Jejak Islam di Kerajaan Demak dan Mataram : Awal Peradaban Islam di Nusantara

Surabaya – 1miliarsantri.net : Membahas tentang awal peradaban Islam di Nusantara, rasanya seperti membuka halaman awal dari sebuah kisah besar yang membentuk jati diri bangsa ini. Kita semua tahu, Indonesia bukan hanya kaya budaya dan suku, tapi juga punya sejarah panjang dalam perkembangan agama, khususnya agama Islam. Proses masuknya Islam ke tanah air bukan suatu yang instan. Ia tumbuh perlahan menyesuaikan diri dengan budaya lokal, dan pada akhirnya melahirkan kerajaan-kerajaan Islam yang berjaya di masa lampau, seperti Demak dan Mataram. Jika kamu pernah bertanya bagaimana Islam bisa begitu mengakar di Indonesia, terutama di Jawa? maka menelusuri jejak awal peradaban Islam di Nusantara lewat Kerajaan Demak dan Mataram adalah langkah yang menarik. Yuk, kita ulas bersama-sama! Awal Peradaban Islam di Nusantara antara Demak dan Mataram Islam masuk ke Nusantara lewat berbagai jalur : perdagangan, dakwah, perkawinan, hingga kesenian. Namun, perubahan besar mulai terasa ketika kerajaan-kerajaan bercorak Islam mulai berdiri dan memegang kekuasaan. Dua di antaranya yang punya pengaruh besar dalam awal peradaban Islam di Nusantara adalah Kerajaan Demak dan Mataram Islam. Kerajaan Demak sering disebut sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Berdiri sekitar abad ke-15, Demak muncul setelah melemahnya Kerajaan Majapahit. Salah satu tokoh yang berperan penting di balik kejayaan Demak adalah Raden Patah. Ia dipercaya sebagai pendiri sekaligus raja pertama di kerajaan Demak. Kerajaan Demak begitu istimewa dalam sejarah awal peradaban Islam di Nusantara karena statusnya sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak juga aktif menyebarkan ajaran Islam lewat jalur politik dan militer. Salah satu misinya adalah menyerang kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang masih bertahan, seperti di Blambangan (Banyuwangi) dan Majapahit. Tak hanya lewat kekuatan senjata, Demak juga dikenal karena perannya dalam pembangunan spiritual dan budaya. Masjid Agung Demak adalah bukti nyata peran besar kerajaan ini dalam menyebarkan Islam. Masjid tersebut konon didirikan oleh para Wali Songo, yang mempunyai peran vital dalam dakwah Islam saat itu.

Read More

Rekam Jejak Sejarah 10 Muharram dalam Islam yang Penuh Keagungan Spiritual

Bondowoso – 1miliarsantri.net: Hari-hari dalam kalender Hijriah memiliki makna tersendiri dalam kehidupan umat Islam, namun ada satu tanggal yang menyimpan jejak sejarah luar biasa dan penuh makna spiritual, yakni tanggal 10 Muharram.  Dan sejarah 10 Muharram dalam Islam bukan sekadar catatan peristiwa, tetapi simbol kemenangan, pengampunan, keselamatan, dan ujian keimanan yang agung. Dikenal sebagai Hari Asyura, momen ini menyimpan jejak sejarah penting yang mencerminkan perjuangan, pengorbanan, dan rahmat Ilahi. Dari kisah penyelamatan Nabi Musa ‘alaihis salam dari kejaran Fir’aun hingga peristiwa tragis di Karbala, 10 Muharram menjadi pengingat bahwa dalam setiap ujian, selalu ada cahaya keteguhan iman dan ketulusan pengabdian kepada Allah. Artikel ini akan mengulas kembali warisan spiritual yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada hari istimewa ini. Kira-kira apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini hingga dianggap begitu istimewa? Mari kita selami lebih dalam tentang keagungan yang tersimpan dalam tanggal 10 Muharram, melalui penjelasan di bawah ini. Awal Mula Kemuliaan Hari Asyura Hari Asyura telah dikenal bahkan sebelum masa kenabian Muhammad SAW. Dalam berbagai catatan, kaum Yahudi pun dahulu memperingati hari ini sebagai momen di mana Nabi Musa AS dan Bani Israil diselamatkan dari kejaran Fir’aun. Rasulullah SAW sendiri ketika tiba di Madinah melihat kaum Yahudi berpuasa di hari tersebut, lalu beliau mengajarkan umatnya untuk turut berpuasa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Sejarah 10 Muharram dalam Islam pun terus berkembang menjadi bagian penting dari kalender ibadah umat Muslim di seluruh dunia. Sejarah 10 Muharram dalam Islam: Rangkaian Peristiwa Penuh Makna Seiring waktu, banyak peristiwa besar tercatat terjadi pada tanggal 10 Muharram. Berikut ini adalah beberapa momen penting yang menjadi bagian dari sejarah 10 Muharram dalam Islam dan sarat akan hikmah: 1. Taubat Nabi Adam AS Diterima Allah Setelah diturunkan dari surga karena melanggar perintah Allah, Nabi Adam AS menyesali perbuatannya dan memohon ampun. Doa dan taubat beliau akhirnya diterima oleh Allah pada hari 10 Muharram. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi hamba yang sungguh-sungguh ingin kembali kepada-Nya. 2. Keselamatan Kapal Nabi Nuh AS Kisah banjir besar yang melanda bumi di masa Nabi Nuh AS juga berpuncak pada 10 Muharram, di mana kapal Nabi Nuh akhirnya berlabuh dengan selamat di Bukit Zuhdi. Ini menjadi simbol keselamatan bagi orang-orang yang beriman dan bersabar dalam menghadapi ujian. 3. Nabi Ibrahim AS Selamat dari Api Namrud Nabi Ibrahim AS pernah dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud. Namun, dengan kekuasaan Allah, api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkan sang nabi. Kejadian ini pun diyakini terjadi pada tanggal 10 Muharram. 4. Pembebasan Nabi Yusuf AS dari Penjara Nabi Yusuf AS yang difitnah dan dipenjara di Mesir akhirnya dibebaskan pada hari yang sama. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa keadilan Allah akan selalu hadir, bahkan ketika manusia merasa ditinggalkan oleh kebenaran. 5. Nabi Yunus AS Keluar dari Perut Ikan Setelah bertahun-tahun berdakwah, Nabi Yunus AS mengalami ujian hingga beliau berada dalam perut ikan. Pada 10 Muharram, beliau dikeluarkan dalam keadaan selamat. Peristiwa ini menunjukkan pentingnya kesabaran dan keteguhan dalam berdakwah.

Read More

Loloan, Mutiara Wisata Religi di Ujung Barat Bali

Bali – 1miliarsantri.net : Jembrana, kabupaten yang terletak di ujung barat Pulau Bali, sering kali terlupakan dalam peta pariwisata Bali yang lebih banyak menyoroti Denpasar, Ubud, atau Badung. Padahal, daerah ini menyimpan sejarah panjang dan keunikan budaya yang berbeda dari citra Bali pada umumnya. Salah satu permata tersembunyi itu adalah kawasan Loloan, yang bukan hanya kaya akan nilai sejarah dan budaya, tapi juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata religi Islami. Sejarah Loloan bermula pada abad ke-17, ketika rombongan pelaut Bugis dari Sulawesi Selatan mendarat dan bermukim di pesisir Jembrana. Mereka diterima dengan tangan terbuka oleh kerajaan setempat, bahkan diangkat menjadi prajurit kerajaan karena keberanian dan loyalitas mereka. Salah satu tokoh penting dari masa itu, Daeng Nachoda, diberi wewenang mendirikan pelabuhan bernama Bandar Pancoran. Kedatangan mereka menjadi awal terbentuknya komunitas Muslim yang menetap dan berkembang di Jembrana. Wilayah yang mereka dirikan kemudian dikenal sebagai Loloan, yang berasal dari bahasa Bugis dan berarti “sungai yang luas dan panjang”. Saat ini, Loloan terbagi menjadi dua wilayah administratif: Loloan Timur dan Loloan Barat. Jejak budaya Bugis-Melayu masih tampak nyata melalui arsitektur rumah panggung, kebiasaan masyarakat, dan nilai-nilai sosial yang terus hidup hingga kini. Salah satu ciri khas paling menonjol dari Loloan adalah kehidupan keberagamaan masyarakatnya. Relasi sosial antara komunitas Muslim dan masyarakat Bali lainnya berjalan harmonis dengan konsep “menyama braya”—falsafah kebersamaan khas Bali yang berarti saudara dalam hidup bermasyarakat. Nilai ini telah menjadi pilar dalam menjaga toleransi dan kebersamaan selama berabad-abad. Dari harmoni tersebut tumbuhlah tradisi-tradisi keagamaan yang unik dan khas, salah satunya adalah wisata religi. Loloan memiliki sejumlah makam para ulama dan wali yang menjadi tempat ziarah, seperti makam Wali Pitu di Loloan Barat, dan makam Syarif Tue serta Buyut Lebai di Loloan Timur. Sejak 1990-an, kawasan ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, bahkan luar pulau. Selain ziarah, para pengunjung juga bisa menginap di rumah-rumah panggung warga, mencicipi kuliner khas seperti plecing ayam pedas, dan merasakan suasana kampung yang tenang dan spiritual. Peziarah sedang berdoa di makam Syarif Tue Loloan alias Syarif Abdullah bin Yahya Al Qodri Namun pandemi COVID-19 sempat memukul geliat wisata religi di Loloan. Tak ada peziarah datang, penginapan kosong, dan ekonomi warga pun lesu. Baru sejak awal 2022, aktivitas mulai pulih perlahan. Para wisatawan domestik kembali datang, mengikuti protokol kesehatan, dan menghidupkan kembali denyut kehidupan kampung. Syair Perpisahan Ramadan Tak hanya wisata religi, Loloan juga menyimpan satu lagi tradisi istimewa yakni Wida’, syair-syair perpisahan yang dilantunkan saat sepuluh malam terakhir Ramadan. Tradisi ini hanya ditemukan di Loloan. Dalam syair Wida’, para ulama tempo dulu meluapkan kesedihan akan perginya bulan suci. Lantunannya dilakukan tengah malam antara pukul 12 hingga 2 dini hari, dalam lengkingan nada tinggi dan panjang, menggema memecah keheningan kampung. Para pelantunnya, disebut pewida’, menyampaikan kesedihan mendalam lewat syair yang mereka gubah dalam langgam Bugis-Melayu. Syair yang paling sering dilantunkan adalah syair Rakbi, salah satu jenis syair yang secara tematik dan musikal penuh duka cita.

Read More

Mengembalikan Semangat UUD 1945 Melalui Piagam Jakarta

Surabaya – 1miliarsantri.net: M. Isa Ansori, sosok Kolumnis dan Akademisi, saat ini menjabat selaku Dewan Pakar LHKP PD Muhammadiyah Surabaya, dan Wakil Ketua ICMI Jatim, menghadirkan sebuah review atau catatan sejarah yang patut dijadikan sebagai literasi untuk memahami sejarah konstitusi bangsa Indonesia. Tanggal 22 Juni 1945 adalah titik penting dalam sejarah konstitusi bangsa Indonesia. Pada hari itulah, sembilan tokoh bangsa yang tergabung dalam Panitia Sembilan berhasil merumuskan dokumen bersejarah bernama Piagam Jakarta. Naskah ini merupakan hasil kompromi mulia antara golongan nasionalis dan agamis, yang kemudian menjadi dasar awal bagi Pembukaan UUD 1945. Lima sila yang dirumuskan, berikut adalah 5 sila yang dirumuskan pada 22 Juni 1945: Dalam sila pertama itulah tercantum tujuh kata yang kelak memicu perdebatan dan pergolakan. Pada 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi, kalimat tersebut dihapus oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) demi menjaga persatuan, khususnya untuk meredakan keberatan dari wakil-wakil Indonesia bagian timur. Namun sejarah seringkali dibaca secara sepotong. Sehingga semangat moral didalam tujuh kata Piagam Jakarta dalam Pancasila dihapus karena dianggap sebagai eksklusivitas Para perwakilan Islam dalam BPUPKI mengambil sikap negarawan dan menganggap penghapusan tujuh kata itu bukanlah pengingkaran terhadap Islam atau agama lain, melainkan langkah arif para pendiri bangsa untuk menghindari disintegrasi. Bahkan Mohammad Hatta menyatakan, keputusan itu diambil demi mempertahankan keutuhan negara yang baru lahir. Meskipun kata-katanya dihapus, semangat Piagam Jakarta tetap hidup. Presiden Soekarno, dalam Dekrit 5 Juli 1959, menegaskan bahwa Piagam Jakarta “menjiwai” dan merupakan bagian tak terpisahkan dari Pembukaan UUD 1945. Artinya, semangat ketuhanan yang adil dan beradab, serta keadilan sosial yang berlandaskan nilai-nilai agama, tetap menjadi fondasi konstitusi kita. Makna Tujuh Kata Sayangnya, dalam narasi publik, tujuh kata dalam Piagam Jakarta sering kali dipersepsikan sebagai bentuk eksklusivisme Islam. Padahal, jika dilihat dengan kaca mata kebangsaan dan moralitas universal, kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” mengandung semangat bahwa setiap agama memiliki konsekuensi moral dan tanggung jawab etik bagi pemeluknya. Kalimat tersebut tidak bicara soal dominasi, tetapi tentang komitmen spiritual yang mendasari keadaban publik. Maka, semangat itu justru inklusif—bukan eksklusif. Ia mengajak kita untuk menempatkan agama sebagai sumber nilai dalam membangun keadilan, kejujuran, dan keberpihakan terhadap yang lemah. Relevansi Hari Ini Dalam situasi kontemporer, di mana moralitas publik sering kali tergerus oleh pragmatisme politik dan ekonomi, semangat Piagam Jakarta perlu dihidupkan kembali. Bukan dalam bentuk legal-formal, tetapi dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita memerlukan fondasi etika publik yang kuat, dan agama—apa pun itu—harus hadir untuk menuntun arah bangsa. Menarik bahwa saat ini banyak diskusi tentang perlunya pendidikan karakter, revolusi mental, dan integritas pejabat publik. Semua itu sejatinya telah dirumuskan dalam semangat Piagam Jakarta. Bahwa kehidupan bernegara mesti dilandasi oleh tanggung jawab spiritual yang menjiwai keputusan politik, ekonomi, dan hukum. Menautkan Sejarah, Menjemput Masa Depan

Read More

Menelusuri Sejarah Perang Badar Yang Mengubah Arah Peradaban Islam

Bondowoso – 1miliarsantri.net: Siapa sangka, di padang pasir yang tandus, sebuah pertempuran tak seimbang justru melahirkan kemenangan besar yang mengguncang kedudukan kaum musyrik Quraisy. Dengan hanya 313 pasukan, umat Islam mampu mengalahkan lebih dari seribu tentara Quraisy. Kejadian luar biasa ini telah tercatat dalam tinta sejarah Islam sebagai perang besar pertama yang menjadi pembeda antara yang hak dan yang batil. Dan sejarah Perang Badar ini, bukan hanya sekadar narasi tentang bentrokan dua pasukan, tetapi lebih dari itu, ia adalah kisah penuh keajaiban, strategi, dan iman yang tak tergoyahkan. Peristiwa ini menjadi titik balik penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW dan umat Islam.  Umat Islam dan generasi selanjutnya sangat wajib untuk mengetahui dan meneladani peristiwa ini. Itulah mengapa, kami Kembali membahas peristiwa ini, agar kita bisa terus ingat, dan menceritakan kepada anak cucu kita. Dan mari, kita langsung bahas kisah lengkap sejarah Perang Badar yang menggetarkan, di bawah ini. Awal Mula Meletusnya Perang Untuk memahami sejarah Perang Badar, kita harus kembali menelusuri situasi sosial dan politik yang memicu konflik ini. Ketika kaum muslimin hijrah ke Madinah, ketegangan antara mereka dengan kaum Quraisy di Makkah tidak mereda. Bahkan, kaum Quraisy semakin agresif dalam menindas dan memusuhi umat Islam. Mereka tidak hanya menyakiti secara fisik, tetapi juga menghalangi penyebaran dakwah dan menutup akses ekonomi bagi kaum muslimin. Pada saat itu, kafilah dagang Quraisy sedang dalam perjalanan pulang dari Syam menuju Makkah. Kafilah tersebut membawa harta kekayaan besar milik penduduk Makkah. Rasulullah SAW melihat hal ini sebagai peluang strategis untuk melemahkan kekuatan ekonomi musuh dan sekaligus menguatkan posisi umat Islam. Maka beliau bersabda, “Ini adalah kafilah Quraisy yang membawa harta benda mereka. Hadanglah kafilah itu, semoga Allah SWT memberikan rampasan itu kepada kalian.” Ketimpangan Kekuatan Pasukan Salah satu sisi paling menegangkan dari sejarah Perang Badar adalah ketimpangan jumlah dan perlengkapan pasukan. Kaum muslimin hanya berjumlah 313 orang, sementara pasukan Quraisy mencapai lebih dari 1.000 orang, lengkap dengan persenjataan dan kuda-kuda perang. Secara logika manusia, kekuatan yang tidak sebanding ini bisa dipastikan menjadi kekalahan telak bagi umat Islam. Namun yang membedakan sejarah Perang Badar dari pertempuran biasa adalah keyakinan para sahabat terhadap pertolongan Allah SWT. Mereka bukan hanya berangkat dengan semangat juang, tapi juga dengan iman yang dalam. Rasulullah SAW bahkan mengatur strategi brilian dengan lebih dahulu menguasai mata air di kawasan Badar. Ini memberi keuntungan taktis besar karena persediaan air sangat krusial dalam kondisi gurun yang gersang. Detik-detik Pertempuran yang Meliputi Taktik, Doa, dan Keajaiban Pertempuran besar dalam sejarah Perang Badar dimulai ketika Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi maju ke barisan depan dan berusaha merebut mata air. Ia dihadang oleh Hamzah bin Abdul Muthalib yang berhasil melumpuhkannya dengan tebasan pedang. Peristiwa ini menjadi pemicu pecahnya perang secara menyeluruh.

Read More

Sejarah dan Perkembangan Islam di Panama

Panama — 1miliarsantri.net : Panama dikenal dengan terusan perlayaran yang menghubungkan antara Samudra Pasifik dan Samudra Atlantik. Seperti dilansir dari The Maritime Post, Terusan Panama menghasilkan sekitar 2 miliar dolar AS per tahun. Dari angka itu, pemerintah setempat mengambil sekira 40 persen. Sebagaimana Terusan Suez bagi Mesir, jembatan air tersebut menjadi salah satu sumber pemasukan untuk negara berpenduduk kurang lebih 4,3 juta jiwa itu. Mayoritas orang Panama berasal dari kelompok etnis Mestizo, yakni percampuran antara kulit putih dan bangsa asli Amerika. Kristen menjadi agama yang dipeluk kebanyakan penduduk negara tersebut. Karena itu, gereja cukup mudah ditemukan di kota-kota setempat. Umat Islam menjadi salah satu minoritas di Panama. Menurut data Pew Research Center (2009), jumlah kaum Muslimin di sana sebanyak 24 ribu orang. Artinya, sekitar 0,7 persen dari keseluruhan masyarakat negara itu memeluk agama tauhid. Dikutip dari keterangan buku Muslim di Amerika dan Cina (2003), syiar Islam dibawa pertama kali ke negara tersebut oleh kalangan budak. Mereka berasal dari Afrika Barat. Sejak negerinya sendiri dikuasai bangsa-bangsa Eropa Barat, kaum kulit gelap itu dijadikan hamba sahaya. Maka dalam jumlah yang masif, orang-orang malang itu diangkut ke Amerika hingga berakhir di Panama. Memasuki abad ke-16, terjadilah beberapa peristiwa pembebasan atau pemberontakan budak di Amerika Tengah. Salah satunya adalah kejadian di lepas pantai Panama yang menghadap Atlantik. Pada 1552, sebuah kapal besar tenggelam. Sebanyak 500 budak di dalamnya berhasil selamat. Seseorang dari mereka kemudian ditunjuk sebagai pemimpin. Namanya adalah Bayano. Lelaki Muslim itu dengan gagah berani memimpin perlawanan orang-orang kulit gelap itu terhadap para majikan. Sesampainya di pesisir Panama, Bayano dan para pengikutnya sudah berstatus merdeka. Mereka pada awalnya harus menghadapi gangguan dari pemerintah kolonial Panama. Pihak otoritas itu sangat ingin memperbudak mereka lagi, apalagi setelah mengetahui bahwa orang-orang tersebut adalah Muslim. Bagaimanapun, Bayano dan para pendukungnya terus melawan secara gerilya. Tepat saat itu, pemerintah kolonial Panama sedang menghadapi pemberontakan yang lebih masif di selatan. Maka, gencatan senjata pun diajukan kepada pemimpin Muslim tersebut. Dalam situasi tenang, Bayano pun dapat mendiri kan permukiman di wilayah yang kini termasuk Provinsi Darien. Di sana, ia membangun masjid sederhana serta menyusun dewan penasihat, baik dalam urusan pertahanan maupun syiar Islam. Masyarakat lokal yang lebih dahulu tinggal di sekitar daerah itu lebih mengenal mereka sebagai orangorang yang berani melawan rezim.

Read More

Kisah Tabi’in Urwah bin Zubair

Jakarta — 1miliarsantri.net : Pagi itu, mentari memancarkan benang-benang cahaya keemasan di atas Baitul Haram, menyapa ramah pelatarannya yang suci. Di Baitullah, sekelompok sahabat Rasulullah SAW yang masih hidup dan tokoh-tokoh tabi’in tengah mengharumkan suasana dengan lantunan tahlil dan takbir, menyejukkan sudut-sudutnya dengan doa-doa yang saleh. Mereka membentuk halaqah-halaqah, berkelompok-kelompok di sekeliling Kakbah agung yang tegak berdiri di tengah Baitul Haram dengan kemegahan dan keagungannya. Mereka memanjakan pandangan matanya dengan keindahannya yang menakjubkan dan berbagi cerita di antara mereka, tanpa senda gurau yang mengandung dosa. Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya dalam bukunya berjudul “Shuwaru min Hayati A;-Tabi’in” yan diterjemahkan Abu Umar Abdillah menjadi “Mereka adalah Para Tabiin” berkisah, di dekat rukun Yamani, duduklah empat remaja yang tampan rupawan, berasal dari keluarga yang mulia. Keempat remaja itu adalah Abdullah bin Zubair dan saudaranya yang bernama Mus’ab bin Zubair, saudaranya lagi bernama Urwah bin Zubair dan satu lagi adalah Abdul Malik bin Marwan. Pembicaraan mereka semakin serius. Kemudian seorang di antara mereka mengusulkan agar masing-masing mengemukakan cita-cita yang didambakannya. Mulailah Abdullah bin Zubair angkat bicara, “Cita-citaku adalah menguasai seluruh Hijaz dan menjadi khalifahnya.” Saudaranya Mush’ab menyusulnya, “Keinginanku adalah dapat menguasai dua wilayah Irak dan tak ada yang merongrong kekuasaanku.” Giliran Abdul Malik bin Marwan berkata, “Bila kalian berdua sudah merasa cukup dengan itu, maka aku tidak akan puas sebelum bisa menguasai seluruh dunia dan menjadi khalifah setelah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.” Sementara itu, Urwah terdiam seribu bahasa, tak berkata sepatah pun. Semua mendekati dan bertanya, “Bagaimana denganmu, apa cita-citamu kelak wahai Urwah?” Ia berkata, “Semoga Allah Ta’ala memberkahi semua cita-cita dari urusan dunia kalian, aku ingin menjadi seorang alim (orang berilmu yang beramal), sehingga orang-orang akan belajar dan mengambil ilmu tentang Rabb-nya, sunnah nabinya dan hukum-hukum agamanya dariku, lalu aku berhasil di akhirat dan memasuki surga dengan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Hari-hari berganti begitu cepat. Abdullah bin Zubair dibai’at menjadi khalifah menggantikan khalifah Yazid bin Mu’awiyah yang telah meninggal. Dia menjadi hakim atas Hijaz, Mesir, Yaman, Khurasan dan Irak yang pada akhirnya terbunuh di Kakbah, tak jauh dari tempatnya mengungkapkan cita-citanya dahulu. Sedangkan Mus’ab bin Zubair telah menguasai Irak sepeninggal saudaranya Abdullah dan akhirnya juga terbunuh ketika mempertahankan wilayah kekuasaannya. Adapun Abdul Malik bin Marwan, menjadi khalifah setelah ayahnya wafat dan bersatulah suara kaum muslimin pasca terbunuhnya Abdullah bin Zubair dan saudaranya Mus’ab, setelah keduanya gugur di tangan pasukannya. Akhirnya, ia berhasil menjadi raja dunia terbesar pada masanya. Ia lahir satu tahun sebelum berakhirnya masa khalifah al-Faruq Umar bin Khattab. Dalam sebuah rumah yang paling mulia di kalangan kaum muslimin dan paling luhur martabatnya. Ayahnya bernama Zubair bin Awwam, “Hawariy” (pembela) Rasulullah SAW dan orang pertama yang menghunus pedangnya dalam Islam serta termasuk salah satu di antara sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Sedangkan ibunya bernama Asma’ binti Abu Bakar ash-Shidiq yang dijuluki dzatun nithaqain (pemilik dua ikat pinggang). Kakeknya dari jalur ibu adalah Abu Bakar Shidiq, khalifah Rasulullah SAW yang menemani beliau di sebuah goa. Sedangkan nenek dari jalur ayahnya adalah Shafiyah binti Abdul Muthalib yang juga bibi Rasulullah SAW. Bibinya adalah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha, bahkan dengan tangan Urwah bin Zubair sendirilah yang turun ke liang lahat untuk meletakkan jenazah Ummul Mukminin. Maka siapa lagi yang kiranya lebih unggul nasabnya dari Urwah? Adakah kemuliaan di atasnya selain kemuliaan iman dan kewibawaan Islam? Demi merealisasikan cita-cita yang didambakan dan harapan kepada Allah yang diutarakan di Kakbah yang agung tersebut, ia amat gigih dalam usahanya mencari ilmu. Maka ia mendatangi dan menimbanya dari sisa-sisa para sahabat Rasulullah SAW yang masih hidup. Urwah mendatangi rumah demi rumah mereka, salat di belakang mereka, menghadiri majelis-majelis mereka. Ia juga meriwayatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Zaid bin Tsabit, Abu Ayyub al-Anshari, Usamah bin Zaid, Sa’id bin Zaid, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Nu’man bin Basyir dan banyak pula mengambil dari bibinya Aisyah Ummul Mukminin. Pada gilirannya nanti, ia berhasil menjadi satu di antara fuqaha sa’bah (tujuh ahli fikih) Madinah yang menjadi sandaran kaum muslimin dalam urusan agama. Para pemimpin yang saleh banyak meminta pertimbangan kepadanya baik tentang urusan ibadah maupun negara karena kelebihan yang Allah berikan kepadanya. Sebagai contoh adalah Umar bin Abdul Aziz. Ketika ia diangkat menjadi gubernur di Madinah pada masa Al-Walid bin Abdul Malik, orang-orang pun berdatangan untuk memberikan selamat kepadanya. Usai salat zuhur, Umar bin Abdul Aziz memanggil sepuluh fuqaha Madinah yang dipimpin oleh Urwah bin Zubair. Ketika sepuluh fuqaha itu telah berada di sisinya, maka Umar melapangkan majelis bagi mereka serta memuliakannya. Setelah bertahmid kepada yang berhak dipuji ia berkata, “Saya mengundang Anda semua untuk suatu amal yang banyak pahalanya, yang mana saya mengharapkan Anda semua agar sudi membantu dalam kebenaran. Saya tidak ingin memutuskan suatu masalah kecuali setelah mendengarkan pendapat Anda semua atau seorang yang hadir di antara kalian. Bila kalian melihat seseorang mengganggu orang lain atau pejabat yang melakukan kezaliman, maka saya mohon dengan tulus agar Anda sudi melaporkannya kepada saya.” Kemudian Urwah mendo’akan baginya keberuntungan dan memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar senantiasa menjadikan beliau tetap lurus dan tidak menyimpang. Sungguh telah terkumpul pada diri Urwah bin Zubair antara ilmu dan amal. Beliau membiasakan berpuasa di musim panas dan salat di waktu malam yang sangat dingin. Lidahnya senantiasa basah dengan zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, senantiasa bersanding dengan Kitabullah dan tekun membacanya. Urwah mengkhatamkan seperempat Al-Qur’an setiap siang dengan membuka mushaf, lalu salat malam membacanya ayat-ayat Al-Qur’an dengan hafalan. Tak pernah ia meninggalkan hal itu sejak menginjak remaja hingga wafatnya melainkan sekali saja. Yaitu ketika peristiwa mengharukan terjadi. Dengan menunaikan salat, Urwah memperoleh ketenangan jiwa, kesejukan pandangan dan surga di dunia. Ia tunaikan sebagus mungkin, ia tekuni rukun-rukunnya secara sempurna dan panjangkan salatnya sedapat mungkin. Telah diriwayatkan bahwa ia pernah melihat seseorang menunaikan salat secepat kilat. Setelah selesai, dipanggilnya orang tersebut dan ditanya, “Wahai anak saudaraku, apakah engkau tidak memerlukan apa-apa dari Rabb-mu Yang Maha Suci? Demi Allah aku memohon kepada Rabb-ku segala sesuatu sampai dalam urusan garam.” Urwah bin Zubair r.a adalah seorang yang ringan tangan, longgar dan dermawan. Di antara bukti kedermawanannya adalah manakala beliau memiliki sebidang kebun…

Read More

Kisah Orang yang Murtad di Awal Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dalam catatan sejarah di masa awal Islam, ada seorang raja yang sudah masuk Islam, tetapi kemudian menjadi murtad. Hal itu terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA. Raja tersebut adalah Raja Ghossan bernama Jablah bin Ayham bin Harits Al-A’raaz bin Syamar Al-Ghossani. Raja Jablah penguasa negeri Syam saat akan di-Qishas oleh Khalifah Umar karena memukul hidung saudaranya seimannya saat menunaikan ibadah haji. Nasiruddin S.AG MM dalam bukunya “Kisah Keadilan Para Pemimpin Islam” menceritakan saat itu setelah Jablah masuk Islam, Ia hendak menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk menunaikan ibadah haji ke kota Makkah. Karena Jablah merupakan orang penting ia mengirim surat ke Madinah pusat pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab atas rencananya akan menunaikan ibadah haji. “Surat itu isinya menginformasikan bahwa Jablah akan mengunjungi kota Madinah sebagai ibu kota pemerintahan Islam pada masa itu untuk bersilahturahmi dengannya setelah itu menunaikan ibadah haji,” katanya. Dengan senang hati Khalifah Umar Bin Khathab menerima maksud kedatangan tersebut. Umar berjanji akan melayaninya sebagai tamu kehormatan bagi khalifah di Ibu Kota Madinah. Jablah bin Ayham bin Harits Al-A’raaz bin Syamar Al-Ghossani pun bersiap-siap untuk berangkat ke Madinah sambil menyiapkan 500 orang yang terdiri dari keluarga kerajaan, kaum kerabat, handa taulan dan para pengawalnya untuk menunaikan ibadah haji di Kota Makkah. Ketika rombongan tersebut sudah memasuki kota Madinah, Jablah bin Ayham mengutus pengawalnya untuk menginformasikan ke kedatangannya kepada Khalifah Umar bin Khathab. Betapa senangnya khalifah mendengar kedatangan raja Ghossan itu. “Lalu Umar memerintahkan para penduduk kota Madinah menyambut kedatangannya sambil menyiapkan hidangan untuk tamu terhormat itu,” katanya. Sementara itu Jablah memerintahkan seratus orang pengawalnya untuk mengenakan pakaian ketentaraan yang terbuat dari sutra. Para pengawal tersebut dengan gagahnya mengendarai kuda yang berhiaskan emas, permata dan aneka hiasan lainnya. Sedangkan Raja Jablah sendiri mengenakan mahkota yang bertahtakan intan permata dan berlian yang indah dan mahal. Pada saat rombongan kerajaan Al-Ghossani memasuki gerbang kota Madinah para Penduduk Madinah, maka keluar penduduk kota tersebut, tua muda anak-anak, kaum remaja, kaum bapak, kaum ibu sorak sorai menyambut kedatangan Raja Ghossan tamu kehormatan Khalifah Umar bin Khattab. Sementara itu para janda dan anak gadis setempat sangat terheran-heran dengan pakaian yang dikenakan raja Jablah saat itu. “Semua memuji keindahan dan kemewahan pakaian kerajaan tersebut,” katanya. Ketika sampai di kota Madinah, Raja Jablah langsung menemui Khalifah Umar untuk memberi tahu kedatangannya. Khalifah Umar langsung menyambut kedatangannya dengan penuh penghormatan dan ramah tamah seorang khalifah terhadap pembesar negeri lainnya. “Assalamualaikum wahai amirul mukminin apa kabarnya Anda saat ini?” ” Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh,” jawab Khalifah Umar dengan penuh kehormatan. “Alhamdulillah berkat doa anda sekalian, sampai saat ini saya dalam keadaan sehat wal afiat,” kata Umar. Kemudian Umar Bin Khattab menjamu tamunya dengan ramah tamah serta menghidangkan makanan sebagai pengisi perut atas perjalanan yang melelahkan bagi raja Jablah Al-Ghossani bersama romobongan. Lalu keduanya ngobrol asik tentang kondisi keamanan dan kesejahteraan rakyat di negeri sekitar Syam. Tak lama kemudian, raja Jablah Al-Ghossani berkata kepada Khalifah Umar. “Wahai Amirul Mukminin sebenarnya kedatangan saya ke kota Makkah nanti adalah untuk menunaikan ibadah haji tahun ini,” katanya. Khalifah Umar pun menyambut positif maksud kedatangannya seraya berkata. ” Insya Allah saya juga akan melaksanakan ibadah haji tahun ini. Dan jika tidak keberatan bagaimana kita berangkat bersama-sama ke kota Makkah untuk menunaikan ibadah haji,” ajak Umar. Akhirnya Khalifah Umar bersama-sama berangkat bersama rombongan kerajaan Al-Ghossani untuk melaksanakan ibadah haji. Sesampainya di Kota Makkah mereka bersama-sama melaksanakan tawaf qudum sebagai tanda kedatangan mereka di Baitullah Ka’bah dan mereka berbaur dengan kaum Muslimin lainnya melaksanakan tawaf dengan khusu dan khidmat. Ketika Jablah sedang melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah, tiba-tiba kain ihramnya tanpa disadari terinjak oleh kaki seorang lelaki dari bani Fazaroh, hingga terlepas dari tubuhnya. Betapa terkejut Jablah dengan hal itu. lalu dengan perasaan kesal ia pukul muka lelaki tersebut dengan tangannya hingga berdarah. Akhirnya lelaki dari bani Fazaroh itu tidak menerima perlakuan Jablah terhadapnya, karena ia melakukan hal itu tidak dengan sengaja. Kemudian ia datang dan mengadu kepada Khalifah Umar tentang perlakuan raja Ghossan itu terhadapnya. “Umar memang seorang khalifah yang sangat arif dan bijaksana serta memperhatikan pengaduan rakyat kecil dan keluhan umatnya,” katanya.

Read More

Gua Hira, Tempat Sejarah Sangat Penting Bagi Umat Islam

Jakarta — 1miliarsantri.net : Gua Hira merupakan tempat yang sangat penting dalam sejarah Islam. Tempat inilah awal mula wahyu pertama diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Terletak di Jabal Nur, Gua Hira menjadi saksi momen besar yang kemudian mengubah jalannya sejarah umat manusia. Gua Hira terletak di sekitar enam kilometer sebelah utara kota Makkah. Meskipun peranannya besar dalam sejarah Islam, ukuran Gua Hira sebenarnya tidak luas. Panjangnya hanya sekitar 2 meter, lebarnya sekitar 1,3 meter, dan tingginya sekitar 1,5 meter, cukup sempit untuk sekadar duduk dan beribadah. Meski kecil, Gua Hira memiliki suasana hening dan tenang. Menurut berbagai riwayat, sebelum di angkat menjadi nabi, Rasulullah SAW. sering mengalami kegelisahan yang mendalam melihat kehidupan masyarakat di sekitarnya yang penuh dengan penyembahan berhala, ketidakadilan, dan praktik-praktik yang tidak manusiawi. Beliau merasa terpanggil untuk menemukan pencerahan dan kebenaran, yang kemudian membawanya melakukan perjalanan spiritual di Gua Hira. Pada usia 40 tahun, tepatnya di bulan Ramadan, peristiwa besar terjadi. Malaikat Jibril datang kepada beliau untuk menyampaikan wahyu pertama dari Allah SWT yang berbunyi:ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ Artinya: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1). Ayat ini adalah perintah langsung dari Allah Swt. yang menandakan awal mula turunnya Al-Quran. Dengan wahyu ini, nabi Muhammad SAW pun diangkat menjadi Rasul Allah, dan sejak saat itu dimulailah tugasnya untuk menyebarkan ajaran Islam kepada seluruh umat manusia. Sejarah Gua Hira ini menjadi sangat penting karena wahyu pertama inilah yang menjadi titik tolak ajaran Islam. Apa yang Rasulullah Lakukan di Gua Hira? Di Gua Hira, Rasulullah Muhammad SAW. melakukan sebuah bentuk perenungan mendalam yang dikenal dengan istilah uzlah. Uzlah adalah kegiatan menyendiri dengan tujuan untuk menjernihkan pikiran dan memfokuskan hati kepada Allah. Melalui uzlah, Nabi Muhammad saw. berupaya untuk merenungkan kebesaran alam semesta dan memandang segala sesuatu dengan penuh makna dan kedalaman. Uzlah ini bukan hanya sekadar menyendiri secara fisik, namun juga melibatkan pemusatan jiwa dan raga dalam sebuah perenungan yang dalam. Rasulullah Muhammad SAW beruzlah untuk merenungkan hakikat kehidupan, keindahan alam, dan kebesaran Tuhan.

Read More

Bukti Gunung Muria Dulu Dipisah Selat dari Pulau Jawa

Semarang — 1miliarsantri.net : Pegunungan Kendeng dikenal sebagai penghasil kayu jati yang berkualitas sebagai bahan kapal jung. Dulu Pegunungan Kendeng berada di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, berhadapan dengan pesisir selatan Pulau Muria. Keduanya dipisah oleh selat yang bernama Selat Muria. “Kawasan Selat Muria telah lama dikenal memiliki galangan kapal Jung Jawa,” terang Ahmad Buchori Masruri. Di Pulau Muria ada Gunung Muria, di bagian selatan ada Perbukitan Patiayam. “Daerah Patiayam secara stratigrafis memiliki enam litologi utama yang merupakan produk sedimentasi maupun hasil aktivitas vulkanik Gunung Muria,” kata Ahmad Buchori Masruri. Ahmad Buchori Masruri menyebut, di Semenanjung Muria terdapat tiga gunung api maar. Yaitu Maar Bambang, Maar Gunungrowo, dan Maar Gembong. Gunung api maar terbentuk akibat letusan di bawah permukaan air. “Maar tersebut merupakan hasil erupsi gunung api monogenesis sebagai produk interaksi antara sumber panas (magma) dan air bawah permukaan dan batuan dasar karbonat,” jelas alumnus Pendidikan Sejarah UNS itu. Di masa lalu, Selat Muria berfungsi sebagai tempat pengumpulan komoditas yang didapat dari Pulau Muria dan dari Pegunungan Kendeng di Pulau Jawa. Demak dan Jepara berada di barat daya Pulau Muria dan menjadi pelabuhan utama. Dari pelabuhan ini, komoditas dibawa ke berbagai negeri, hingga ke Malaka. “Kapal dagang milik orang Jawa menguasai jalur rempah yang sangat vital (Maluku, Jawa, Malaka),” kata Ahmad Buchori Masruri. Oleh karena itu, orang Jawa ada banyak di Malaka. Baik sebagai saudagar maupun sebagai nakhoda kapal. Banyak pula tukang kayu dari Jawa di Malaka. Mereka terampil membangun galangan kapal. Tapi Selat Muria kemudian mengalami pendangkalan. Endapan fluvio-marin dari berbagai sungai di Jawa terkumpul di Selat Muria. “Fluvial adalah istilah yang merujuk pada proses yang terkait dengan sungai dan aliran serta endapan dan bentang alam yang dihasilkan,” jelas Achmad Buchori Masruri.

Read More