Sejarah Hari Santri Nasional 22 Oktober: Dari Resolusi Jihad Hingga Penetapan Presiden

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 Yang dipimpin KH. Hasyim Asy’ari “Pendiri Nahdlatul Ulama” Merupakan Titik Awal Peran Serta Santri Dan Ulama Dalam Merebut Serta Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Bekasi – 1miliarsantri.net: Sejak 22 Oktober 2015, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Peringatan ini bukan sekadar seremonial, melainkan pengakuan negara atas peran besar santri dan ulama dalam merebut serta mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Latar belakangnya erat kaitannya dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dipimpin KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Asal-Usul Hari Santri Nasional Hari Santri berawal dari peristiwa sejarah pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945. Saat itu, Belanda yang diboncengi sekutu berusaha kembali menjajah Indonesia. Melihat kondisi tersebut, para ulama di Jawa Timur segera bergerak untuk mengobarkan semangat jihad demi mempertahankan kemerdekaan. KH. Hasyim Asy’ari kemudian mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Isinya menegaskan bahwa membela tanah air dari penjajah hukumnya fardhu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim). Seruan ini membuat semangat rakyat, khususnya di Surabaya, semakin berkobar dan meletuslah pertempuran 10 November 1945 yang kini dikenang sebagai Hari Pahlawan. Penetapan Hari Santri Nasional Untuk mengenang peristiwa bersejarah dan semangat juang Ulama dan Santri, pada tahun 2015 Presiden Joko Widodo menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Sejak saat itu, setiap pesantren, ormas Islam, dan masyarakat Indonesia memperingati Hari Santri dengan berbagai kegiatan, mulai dari apel santri, kirab, pengajian, hingga diskusi kebangsaan. Makna Hari Santri Hari Santri tidak hanya mengingatkan kita pada perjuangan fisik melawan penjajah, tetapi juga mengandung pesan penting:

Read More
Masjid Nabawi

3 Wisata Religi Madinah Selain Masjid Nabawi

Surabaya – 1miliarsantri.net: Dulu kalau mendengar kota  Madinah yang diingat hanya Masjid Nabawi dan Quba. Tapi setelah mengunjungi Madinah di akhir tahun 2024 jadi tahu bahwa ada 3 masjid dekat Masjid Nabawi yang menyimpan jejak bersejarah sahabat nabi. Pertama kali masuk Masjid Nabawi melalui gate 310. Dalam perjalanannya kesana melewati Masjid Al-Ghamamah dan Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Selain itu merasa bersyukur karena  lokasi hotel di Madinah “Manazel Al-Falah” berderet dengan Masjid Ali bin Abi Thalib bahkan hanya semenit menuju Masjid Nabawi melalui gate 315. Saat hari terakhir di Madinah, tepatnya setelah subuh memberanikan diri untuk jalan sendiri mengunjungi 3 masjid bersejarah itu. Yang dari awal memandangnya ada sebuah ketertarikan hati untuk mengunjunginya. Mengunjungi masjid-masjid bersejarah ini adalah salah satu cara untuk menghidupkan syiar Islam serta menguatkan iman. Dan tanpa basa basi lagi, yuk langsung lihat daftar 3 masjid berseharah tersebut di bawah ini! 1. Masjid Ali bin Abi Thalib Masjid ini mudah ditemukan ketika keluar dari gate 315 Masjid Nabawi tepatnya di jalan As-Salam. Jarak dari Masjid Nabawi sekitar 290 meter. Masjid ini pertama kali dibangun pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (87–93 H). Lalu pada tahun 1411 H, Raja Fahd memperlebar masjid  hingga 682 meter dan menambahkan menara setinggi 26 meter. Dulunya lokasi masjid ini merupakan teras rumah Ali bin Abi Thalib. Bahkan Nabi Muhammad pernah shalat ied di masjid Ali.  Masjid ini dibangun untuk mengenang pengabdian Ali bin Abi Tablin  yang merupakan sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad. Arsitektur masjidnya bernuansa putih sederhana yang memiliki satu kubah utama dan satu menara pucuk hitam. Masjid Ali bin Abi Thalib mengingatkan kita bahwa keberanian dan keteguhan hati harus diiringi dengan kerendahan hati. Ali bin Abi Thalib bukan hanya menantu Rasulullah, tetapi juga sosok yang setia pada kebenaran, sehingga masjid ini menjadi simbol pengabdian tanpa pamrih. Baca juga: Sejarah Partai Syarikat Islam, Sebelum Terlahirnya Boedi Oetomo dan Sumpah Pemuda 2. Masjid Al-Ghamamah Pertama kali mau shalat Maghrib di Masjid Nabawi, pernah melewati sebuah masjid yang kubahnya penuh dengan burung merpati dan dinaungi awan sore menyejukkan. Melihat masjid itu serasa dibawa ke zaman Nabi, karena bangunan tua yang indah. Ternyata itu adalah Masjid Ghamamah/Al-Mushalla. Masjid ini mudah ditemukan ketika keluar dari gate 310 Masjid Nabawi. Dengan Masjid Nabawi berjarak sekitar 300 meter. Al-Ghamamah berada di sekitar Pasar Tamar. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Khalifah Umar bin Khattab tepatnya di posisi tempat shalat rasulullah. Bangunan masjid Ghamamah terkini merupakan renovasi dari Sultan Abdul Majid al-Ustmani. Di era  Raja Fahd pernah diperbaiki kembali pada 1411 H. Arsitektur masjid ini ada tiga kubah besar yang selalu dihinggapi burung merpati dan ada menara puncaknya. Didominasi dengan warna cream. Dan dinding masjidnya dari batu alam berwarna abu-abu.  Sebelumnya area masjid ini merupakan lapangan lapang di kawasan al-Manakha. Pada tahun kedua hijrah, rasulullah pernah shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Masjid ini dinamakan “Al-Ghamamah” yang dalam bahasa arab berarti “awan”. Dulu di lokasi masjid ini Nabi Muhammad melaksanakan shalat istisqa dan berdoa agar turun hujan dikala penduduk Madinah diserang kekeringan akut yang membuat masyarakat kesusahan. Setelah istiqomah itu, muncullah awan yang menjadi tanda turun hujan deras. Abu Hurairah ra meriwayatkan: “Setiap kali Rasulullah melewati Al-Mushalla (tempat shalat), beliau menghadap kiblat lalu berdoa.” (HR. Bukhari). Kisah turunnya hujan di Masjid Ghamamah ini memberikan pelajaran bahwa kunci menghadapi masa sulit adalah bersabar. Dan ketika hidup terasa kering tetaplah terus berdoa sepenuh hati maka karunia Allah akan datang. Yang pasti berdoa dan berharap kepada Allah tidak akan pernah mengecewakan. Allah pasti mendengar dan akan mengabulkannya di waktu terbaik. Masjid Al-Mushalla dibuka untuk shalat sunnah seperti Dhuha dan tahiyatul masjid. Tapi cuma bisa diakses untuk jamaah laki-laki.

Read More
Sejarah Saqifah Bani Sa’idah

Sejarah Saqifah Bani Sa’idah, Tempat Baiat Abu Bakar Sebagai Pelayan Umat yang Rendah Hati

Surabaya – 1miliarsantri.net: Sehari menjelang meninggalkan Madinah menuju Mekkah, sore itu muthawif  mengajak menelusuri tempat bersejarah di depan pelataran Masjid Nabawi.  Sebuah taman kecil yang terasa sederhana namun penuh makna. Setelah itu di Tengah teriknya matahari muthawif memberikan kajian sejarah tempat ini kepada rombongan umroh. Muthawif menerangkan, “Inilah Saqifah Bani Sa’idah, tempat bersejarah yang menjadi saksi lahirnya kepemimpinan Islam pasca wafatnya Rasulullah.” Saat melihatnya, pikiran terbayang pada peristiwa 14 abad silam, di mana para sahabat berkumpul untuk mencari sosok yang akan menggantikan Rasulullah sebagai pemimpin umat. Sejarah Saqifah Bani Sa’idah Saqifah Bani Sa’idah dulunya adalah bangunan beratap milik kabilah Bani Sa’idah dari suku Khazraj, salah satu suku besar di Madinah.  Tempat itu digunakan untuk musyawarah dan pertemuan kaum Anshar. Di depannya terdapat halaman luas serta sumur milik Bani Sa’idah, sehingga sering menjadi titik berkumpul masyarakat. Kini, bangunan itu telah menjadi taman berpagar yang hampir selalu terkunci, hanya sesekali dibuka untuk wisatawan religi. Meski sederhana, tempat ini menyimpan peristiwa monumental: musyawarah pemilihan khalifah pertama umat Islam. Baca juga: Sejarah dan Perkembangan Musik Dalam Peradaban Islam Musyawarah Tiga Calon Khalifah Setelah Rasulullah wafat pada tahun 11 Hijriah, kaum Anshar berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk memilih pemimpin Madinah. Mereka mengusulkan Sa’ad bin Ubadah sebagai calon. Namun ketika kaum Muhajirin hadir, mereka berpendapat bahwa bukan hanya Madinah yang butuh pemimpin, tetapi seluruh umat Islam. Tiga tokoh muncul sebagai calon, Sa’ad bin Ubadah dari Anshar, Ali bin Abi Thalib dari keluarga Bani Hasyim, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq dari Muhajirin Quraisy. Diskusi berlangsung hangat, hingga akhirnya Umar bin Khattab menyatakan baiat kepada Abu Bakar. Umat pun sepakat memilihnya sebagai khalifah pertama karena kedekatannya dengan Rasulullah dan kepemimpinannya yang bijak. Pidato Abu Bakar Sebagai Khalifah Setelah dibaiat, Abu Bakar Ash-Shiddiq menyampaikan pidato bersejarah di hadapan umat Islam. Dengan penuh kerendahan hati, beliau berkata: “Wahai manusia! Aku telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antaramu. Maka jika aku benar, bantulah aku; jika aku salah, luruskanlah aku.

Read More
masjid Ghamamah

Masjid Ghamamah Madinah, Tempat Bersejarah yang Memberi Banyak Hikmah!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Dalam perjalanan pertama kali menjajaki Masjid Nabawi melalui gate 310, ada satu masjid di sekitar sana  yang berhasil membuat hati terkesima. Langit sore menjelang maghrib ada awan-awan putih berkerumun di kubah masjid Ghamamah. Bahkan banyak merpati yang singgah di kubah, sesekali terbang beriringan menciptakan keindahan di sore itu. Karena baru pertama kali di Madinah, jadi penasaran kenapa Masjid Ghamamah/Al-Musalla (melihat penjelasan di papan sejarah depan masjid) begitu memikat hati. Peristiwa Awan Mendung yang Menjadi Rahmat Nama “Ghamamah” sendiri berarti “awan mendung”. Julukan ini merujuk pada peristiwa istimewa yang dialami Rasulullah ketika melaksanakan shalat Ied di lapangan tempat masjid ini berdiri. Dikisahkan bahwa Rasulullah pernah melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha di Masjid Ghamamah. Saat itu, masyarakat Madinah berkumpul untuk beribadah bersama. Menariknya, ketika beliau memimpin shalat, sebuah awan menaungi sehingga tempat itu tidak terik meski di bawah sinar matahari. Hal ini menjadi isyarat betapa kasih sayang Allah menaungi Nabi dan umatnya. Doa Nabi Meminta Hujan Saat Madinah Paceklik (Shalat Istisqa) Salah satu peristiwa paling terkenal di Masjid Ghamamah adalah ketika Madinah mengalami musim paceklik panjang. Tanah gersang, sumur-sumur mengering, dan hewan ternak mati kekurangan air.  Dalam kondisi sulit itu, Rasulullah berdiri di Masjid Ghamamah dan memanjatkan doa meminta hujan. Doa yang pernah dibacakan Nabi Muhammad ketika memohon turunnya hujan pernah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah: اللَّهمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ Artinya: “ Ya Allah, turunkanlah hujan kepada hamba-hamba-Mu dan binatang-binatang (ciptaan)-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang sebelumnya mati (gersang).” Tak lama setelah beliau menengadahkan tangan, awan mendung berkumpul dan hujan turun dengan derasnya. Masyarakat pun bersujud syukur. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa doa seorang hamba yang ikhlas mampu mendatangkan pertolongan Allah. Nabi bersabda: الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ “Sesungguhnya doa adalah senjata orang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” (HR. Hakim). Kisah Nabi Muhammad Kecil di Tengah Kekeringan Menariknya, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, Muhammad kecil sudah pernah merasakan pahitnya musim paceklik. Sejarah mencatat, ketika itu kakeknya, Abdul Muthalib membawanya bersama kaum Quraisy untuk berdoa meminta hujan. Doa Abdul Muthalib bersama cucunya terkabul, hujan pun turun setelah sekian lama musim kemarau di Makkah. Kisah ini menunjukkan bahwa sejak kecil, Nabi Muhammad  sudah menjadi sosok yang dihubungkan dengan rahmat Allah. Kehadirannya membawa harapan di tengah kesulitan, sebagaimana hujan yang menghidupkan kembali tanah yang mati. Baca juga: Sejarah Jilbab Dalam Peradaban Pra-Islam Hikmah Peristiwa di Masjid Ghamamah

Read More
demo

Ada Demo di Zaman Nabi? Ternyata Begini Cara Menyampaikan Aspirasi yang Tepat Tanpa Anarkis!

Surabaya – 1miliarsantri.net: Pertengahan Agustus dan September telah terjadi demo hampir di seluruh wilayah Indonesia. Semua itu berawal dari demo yang terjadi di Pati lantaran kebijakan kenaikan pajak dan sikap arogan pemimpin daerah. Dalam kehidupan bernegara tak dapat dielakkan akan terjadi pro kontra terhadap kebijakan yang menimbulkan protes atau aspirasi oleh masyarakat. Hal itu pun pernah terjadi di era Nabi Muhammad. Namun bagaimana realitas demo umat Islam terdahulu?. Tidak Ada Demo Massal, Tapi Ada Penyampaian Aspirasi Dalam catatan sejarah, Rasulullah tidak pernah menganjurkan umatnya untuk melakukan demonstrasi massal seperti di era modern. Namun, bukan berarti umat Islam pada masa itu tidak memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat. Rasulullah justru memberikan teladan bahwa aspirasi boleh disampaikan, selama dilakukan dengan cara yang santun dan tidak menimbulkan kerusakan. Misalnya, ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, sebagian sahabat merasa keberatan dengan isi perjanjian tersebut. Mereka menyampaikan protes dan kebingungan kepada Rasulullah. Meski sempat kecewa, para sahabat akhirnya tunduk pada keputusan beliau. Dari sini terlihat bahwa penyampaian aspirasi di era Nabi lebih berbentuk musyawarah dan dialog langsung, bukan gerakan massa yang menekan dengan keributan. Musyawarah Sebagai Ruang Aspirasi Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya musyawarah sebagai jalan bermartabat untuk menyampaikan pendapat. Allah  berfirman: وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۚ Artinya: (juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS. Asy-Syura: 38). Ayat ini menjadi dasar bahwa sejak masa Nabi, umat Islam memiliki ruang untuk menyampaikan suara dan keberatan. Namun dengan cara musyawarah, bukan dengan tindakan anarkis. Baca juga: Sejarah Alquran Braille di Indonesia Aksi Protes di Era Nabi Muhammad Beberapa peristiwa dalam sejarah Islam menunjukkan bahwa sahabat berani menyampaikan aspirasi mereka, mulai dari peristiwa:

Read More

8 Dekade Pengeboman Hiroshima-Nagasaki, Jepang, Apa Saja yang Masih Terkenang?

Bekasi – 1miliarsantri.net: Perang Dunia II yang ditandai dengan dijatuhkannya bom atom di dua kota Jepang, “Hiroshima dan Nagasaki.” Kejadian ini berlangsung pada bulan Agustus 1945. Artinya, peristiwa ini terjadi tepat 80 tahun yang lalu. Catatan Sejarah menyebutkan bahwa pada 6 Agustus 1945, pesawat B-29  milik Amerika Serikat “Enola Gay”, menjatuhkan bom atom ‘Little Boy’ di Hiroshima yang menewaskan sekitar 140 ribu orang. Tidak berhenti disana, tiga hari kemudian tepatnya 9 Agustus bom kedua dijatuhkan di Nagasaki dan menewaskan lebih dari 75 ribu orang. Akibat kejadian ini, Jepang menyerah tanpa syarat enam hari setelahnya yaitu pada tanggal 15 Agustus 1945 yang secara tidak langsung menandai berakhirnya Perang Dunia Kedua. Hiroshima Bak Neraka 6 Agustus 1945, tepat pukul 80.15 pagi waktu setempat, Amerika Serikat menjatuhkan bom ke salah satu kota di Jepang, yaitu Hiroshima. Tiga hari setelahnya, Amerika Serikat kembali mengebom wilayah Selatan Kota Nagasaki. “Saat itu Hiroshima seperti neraka, dan itu neraka yang diciptakan oleh manusia”. Apa yang terjadi di Hiroshima Setelah Perang Dunia Kedua? Satu tahun setelah memasuki Perang Dunia II tepat pada 7 Desember 1941, serangan mendadak diluncurkan oleh Angkatan Udara Jepang terhadap pangkalan Angkatan Laut AS di Pearl Harbour, Hawaii hingga menewaskan lebih dari 2.400 orang. Beberapa bulan setelah  penyerangan tersebut, Amerika Serikat memulai operasi rahasia di New Mexico dengan menggunakan fisi nuklir untuk menciptakan bom atom pertama di dunia. Tiga tahun kemudian, untuk pertama kalinya Amerika Serikat menjatuhkan bom eksperimental ke Kota Hiroshima akibat dari Jepang yang menolak ultimatum untuk menghentikan perlawanan setelah Jerman menyerah. Berikut pernyataan Harry Truman, Mantan Presiden AS pada saat itu: Beberapa waktu yang lalu, sebuah pesawat Amerika menjatuhkan satu bom di Hiroshima dan menghancurkan musuh. Bom tersebut memiliki kekuatan melebihi 20.000 ton TNT. Itu Adalah bom atom. Akibat penyerangan tersebut, 78.000 dari 350.000 penduduk Hiroshima dinyatakan tewas seketika. Namun, misi pengeboman Amerika Serikat masih berlanjut tiga hari setelahnya, yaitu pengeboman kedua ke Kota Nagasaki yang menambah daftar penduduk tewas sebanyak 40.000 dari 240.000 penduduk. Pada akhirnya, Jepang menyerah dan menyatakan mengakhiri perang di Asia. Delapan Dekade yang Masih Menghantui Bom atom yang menyerang Hiroshima dan Nagasaki, delapan dekade yang lalu, masih menjadi momok menakutkan bagi para penyintas yang berhasil selamat dari serangan bom atom di Jepang tersebut. Beberapa penyintas masih berusia anak-anak pada saat itu, sebut saja yang pertama Keiko berusia 8 tahun, Mikio 13 tahun dan Kenji 6 tahun. Disebutkan oleh Keiko bahwa, pada malam sebelumnya muncul adanya peringatan yang membuat banyak orang terburu-buru menuju tempat perlindungan berkali-kali. “Hari ini mungkin akan terjadi sesuatu, karena itulah, kamu jangan pergi ke sekolah.”ujar ayah Keiko pada saat itu.

Read More

Sejarah Panjang Perlawanan Pajak di Pati dari Demak hingga Era Modern, Buntut Kenaikan Pajak 250% Oleh Bupati Sudewo

Pati – 1miliarsantri.net: Pati mengalami gonjang-ganjing akibat kebijakan pajak yang dirasa sangat memberatkan masyarakatnya. Kebijakan Bupati menaikan pajak secara drastis, PBB naik 250%, masyarakat sangat terbebani. Potret perlawanan pajak di Pati kembali menggema. Protes warga Pati yang viral di media sosial mendapatkan tanggapan serius dari Presiden Prabowo melalui Sekjen Partai Gerindra. Fenomena perlawanan pajak di Pati tahun 2025 memang terasa seperti dejavu sejarah yang berulang. Perlawanan pajak dari Demak hingga era modern terus berulang. Di balik demonstrasi besar-besaran yang mengguncang pemerintahan Bupati Sudewo, tersimpan jejak panjang perlawanan sipil yang telah mengakar sejak era kolonial. Berikut rangkuman sejarah dan konteksnya, sebuah tulisan yang diangkat oleh R Temmy Setiawan seorang facebookers asal Jogjakarta. ERA KERAJAAN​Berawal dari Pajak Hasil Bumi ​Sejarah perlawanan pajak di Pati dimulai pada era Kerajaan Demak sekitar tahun 1500-an. Di bawah kepemimpinan Tombronegoro, masyarakat Pati memprotes keras kenaikan pajak hasil bumi sebesar 30% yang memberatkan. Perlawanan ini berlanjut pada tahun 1540-an ketika Ki Penjawi memimpin perlawanan terhadap kenaikan kuota setoran pajak sebesar 20%, yang pada akhirnya membuat Pati mengalihkan kesetiaan mereka ke Kerajaan Pajang. ​Pada masa Kerajaan Mataram, perlawanan kembali memuncak. Upeti beras naik hingga 40% pada 1620-an di era Adipati Pragola I, yang membuat Pati menolak kewajiban setor beras secara besar-besaran. Puncaknya adalah pemberontakan besar di bawah Adipati Pragola II pada 1627-1628, di mana kenaikan pajak sebesar 50% menjadi alasan utama penolakan membayar upeti kepada Sultan Agung. Perlawanan ini berlanjut hingga era Pragola III pada 1670-an, di mana kenaikan pajak sebesar 35% oleh Amangkurat I kembali memicu perlawanan. ERA KOLONIAL ​Melawan Penindasan Penjajah ​Memasuki masa kolonial, semangat perlawanan masyarakat Pati tidak surut. Pada tahun 1740, perlawanan terhadap kenaikan bea perdagangan VOC sebesar 25% terjadi, dipimpin oleh pengikut Sunan Kuning. Perlawanan ini mencapai puncaknya pada Geger Pecinan (1741-1743) di mana rakyat Pati, di bawah pengaruh pengikut Untung Surapati, ikut menyerbu pos VOC yang memungut pajak pelabuhan hingga 40%. ​Pajak yang memberatkan juga berlanjut di era Daendels dan Raffles (1811-1816), di mana kenaikan sewa tanah tahunan sebesar 30% memicu perlawanan lokal yang dipimpin oleh Ki Kromo Pati. Penderitaan rakyat semakin parah dengan diberlakukannya Cultuurstelsel (Tanam Paksa) pada tahun 1830. Beban tanam paksa setara dengan 66% hasil panen, yang membuat petani Pati melakukan mogok tanam sebagai bentuk protes. Perlawanan ini melahirkan tokoh legendaris seperti Samin Surosentiko pada 1880-an yang menolak pajak kolonial atas tanah dan hasil bumi yang naik 25%.

Read More

Sejarah Hari Ini ‘Komputer IBM Generasi Pertama IBM PC 5150’ Resmi Diperkenalkan Ke Publik

Bekasi – 1miliarsantri.net: Generasi Baby Boomers dan Gen-X tentu familiar dengan sejarah awal komputer. Sejarah komputer pribadi diawali oleh IBM yang memperkenalkan produknya nama IBM PC. Meluncur dengan generasi pertama IBM PC 5150, dan pensiun pada 2 April 1987. IBM PC 5150 adalah komputer pribadi generasi pertama yang diluncurkan pada 12 Agustus 1981. Komputer pribadi tersebut diperkuat dengan menggunakan prosesor 16-bit Intel 8088 berkecepatan 4.77 MHz, power supply 63.5 Watt dan memori yang hanya 64 KB. Media penyimpanan yang digunakannya hanya floppy disk drive 5.25 inci 320 KB atau 360 KB (double-side floppy disk). Mengutip wikipedia, IBM PC datang dengan ROM yang dilengkapi dengan interpreter bahasa Microsoft Cassette BASIC, sehingga pengguna dapat melakukan pemrograman (jika tidak ada sistem operasi yang dimuat). IBM PC 5150 memiliki ROM yang dilengkapi dengan fungsi diagnosis Power-on Self Test (POST) yang akan melakukan pengecekan terhadap perangkat keras sebelum dapat bekerja (meski proses pengecekan yang dilakukannya sangat lambat, lebih dari 10 detik). Mikroprosesor yang digunakan Intel 8088, dengan kecepatan 4.77 MHz.Math co-processor opsional: Intel 8087 berkecepatan 4.77 MHz. Jenis bus yang digunakan ISA (Industry Standard Architecture) 8-bit Tingkatan interupsi 8 (6 yang dapat digunakan), tidak dapat saling berbagi, bersifat Edge-triggered Saluran Direct Memory Access (DMA) 4 buah (3 yang dapat digunakan), tidak dapat mendukung bus mastering Prosesor dapat di-upgrade Tidak Memori Chip Dynamic Random Access Memory (DRAM), 200 nanodetik, dengan kapasitas 16 KB, 64 KB, atau 256 KB.Interkoneksi dengan motherboard menggunakan soket Dual-Inline Package (DIP) 16-pin, yang berjumlah 27 buah (3 x 9 chip).Maksimum 64 KB (untuk motherboard yang dijual sebelum tahun 1983)/256 KB (untuk motherboard yang dijual setelah 1983) yang dapat ditancapkan di tiap soket atas motherboard.Untuk memori yang lebih besar (hingga 640 KB), dapat menggunakan slot ekspansi memory (memory expansion slot).Bank pertama dari memori disolder ke atas motherboard, sehingga tidak dapat diganti secara langsung tanpa melakukan desolder (IBM menyarankan untuk mengganti motherboard untuk mengganti memori yang disolder). Total Memori RAM maksimum 640 KB, dapat diinstalasikan dengan menggunakan slot ekspansi memori (karena motherboard hanya mendukung 64 KB atau 256 KB). ROM 40 KB, tidak mendukung ROM Shadowing. Port serial 2 buah NS8250B UART, 9600 baud/detik Port paralel 3 buah, tidak mendukung operasi dua arah (bi-directional). Jenis media penyimpanan Floppy disk drive, 360 KB 5.25 inci Slot ekspansi 5 buah yang terdapat dalam motherboard, 3 buah yang masih kosong(1 buah digunakan untuk kontrolir floppy disk, 1 buah lagi digunakan untuk kontrolir video) Power Supply 63.5 Watt, diberi kipas pendingin.Beberapa kartu ekspansi yang haus daya mensyaratkan penggantian power supply yang dapat menyuplai daya yang lebih besar. Keyboard IBM PC Keyboard, 83-tombol. Dicolokkan ke dalam soket keyboard yang memiliki enam buah pin. Data Wikipedia IBMWikipedia IBM PC

Read More

Umar bin Khattab: Pilar Keadilan dan Ketegasan dalam Sejarah Islam

Jakarta – 1miliarsantri.net: Ketika berbicara tentang tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam, maka nama Umar bin Khattab pasti menjadi salah satu yang akan terlintas di benak. Sosok yang dikenal tegas, adil, dan penuh keberanian ini bukan hanya seorang Khalifah, tapi juga simbol nyata dari kekuatan iman dan integritas dalam memimpin. Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan hidupnya, terutama soal bagaimana menghadirkan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini akan mengajak kalian mengenal lebih dekat tentang siapa Umar bin Khattab dan apa perannya dalam sejarah Islam. Mengenal Umar bin Khattab dalam Lintasan Sejarah Ketika bicara soal sejarah Islam, tak lengkap rasanya tanpa menyinggung peran besar Umar bin Khattab. Beliau adalah khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan juga termasuk dalam kelompok al-Khulafaur Rasyidin, yakni para pemimpin Islam yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad SAW. Baca juga: Dari Syirik Menuju Tauhid! Revolusi Spiritual Nabi Muhammad SAW dan Lahirnya Peradaban Islam Umar bin Khattab mulanya dikenal sebagai penentang Islam yang keras. Tapi siapa sangka, hidayah menyapanya dalam momen yang begitu dramatis dan emosional. Setelah memeluk Islam, Umar bin Khattab menjadi salah satu pembela yang paling berani. Ia tidak lagi bersembunyi dalam menjalankan ajaran Islam, bahkan secara terbuka menyatakan keislamannya di depan kaum Quraisy yang pada masa itu sangat menentang Islam. Sebagai khalifah, Umar bin Khattab memimpin selama sekitar 10 tahun, dan dalam waktu yang terbilang singkat itu, ia berhasil membawa Islam ke masa keemasannya. Wilayah kekuasaan Islam pada masa itu meluas hingga ke Persia, Romawi Timur bahkan berbagai daerah di luar Jazirah Arab. Dan yang tak kalah penting Umar juga dikenal karena prinsip keadilan dan ketegasannya yang luar biasa. Ia tidak segan mengoreksi aparatnya sendiri, bahkan bersedia menerima kritik dari rakyat jelata. Umar Bin Khattab, Pilar Keadilan dan Ketegasan yang Menginspirasi Umar bin Khattab tidak hanya dikenal karena ekspansi wilayah kekuasaan Islam, tetapi lebih karena prinsip keadilan yang ia pegang erat. Keadilan bagi Umar adalah nilai inti dari kepemimpinan. Dalam menegakkan hukum Ia tidak pernah memandang status sosial, harta kekayaan, atau kedekatan pribadi. Semua orang, tanpa terkecuali, harus diperlakukan sama dan adil.

Read More

Dari Syirik Menuju Tauhid! Revolusi Spiritual Nabi Muhammad SAW dan Lahirnya Peradaban Islam

Tegal – 1miliarsantri.net: Sebelum Islam hadir membawa petunjuk, masyarakat Arab berada dalam masa yang disebut sebagai zaman jahiliyah. Istilah ini tidak hanya menggambarkan ketidaktahuan terhadap ilmu pengetahuan, tetapi juga merujuk pada kondisi moral, sosial, dan spiritual yang rusak dan gelap. Nilai-nilai kemanusiaan dikaburkan oleh kesyirikan, kekerasan, dan ketimpangan sosial. Namun, kondisi ini berubah secara drastis lewat misi agung Nabi Muhammad SAW yang mengembalikan manusia kepada tauhid dan nilai-nilai Ilahi. Dan mari, di artikel ini sejenak kita refleksi kembali perjalanan transformatif masyarakat Arab dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam, yang tidak hanya mengubah Mekkah dan Madinah, tetapi juga meletakkan dasar peradaban dunia yang adil dan beradab. Akar Tauhid yang Terlupakan Masyarakat Arab, khususnya suku Quraisy, sejatinya pernah mengenal ajaran tauhid. Mereka adalah keturunan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS yang telah mewariskan agama Hanifiyah, sebuah ajaran yang murni menekankan keesaan Allah SWT dan keadilan dalam kehidupan sosial. Ka’bah sendiri adalah simbol tauhid yang dibangun oleh dua nabi tersebut sebagai rumah ibadah kepada Allah SWT. Namun, seiring berjalannya waktu, ajaran ini mulai dilupakan. Interaksi dengan peradaban lain, pengaruh asing, serta lemahnya pemahaman menyebabkan penyimpangan akidah. Tauhid berubah menjadi politeisme dan khurafat. Amr bin Luay al-Khuzai kemudian tercatat dalam sejarah sebagai tokoh yang pertama kali memperkenalkan berhala ke Mekkah, sehingga membuka jalan bagi tersebarnya praktik syirik di Jazirah Arab. Ia membawa patung bernama Hubal dari Syam dan meletakkannya di dekat Ka’bah. Sejak saat itulah, setiap suku mulai membawa dan menempatkan berhala mereka untuk dijadikan sesembahan. Ka’bah yang dahulu pusat tauhid, berubah menjadi tempat ritual syirik. Ragam Kepercayaan Jahiliyah Penyimpangan akidah melahirkan berbagai bentuk kepercayaan yang menyimpang dari nilai tauhid. Di antaranya: Tak hanya itu, praktik takhayul menyebar luas. Ada kepercayaan bahwa lapar disebabkan oleh ular dalam perut, atau bahwa kekuatan gaib bisa diperoleh dengan memakai cincin besi. Untuk meminta hujan, mereka mengikat rumput kering di ekor hewan ternak sambil menari di gurun. Semua ini menandai betapa masyarakat Arab kehilangan arah spiritual. Sistem sosial yang terbentuk pun tidak adil: perempuan tidak dihargai, bayi perempuan dikubur hidup-hidup, dan kaum miskin tertindas oleh pemilik kekuasaan dan harta. Pengaruh Agama Samawi Sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, dua agama Samawi, yakni Yahudi dan Kristen, yang sudah lebih dulu masuk ke wilayah Arab. Kaum Yahudi banyak tinggal di Yatsrib (Madinah), sementara Kristen tersebar di wilayah Syam dan Yaman melalui pengaruh Kekaisaran Romawi Timur dan Kerajaan Habsyi. Namun, penyebaran dua agama ini bersifat terbatas dan tidak membentuk tatanan sosial yang menyeluruh. Di samping itu, agama-agama tersebut telah mengalami distorsi ajaran. Di tengah kehampaan moral dan spiritual inilah, kebutuhan akan pembaruan menjadi sangat mendesak. Kelahiran Pembaharu Pada tahun 570 M, lahirlah seorang anak dari Bani Hasyim, keturunan mulia dari Quraisy, Muhammad bin Abdullah. Beliau tumbuh sebagai pribadi jujur, amanah, dan berintegritas tinggi. Oleh karena itu, beliau pun dikenal di kalangan masyarakat Mekkah dengan sebutan Al-Amin. Pada usia 40 tahun, beliau menerima wahyu pertama di Gua Hira melalui Malaikat Jibril. Firman pertama itu, Iqra’ (bacalah), bukan hanya instruksi membaca secara literal, tetapi juga ajakan untuk memahami hakikat kehidupan dan mengembalikan manusia kepada tauhid. Dakwah dalam Tantangan

Read More