GUSJIGANG: Warisan Sunan Kudus Untuk Santri Milenial Sukses di Era Digital

Surabaya – 1miliarsanti.net: Lebaran tahun 2024, niatnya refreshing di sekitar Kudus. Salah satu wisata yang buka adalah Museum Jenang Kudus. Sesuai pengalaman, kalau jalan-jalan di museum terasa kaku. Tapi kalau museumnya Jenang Kudus, bakalan betah berjam-jam disana. Soalnya ada ruangan khusus yang menyajikan sejarah Islam Nusantara yang menginspirasi, ada puisi Islami yang indah nan menyentuh hati nurani serta pemikiran yang memantik rasa bangga. Salah satu pemikiran itu adalah warisan dari Sunan Kudus Sayyid Ja’far Shadiq Azmathkan berupa filosofi hidup GUSJIGANG. Filosofi ini menekankan pada tiga nilai: Gus (bagus akhlaknya), Ji (rajin ngaji), dan Gang (pandai berdagang). 3 nilai karakter itu sangat relate dengan kondisi kehidupan santri milenial di era tantangan teknologi dan globalisasi yang sedang mengalami krisis moralitas, krisis keahlian dan krisis kemandirian. Hadirnya ketiga nilai warisan Sunan Kudus bisa menjadi teladan untuk tangguh dalam menyebarkan kebermanfaatan. Bagaimana relasinya nilai GUSJIGANG terhadap kehidupan di era teknologi ini? Temukan jawabannya sampai akhir di artikel ini ya!. GUS – Bagus Akhlaknya, Penguat Integritas di Era Digital Bagus akhlaknya adalah landasan utama. Tanpa akhlak, ilmu tak akan bermanfaat. Di dunia ini banyak orang yang pintar tapi miskin hati nurani. Yang akhirnya membawa kemudharatan yang merugikan hak orang lain seperti tragedi korupsi yang dilakukan tanpa rasa malu lagi. Good attitude juga sangat penting di dunia karir. Penulis sebagai alumni perguruan tinggi Islam. Saat bekerja, pernah berkata jujur kepada atasan bahwa tidak bisa mengerjakan sesuatu dan butuh belajar untuk bisa mengerjakannya. Di sisi lain ketika penulis bilang mampu mengerjakan sesuatu, hasilnya optimal. Respons atasan yang notabene non muslim mengejutkan penulis: “Kamu itu jujur atas kemampuanmu dan itu lebih baik, dari mereka yang mengaku bisa tapi nihil kerjanya”. Realita itu membuka kesadaran bahwa orang yang jujur dan amanah adalah kunci dihargai. Inilah nilai “Gus” yang sesungguhnya, orang lain mungkin tidak tahu kalau kita seorang santri. Tapi mereka akan tahu kalau kita itu sosok yang berakhlak mulia, menjaga adab dan santun dalam berinteraksi, seperti yang diteladankan oleh Nabi Muhammad dalam surat Al-Qalam ayat 4: وَإِ ﱠﻧكَ ﻟَﻌَﻠَٰﻰ ﺧُﻠُقٍ ﻋَظِﯾمٍ Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung.” JI – Rajin Ngaji, Motivasi Untuk Terus Berinovasi “Ngaji” dalam konteks Gusjigang tak hanya berarti membaca Al-Qur’an, tetapi juga membaca alam semesta dan realitas sosial kemasyarakatan. Mengaji mengusung semangat Iqra dalam surat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang berbunyi ; اِﻗْرَأْ ﺑِﺎﺳْمِ رَ ﱢﺑكَ اﻟﱠذِيْ ﺧَﻠَقَۚ “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!.” (QS. Al-‘Alaq: 1) Ayat ini adalah seruan untuk mencintai ilmu, baik ilmu agama maupun umum. Dari semangat ngaji ini, lahirlah ilmuwan muslim seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Biruni, yang menjadikan Islam berjaya dalam ilmu pengetahuan. Teladan mengaji juga telah dipraktekan oleh santri yaitu Ahmad Fuadi. Dia merupakan santri yang haus akan ilmu sampai kuliah ke Amerika dan Eropa. Ahmad Fuadi ini terkenal sebagai penulis islami best seller, salah satu karyanya Negeri 5 Menara, bahkan karyanya difilmkan. Banyak orang terinspirasi kehidupan seorang santri dari karya beliau. Bahwa nilai-nilai islam bukan hanya tekstual namun penerang hidup ketika menghadapi ujian. Santri milenial harus meneladani semangat ini, belajar tanpa lelah, berpegang pada ilmu pengetahuan, agar mampu memberi solusi bagi umat dan bangsa. GANG – Pandai Berdagang, Berdikari dan Memberdayakan Santri hidup di era dimana AI sudah menggerogoti pekerjaan manusia. Dampaknya pengangguran dimana-mana. Di sisi lain muncul peluang kerja baru di dunia digital. Disitulah santri bisa menciptakan lapangan kerja untuk mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran. Berdagang mengajarkan diri untuk mandiri tidak bergantung kepada orang lain dan bisa membantu banyak orang dengan keadilan serta kejujuran. Yang diteladankan oleh Nabi Muhammad yang juga seorang saudagar sukses. Mungkin nggak mudah untuk membangun usaha. Tapi ada sosok inspiratif yang bisa menjadi penyemangat santri untuk berwirausaha. Dia adalah sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf. Saat hijrah ke Madinah, ia memulai dari nol tanpa membawa harta. Dia diberikan harta, malah ditolak dan hanya meminta untuk ditunjukkan letak pasar. Dalam beberapa bulan dia sukses berdagang dan sampai akhir hayatnya mampu menginfakkan harta untuk mendukung perjuangan Islam. Di dunia digital ini banyak peluang bisnis yang bisa santri milenial eksplorasi seperti influencer yang mempromosikan produk halal, reseller produk pesantren, affiliate produk UMKM hingga mendirikan startup berbasis syariah. Berdagang bukan hanya untuk cari untung, tapi untuk berbagi, menguatkan umat, dan menjadikan ekonomi sebagai ladang pahala. Karakter GUSJIGANG dari Sunan Kudus memperkuat jati diri santri yang bisa menjadi idaman di masyarakat sebagai sosok yang berakhlak, berintelektual dan berduit. Dan pastinya GUSJIGANG itu bukan hanya warisan untuk dikenang melainkan untuk dilestarikan karena dengan “Gus” mampu dicintai karena akhlaknya. Dengan “Ji” mampu dihormati karena ilmunya. Dan dengan “Gang” mampu menginspirasi dengan semangat bisnisnya. (***) Penulis : Iftitah Rahmawati Foto Ilustrasi AI Editor : Toto Budiman, Faridatul Hasanah

Read More

Mengenal Zaman Keemasan Islam: Puncak Kemajuan Ilmu dan Peradaban

Situbondo – 1miliarsantri.net: Saat mendengar kata “zaman keemasan Islam”, rasanya seperti membuka lembaran kisah megah yang penuh cahaya. Masa di mana dunia Islam bukan hanya memimpin secara spiritual, tetapi juga menjadi poros utama ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dunia. Ini adalah masa ketika masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga menjadi pusat riset dan pendidikan. Pada masa itu para filsuf, ilmuwan dan cendekiawan muslim duduk berdampingan dalam masjid menulis sejarah besar peradaban manusia. Di balik gemerlap peradaban itu tersimpan semangat belajar, toleransi, dan kehausan ilmu yang luar biasa. Yuk, kita kenali lebih dalam seperti apa kilau zaman yang begitu menginspirasi ini. Kemajuan Ilmu Pengetahuan Dan Karya-Karya Monumental Bicara tentang zaman keemasan Islam, maka tak bisa dilepaskan dari kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Pada masa ini, para ilmuwan Muslim tidak hanya menerjemahkan karya-karya dari Yunani dan Romawi, tetapi juga menciptakan berbagai penemuan dan teori orisinal yang menjadi fondasi ilmu modern. Bayangkan saja saat Eropa masih berada di masa kegelapan, dunia Islam justru telah membangun perpustakaan raksasa seperti Bayt al-Hikmah di Baghdad. Di tempat inilah para pemikir, ilmuwan, dan penerjemah dari berbagai latar belakang berkumpul, berdiskusi, dan menulis karya-karya monumental. Beberapa nama besar dari zaman keemasan Islam yang mungkin kamu kenal antara lain Al-Khwarizmi yang disebut sebagai bapak aljabar, Ibnu Sina dengan ensiklopedia medis-nya Al-Qanun fi al-Tibb, dan Al-Haytham yang merupakan pelopor dalam ilmu optik. Mereka tidak hanya menulis buku, tapi  menciptakan sistem ilmiah yang masih digunakan hingga saat ini. Yang menarik, semangat zaman keemasan Islam bukan hanya soal pencapaian individu, tetapi didukung penuh oleh negara dan masyarakat. Khalifah dari Dinasti Abbasiyah memberikan perlindungan dan dukungan finansial bagi para ilmuwan dan seniman. Hal ini meciptakan lingkungan yang subur bagi lahirnya karya-karya besar. Bagaimana Zaman Keemasan Islam Menjadi Peradaban yang Membentuk Dunia? Kemajuan zaman keemasan Islam tidak hanya dirasakan dalam ilmu eksakta, tapi juga dalam bidang ilmu filsafat, sastra, seni arsitektur, hingga sistem pemerintahan. Kota-kota besar seperti Baghdad, Kairo dan Cordoba menjadi pusat peradaban global dan tempat di mana toleransi, kebudayaan serta ilmu tumbuh bersama. Dalam bidang arsitektur, kita juga bisa melihat keindahan Alhambra di Spanyol dan kemegahan Masjid Agung Cordoba yang mencerminkan keterampilan arsitek Muslim yang luar biasa. Dalam bidang sastra, muncul karya-karya puisi dan prosa dari penyair-penyair hebat seperti Rumi dan Al-Mutanabbi. Salah satu yang paling menarik dalam zaman keemasan Islam adalah semangat keterbukaan terhadap pengetahuan dari luar. Muslim pada masa itu tidak segan untuk belajar dari peradaban lain bahkan menerjemahkan karya-karya dari India, Persia serta Yunani, lalu mengembangkan ide-ide tersebut sesuai dengan konteks dan kebutuhan zaman. Bahkan dalam sistem pendidikan, sekolah-sekolah dan madrasah didirikan hampir di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Pelajaran bukan hanya soal agama, tapi juga astronomi, matematika, logika, dan kedokteran. Masa itu juga adalah bukti bahwa Islam pernah menjadi motor utama peradaban dunia, dan itu bisa menjadi inspirasi besar untuk masa depan. Zaman keemasan Islam menunjukkan bahwa integrasi antara budaya, ilmu dan iman bisa menciptakan kemajuan yang luar biasa. Hal ini menjadi pelajaran berharga buat kita semua bahwa dengan semangat belajar yang tinggi, terbuka dengan ilmu, dan saling menghargai perbedaan maka umat bisa kembali bangkit dan tentunya bisa memberikan kontribusi positif bagi dunia. Warisan Berharga dari Zaman Keemasan Islam Zaman keemasan Islam bukan sekadar masa lalu yang dilukis dengan tinta emas, tapi warisan intelektual dan spiritual yang bisa terus kita gali. Saat kita mengenang masa tersebut, kita tak hanya melihat kejayaan yang pernah ada, tetapi juga membuka harapan bahwa masa itu bisa menjadi inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih cerah. Jadi, mengenal zaman keemasan Islam bukan hanya pelajaran sejarah, tapi juga panggilan untuk terus belajar, berinovasi, dan berkontribusi. Karena siapa tahu, generasi kita juga bisa mengukir masa keemasan baru dengan semangat yang sama seperti para pendahulu kita.** Penulis : Iffah Faridatul Hasanah Foto Ilustrasi Editor : Thamrin Humris

Read More

Pawai Obor Meriahkan Peringatan 1 Muharram 1447 H: Tradisi Bermakna dalam Menyambut Tahun Baru Islam

Surabaya – 1miliarsantri.net : Pada Jumat, 27 Juni 2025, umat Islam di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia, memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah. Momen ini bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriyah, tetapi juga peringatan atas peristiwa besar dan penuh makna dalam sejarah Islam, yaitu hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW dari Kota Mekah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Setelah 12 tahun berdakwah di Mekah, Rasulullah Muhammad SAW dan para pengikutnya menghadapi penindasan dari kaum Quraisy. Pada tahun ke-13 kenabian, sekelompok penduduk Yatsrib (kelak dikenal sebagai Madinah) menawarkan perlindungan melalui Bai’at al-Aqabah. Malam hari, Rasulullah bersama sahabatnya, Abu Bakar As-Shiddiq, meninggalkan Mekah secara diam-diam dan berlindung di Gua Tsur selama tiga hari untuk menghindari pengejaran.Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju Madinah melalui rute yang tidak biasa. Setibanya di Madinah pada 12 Rabiul Awal 1 H (27 September 622 M), mereka disambut dengan penuh sukacita. Rasulullah memilih tempat tinggal di rumah dua anak yatim, Sahl dan Suhail bin Amr, yang menjadi lokasi pembangunan Masjid Nabawi. Di Madinah, beliau juga menyusun Piagam Madinah, sebuah konstitusi yang mengatur kehidupan masyarakat multikultural dan menjamin hak-hak setiap individu, termasuk non-Muslim. Peristiwa hijrah ini bukan hanya peristiwa fisik perpindahan tempat, melainkan menjadi titik balik kebangkitan peradaban Islam yang menjunjung tinggi nilai keadilan, keimanan, dan persaudaraan. Hari tersebut menjadi waktu yang istimewa dan bersejarah bagi umat Islam, karena selain memperingati momentum hijrah, juga dijadikan ajang introspeksi dan pembaruan diri. Banyak kegiatan bermanfaat dilakukan umat Islam pada hari itu, mulai dari pengajian, dzikir bersama, tausiyah, hingga aksi sosial dan spiritual. Semua itu bermuara pada satu tujuan: menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih beriman dalam menjalani kehidupan.  Salah satu tradisi khas masyarakat Islam Indonesia dalam menyambut Tahun Baru Islam adalah pawai obor. Tradisi pawai obor telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya keislaman yang hidup di berbagai daerah, dari desa hingga kota. Pawai obor biasanya digelar pada malam 1 Muharram, selepas salat Isya. Ratusan hingga ribuan masyarakat berkumpul di titik awal yang umumnya berada di sekitar masjid atau alun-alun kota, kemudian berjalan beriringan menyusuri jalan-jalan kampung atau kota sambil membawa obor menyala di tangan. Obor yang digunakan terbuat dari bahan sederhana—sebatang bambu sebagai pegangan, kain sebagai sumbu, dan minyak tanah sebagai bahan bakar. Saat dinyalakan, obor tersebut memancarkan cahaya kuning kemerahan yang menggugah suasana malam menjadi hangat, religius, dan penuh semangat. Obor-obor tersebut tidak hanya menjadi sumber penerangan, tetapi juga simbol harapan, semangat, dan petunjuk Ilahi yang menerangi perjalanan hidup umat manusia. Dalam arak-arakan pawai, peserta tak hanya berjalan membawa obor. Mereka juga melantunkan shalawat, zikir, doa-doa keselamatan, hingga menyanyikan lagu-lagu religi yang penuh semangat. Beberapa kelompok menghadirkan kesenian marawis, rebana, hingga drum band dari siswa madrasah dan sekolah-sekolah Islam. Alunan musik tradisional ini turut menghidupkan suasana dan menjadi sarana dakwah kultural yang efektif, terutama bagi generasi muda. Lebih dari sekadar perayaan seremonial, pawai obor sarat makna filosofis dan spiritual. Ia menjadi perwujudan semangat hijrah yang diajarkan Rasulullah—yakni berpindah dari kegelapan menuju cahaya, dari keburukan menuju kebaikan, dari kesesatan menuju jalan lurus yang diridai Allah SWT. Cahaya obor melambangkan petunjuk Tuhan yang senantiasa menyinari perjalanan hidup manusia, agar tidak tersesat dalam gelapnya dunia yang penuh tantangan dan cobaan. Tak hanya bernilai spiritual, tradisi ini juga memainkan peran penting dalam pelestarian budaya lokal. Pawai obor mencerminkan harmoni antara nilai-nilai ajaran Islam dan kearifan lokal masyarakat Indonesia. Dalam pelaksanaannya, sering kali masyarakat setempat memadukan unsur adat, budaya daerah, dan nuansa Islam dalam satu kesatuan kegiatan. Anak-anak dan remaja yang ikut serta dalam pawai sejak dini dikenalkan pada tradisi ini, sehingga nilai-nilai sejarah, estetika, dan identitas keagamaan serta kebangsaan dapat tertanam kuat dalam jiwa mereka. Kegiatan ini juga memperkuat solidaritas sosial dan mempererat tali silaturahmi antarwarga. Dalam semangat kebersamaan, seluruh lapisan masyarakat—baik anak-anak, remaja, orang tua, tokoh agama, hingga aparat pemerintah—turut serta dalam pawai dengan antusias. Tidak sedikit pula yang datang dari luar daerah untuk menyaksikan atau ikut berpartisipasi, menjadikan pawai obor sebagai ajang wisata religi yang layak dilestarikan.  Selain itu, banyak penyelenggara pawai obor yang menyisipkan kegiatan sosial seperti santunan anak yatim, pembagian makanan gratis, hingga kampanye kebersihan dan perdamaian. Hal ini menunjukkan bahwa pawai obor juga menjadi wahana aktualisasi nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin—Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Kontributor : Misbah Harahap Editor : Toto Budiman

Read More

Potret Sejarah Yahudi di bawah Kekuasaan Islam yang Penuh dengan Toleransi

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Bayangkan sebuah masa ketika dua agama besar dunia hidup berdampingan, bukan dalam konflik, tetapi dalam bingkai saling menghormati dan bekerja sama. Itulah gambaran singkat dari Sejarah Yahudi di bawah kekuasaan Muslim. Dalam berbagai catatan sejarah, hubungan antara umat Muslim dan Yahudi tidak selalu dipenuhi ketegangan seperti yang sering kita dengar hari ini. Justru pada masa awal kekuasaan Islam, Yahudi mengalami masa toleransi, bahkan kemajuan intelektual dan budaya yang luar biasa. Namun, sejarah ini tidak hanya berbicara soal harmoni, tapi juga tentang dinamika, diskriminasi, dan perubahan sosial yang kompleks. Kabar baiknya, dalam kesempatan kali ini, kami  akan mengulas lebih dalam tentang bagaimana Sejarah Yahudi di bawah kekuasaan Muslim menjadi potret penuh warna, dari masa keemasan hingga masa-masa sulit. Siapkah Anda menyelami kisah sejarah yang sering kali terlupakan ini? Baik, mari kita sama-sama perhatikan penjelasannya di bawah ini. Awal Hubungan Toleransi dan Koeksistensi yang Nyata Masa awal Islam menandai titik balik dalam hubungan antara umat Muslim dan Yahudi. Di berbagai wilayah kekuasaan Islam, umat Yahudi diperlakukan dengan pendekatan yang lebih inklusif dibandingkan dengan masa pemerintahan sebelumnya. Beberapa bentuk pendekatan tersebut, seperti: 1. Status Dhimmi (Perlindungan dengan Syarat) Dalam sistem pemerintahan Islam klasik, Yahudi digolongkan sebagai ahl al-kitab dan diberikan status dhimmi. Artinya, mereka adalah kelompok non-Muslim yang mendapat perlindungan hukum dari negara Islam, selama memenuhi kewajiban tertentu, dan yang paling utama adalah membayar pajak khusus yang disebut jizya. Meskipun menjadi warga negara kelas dua secara administratif, status ini memungkinkan umat Yahudi untuk hidup damai dalam komunitas mereka sendiri. 2. Kebebasan Beragama dan Tradisi Sejarah Yahudi di bawah kekuasaan Muslim mencatat bahwa dalam banyak kasus, komunitas Yahudi bebas menjalankan ajaran agamanya. Mereka diperbolehkan membangun dan memelihara sinagoge, menjalankan hukum mereka sendiri dalam urusan internal, serta melestarikan budaya dan bahasa mereka tanpa paksaan untuk memeluk Islam. Peran dalam Pemerintahan dan Masyarakat Tak hanya hidup berdampingan, beberapa tokoh Yahudi bahkan dipercaya untuk mengisi jabatan penting di pemerintahan Islam. Mereka dikenal sebagai penasehat, dokter kerajaan, penerjemah naskah klasik, hingga ekonom istana. Kepercayaan ini menunjukkan tingkat keterbukaan masyarakat Islam terhadap kompetensi intelektual dan profesional umat Yahudi. 1. Zaman Keemasan di Andalusia dan Baghdad Wilayah Andalusia, di bawah kekuasaan Islam di Spanyol, menjadi saksi dari masa keemasan komunitas Yahudi. Awalnya komunitas Yahudi di bawah kekuasaan Muslim mencatat bahwa ini adalah periode ketika ilmu pengetahuan, filsafat, sastra, dan seni berkembang pesat di kalangan Yahudi. Sejarah mencatat bahwa kejayaan Islam di Andalusia dan Baghdad bukan sekadar dongeng keemasan. Keduanya pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan, budaya, dan toleransi yang memukau dunia. Namun, yang jarang disorot adalah bagaimana peradaban yang begitu megah itu runtuh dan berakhir dengan tragedi pembantaian terhadap komunitas Muslim yang pernah berjaya di dalamnya. Peradaban tanpa kekuatan & solidaritas tidak akan bertahan. Ilmu, seni, dan toleransi memang penting, tapi tanpa perlindungan politik, militer, dan persatuan umat, semua bisa hancur seketika. Maka, menjaga identitas keislaman dan kekuatan ukhuwah (persaudaraan) menjadi bagian penting dari pertahanan peradaban.  2. Hasdai bin Shaprut dan Penerjemahan Ilmu Pengetahuan Hasdai bin Shaprut adalah tokoh Yahudi terkemuka yang menjabat sebagai penasihat Khalifah Abdurrahman III. Ia memainkan peran penting dalam pengembangan pusat penerjemahan naskah ilmiah, yang menjembatani pengetahuan dari dunia Islam ke Eropa. 3. Maimonides (Filosof Yahudi dalam Dunia Islam) Maimonides, seorang tokoh besar dalam sejarah Yahudi, lahir dan besar di Cordoba. Ia menulis karya-karya besar tentang hukum, kedokteran, dan filsafat yang masih dihormati hingga kini. Menariknya, karya-karyanya banyak dipengaruhi oleh pemikiran Islam klasik. Masa Sulit: Diskriminasi, Konflik, dan Kebijakan yang Berubah Namun, toleransi tidak selalu menjadi warna tunggal dalam Sejarah Yahudi di bawah kekuasaan Muslim. Terdapat juga masa-masa kelam yang patut dicatat. Beberapa masa-masa kelam tersebut, meliputi: 1. Pembatasan Sosial dan Hukum Meskipun diberikan kebebasan beragama, umat Yahudi kerap dibatasi dalam ruang geraknya. Mereka dilarang membawa senjata, menunggang kuda, hingga memberikan kesaksian melawan Muslim di pengadilan. Dalam beberapa wilayah, pakaian khusus pun diwajibkan agar mereka mudah dikenali. 2. Kekerasan dan Ketidakstabilan Politik Beberapa peristiwa kekerasan menodai sejarah ini, seperti kerusuhan di Cordoba dan Granada pada abad ke-11 yang menyebabkan kematian banyak orang Yahudi. Di Afrika Utara, terutama di Maroko dan Libya, mereka juga kerap mengalami diskriminasi dan dipaksa tinggal di ghetto yang terisolasi. 3. Faktor Penguasa dan Kebijakan Lokal Yang menarik dari Sejarah Yahudi di bawah kekuasaan Muslim adalah bagaimana kondisi mereka sangat bergantung pada penguasa yang sedang berkuasa. Di bawah pemimpin yang progresif, mereka hidup damai dan makmur. Namun, di bawah pemimpin yang keras atau terpengaruh oleh tekanan politik, diskriminasi bisa meningkat tajam. Mewarisi Jejak Sejarah yang Kompleks Sejarah Yahudi di bawah kekuasaan Muslim menyajikan sebuah kisah yang tidak hitam-putih. Di satu sisi, terdapat masa di mana toleransi dan kolaborasi menciptakan peradaban yang maju dan terbuka. Di sisi lain, sejarah ini juga menyimpan catatan kelam tentang diskriminasi, pembatasan, dan kekerasan. Tragedi Andalusia dan Baghdad bukan hanya cerita masa lalu, tapi peringatan keras bagi generasi kini. Jangan sampai umat Islam mengulangi kesalahan yang sama: sibuk membanggakan masa silam tapi lupa membangun kekuatan hari ini. Sebab musuh peradaban tak akan pernah tidur, sementara umat sering kali terlelap dalam nostalgia. Sejarah ini menjadi cermin bahwa harmoni bisa terwujud, jika kita mau belajar dari masa lalu dan menghargai kemanusiaan di atas segalanya. Dengan memahami keseluruhan dinamika, kita dapat melihat sejarah antar umat beragama lebih kompleks daripada yang sering digambarkan. Menelusuri sejarah Yahudi di bawah kekuasaan Muslim, memberi pelajaran tentang pentingnya konteks sejarah dan nilai toleransi sejati. Jika dunia hari ini ingin belajar dari masa lalu, maka kisah ini adalah salah satu cermin berharga membangun masa depan yang saling menghargai. Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Toto Budiman

Read More

Sejarah Penyebaran Islam di Indonesia Melalui Jalur Perdagangan

Surabaya – 1miliarsantri.net : Saat mendengar kata “penyebaran agama”, yang terbayang di benak banyak orang sering kali adalah perang atau kekuasaan. Namun, sejarah Islam di Indonesia justru menyuguhkan kisah yang jauh lebih damai dan mengakar. Agama ini tersebar luas bukan melalui pedang, melainkan melalui perniagaan dan pertemuan budaya. Para saudagar muslim dari Gujarat, Persia, dan Arab membawa bukan hanya barang dagangan, tetapi juga akhlak, ilmu, dan nilai-nilai Islam yang bersinar di tengah masyarakat Nusantara. Jalur-jalur perdagangan maritim di pesisir pantai pun menjadi ladang subur bagi tumbuhnya dakwah yang santun dan penuh hikmah. Sejarah penyebaran Islam tidak tentang perubahan keyakinan saja, melainkan perjalanan peradaban yang penuh makna. Islam datang bukan sebagai penakluk, tapi sebagai sahabat, menyapa pelan, masuk ke hati lewat perdagangan, budaya, dan pergaulan sehari-hari. Yang membuat perjalanan ini begitu istimewa adalah cara Islam menyatu dengan kehidupan masyarakat lokal tanpa merusak akar budaya yang sudah ada. Ia hadir sebagai cahaya, bukan bara. Sebuah kisah damai yang perlu untuk dikenang, dipahami, dan diwariskan. Kalau kamu penasaran bagaimana awal mula Islam bisa masuk dan menyebar ke seluruh pelosok Nusantara hanya lewat aktivitas perdagangan, yuk simak pembahasan ini sampai habis. Di sini kita akan kupas tuntas sejarah penyebaran Islam. Bagaimana Perdagangan Bisa Menjadi Pintu Masuk Islam ke Nusantara? Mengingat tentang sejarah penyebaran Islam, jalur perdagangan menjadi bagian hal yang tak bisa dilewatkan. Sejak abad ke-7 Masehi, para pedagang yang Muslim dari Arab, Persia, dan India mulai menjalin hubungan perdagangan dengan wilayah-wilayah pesisir di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Mereka datang dengan membawa beberapa barang dagangan, seperti rempah-rempah, kain, logam, hingga perhiasan. Tapi lebih dari itu, mereka juga membawa ajaran Islam yang mereka praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sejarah penyebaran Islam melalui perdagangan ini begitu efektif karena pendekatannya yang damai dan bersifat persuasif. Para pedagang Muslim tidak serta-merta memaksa masyarakat lokal untuk masuk Islam. Justru, mereka menjadi teladan dalam kejujuran berdagang, etika pergaulan, dan sikap sosial yang terbuka. Dengan seiring waktu, masyarakat lokal mulai tertarik belajar tentang ajaran Islam, bahkan ada yang kemudian memeluk agama ini secara sukarela. Di sepanjang pesisir Sumatera, seperti di Barus, Aceh, hingga ke daerah pesisir Jawa dan Sulawesi, jejak penyebaran Islam ini sangat kentara. Banyak dari kerajaan lokal pada akhirnya menjalin hubungan lebih erat dengan para pedagang Muslim. Contohnya Kerajaan Samudera Pasai yang menjadi kerajaan Islam pertama kali di Indonesia sekitar abad ke-13. Selain membawa barang dagangan, para pedagang yang Muslim juga ikut memberikan sumbangan pada perkembangan budaya dan sosial masyarakat lokal. Dalam sejarah penyebaran Islam hal ini menjadi sangat penting karena proses Islamisasi tidak terjadi secara kaku atau memaksa, melainkan berjalan seiring dengan interaksi budaya. Kamu bisa bayangkan sendiri, ketika setiap para pedagang menetap sementara di suatu wilayah, mereka tidak hanya bertransaksi saja, tapi juga akan menikah dengan penduduk lokal, mendirikan masjid atau surau, dan menjadi bagian integral dari masyarakatnya. Dari sinilah kemudian proses penyebaran Islam menjadi semakin kuat, karena masyarakat tidak hanya mengenal Islam sebagai ajaran luar, tapi juga sebagai bagian dari identitas mereka. Tak heran jika kemudian muncul bentuk-bentuk akulturasi antara Islam dan budaya lokal. Misalnya, dalam upacara-upacara adat yang disesuaikan dengan nilai-nilai Islam, atau dalam arsitektur masjid yang mengadopsi bentuk bangunan tradisional Nusantara. Semua ini menunjukkan bahwa sejarah penyebaran Islam melalui jalur perdagangan benar-benar mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Jika kita melihat kondisi saat ini, maka jejak sejarah penyebaran Islam melalui perdagangan masih bisa kita rasakan. Banyak daerah pesisir yang menjadi pusat penyebaran Islam di masa lalu, hingga sekarang masih menjadi kota-kota Islam yang kuat secara budaya dan keagamaannya. Contohnya seperti Aceh, Banten, Gresik, hingga Makassar. Sebagai generasi penerus, kita bisa belajar banyak dari cara Islam disebarkan di masa lalu. Islam masuk ke Indonesia bukan melalui paksaan atau kekerasan, melainkan lewat perdagangan yang penuh etika, lewat hubungan antar-manusia yang hangat dan saling menghargai. Jadi, sejarah penyebaran Islam itu bukan sekadar catatan masa lalu, tapi juga cerminan tentang bagaimana kita bisa menyebarkan nilai-nilai kebaikan dengan cara yang damai, jujur, dan penuh cinta. Menelusuri sejarah penyebaran Islam di Indonesia melalui jalur perdagangan adalah seperti membuka kembali lembaran lama yang penuh pelajaran berharga. Sehingga kita menjadi tahu bahwa kekuatan dakwah tidak hanya dari kata-kata, melainkan dari tindakan yang nyata dan sikap hidup sehari-hari. Itulah mengapa sejarah penyebaran Islam di Nusantara ini begitu sangat unik dan relevan untuk terus kita pelajari hingga hari ini. Semoga bermanfaat! Penulis : Iffah Faridatul H Editor : Toto Budiman

Read More

Tradisi Malam Satu Suro dalam Warisan Jawa yang Dibalut Aura Keheningan

Bondowoso – 1miliarsantri.net : Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, masih ada satu malam yang membuat sebagian besar masyarakat Jawa menahan napas, melambatkan langkah, dan memaknai waktu dengan lebih dalam. Malam itu dikenal dengan Tradisi Malam Satu Suro. Peringatan malam satu Suro adalah hasil akulturasi antara budaya Jawa dan penanggalan Islam, yang dimaknai secara spiritual oleh masyarakat Jawa. Meski tidak memiliki dasar syar’i secara eksplisit, peringatan ini masih dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya dan warisan leluhur. Tidak seperti perayaan tahun baru yang diwarnai gegap gempita, malam ini justru dibalut dalam keheningan, kesakralan, dan renungan. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun, menyimpan makna spiritual yang tak lekang oleh zaman. Untuk memahami dasar peringatan malam satu Suro, kita perlu menengok sejarah kalender Jawa. Penanggalan ini diciptakan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja Mataram Islam pada abad ke-17. Sultan Agung menyatukan dua sistem penanggalan: kalender Saka (Hindu-Buddha) dan kalender Hijriyah (Islam), dalam rangka islamisasi budaya Jawa. Satu Suro dalam kalender Jawa diselaraskan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriyah, yang menandai Tahun Baru Islam. Maka, malam satu Suro merupakan malam pergantian tahun menurut kalender Jawa-Islam. Lalu, apa sebenarnya yang membuat Tradisi Malam Satu Suro begitu dihormati? Mari kita simak perjalanan sejarahnya di bawah ini. 1. Kirab Pusaka Salah satu prosesi utama dalam Tradisi Malam Satu Suro adalah Kirab Pusaka. Biasanya digelar di Keraton Yogyakarta dan Surakarta, iring-iringan benda pusaka seperti keris, tombak, hingga gamelan dilakukan dengan penuh kehormatan. Tak sekadar benda, pusaka-pusaka ini dianggap menyimpan kekuatan spiritual dan nilai sejarah yang tinggi. Tradisi Malam Satu Suro menjadikan momen ini sebagai simbol pembersihan energi negatif, baik dari benda pusaka maupun diri sendiri. Dalam suasana hening dan khidmat, para abdi dalem membawa pusaka-pusaka tersebut mengelilingi keraton tanpa suara, tanpa senyum, hanya aura kebesaran leluhur yang terasa begitu kuat. 2. Tapa Bisu Mubeng Beteng Tradisi Malam Satu Suro tidak bisa dilepaskan dari ritual Tapa Bisu Mubeng Beteng. Ritual ini adalah perjalanan kaki mengelilingi benteng keraton, tanpa bicara, tanpa alas kaki, dan tanpa suara. Tidak banyak orang mampu melakukannya, karena dibutuhkan ketenangan batin dan tekad kuat. Tapa Bisu adalah lambang dari introspeksi diri yang mendalam. Dalam diam, setiap langkah menjadi doa, dan setiap tetes keringat adalah bentuk permohonan keselamatan untuk diri dan keluarga di tahun yang akan datang. 3. Mandi Suro Tak sedikit masyarakat Jawa yang menjalani Mandi Suro pada malam ini. Biasanya dilakukan di sumber mata air atau sungai yang dianggap suci. Tradisi ini dipercaya mampu membersihkan tubuh dan jiwa dari energi buruk yang mungkin menempel sepanjang tahun. Air menjadi media penyucian, sementara doa dan harapan dilantunkan dalam hati. Dalam Tradisi Malam Satu Suro, air bukan hanya elemen alam, tapi jembatan spiritual menuju ketenangan dan pembaruan diri. 4. Selamatan dan Tirakatan Malam Satu Suro juga identik dengan selamatan dan tirakatan. Selamatan adalah doa bersama yang dilanjutkan dengan makan bersama. Ini menjadi simbol kebersamaan dan ungkapan syukur atas segala nikmat yang telah diterima. Sedangkan tirakatan adalah bentuk ibadah pribadi, seseorang mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa, dzikir, dan perenungan. Tradisi Malam Satu Suro memberi ruang bagi tiap individu untuk menyendiri dan berdialog dengan Sang Pencipta. 5. Bubur Suro Satu lagi elemen khas yang tak pernah absen dalam Tradisi Malam Satu Suro adalah Bubur Suro. Hidangan ini biasanya terdiri dari nasi gurih yang disajikan dengan berbagai lauk dan tujuh jenis kacang. Angka tujuh melambangkan keseimbangan dan keberkahan. Bubur Suro tidak sekadar makanan, tapi lambang harapan akan tahun yang baru yang lebih baik, seimbang, dan penuh rezeki. Setiap suapan menjadi bagian dari rasa syukur dan doa. Makna dan Simbolisme Tradisi Malam Satu Suro Tradisi Malam Satu Suro bukan hanya warisan budaya, melainkan juga simbol spiritual yang dalam. Malam ini menandai awal tahun baru dalam kalender Jawa, yang merupakan gabungan antara sistem kalender Hindu Saka, Islam Hijriah, dan pengaruh Julian dari Barat. Ini mencerminkan kearifan lokal yang menyatu dengan nilai-nilai religi dan kosmologis. Malam ini juga menjadi momen refleksi, untuk meninjau kembali langkah-langkah yang telah ditempuh setahun terakhir, dan merancang jalan baru dengan lebih berhati-hati. Dalam Tradisi Malam Satu Suro, pembersihan diri baik melalui mandi, tirakatan, maupun kirab pusaka adalah wujud nyata dari keinginan menjadi manusia yang lebih baik di tahun mendatang. Tak kalah penting, malam ini adalah bentuk penghormatan kepada leluhur. Semua ritual dan pantangan dijalankan sebagai bagian dari menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu. Pantangan dalam Malam Satu Suro Agar kesakralan malam ini tetap terjaga, masyarakat Jawa meyakini beberapa pantangan. Dalam Tradisi Malam Satu Suro, dianjurkan untuk tidak menggelar hajatan, bepergian jauh, atau melakukan kegiatan yang menimbulkan kegaduhan. Selain itu, masyarakat diimbau untuk menghindari pertengkaran, menjaga ucapan, dan menciptakan suasana tenang. Semua ini adalah bentuk penghormatan terhadap malam yang dianggap sakral, penuh makna, dan tak layak dicemari oleh hal-hal negatif. Tradisi Malam Satu Suro bukan sekadar kebiasaan turun-temurun. Ia adalah cerminan dari kedalaman spiritual masyarakat Jawa, yang dalam diamnya menyuarakan doa, dalam langkahnya memohon keselamatan, dan dalam pusakanya menyimpan sejarah. Di tengah arus modernisasi, Tradisi Malam Satu Suro tetap hidup sebagai pelita budaya dan simbol keheningan yang bermakna. Menjaga tradisi ini adalah menjaga jati diri, merawat warisan, dan menyatu dengan semesta dalam doa dan renungan. Perspektif Islam terhadap Malam Satu Suro Dari sisi keislaman, 1 Muharram memang memiliki nilai penting sebagai awal tahun Hijriyah dan pengingat peristiwa hijrahnya Rasulullah ﷺ. Namun, Islam tidak mengenal ritual khusus untuk malam 1 Muharram, apalagi yang bernuansa mistis atau mengandung unsur khurafat (kepercayaan yang tidak berdasar syariat). Islam mengajarkan agar setiap momen digunakan untuk introspeksi, memperbanyak ibadah, dan menjauhi syirik serta takhayul. Maka, selama peringatan malam satu Suro dilakukan tanpa bertentangan dengan prinsip tauhid, sebagian ulama membolehkannya sebagai budaya yang mengandung nilai positif seperti ketenangan, doa, dan refleksi diri. Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Toto Budiman

Read More

Jejak Islam di Kerajaan Demak dan Mataram : Awal Peradaban Islam di Nusantara

Surabaya – 1miliarsantri.net : Membahas tentang awal peradaban Islam di Nusantara, rasanya seperti membuka halaman awal dari sebuah kisah besar yang membentuk jati diri bangsa ini. Kita semua tahu, Indonesia bukan hanya kaya budaya dan suku, tapi juga punya sejarah panjang dalam perkembangan agama, khususnya agama Islam. Proses masuknya Islam ke tanah air bukan suatu yang instan. Ia tumbuh perlahan menyesuaikan diri dengan budaya lokal, dan pada akhirnya melahirkan kerajaan-kerajaan Islam yang berjaya di masa lampau, seperti Demak dan Mataram. Jika kamu pernah bertanya bagaimana Islam bisa begitu mengakar di Indonesia, terutama di Jawa? maka menelusuri jejak awal peradaban Islam di Nusantara lewat Kerajaan Demak dan Mataram adalah langkah yang menarik. Yuk, kita ulas bersama-sama! Awal Peradaban Islam di Nusantara antara Demak dan Mataram Islam masuk ke Nusantara lewat berbagai jalur : perdagangan, dakwah, perkawinan, hingga kesenian. Namun, perubahan besar mulai terasa ketika kerajaan-kerajaan bercorak Islam mulai berdiri dan memegang kekuasaan. Dua di antaranya yang punya pengaruh besar dalam awal peradaban Islam di Nusantara adalah Kerajaan Demak dan Mataram Islam. Kerajaan Demak sering disebut sebagai kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Berdiri sekitar abad ke-15, Demak muncul setelah melemahnya Kerajaan Majapahit. Salah satu tokoh yang berperan penting di balik kejayaan Demak adalah Raden Patah. Ia dipercaya sebagai pendiri sekaligus raja pertama di kerajaan Demak. Kerajaan Demak begitu istimewa dalam sejarah awal peradaban Islam di Nusantara karena statusnya sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak juga aktif menyebarkan ajaran Islam lewat jalur politik dan militer. Salah satu misinya adalah menyerang kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang masih bertahan, seperti di Blambangan (Banyuwangi) dan Majapahit. Tak hanya lewat kekuatan senjata, Demak juga dikenal karena perannya dalam pembangunan spiritual dan budaya. Masjid Agung Demak adalah bukti nyata peran besar kerajaan ini dalam menyebarkan Islam. Masjid tersebut konon didirikan oleh para Wali Songo, yang mempunyai peran vital dalam dakwah Islam saat itu. Setelah kerajaan Demak, kekuasaan Islam di Jawa berlanjut ke Kerajaan Mataram Islam. Berdiri pada akhir abad ke-16, Mataram membawa nuansa yang sedikit berbeda dibandingkan Demak. Jika Demak lebih fokus pada ekspansi politik dan militer, maka Mataram justru mengedepankan penguatan budaya dan spiritualitas. Tokoh utama dalam Kerajaan Mataram adalah Sultan Agung, ia berhasil membawa kerajaan ini ke puncak kejayaan. Ia dikenal sebagai pemimpin yang cerdas, berani, dan sangat menghormati tradisi. Bahkan, Sultan Agung dikenal karena usahanya menyelaraskan antara Islam dan budaya Jawa. Di sinilah terlihat bahwa awal peradaban Islam di Nusantara tidak sekadar soal kekuasaan, tapi juga tentang proses adaptasi yang halus dan penuh kearifan lokal. Salah satu contoh nyata dari pendekatan ini adalah penggunaan kalender Jawa-Islam yang merupakan perpaduan antara penanggalan Hijriyah dan tradisi lokal. Selain itu, Sultan Agung juga dikenal karena perjuangannya melawan VOC dan kolonialisme, sehingga menambah nilai kepahlawanan dalam catatan sejarah Mataram. Dari dua kerajaan ini, kita bisa melihat betapa kompleksnya awal peradaban Islam di Nusantara. Di tangan para pemimpin seperti Raden Patah dan Sultan Agung, Islam tidak dipaksakan, tapi dibawa dengan cara yang lembut, bijak, dan berakar pada tradisi lokal. Perpaduan antara dakwah yang humanis, adaptasi budaya yang halus, serta pengaruh politik yang kuat membuat Islam bisa tumbuh subur di Nusantara. Inilah mengapa hingga kini, ajaran Islam tetap terasa dekat dan membumi di tengah masyarakat Indonesia. Dengan mengenal akar-akar peradaban ini, kita bisa lebih bijak melihat masa kini dan masa depan. Islam yang datang ke Nusantara bukan sekadar sebagai agama, tapi juga sebagai peradaban yang menanamkan nilai toleransi, kebijaksanaan, dan penghormatan pada budaya lokal. Yuk, terus gali sejarah dan jaga warisan luhur ini bersama-sama. Penulis : Iffah Faridatul H Editor : Toto Budiman

Read More

Rekam Jejak Sejarah 10 Muharram dalam Islam yang Penuh Keagungan Spiritual

Bondowoso – 1miliarsantri.net: Hari-hari dalam kalender Hijriah memiliki makna tersendiri dalam kehidupan umat Islam, namun ada satu tanggal yang menyimpan jejak sejarah luar biasa dan penuh makna spiritual, yakni tanggal 10 Muharram.  Dan sejarah 10 Muharram dalam Islam bukan sekadar catatan peristiwa, tetapi simbol kemenangan, pengampunan, keselamatan, dan ujian keimanan yang agung. Dikenal sebagai Hari Asyura, momen ini menyimpan jejak sejarah penting yang mencerminkan perjuangan, pengorbanan, dan rahmat Ilahi. Dari kisah penyelamatan Nabi Musa ‘alaihis salam dari kejaran Fir’aun hingga peristiwa tragis di Karbala, 10 Muharram menjadi pengingat bahwa dalam setiap ujian, selalu ada cahaya keteguhan iman dan ketulusan pengabdian kepada Allah. Artikel ini akan mengulas kembali warisan spiritual yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa besar yang terjadi pada hari istimewa ini. Kira-kira apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini hingga dianggap begitu istimewa? Mari kita selami lebih dalam tentang keagungan yang tersimpan dalam tanggal 10 Muharram, melalui penjelasan di bawah ini. Awal Mula Kemuliaan Hari Asyura Hari Asyura telah dikenal bahkan sebelum masa kenabian Muhammad SAW. Dalam berbagai catatan, kaum Yahudi pun dahulu memperingati hari ini sebagai momen di mana Nabi Musa AS dan Bani Israil diselamatkan dari kejaran Fir’aun. Rasulullah SAW sendiri ketika tiba di Madinah melihat kaum Yahudi berpuasa di hari tersebut, lalu beliau mengajarkan umatnya untuk turut berpuasa sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Sejarah 10 Muharram dalam Islam pun terus berkembang menjadi bagian penting dari kalender ibadah umat Muslim di seluruh dunia. Sejarah 10 Muharram dalam Islam: Rangkaian Peristiwa Penuh Makna Seiring waktu, banyak peristiwa besar tercatat terjadi pada tanggal 10 Muharram. Berikut ini adalah beberapa momen penting yang menjadi bagian dari sejarah 10 Muharram dalam Islam dan sarat akan hikmah: 1. Taubat Nabi Adam AS Diterima Allah Setelah diturunkan dari surga karena melanggar perintah Allah, Nabi Adam AS menyesali perbuatannya dan memohon ampun. Doa dan taubat beliau akhirnya diterima oleh Allah pada hari 10 Muharram. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi hamba yang sungguh-sungguh ingin kembali kepada-Nya. 2. Keselamatan Kapal Nabi Nuh AS Kisah banjir besar yang melanda bumi di masa Nabi Nuh AS juga berpuncak pada 10 Muharram, di mana kapal Nabi Nuh akhirnya berlabuh dengan selamat di Bukit Zuhdi. Ini menjadi simbol keselamatan bagi orang-orang yang beriman dan bersabar dalam menghadapi ujian. 3. Nabi Ibrahim AS Selamat dari Api Namrud Nabi Ibrahim AS pernah dilemparkan ke dalam kobaran api oleh Raja Namrud. Namun, dengan kekuasaan Allah, api tersebut menjadi dingin dan menyelamatkan sang nabi. Kejadian ini pun diyakini terjadi pada tanggal 10 Muharram. 4. Pembebasan Nabi Yusuf AS dari Penjara Nabi Yusuf AS yang difitnah dan dipenjara di Mesir akhirnya dibebaskan pada hari yang sama. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa keadilan Allah akan selalu hadir, bahkan ketika manusia merasa ditinggalkan oleh kebenaran. 5. Nabi Yunus AS Keluar dari Perut Ikan Setelah bertahun-tahun berdakwah, Nabi Yunus AS mengalami ujian hingga beliau berada dalam perut ikan. Pada 10 Muharram, beliau dikeluarkan dalam keadaan selamat. Peristiwa ini menunjukkan pentingnya kesabaran dan keteguhan dalam berdakwah. 6. Penyembuhan Nabi Ayyub AS dari Penyakit Nabi Ayyub AS menderita penyakit parah yang membuat tubuhnya sangat lemah dan dijauhi oleh masyarakat. Namun, pada tanggal 10 Muharram, Allah menyembuhkan beliau sebagai bentuk penghargaan atas kesabaran luar biasa yang beliau tunjukkan. 7. Nabi Musa AS dan Kaum Bani Israil Diselamatkan Inilah peristiwa yang paling sering dikaitkan dengan hari Asyura. Nabi Musa AS dan Bani Israil selamat dari kejaran Fir’aun di Laut Merah pada 10 Muharram. Air laut yang terbelah dan kemudian menenggelamkan Fir’aun menjadi simbol keadilan dan pertolongan Allah bagi kaum tertindas. 8. Peristiwa Tragis Terbunuhnya cucu Nabi Muhammad ﷺ di Karbala Peristiwa tragis di Karbala merujuk pada pembunuhan cucu Nabi Muhammad ﷺ, yaitu Al-Husain bin Ali, beserta keluarga dan pengikutnya, yang terjadi pada 10 Muharram tahun 61 Hijriyah (680 M) di padang Karbala, wilayah yang kini terletak di Irak. Setelah wafatnya Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan, kekhalifahan diwariskan kepada anaknya, Yazid bin Muawiyah, yang ditentang oleh banyak pihak karena dianggap tidak layak memimpin secara moral dan spiritual. Al-Husain bin Ali, sebagai cucu Nabi dan tokoh yang sangat dihormati umat Islam, menolak berbaiat kepada Yazid. Penolakan ini dianggap sebagai ancaman serius bagi kekuasaan Yazid. Sehingga Yazid memerintahkan gubernurnya untuk memaksa Husain berbaiat. Husain bin Ali memutuskan untuk meninggalkan Madinah menuju Mekkah untuk menghindari tekanan dan mencari dukungan. Selama di Mekkah, ia menerima banyak surat dari warga Kufah (Irak) yang mengundang Al-Husain untuk datang dan memimpin mereka. Namun, saat Al-Husain dan rombongannya sedang dalam perjalanan, pasukan Yazid di bawah pimpinan Umar bin Sa’ad mengepung mereka di Karbala. Dalam kondisi kehausan karena akses mereka ke air Sungai Eufrat diblokade selama beberapa hari dan dikepung oleh ribuan pasukan Yazid, Al-Husain dan sekitar 72 pengikutnya gugur dengan cara yang sangat mengenaskan, termasuk anak-anak dan anggota keluarga beliau. Mereka semua gugur sebagai syuhada, termasuk Husain bin Ali yang akhirnya dipenggal. Hikmah dan Refleksi dari Sejarah 10 Muharram dalam Islam Menggali sejarah 10 Muharram dalam Islam bukan sekadar untuk mengetahui kronologi peristiwa, tetapi lebih pada menggali nilai-nilai luhur yang tersimpan di baliknya. Setiap kisah nabi dan keturunannya di hari tersebut memberikan pelajaran penting, yakni tentang kesabaran, keikhlasan, pengharapan, dan kemenangan iman atas cobaan hidup. Selain itu, umat Islam juga dianjurkan untuk memperingati hari ini dengan memperbanyak ibadah seperti puasa sunah Asyura, memperbanyak sedekah, dan memperdalam ilmu agama. Hari ini bukan untuk dirayakan secara hura-hura, tetapi dimaknai sebagai hari renungan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan menjadikan tanggal 10 Muharram sebagai momentum introspeksi, kita dapat memperkuat iman dan memperbaiki amal perbuatan. Jangan biarkan hari penuh keagungan ini berlalu tanpa makna. Mari kita jadikan sejarah 10 Muharram dalam Islam sebagai inspirasi dalam menjalani kehidupan yang lebih dekat dengan nilai-nilai Ilahi. Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Toto Budiman

Read More

Loloan, Mutiara Wisata Religi di Ujung Barat Bali

Bali – 1miliarsantri.net : Jembrana, kabupaten yang terletak di ujung barat Pulau Bali, sering kali terlupakan dalam peta pariwisata Bali yang lebih banyak menyoroti Denpasar, Ubud, atau Badung. Padahal, daerah ini menyimpan sejarah panjang dan keunikan budaya yang berbeda dari citra Bali pada umumnya. Salah satu permata tersembunyi itu adalah kawasan Loloan, yang bukan hanya kaya akan nilai sejarah dan budaya, tapi juga memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata religi Islami. Sejarah Loloan bermula pada abad ke-17, ketika rombongan pelaut Bugis dari Sulawesi Selatan mendarat dan bermukim di pesisir Jembrana. Mereka diterima dengan tangan terbuka oleh kerajaan setempat, bahkan diangkat menjadi prajurit kerajaan karena keberanian dan loyalitas mereka. Salah satu tokoh penting dari masa itu, Daeng Nachoda, diberi wewenang mendirikan pelabuhan bernama Bandar Pancoran. Kedatangan mereka menjadi awal terbentuknya komunitas Muslim yang menetap dan berkembang di Jembrana. Wilayah yang mereka dirikan kemudian dikenal sebagai Loloan, yang berasal dari bahasa Bugis dan berarti “sungai yang luas dan panjang”. Saat ini, Loloan terbagi menjadi dua wilayah administratif: Loloan Timur dan Loloan Barat. Jejak budaya Bugis-Melayu masih tampak nyata melalui arsitektur rumah panggung, kebiasaan masyarakat, dan nilai-nilai sosial yang terus hidup hingga kini. Salah satu ciri khas paling menonjol dari Loloan adalah kehidupan keberagamaan masyarakatnya. Relasi sosial antara komunitas Muslim dan masyarakat Bali lainnya berjalan harmonis dengan konsep “menyama braya”—falsafah kebersamaan khas Bali yang berarti saudara dalam hidup bermasyarakat. Nilai ini telah menjadi pilar dalam menjaga toleransi dan kebersamaan selama berabad-abad. Dari harmoni tersebut tumbuhlah tradisi-tradisi keagamaan yang unik dan khas, salah satunya adalah wisata religi. Loloan memiliki sejumlah makam para ulama dan wali yang menjadi tempat ziarah, seperti makam Wali Pitu di Loloan Barat, dan makam Syarif Tue serta Buyut Lebai di Loloan Timur. Sejak 1990-an, kawasan ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, bahkan luar pulau. Selain ziarah, para pengunjung juga bisa menginap di rumah-rumah panggung warga, mencicipi kuliner khas seperti plecing ayam pedas, dan merasakan suasana kampung yang tenang dan spiritual. Peziarah sedang berdoa di makam Syarif Tue Loloan alias Syarif Abdullah bin Yahya Al Qodri Namun pandemi COVID-19 sempat memukul geliat wisata religi di Loloan. Tak ada peziarah datang, penginapan kosong, dan ekonomi warga pun lesu. Baru sejak awal 2022, aktivitas mulai pulih perlahan. Para wisatawan domestik kembali datang, mengikuti protokol kesehatan, dan menghidupkan kembali denyut kehidupan kampung. Syair Perpisahan Ramadan Tak hanya wisata religi, Loloan juga menyimpan satu lagi tradisi istimewa yakni Wida’, syair-syair perpisahan yang dilantunkan saat sepuluh malam terakhir Ramadan. Tradisi ini hanya ditemukan di Loloan. Dalam syair Wida’, para ulama tempo dulu meluapkan kesedihan akan perginya bulan suci. Lantunannya dilakukan tengah malam antara pukul 12 hingga 2 dini hari, dalam lengkingan nada tinggi dan panjang, menggema memecah keheningan kampung. Para pelantunnya, disebut pewida’, menyampaikan kesedihan mendalam lewat syair yang mereka gubah dalam langgam Bugis-Melayu. Syair yang paling sering dilantunkan adalah syair Rakbi, salah satu jenis syair yang secara tematik dan musikal penuh duka cita. Menurut Eka, Wida’ tidak hanya sebuah ekspresi seni, melainkan juga warisan budaya yang hidup di antara spiritualitas dan sejarah. Dalam lintasan waktu, ada nama-nama pewida legendaris yang pernah dikenal masyarakat Loloan pada era 1980-an, seperti Pak Tabrani, Pak Zaki, dan Pak Huzaimi. Kini semua telah wafat, tapi suara mereka masih terngiang dalam ingatan banyak orang. Ustadz Suldan, salah satu pelantun Wida. Foto istimewa : Eka Sabara Tradisi ini bermula dari abad ke-18. Tuan Guru di Loloan mengekspresikan kesedihan akan berakhirnya Ramadan melalui syair Bugis-Melayu. Kata “Wida’” sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti perpisahan, dan dalam budaya Bugis bermakna “selamat tinggal”. Tradisi ini diyakini sebagai bentuk spiritualitas mendalam, bahkan dipercaya oleh sebagian masyarakat bahwa selama Ramadan para leluhur mendapatkan “remisi” dari alam barzakh untuk pulang ke dunia. Generasi muda seperti Yusuf Mudatsir melihat tradisi Wida’ tak hanya sebagai ekspresi religius, tapi juga potensi besar untuk dikembangkan sebagai warisan budaya. Yusuf dan rekan-rekannya tengah merancang pembuatan film dokumenter, festival Wida’, hingga program regenerasi pewida’. Ia menyebut Wida’ sebagai warisan suara yang memadukan nada Melayu dan Bali, menciptakan harmoni unik yang bisa dinikmati bahkan oleh mereka yang tidak memahami maknanya. Warga desa Loloan, Negara, Jembrana Bali. Foto istimewa : Eka Sabara Kini, meskipun Loloan belum secara resmi ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemerintah daerah, embrio pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat sudah terbentuk. Kelompok Sadar Wisata Ambenan Ijogading di Loloan Timur menjadi pelopor. Pemerintah Kabupaten Jembrana sendiri telah mencanangkan pengembangan desa wisata melalui Perda No. 2 Tahun 2018. Harapannya, Loloan bisa segera diikutkan dalam pengembangan ini, terutama karena memiliki daya tarik wisata yang autentik dan berbeda dari kebanyakan desa wisata di Bali yang didominasi budaya Hindu. Loloan adalah wajah lain Bali. Bali yang terbuka, inklusif, dan penuh toleransi. Jika selama ini wisata Bali identik dengan pura, pantai, dan kesenian Hindu, maka Loloan menunjukkan bahwa Bali juga memiliki sejarah Islam yang tua dan hidup. Dengan dukungan masyarakat dan perhatian pemerintah, Loloan bisa tumbuh sebagai destinasi religi yang tak hanya menyuguhkan ketenangan spiritual, tapi juga cerita tentang keberagaman yang berpadu dalam harmoni. Penulis : Angga Wijaya Editor : Toto Budiman

Read More