Mengenang WR Soepratman, Sang Pahlawan dengan Biola

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam setiap perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia, lagu “Indonesia Raya” pasti berkumandang. Inilah karya dari seorang pejuang bangsa, Wage Rudolf Soepratman atau yang biasa dikenal dengan sebutan WR Soepratman. Ia lahir pada 19 Maret 1903 di Jatinegara, Jakarta. Pada tahun 1914, WR Soepratman diasuh oleh kakak iparnya yang bernama WM van Eldik alias Sastromihardjo, di Mataram. Di sana, ia belajar memetik gitar dan menggesek biola. Pada 1919, WR Soepratman diangkat menjadi guru. Dalam masa itu, ia juga mendirikan grup band jazz, Black and White, di Makasar. Untuk itu, ia berada di bawah bimbingan sang kakak ipar. Setelah tahun 1924, WR Soepratman hijrah ke Surabaya (Jawa Timur) dan Bandung (Jawa Barat). Di sana, dirinya mulai terjun ke dunia jurnalistik, yakni sebagai wartawan Surat Kabar Kaoem Moeda. Saat bekerja untuk koran Sin Po, WR Soepratman rajin mengunjungi rapat-rapat pergerakan kebangsaan Indonesia di gedung Pertemuan Gang Kenari, Jakarta. Dari sanalah, ia mulai tergugah untuk menggubah lagu “Indonesia Raya” pada 1928. Semula, WR Soepratman menciptakan lagu tersebut dengan judul “Indones, Indones, Merdeka, Merdeka.” Saat karyanya mulai beredar, alhasil dirinya dikejar-kejar polisi intel Hindia Belanda. Kongres Pemuda II di Jakarta berlangsung pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Hasilnya adalah teks dan ikrar Sumpah Pemuda. Yang istimewa bagi WR Soepratman, karyanya itu diakui sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Dalam kongres itu pula, dinyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan iringan gesekan biola WR Soepratman sendiri. Sebuah momen yang tak akan dilupakannya. Rezim kolonial merepresi kaum pergerakan. “Indonesia Raya” pun dilarang. Keadaan berubah sejak pasukan Jepang datang dan mengusir Belanda dari Nusantara. Sejak 1944, lagu itu kembali boleh dinyanyikan. WR Soepratman, sebagaimana umumnya masyarakat Indonesia saat itu, sangat merindukan tanah airnya merdeka. Sayang, usianya tidak sampai ke sana. Antara tahun 1930 dan 1937, WR Soepratman berpindah-pindah tempat tinggal. Hingga kemudian, ia dibawa oleh saudaranya ke Surabaya dalam keadaan sakit. Pada 7 Agustus 1938, saat sedang memimpin pandu-pandu menyiarkan lagu “Matahari Terbit” di Jalan Embong Malang, Surabaya, WR Soepratman ditangkap. Ia lalu ditahan di Penjara Kalisosok. Beberapa hari kemudian, tepatnya pada 17 Agustus 1938, ia wafat. Dirinya tak meninggalkan istri atau anak karena memang belum menikah. Jenazahnya dimakamkan di kuburan umum Kapas, Jalan Kenjeran, Surabaya, secara Islam. Pesan terakhir WR Soepratman: “Nasibkoe soedah begini inilah jang disoekai oleh pemerintah Hindia Belanda. Biarlah saja meninggal, saja ikhlas. Saja toch soedah beramal, berdjoeang dengan carakoe, dengan biolakoe. Saja jakin Indonesia pasti Merdeka.” (jeha) Baca juga :

Read More

Ciri Orang yang Celaka dengan Shalatnya

Jakarta — 1miliarsantri.net : Shalat lima waktu adalah ibadah fardhu bagi setiap Muslim. Saat melaksanakan ibadah shalat, hendaknya setiap Muslim melakukannya dengan kesungguhan hati, yaitu hanya mengharapkan ridha Allah SWT. Pendakwah sekaligus pendiri Pondok Pesantren Daarut Tauhiid, Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym menyebut shalat sebagai shalat ada dzikir yang paling lengkap. “Shalat itu adalah dzikir yang paling lengkap. Mulai dari takbir, tahmid, tahlil, tasbih, ada Al-Fatihah, ada ayat-ayat Qur’an, ada doa di antara dua sujud, ada tasbih sambil ruku’, tasbih sambil sujud, ada shalawat, ada salam. Lengkap sekali. Maka kalau kita ingin menjadi ahli dzikir yang baik, perbaiki shalat,” kata Aa Gym dalam tausiyah “Orang yang Celaka dengan Shalatnya”, dilihat di chanel Aagym Official, Rabu (21/8/2024). Namun, di balik keutamaan ibadah shalat, Aa Gym mengingatkan ada 6 ciri orang yang shalatnya celaka dan merugi. “Ciri orang yang shalatnya celaka, rugi. Satu, dia merasa berat untuk shalat. Shalat dianggap beban, jadi mau melaksanakan shalat itu berat tidak gembira, tidak sukacita. Ini ciri orang yang jelek dalam shalatnya,” lanjutnya. Tanda kedua dari orang yang celaka dalam shalatnya adalah riya atau suka pamer. Kata Aa Gym, tipe orang seperti ini senang bila shalatnya diketahui orang lain. “Kalau ada orang lain tahu dia shalat, dia gembira dan agak semangat. Tapi kalau tidak ada yang tahu, dia malas. Dan dia (orang riya) kecenderungan shalatnya untuk dipamerkan,” jelas Aa Gym. Kemudian, dai berdarah Sunda ini menyebut orang yang suka menunda waktu shalat termasuk yang merugi. Padahal, lanjut Aa Gym, Allah SWT menyukai orang yang menyegerakan shalat atau mengerjakannya di awal waktu. “Keempat, cepat shalatnya. Tidak ada tuma’ninah. Jadi baca Alfatihahnya, dari takbirnya saja sudah kelihatan,” terang Aa Gym. Tuma’ninah sendiri adalah sikap tenang dan tidak terburu-buru dalam shalat. Tuma’ninah merupakan kesempurnaan shalat baik pada ruku’, i’tidal, sujud, maupun duduk di antara dua sujud. “Tidak ada nikmatnya. Padahal salah satu kenikmatan dalam shalat adalah tuma’ninah. Benar-benar menikmati ketenangan dalam shalat,” lanjut pendakwah kelahiran 29 Januari 1962 ini. “Kelima cirinya adalah sedikit sekali ingat Allahnya dalam shalat. Jadi dalam shalat itu segala diingat selain Allah. Justru yang harusnya untuk Allah, malah selain Allah yang diingatnya,” tambahnya. Terakhir atau ciri keenam adalah malas berjamaah. Aa Gym mengatakan shalat jamaah memiliki keistimewaan yang sangat besar yaitu pahalanya 27 kali lipat. “Orang-orang yang lalai tidak peduli tentang jumlahnya pahala, terutama lelaki,” tutup Aa Gym. (yan) Baca juga :

Read More

10 Universitas Islam Swasta Terbaik di Indonesia

Jakarta — 1miliarsantri.net : Sebagai calon mahasiswa, memilih perguruan tinggi merupakan langkah penting dalam menentukan masa depan akademis. Universitas Islam Swasta (UIS) menawarkan alternatif yang tak kalah kompetitif dibandingkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN). UIS memberikan kualitas pendidikan yang tinggi, fasilitas memadai, serta lingkungan akademik yang mendukung pengembangan diri baik dalam aspek akademis maupun spiritual. Universitas Islam Swasta memiliki keunikan tersendiri dengan integrasi antara pendidikan umum dan nilai-nilai Islami. Meski statusnya swasta, standar yang diterapkan sejalan dengan ketentuan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Hal ini menjadikan UIS sebagai pilihan yang layak bagi mereka yang menginginkan pendidikan berkualitas dengan dasar keagamaan yang kuat. Berikut Daftar 10 Universitas Islam Swasta Terbaik di Indonesia : Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Sebagai UIS terbaik di Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berada di bawah naungan organisasi Islam Muhammadiyah. Kampus ini menawarkan berbagai program studi dari berbagai fakultas, seperti Teknik, Pertanian, Psikologi, Kedokteran, dan Program Pascasarjana. UMM dikenal dengan kualitas akademisnya serta lingkungan yang mendukung pengembangan karakter Islami. Universitas Islam Indonesia (UII) Universitas Islam Indonesia (UII) yang terletak di Yogyakarta, menduduki peringkat kedua dalam daftar ini. UII memiliki akreditasi A dan menawarkan delapan fakultas yang beragam, dari Hukum hingga Ekonomi. UII dikenal sebagai salah satu pionir dalam pendidikan tinggi Islam di Indonesia dengan fokus pada integritas akademik dan moral. Universitas Islam Malang (Unisma) Universitas Islam Malang, atau Unisma, menempati urutan ketiga. Berdiri sejak tahun 1981, Unisma lahir dari inisiatif para tokoh Islam yang berkomitmen terhadap pendidikan. Kampus ini menawarkan berbagai fakultas yang terus berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman, menjadikannya salah satu UIS paling dihormati di Indonesia. Universitas Muslim Indonesia Makassar Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar adalah salah satu UIS tertua dan terbesar di Indonesia. UMI menawarkan berbagai program studi yang berkualitas tinggi dengan fokus pada pengembangan peradaban Islami. UMI terus berkomitmen untuk melahirkan generasi yang berorientasi pada perbaikan masyarakat dan peradaban. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) adalah salah satu UIS yang dikenal dengan inovasi dalam pendidikan. UMY menawarkan berbagai program studi yang dirancang untuk menghasilkan lulusan yang siap bersaing di tingkat nasional dan internasional. Kampus ini juga dikenal dengan lingkungan yang mendukung pengembangan spiritual mahasiswa. Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang terletak di Yogyakarta, menutup daftar 10 UIS terbaik di Indonesia. UAD menawarkan beragam fakultas, termasuk Agama Islam, Sastra Budaya, dan Teknologi Industri. UAD berkomitmen untuk memberikan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada akademis, tetapi juga pengembangan karakter dan spiritual. Memilih Universitas Islam Swasta bisa menjadi langkah strategis bagi mereka yang menginginkan pendidikan berkualitas dengan dasar nilai-nilai Islami. Dengan berbagai pilihan yang tersedia, calon mahasiswa memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi di institusi yang tidak hanya berfokus pada akademis, tetapi juga pengembangan diri secara holistik. (Iin) Baca juga :

Read More

Bung Karno yang Memilih Proklamasi Tanggal 17 Agustus 1945

Jakarta — 1miliarsantri.net : Bukan hanya peristiwa Pembebasan Makkah (Fath Makkah) yang terjadi pada bulan Ramadhan, tepatnya di kedelapan Hijriyah. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pun berlangsung pada bulan puasa. Momen yang amat bersejarah itu terjadi pada 17 Agustus 1945 M atau bertepatan dengan hari Jumat, pukul 10.00 WIB pada 9 Ramadhan 1364 H. Naskah teks proklamasi dituliskan oleh tangan Sukarno, dengan beberapa perbaikan kalimat atas usulan sejumlah tokoh lainnya, termasuk Ahmad Subardjo. Kemudian, hasil tulisan tangan itu diketik oleh Sayuti Melik. Setelah jadi, hasilnya ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta, keduanya atas nama bangsa Indonesia. Semua momen krusial ini dilakukan pada waktu jam makan sahur di bulan Ramadhan 1364 H. Mohammad Hatta menuturkan situasi malam itu di rumah Laksamada Tadashi Maeda, seorang Jepang yang bersimpati pada pergerakan nasionalisme Indonesia. Sang laksamana mempersilakan kediamannya dipakai oleh para tokoh Indonesia untuk mereka merumuskan teks Proklamasi RI. Beberapa jam sebelum Proklamasi Kemerdekaan, kondisi Bung Karno dan Bung Hatta sesungguhnya dalam keadaan lelah. Mereka baru tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00 WIB. Sebelumnya, kedua bapak bangsa ini berada di Rengasdengklok, akibat diculik sejumlah pemuda yang memaksa mereka untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, yakni sebelum 17 Agustus 1945. Sebab, anak-anak muda ini- yang menurut Bung Karno dalam pengaruh Sutan Sjahrir, mengetahui bahwa Jepang telah menyerah terhadap Sekutu di Perang Dunia II. Para pemuda ini menganggap, jangan sampai Indonesia diserahkan lagi ke Belanda, sebagai salah satu negara Sekutu, dan akhirny kembali dijajah. Cerita bermula ketika Bung Karno- beserta anak dan istri dan juga Bung Hatta “diculik” ke Rengasdengklok oleh para pemuda revolusioner. Mereka berniat ingin menjauhkan Dwitunggal dari pengaruh Jepang. Jepang sudah kalah di PD II. Tidak ada gunanya lagi mengandalkan Nippon untuk mewujudkan Indonesia Merdeka. Demikian pemikiran mereka. Seperti diceritakan dalam buku autobiografi Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang disusun Cindy Adams, Sukarno lalu “diintimidasi” oleh para pemuda. Mereka mendesak sang bung besar, demikian sebutan dari mereka agar mengumumkan proklamasi RI sekarang juga: pada 16 Agustus 1945. Tentu saja, Bung Karno tidak bisa diintimidasi. Seorang pemuda, Wikana, sempat menyampaikan kata-kata yang menyinggung perasaan Bung Karno karena dirinya dianggap pengecut. Langsung saja suami Fatmawati itu naik pitam. “Mereka langsung diam, dan keheningan mencekam. Tak seorang pun tahu apa yang harus dilakukan. Tak ada yang bergerak. Mereka takut. Malu, Marah. Kecewa. Aku mengangkat kepala dan, dengan sengaja, aku menatap mereka. Aku menatap langsung ke wajah mereka sehingga mereka satu demi satu menjatuhkan pandangan mereka,” kata Sukarno menuturkan kejadian malam 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok itu, dalam buku autobiografi yang disusun Adams (hlm 253). “Aku duduk lagi. Butir-butir keringat menggantung di bibir atasku. Tak ada lagi yang menyebut Sukarno pengecut. Aku menangkap mata Farmawati di bagian lain dari kusen pintu. Mukanya kelihatan murung dan tegang. Ia menyaksikan semua kejadian itu dengan sungguh-sungguh,” sambung Bung Karno. Memecah keheningan, Sukarno lalu menyampaikan kepada mereka. Sewaktu para jenderal Nippon mengundang para tokoh bangsa Indonesia–termasuk dirinya ke Saigon pada 10 Agustus 1945. Ketika itulah, Bung Karno merenungi momen tepat untuk Proklamasi Indonesia Merdeka. “Yang paling penting di dalam suatu peperangan dan revolusi adalah waktu yang tepat. Di Saigon, aku sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,” kata Bung Karno kepada para pemuda. “Mengapa tanggal 17, tidak lebih baik sekarang saja atau tanggal 16?” tanya Sukarni, seorang pemuda revolusioner. “Aku percaya pada mistik,” jawab Bung Karno, “aku tidak dapat menerangkan yang masuk akal, mengapa tanggal 17 memberikan harapan kepadaku.” Putra Sang Fajar lalu mengungkapkan bagaimana ilham “17 Agustus” itu sampai kepadanya. Menurut dia, saat memikirkan hal itu di Saigon dirinya seperti merasakan dalam relung hatinya. Tanggal 17 Agustus 1945 itu adalah momen yang baik. “Tujuh belas adalah angka yang suci. Tujuh belas adalah angka keramat. Pertama-tama, kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita berpuasa sampai Lebaran, benar tidak?” “Ya.” “Ini berarti saat yang paling suci, bukan?” “Ya.” “Hari Jumat ini Jumat Legi. Jumat yang manis. Jumat suci. Dan hari Jumat tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam melakukan sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, bukan 10 atau 20? Karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” tegas Bung Karno. (jeha) Baca juga :

Read More

Refleksi Kemerdekaan RI, 6 Tokoh Lintas Agama Berkumpul

Jakarta — 1miliarsantri.net : Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Kemerdekaan RI, para tokoh lintas agama dari 6 agama berkumpul untuk refleksi kemerdekaan, Kamis (15/8/2024) lalu. Acara ini dihadiri Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH. M. Cholil Nafis. Para tokoh agama mengungkapkan pentingnya bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas karunia-Nya terhadap bangsa Indonesia. “Kita bersyukur sebagai bangsa Indonesia telah diberikan tanah air yang subur, air yang mencukupi, dan tanaman-tanaman pangan serta ternak yang berlimpah di atas bumi pertiwi ini,” kata Kyai Cholil mengawali pernyataannya. Ditambahkan nya, seluruh rakyat bersyukur diberikan hidup di sebuah negeri bernama Indonesia yang diberi kedamaian, penuh kegotongroyongan, kebersamaan dan saling pengertian, di tengah kenyataan bangsa ini bangsa yang majemuk dan penuh dengan keragaman. Menurutnya, dengan bersyukur, Insya Allah nikmat yang dirasakan ini akan semakin bertambah. Sebaliknya, kalau tidak mau bersyukur, dengan terus bertengkar, mempersoalkan hal-hal yang tidak prinsip, serta membesar-besarka perbedaan sebagai suatu masalah, maka akan terjerumus ke dalam kehidupan yang tidak menyenangkan, tidak damai. Kiai Cholil mengajak mengedepankan persatuan dan kesatuan sebagai implementasi rasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. “Terlebih saat ini kita akan memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia “ tegas Kyai Cholil. Kegiatan ini dihadiri juga tokoh-tokoh lintas agama, seperti Prof. Dr. Philip K. Wijaya dari agama Budha,. Pendeta Jimmy Sormin (PGI), Budi Santoso T. (Matakin), dan Wisnu Bawa Tenaya (PDHI). Para tokoh agana sepakat dengan apa yang disampaikan Cholil. (rid) Baca juga :

Read More

Trump Desak Netanyahu untuk Akhiri Perang Gaza

Washington — 1miliarsantri.net : Dalam pertemuan terakhir mereka di Juli, Donald Trump mengaku telah mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk segera mengakhiri perang di Gaza. Mantan presiden AS ini menyatakan, “Netanyahu tahu apa yang dia lakukan. Saya mendorongnya untuk menyelesaikan ini dengan cepat. Harus segera berakhir, tapi raih kemenangan Anda dan selesaikan. Pembunuhan harus dihentikan.” Trump merujuk pada pertemuan mereka di kediaman Mar-a-Lago pada akhir Juli lalu, saat Netanyahu berkunjung ke AS. Dalam kunjungan itu, Netanyahu juga bertemu dengan Presiden Joe Biden dan calon presiden dari Partai Demokrat, Kamala Harris. Kantor Netanyahu dan Trump sama-sama membantah laporan Axios yang menyebut mereka berbicara tentang gencatan senjata Gaza dan pembebasan sandera pada hari sebelumnya. “Berbeda dengan laporan media, PM Benjamin Netanyahu tidak berbicara dengan mantan Presiden Donald Trump kemarin,” ujar pernyataan dari kantor Netanyahu. Trump menambahkan, “Saya mungkin akan berbicara dengannya, tapi belum sejak saat itu.” Sebelumnya, Biden telah mengusulkan rencana gencatan senjata tiga tahap pada 31 Mei. Washington dan mediator regional telah berupaya mengatur kesepakatan gencatan senjata Gaza dengan pembebasan sandera, namun terus menghadapi berbagai hambatan. Laporan Axios mengutip dua sumber AS. Satu sumber menyebut panggilan Trump bertujuan mendorong Netanyahu menerima kesepakatan, tapi menekankan dia tidak tahu apakah ini yang benar-benar disampaikan mantan presiden tersebut. Mesir, AS, dan Qatar telah menjadwalkan putaran baru negosiasi gencatan senjata Gaza pekan ini. Washington, sekutu terpenting Israel, menyatakan gencatan senjata di Gaza akan mengurangi ancaman perang yang lebih luas di Timur Tengah. Risiko perang yang lebih besar meningkat setelah pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Iran dan komandan militer Hezbollah Fuad Shukr di Beirut baru-baru ini. Kedua peristiwa itu memicu ancaman pembalasan terhadap Israel. Konflik Israel-Palestina terbaru dipicu serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober, yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang menurut data Israel. Serangan balasan Israel ke Gaza telah menewaskan lebih dari 40.000 warga Palestina menurut kementerian kesehatan setempat, mengungsikan hampir seluruh populasi 2,3 juta jiwa, menyebabkan krisis kelaparan, dan memicu tuduhan genosida di Mahkamah Internasional yang dibantah Israel. (ris) Baca juga :

Read More

Muhammadiyah Dorong Agrobisnis dan Kewirausahaan Santri

Jakarta — 1miliarsantri.net : Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) PP Muhammadiyah mengadakan workshop tiga hari di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Acara ini berfokus pada penyusunan panduan Pesantren Agrobisnis dan Entrepreneur, serta modul Risalah Islam Berkemajuan. Workshop juga bertujuan memperkuat program pengembangan ekonomi dan pendidikan di pesantren Muhammadiyah. Dalam pembukaan acara, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas, M. Djohar, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, diadakan nya workshop ini bertujuan untuk mengembangkan model pesantren Muhammadiyah yang berkemajuan serta memperkuat ekonomi pesantren melalui panduan agrobisnis dan kewirausahaan. “Kegiatan ini adalah sebuah inovasi baru, terutama di tengah berkembangnya pesantren Muhammadiyah di Jawa Tengah. Semoga workshop ini dapat menjadi arah baru menuju pesantren yang mandiri dan berkemajuan,” ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima 1miliarsantri.net, Senin (19/8/2024). Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) PP Muhammadiyah, Masykuri, juga menyampaikan terima kasih kepada pihak UMP atas dukungannya. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa kerjasama ini merupakan bagian dari MoU yang telah disepakati dengan UMP, yang mencakup dua aspek: Pengembangan SDM Pesantren dan Pengembangan Pesantren Modern. “Workshop ini adalah bagian dari upaya pengembangan pesantren modern, dengan harapan agar panduan yang disusun dapat memperkuat kemandirian ekonomi pesantren Muhammadiyah,” tuturnya. Wakil Rektor III UMP, Ikhsan Mujahid, yang mewakili Rektor UMP, menyatakan kebanggaannya atas kerjasama yang terjalin. Ia juga berharap agar program pengembangan SDM di pesantren Muhammadiyah dapat segera dilaksanakan, termasuk program Training of Trainers (ToT) untuk ustadz-ustadzah dan calon mudir pesantren. Acara workshop ini diikuti oleh Pimpinan dan Anggota LP2 PPMuhammadiyah, utusan dari berbagai pesantren dan sekolah Muhammadiyah, serta menghadirkan narasumber dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMP. Setelah sambutan-sambutan, acara dibuka secara resmi dengan pembacaan basmalah bersama oleh Wakil Rektor III UMP. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi tonggak penting dalam upaya mengembangkan pesantren Muhammadiyah yang mampu berdiri mandiri dan berkontribusi dalam memajukan Islam yang berkemajuan. (wink) Baca juga :

Read More

Gus Mustain: Pembagian Alat Kontrasepsi Jangan Diartikan Melegalkan Seks Bebas

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pembagian alat kontrasepsi kepada remaja yang termaktub dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024, sebaiknya jangan diartikan melegalkan seks bebas. Hal tersebut disampaikan Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, Ahmad Muhamad Mustain Nasoha “Saya berhusnudzon pemerintah kita tidak mungkin memiliki niat tidak baik yaitu melegalkan seks bebas melalui terbitnya PP ini,” terang pria yang akrab dipanggil Gus Musta’in ini. Wakil presiden kita, lanjutnya, adalah ulama dan bahkan Mantan Ketua Umum MUI Pusat yang sangat paham mana yang halal dan mana yang haram. Tentunya pendapat beliau menjadi pertimbangan penting bagi presiden dan pejabat lainnya l, untuk menetapkan setiap kebijakan khususnya PP ini. Seperti diberitakan, pemerintah telah resmi menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 tentang Pelaksanaan Undang-Undang (UU) Kesehatan. Menurut Gus Mustain, peraturan ini sering kali disalahartikan sebagai regulasi yang berpotensi melegalkan seks bebas khususnya pada pasal berikut ini: Pasal 103 ayat (1): “Upaya Kesehatan sistem reproduksi usia sekolah dan remaja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101 ayat (1) huruf b paling sedikit berupa pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi, serta Pelayanan Kesehatan reproduksi.” 
Pasal 103 ayat (2): “Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit mengenai: a. sistem, fungsi, dan proses reproduksi; b. menjaga Kesehatan reproduksi; c. perilaku seksual berisiko dan akibatnya; d. keluarga berencana; e. melindungi diri dan mampu menolak hubungan seksual; dan f. pemilihan media hiburan sesuai usia anak.”
Pasal 103 ayat (3): “Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan melalui bahan ajar atau kegiatan belajar mengajar di sekolah dan kegiatan lain di luar sekolah.” 
Pasal 103 ayat (4): “Pelayanan Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit meliputi: a. deteksi dini penyakit atau skrining; b. pengobatan; c. rehabilitasi; d. konseling; dan e. penyediaan alat kontrasepsi.” Pasal 103 ayat (4): “Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf d dilaksanakan dengan memperhatikan privasi dan kerahasiaan, serta dilakukan oleh Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan, konselor, dan/atau konselor sebaya yang memiliki kompetensi sesuai dengan kewenangannya.” Bahkan ia mengutip pernyataan pakar masyarakat Dr. F.X. Hadisoemarto, bahwa pemberian informasi yang benar kepada remaja dapat mengurangi perilaku seksual yang tidak aman. Hal ini sejalan dengan tujuan PP Nomor 28/2024, yang menyatakan dalam Pasal 103 ayat (2) bahwa edukasi tersebut harus mencakup informasi tentang risiko seksual dan cara melindungi diri. Gus Mustain menegaskan, jadi jelaslah bahwa Peraturan Pemerintah tersebut sama sekali tidak bertujuan untuk melegalkan seks bebas bagi masyarakat, khususnya remaja. “Untuk mencegah persepsi kurang baik dari masyarakat atas PP ini, saya memberikan 5 saran sebagai solusi dalam masalah ini,” imbuhnya. 4 saran tersebut adalah: “Saya mengajak untuk kita bersabar sejenak, dengan tetap mengawal untuk menunggu Peraturan turunan yang nanti akan menjelaskan secara lebih detail dan terperinci tentang PP ini,” tutup Gus Mustain. (rid) Baca juga :

Read More

Itjen Kemenag Evaluasi Menyeluruh Pemetaan dan Penataan Guru Madrasah

Semarang — 1miliarsantri.net : Pemetaan dan penataan guru menjadi masalah krusial pada Pendidikan Madrasah. Membutuhkan kerjasama antar unit, dikelola secara sistematis dan data yang akurat.Hal ini dikatakan Inspektur Wilayah II, Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI Ruchman Basori, saat memberikan pembekalan Tim Evaluasi Pemetaan dan Penataan Guru Madrasah Itjen Kemenag, pada Rabu (14/08/2024) lalu. Ruchman berharap kehadiran Itjen akan membantu mengurai benang kusut terkait pemetaan dan penataan guru Madrasah. “Tim harus berangkat dari basis data, melakukan diskusi mendalam dengan para pihak dan membuat point-point penting sebagai hasil dari evaluasi”, terang Doktor Manajemen Kependidikan UNNES saat dikonfirmasi 1miliarsantri.net, Senin (19/8/2024). Ruchman menambahkan hasil evaluasi Tim Itjen, diharapkan dapat menjadi acuan bagi Kementerian Agama, dalam menyusun strategi peningkatan mutu pendidikan madrasah melalui optimalisasi sumber daya guru di Jawa Tengah dan daerah lainnya di Indonesia.Tim Evaluasi Pemetaan dan Penataan Guru Madrasah, turun ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah dari mulai tanggal 14-20 Agustus 2024. Wawan Saepul Bahri sebagai Pengendali Teknis, Yulianti Rini Fadilah sebagai Ketua Tim, Kholiddin dan Dessy Putri Ardian sebagai Anggota. Pengendali Teknis Tim Evaluasi Pemetaan dan Penataan Guru Madrasah Wawan Saepul Bahri, mengatakan tujuan evaluasi pemetaan dan penataan guru Madrasah adalah untuk meninjau efektivitas program redistribusi guru di madrasah-madrasah negeri se-Jawa Tengah, yang telah dilaksanakan sebelumnya. Melalui upaya komprehensif ini, Wawan berharap dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari inisiatif penataan ulang tenaga pendidik (guru), memastikan bahwa setiap madrasah negeri memiliki tenaga pendidik (guru) yang memadai, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, sesuai dengan kebutuhan aktual di lapangan. Wawan yang merupakan Auditor Ahli Madya pada Inspektorat Wilayah II, berharap dapat menjawab pertanyaan mendasar apakah proses penempatan dan pengaturan guru-guru madrasah selama ini sudah tepat sasaran dan selaras dengan kebutuhan riil. Tim Evaluasi Itjen ke Kanwil Jateng diterima langsung Kepala Bagian Tata Usaha Wahid Arbani didampingi oleh Ketua Tim Bidang Madrasah Agus Mahasin dan Ketua Tim Kepegawaian Sugianto.Wahid Arbani berharap hasil evaluasi dapat memberikan masukan berharga untuk penyempurnaan kebijakan penataan guru madrasah, di Jawa Tengah. “Kami akan mendukung dan mensupport Tim Itjen untuk kepentingan evaluasi, sehingga kebijakan pengadaan guru dan penempatannya di masa depan akan lebih baik lagi,” urai Wahid. Ketua Tim Evaluasi Pemetaan dan Penataan Guru Madrasah Yulianti Rini Fadilah menekankan pentingnya redistribusi guru berbasis kebutuhan. “Pemerataan guru yang tepat sasaran akan meningkatkan mutu pendidikan madrasah secara keseluruhan.Evaluasi akan menganalisis data distribusi guru berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan kebutuhan setiap madrasah. Juga menilai efektivitas program-program pengembangan profesional guru yang telah dilaksanakan,” paparnya. Tim Evaluasi Pemetaan dan Penataan Guru Madrasah beranggotakan Kholiddin dan Dessy Putri Ardian. Selama proses evaluasi, tim akan melakukan wawancara dengan para Kepala Madrasah, Guru, dan Pemangku Kepentingan lainnya, baik di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah maupun di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan untuk mendapatkan perspektif langsung dari mereka yang terdampak oleh kebijakan redistribusi. (hud) Baca juga :

Read More

Ir Soekarno dan Pergerakan Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ir Sukarno (1901-1970) adalah salah satu figur sentral dalam sejarah negara Republik Indonesia. Sosok berjulukan “Penyambung Lidah Rakyat” ini merupakan seorang Proklamator RI pada 17 Agustus 1945. Menjelang peringatan HUT ke-79 RI, tak lengkap rasanya bila tidak mengenang kembali ketokohan Bung Karno. Ahmad Syafi’i Ma’arif memperlihatkan sebuah dokumen yang belum pernah dipublikasikan. Dokumen itu adalah sebuah surat yang ditandatangani Sukarno selaku konsul Dewan Pengadjaran Moehammadijah Daerah Bengkoeloe. Surat bertanggal 9 Januari 1940 itu merupakan balasan terhadap surat Tuan Guru Hasan Basri di Muara Aman. Isinya tentang penugasan Hasan Basri. Saat itu, Sukarno sedang dalam tahanan Belanda di daerah Bengkulu. Sebetulnya, jauh sebelum itu, Sukarno juga terlibat dalam pergerakan Islam, yakni Sarekat Islam, kala ia indekos di rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya. Inilah masa ketika dirinya masih bersekolah di HBS yang menghabiskan masa lima tahun. Adapun yang bertalian dengan pemikiran Islam, Sukarno juga bersentuhan saat ia ditahan di Ende, Flores. Ia berkorespondensi soal Islam dengan Ustaz A Hassan dari Persatuan Islam (Persis), Bandung. Bung Karno juga pernah berpolemik dengan Mohammad Natsir di surat kabar. Polemik keduanya berlangsung sangat sehat. Buktinya, tulisan Bung Karno tersebut dimuat dalam majalah Pedoman Masyarakat Medan pada 1938 yang diasuh orang-orang Masyumi. Selain itu, tulisan Bung Karno yang berjudul “Islam Sontolojo” yang dimuat di Pandji Islam 1940 adalah bukti kepedulian tokoh nasionalis ini pada Islam. Di situ, ia sangat marah terhadap seorang kiai yang menurutnya telah mengelabui mata Tuhan. Ini merujuk pemberitaan di sebuah surat kabar tentang kiai cabul. Tak hanya berhenti di situ. Dalam hal kehidupan pribadi pun, ada persentuhan dengan orang pergerakan Islam. Ahmad Syafi’i Ma’arif menambahkan, saat di Bengkulu, Bung Karno tertarik dengan seorang murid Muhammadiyah, Fatmawati. AR Sutan Mansyur ikut menentukan kemulusan hubungan mereka. Namun, di periode akhir hidupnya, Sukarno berseberangan politik dengan sebagian kekuatan politik Islam, yakni Masyumi. Saat Demokrasi Terpimpin, ini tak berarti hubungan dirinya dengan Islam-politik terputus. Sebab, dalam periode ini ia menggandeng Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga merekrut secara perorangan tokoh-tokoh Masyumi, yang bukan mainstream, seperti Mulyadi Djojomartono, Farid Ma’ruf, dan Marzuki Yatim dalam Kabinet 100 Menteri. Ada beberapa tonggak untuk melihat retaknya hubungan ini. Dahlan Ranuwihardjo, misalnya, melihat usai Pemilu 1955–tepatnya saat pembentukan Kabinet Ali Sastroamidjojo II–merupakan awal. Seiring dengan pergolakan di daerah, cabang-cabang Maysumi di daerah menuntut agar Masyumi mundur dari kabinet. Hal ini diperkuat dengan Konferensi Akbar Daerah 1957 di Bandung, Jawa Barat. Akhirnya, Masyumi mundur dari kabinet. Hal ini menyebabkan kegusaran Bung Karno sehingga ia menunjuk dirinya sendiri “sebagai warga negara” untuk menjadi formatur dan membentuk kabinet. Sjafi’i Ma’arif menerangkan, ada sebab lain mengapa Masyumi keluar. Ini tak lain karena Bung Karno meminta Ali membentuk “kabinet berkaki empat” dengan memasukkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai Nasional Indonesia (PNI) masih bisa menerima usulan ini, tetapi tidak demikian halnya dengan Masyumi. Sebab berikutnya, saat terlibatnya beberapa petinggi Masyumi, seperti Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, dan Burhanuddin Harahap dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Tidak adanya tindakan organisatoris membuat Bung Karno pada 1960 mengirim surat pada ketua DPP Masyumi, Prawoto, untuk membubarkan partai. Puncaknya saat penangkapan pada tokoh-tokoh Masyumi pada 1962. Menurut Dahlan, ini adalah kesalahan besar Bung Karno karena perintah tersebut atas informasi keliru. Pasalnya, dasar perintah adalah tuduhan perencanaan makar saat mereka berkumpul di Bali. Padahal, saat itu mereka hanyalah menghadiri upacara ngaben raja Bali Sukawati, ayah Anak Agung yang menjadi sahabat tokoh Masyumi dan PNI. Namun, di masa itulah luka-luka terjadi: Masyumi dibubarkan dengan alasan memberontak, tokoh-tokoh Islam ditangkap dan dipenjarakan tanpa alasan yang jelas, dan seterusnya. Bahkan, akibat pembubaran Masyumi tersebut, dampaknya masih terlihat sampai masa-masa jauh berikutnya. Saat Pemilu 1999, misalnya, banyak yang memperbandingkannya dengan Pemilu 1955. Dari empat besar (PNI, Masyumi, NU, dan PKI) pada Pemilu 1955–dengan mengecualikan PKI yang tak lagi berpartai sampai kini–maka metamorfosis Masyumi pada Pemilu 1999 tak jelas sosoknya. Berbeda dengan NU yang ke PKB ataupun PNI yang ke PDI Perjuangan. PDI yang kemudian menjadi PDI Perjuangan pun lebih banyak berseberangan dengan aspirasi Islam. Puncaknya adalah pada Pemilu 1999 itu. Caleg PDI Perjuangan penuh diwarnai tokoh-tokoh yang berpandangan berseberangan dengan Islam-politik. Akibatnya, saat Sidang Umum MPR, Megawati gagal menjadi presiden, padahal partainya pemenang pemilu. Setelah itu, kedua belah pihak saling mengoreksi untuk memperbaiki diri. Kini, hubungan itu menjadi lebih cair. Dahlan maupun Syafi’i sepakat bahwa sebelum Demokrasi Terpimpin, hubungan Sukarno dan umat Islam relatif baik. Bahkan, pernah membentuk kabinet dengan aliansi PNI-Masyumi-NU. “Ini menguasai mayoritas mutlak di parlemen,” kata Syafi’i menyebut kabinet yang dipimpin Ali Sastroamijoyo tersebut. Namun, luka pada dekade 1960-an coba terus ditiupkan. Sehingga bagi generasi sekarang, seakan pintu para “pewaris” jika ada, untuk terbuka bergandeng tangan sudah tertutup. Istilah kaum nasionalis dan umat Islam sering diperhadapkan untuk berselisih. “Semuanya nasionalis,” kata Dahlan Ranuwihardjo menepis mitos itu. Dahlan adalah orang yang berada di perbatasan. Keponakan Mr Mohamad Roem–tokoh penting Masyumi–ini bercerita. Suatu kali, datang aktivis Masyumi dari Sumatra ke Jakarta, ke rumah Roem. Dahlan yang tinggal di rumah pamannya pun dikenalkan ke tamunya. Sang tamu terkejut bahwa Dahlan tinggal di rumah Roem dan juga keponakannya. Tamu ini mengenal Dahlan sebagai seorang yang banyak membela Sukarno. Namun, Roem adalah seorang yang moderat dan demokrat. Semua itu tak menjadi soal. Paman Adi Sasono ini memang seorang pengagum Sukarno. Bahkan, di saat PKI berkampanye untuk membubarkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Dahlan memiliki peran yang tak kecil untuk mencegahnya. Padahal, saat itu PKI banyak diberi angin oleh Sukarno. Memang ada peran kepala staf Angkatan Darat (KSAD) saat itu, Ahmad Yani. Dahlan Ranuwihardjo dan Ahmad Syafi’i Ma’arif sepakat hubungan Sukarno dengan Islam politik tidak memiliki pola tertentu, tidak stabil, dan tergantung pada situasi. Mengapa? Mungkin, kita perlu merujuk pada Bernard Dahm. Penulis biografi Sukarno ini menyebutkan, sebagaimana Sukarno memanfaatkan marxisme untuk revolusi atau pemikir antikolonial untuk melawan kolonialisme, Bung Karno juga “mendekati” Islam karena agama ini dipeluk oleh mayoritas yang tentu tak bisa diabaikan. Islam ataupun marxisme, kata Dahm, hanyalah untuk membenarkan pendapat pribadinya. Tentu, tak harus sesinis itu. Sebab, menurut Syafi’i, Sukarno berjasa terhadap Islam karena ia mengajak umat untuk melakukan pembaruan lewat jargon rethinking ataupun reinterpretasi. Ia juga terkenal dengan istilah “api Islam” atau “memudakan pemahaman…

Read More