Begini Uniknya Tradisi Maulid Nabi di Betawi
Menariknya, pada masa lampau, petasan yang digunakan bersifat tradisional. Bambu diisi dengan potassium, lalu diledakkan menggunakan air dan percikan api, menghasilkan suara nyaring yang menggema di antara rumah-rumah panggung.
Kini, sebagian besar masyarakat menggunakan petasan buatan pabrik, namun makna sosialnya tetap bertahan.
Diawali dengan Tawasul dan Doa Bersama

Kekuatan spiritual dalam tradisi Maulid Betawi juga tampak pada urutan ritual yang dilakukan. Pembacaan Maulid selalu diawali dengan tawasul, yakni pembacaan surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada arwah para leluhur atau kerabat yang telah wafat. Tawasul menjadi jembatan antara dunia yang fana dan alam keabadian, menghadirkan nuansa spiritual yang dalam.
Setelah tawasul, dilanjutkan dengan pembacaan surat Yasin dan tiga surat pendek dari Al-Qur’an: Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Barulah kemudian acara inti dimulai dengan pembacaan Barzanji.
Bagi masyarakat Betawi, rangkaian ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari pengamalan ajaran Nabi Muhammad SAW yang senantiasa menganjurkan umatnya untuk mendoakan sesama, menjaga hubungan antar-generasi, dan memperkuat ikatan ukhuwah.
“Surat Yasin dan Barzanji adalah pengikat rohani kami,” ujar Haji Munir, tokoh masyarakat di daerah Condet, Jakarta Timur. “Kami ingin anak-anak muda tetap mengenal siapa Nabi mereka, dan bagaimana seharusnya hidup meneladani beliau.”
Tradisi yang Menyesuaikan Zaman

Perubahan sosial dan modernisasi tidak serta-merta menghapus tradisi Maulid di Betawi. Meski Jakarta kini berubah menjadi kota megapolitan dengan hiruk-pikuk keseharian, tradisi ini masih terus dipertahankan di berbagai kampung tua, terutama di wilayah seperti Condet, Kampung Melayu, Kemayoran, hingga Marunda.
Namun, tentu saja ada penyesuaian. Generasi muda kini mulai menggabungkan pembacaan Maulid dengan tampilan multimedia, dokumentasi digital, bahkan live streaming untuk menjangkau keluarga yang jauh. Meski bentuknya berubah, substansi spiritual tetap menjadi fondasi utama.
Di tengah arus globalisasi dan gempuran budaya pop, Maulid Nabi di Betawi menjadi semacam jangkar identitas yang menghubungkan warga urban dengan nilai-nilai luhur, tradisi leluhur, dan keteladanan Rasulullah. Ia menjadi pengingat bahwa modernitas tak harus mengorbankan akar budaya dan spiritualitas.
Penulis : Ramadani Wahyu
Foto Ilustrasi AI
Editor : Iffah Faridatul Hasanah dan Toto Budiman
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


