Moral Jurnalisme Dalam Nilai-Nilai Islam untuk Menyuarakan Kebenaran Di Era Kebisingan
5. Menghindari Ghibah dan Fitnah
Dalam agama Islam, kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk menjauhi ghibah (menggunjing) dan fitnah (menyebar kebohongan). Sementara dalam etika jurnalistik, seorang jurnalis tidak boleh melaporkan berita bohong.
6. Mengajak kepada Kebaikan dan Mencegah Kemungkaran
Fungsi media bukan sekadar menyampaikan, tapi juga membentuk opini publik. Jurnalisme mengarahkan informasi untuk menebarkan nilai-nilai kebaikan. Ini sesuai dengan prinsip agama Islam.
Mengapa Umat Islam Perlu Terlibat di Dunia Jurnalistik?
Media adalah medan pertempuran opini. Jika umat Islam tidak aktif di sana, maka ruang informasi akan dikuasai oleh narasi-narasi yang bisa jadi bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Maka, keterlibatan muslim dalam dunia jurnalisme bukan sekadar pilihan, tapi keharusan. Sebab, hanya dengan begitu kita bisa:
- Menjadi penyeimbang dari media arus utama yang bias
- Mengangkat isu-isu umat yang sering terabaikan
- Melawan narasi Islamofobia dan stereotip negatif tentang muslim
- Mendidik masyarakat untuk lebih kritis dan adil dalam menerima informasi
Tantangan dan Peluang yang Harus Dihadapi
Tentu, menjadi jurnalis yang memegang teguh etika jurnalistik dan nilai-nilai Islam sekaligus bukan tanpa tantangan. Dunia media sering dihadapkan pada tekanan ekonomi, politik, dan ideologi sehingga membuat banyak jurnalis harus mengorbankan idealisme atau pekerjaannya.
Namun justru di situlah peran nilai-nilai Islam menjadi penopang moral. Ketika jurnalis lain mulai tergelincir karena iming-iming popularitas atau uang, jurnalis muslim bisa bertahan karena punya nilai yang lebih tinggi dari sekadar rating dan klik.
Di sisi lain, peluang juga terbuka lebar. Bahkan media Islam kini punya ruang yang makin besar berkat internet. Dari blog pribadi, YouTube, hingga media online seperti 1miliarsantri.net, semuanya bisa menjadi ladang dakwah penyebaran informasi yang sehat.
Jurnalisme Bukan Sekadar Profesi, tapi Ibadah
Kalau orientasi utama dalam Islam adalah ibadah, maka semua aktivitas yang membawa manfaat dan diniatkan karena Allah SWT bisa bernilai ibadah. Termasuk menulis berita. Termasuk meliput kebijakan zalim. Termasuk mengungkap kebenaran yang ditutupi.
Maka jurnalisme bisa menjadi bentuk jihad bil qalam, berjuang lewat pena dan informasi. Namun tentu, ini butuh komitmen, ilmu, dan keberanian.
Baca juga : Seorang Jurnalis Tewas saat Operasi Militer Israel di Rafah
Saatnya Menulis dengan Nurani dan Iman
Di era post-truth dan fake news, masyarakat haus akan informasi yang bisa dipercaya. Dan lebih dari itu, mereka butuh informasi yang memberi harapan dan arah. Pada titik inilah, jurnalisme yang berlandaskan nilai-nilai Islam menemukan perannya yang paling mulia.
Kita butuh jurnalis yang tidak hanya tajam dalam menggali fakta, tapi juga lembut dalam menyampaikan. Kita butuh media yang bukan hanya cepat, tapi juga bijak. Kita juga membutuhkan narasi yang bukan hanya bersifat informatif saja, tetapi juga inspiratif.
Karena pada akhirnya, menjadi jurnalis muslim bukan hanya tentang keterampilan menulis atau merekam. Namun juga soal keberpihakan pada nilai: kebenaran, keadilan, dan kasih sayang. Dan itu adalah inti dari Islam itu sendiri.**
Penulis : Satria S Pamungkas (Tegal, Jawa Tengah)
Foto ilustrasi
Editor : Ainun Maghfiroh dan Thamrin Humris
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


