendadak 7 Oktober 2023, Hamas membunuh 1.200 orang dan menculik 253 sandera. Operasi militer Israel di Gaza sudah menewaskan lebih dari 31.500 orang Palestina, kementerian kesehatan Gaza mengatakan 70 persen diantaranya adalah perempuan dan anak-anak. Pekan ini, Hamas mengajukan proposal gencatan senjata baru pada mediator perundingan dan Amerika Serikat (AS). Proposal itu mencakup pembebasan sandera Israel yang ditukar dengan kebebasan tahanan Palestina dipenjara Israel. Sudah beberapa kali upaya mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza mengalami kegagalan tahun ini. Meski tekanan masyarakat internasional semakin menguat karena tingginya jumlah korban jiwa akibat serangan darat dan udara dan Israel di kantong pemukiman Palestina itu. (zul) Baca juga :

Read More

Makna Asmaul Husna Al-Lathif Sang Mahalembut

Surabaya — 1miliarsantri.net : Grand Syekh Al-Azhar ke-48, Ahmed Al Tayyeb menyampaikan penjelasan tentang makna Al-Lathif, yang merupakan salah satu dari Asmaul Husna. Al-Lathif disebutkan sebanyak tujuh kali dalam Alquran. Dia menjelaskan, kata “Al-Lathif” mengandung dua makna utama, yaitu ketersembunyian (al-khafa) dan kehalusan (ad-daqqah). Al-Lathif merujuk pada sesuatu yang tersembunyi dan sangat halus, yang tidak terlihat oleh mata, atau memerlukan pencarian yang sangat dalam untuk menemukan. Dilansir laman Masrawy, Syekh Al-Azhar itu menyatakan bahwa makna “Al-Lathif” tidak hanya terbatas pada benda-benda fisik yang dapat dirasakan, tetapi juga mencakup entitas lain seperti pikiran, perasaan, cinta, kebencian dan sifat-sifat tercela serta hal-hal lain yang tidak nyata. Ini menunjukkan perbedaan antara filsafat materialistik yang hanya berfokus pada materi fisik dengan filsafat yang lebih mendalam, yang lebih dekat dengan teologi. Dia juga mengkritik dominasi filsafat empiris dan ilmiah yang hanya mengakui apa yang dapat diukur oleh panca indera. Menurutnya, pandangan ini telah menjadikan banyak orang menjauh dari keimanan kepada Allah SWT dan justru membawa mereka pada keadaan keagamaan yang kritis. “Mereka mengatakan bahwa apa yang ada di pikiran tapi tidak ada di indera adalah kebohongan. Ini adalah kata yang membenarkan kecenderungan yang menyimpang dari Allah subhanahu wa Ta’ala dan cenderung ateisme,” tuturnya. Lebih lanjut, Syekh Al Tayyeb menyampaikan, Al-Lathif” menunjukkan adanya eksistensi yang tersembunyi, yang jauh lebih dalam daripada apa yang dapat dirasakan oleh panca indera manusia. Al-Lathif, sebagai salah satu Asmaul Husna, memberikan pengetahuan yang mendalam tentang makna filosofis dan teologis, serta menekankan adanya eksistensi yang halus dan tersembunyi di sekitar kita. “Al-Lathif adalah yang tersembunyi tapi ada,” jelasnya. Asmaul Husna memiliki keutamaan yang besar, salah satunya menjadi faktor seorang Muslim masuk surga. Bagi siapa saja hamba yang mengetahui asmaul husna, meyakininya dan mengamalkannya maka baginya surga. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits, dari Abu Hurairah RA Rasulullah bersabda: عَنْ أبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَال: قَالَ رَسولُ الله صلى الله عليه وسلم: لله تِسْعَةٌ وَتِسَعُونَ اسْمًا مَائةٌ إلَّا وَاحِدَةً لا يَحْفَظُها أَحَدٌ إلا دَخَلَ الجَنَّةَ “Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Tidak ada orang yang menghafalnya kecuali dia masuk surga.” Dalam riwayat lain berbunyi, “Barang siapa yang menghitungnya maka masuk surga.” (yat) Baca juga :

Read More