Kisah Penggemar Moge yang Beralih Bangun Pesantren Gratis
Dengan lengkapnya fasilitas pesantren dan standar managemen ala Darul Qur’an, sempat diusulkan agar santri yang belajar di pesantren dikenakan biaya. Namun, ayah memilih semua santri yang belajar di pesantren tidak dibebani biaya apa pun alias full gratis.
Karena gratis, para santri yang belajar di pesantren direkrut dari berbagai daerah, dan diprioritaskan bagi anak dari keluarga tidak mampu. Saat ini, pesantren yang sudah berjalan 3 tahun, memiliki 100 santriwati dengan 16 ustadzah.
“Santrinya sudah ada yang lulus. Bagi yang lulus, diminta untuk menjadi ustadzah selama 1 tahun sebagai ikatan dinas, dan setelah itu dibebaskan kembali ke kampung halamannya,” papar ayah yang sangat humble ini.
Menurut ayah, sementara ini pesantrennya baru menampung 100 santriwati. Ke depan akan ditingkatkan kembali. Dan saat ini, pesantrennya masih fokus mengurus santriwati, dan belum berfikir untuk menampung santri laki-laki.
“Mengurus santri laki-laki lebih berat,” ujarnya.
Ayah mengaku sangat terharu mempunyai pesantren, karena kehidupannya semakin tenang dan penuh keikhlasan. Apalagi keluarganya sangat mendukung.
“Biasanya saya keluyuran ke luar kota naik motor gede, sekarang di rumah mengurus pesantren, sehingga istri dan anak sangat senang,” kata ayah.
Yang juga membuat ayah merasa terharu karena para santrinya cerdas-cerdas. Ada santri yang sebelas bulan bisa menyelesaikan hafalan 30 juz.
Para ustadzahnya menerapkan sistem pembelajaran sangat disiplin. Ada model setoran hafalan, sehingga para santri bisa menyelesaikan dengan tepat waktu. Namun ada yang lebih awal bisa menyelesaikan hafalan 30 juz. “Subhanalloh,” ujar ayah bertasbih.
Tentang pembiayaan pesantren yang seluruhnya menjadi tanggungjawab ayah, sampai sekarang tidak pernah ada masalah.
“Alhamdulillah lancar. Semua gaji saya saya serahkan untuk pembiayaan pesantren,” ujar ayah yang punya gaji dari bisnisnya sendiri.
Ayah memang punya perusahaan yang hasilnya sebagian disisikan untuk menopang pembiayaan pesantren.
Tentang suka dukanya memiliki pesantren, menurut ayah, yang paling mencemaskan di saat ada santriwati yang kabur dari pesantren. Biasanya santriwati yang tidak kuat karena merasa tertekan dengan setoran hafalan, ada yang berusaha kabur.
“Yang saya benar-benar cemas dapat informasi ada santriwati jam 3 pagi kabur dari pesantren. Jam 3 pagi santri perempuan kabur, bagaimana tidak cemas? Untungnya saya sangat dekat dengan para kepala desa di dekat pesantren, sehingga ketika ada santriwati yang kabur, cepat dikerahkan pasukan desa untuk mencari keberadaan santriwati. Alhamdulillah selalu ketemu,” ujar ayah dengan penuh haru berkisah tentang santri yang kabur tersebut.
Namun, saat ini tidak ada lagi istilah santriwati kabur, karena menurut ayah, di pesantren dibuat aturan yang lebih ketat yang tidak memungkinkan ada celah ada santriwati kabur.
Hal lain yang dirasakan ayah dengan memiliki pesantren, membuat tidak semuanya menjadi mulus. Terutama yang terkait urusan bisnis.
Menurut penuturan ayah, sebagian pihak mengkhawatirkan pebisnis yang memiliki pesantren dicurigai memiliki agenda-agenda negative, terutama dikaitkan urusan teroris.
Namun alhamdulillah, kata ayah, kecurigaan-kecurigaan dari sebagian pihak itu secara perlahan memudar karena apa yang dikhawatirkan hanyalah sebuah kekhawatiran.
“Alhamdulillah ini semua karena saya merasa di lindungi Allah. Jadi saya tetap merasa tenang,” pungkasnya. (fat)
Baca juga :
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
- Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Kolaborasi Yaskat dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI di Bantargebang
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


