UAH : Tempat Wudlu Harusnya Terpisah Dari Toilet

Jakarta – 1miliarsantri.net : Dalam sebuah kesempatan, pendakwah Ustad Adi Hidayat mendapatkan sebuah pertanyaan dari salah satu jamaahnya yang bertanya terkait hukum tempat wudhu menyatu dengan toilet. Melalui sebuah video yang diunggah di kanal youtube resmi Ustad Adi Hidayat, beliau menjelaskan terkait hukumnya tempat wudhu yang menyatu dengan toilet atau WC. Ustad Adi Hidayat mengatakan kalau idealnya memang tempat wudhu itu seharusnya terpisah dari toilet. Hal itu karena menurut Ustad Adi Hidayat, ketika wudhu kita menyertakan kalimat-kalimat thoyyibah yang mengiringi proses wudhu baik sebelum maupun sesudah melaksanakan wudhu. “Idealnya memang tempat wudhu itu berpisah dengan toilet. Mengapa? Karena didalam tempat wudhu itu kita juga menyertakan berbagai macam kalimat-kalimat Thoyyibah yang mengiringi proses wudhu baik sebelum maupun setelah wudhu itu dilangsungkan,” terang Ustad Adi Hidayat. “Saat berwudhu kan mengucapkan Bismillah sebagai mula kita mengerjakan segala kebaikan. Sepeti yang Nabi Muhammad SAW sabdakan, itu sebagai ekspresi ungkapan gambaran atas niat yang kita tujukan dari utuh itu kita Arahkan untuk mendapatkan ridho Allah SWT” lanjutnya. Ustad Adi Hidayat mengatakan kalau kalimat-kalimat doa dalam kebaikan ataupun menyebut asma-asma yang Allah SWT Nah itu kan umumnya tidak diutarakan saat kita berada di dalam toilet. “Karena toilet punya sifat tertentu yang sifatnya hanya untuk menyalurkan atau membuang hadas, baik yang sifatnya kecil ataupun juga besar. Dan kalimat-kalimat toyibah tidak disukai diungkapkan dalam keadaan-keadaan buruk seperti saat masuk toilet,” terang Ustad Adi Hidayat.

Read More

Rasha al Qaseem Melawan Kedzaliman Dengan Lukisan

Jakarta – 1miliarsantri.net : Ada berbagai cara melawan kedzaliman yang tengah terjadi, terutama kedzaliman penjajah Israel yang saat ini masih terus menggempur Palestina. Rasha Al-Qasim (29) menunjukkan ke dunia tentang cara membela Palestina. Jika tak mampu melawan kezaliman penjajah Israel dengan tenaga, maka perlawanan bisa dengan skill yang dimiliki. Rasha hanyalah wanita Palestina biasa. Namun, dia punya keahlian di bidang seni lukis. Keahlian itu dia gunakan untuk melawan kezaliman penjajah Israel. Melalui kuas, dia coba menyampaikan pesan rakyat Palestina kepada seluruh dunia. Dia yakin suatu saat rakyat Palestina akan mendapatkan hak-hak. Banyak pesan yang telah disampaikan melalui lukisan. Wanita muda dari kamp Burj Al-Barajneh dekat ibu kota Lebanon, Beirut, menggunakan kuas dan bakatnya menggambar untuk menyampaikan suara rakyatnya kepada dunia. “Saya tinggal jauh dari Palestina, dan ketika peristiwa terjadi di Palestina, saya merasa ada energi dan hal-hal di dalam diri saya yang ingin saya lakukan, dan saya hanya bisa menggambar, jadi saya melukis tentang Palestina dan rakyatnya, dan konstanta rakyatnya,” ujar Rasha, Rabu (14/6/2023).

Read More

Empat Hari Dilarang Berpuasa Dalam Bulan Dzulhijjah

Jakarta – 1miliarsantri.net : Bagi masyarakat muslim, dalam bulan Dzulhijjah terdapat empat hari dilarang puasa. Satu hari ketika hari raya idul adha, tiga hari ketika hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, 13. Disebut hari tasyrik karena kata tasyrik artinya terbitnya matahari. Ketika matahari terbit, orang zaman dahulu menjemur daging kurban untuk diawetkan agar menjadi dendeng, bisa dimakan untuk waktu yang lama. Imam an-Nawawi menyebutkan, وأيام التشريق ثلاثة بعد يوم النحر سميت بذلك التشريق الناس لحوم الأضاحي فيها وهو تقديدها ونشرها في الشمس Hari tasyrik disebutkan tasyrik (yang artinya: terbit) karena daging kurban dijemur dan disebar ketika itu. Dalilnya larangan puasa ketika hari raya idul adha adalah hadits dari mantan budak Ibnu Azhar, dia mengatakan bahwa dia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama ‘Umar bin Al Khottob radhiyallahu ‘anhu. ‘Umar pun mengatakan, هَذَانِ يَوْمَانِ في رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – عن صيامهما يوم فطركُم مِن صِيَامِكُمْ ، واليوم الآخر تأكلون فيه من تشككم “Dua hari ini adalah hari yang Rasulullah larang untuk berpuasa di dalamnya yaitu Idul Fithri, hari di mana kalian berbuka dari puasa kalian. Begitu pula beliau melarang berpuasa pada hari lainnya, yaitu Idul Adha di mana kalian memakan hasil sesembelihan kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dari Abu Sa’id Al Khudri -rudhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan, أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم- تھى عن صيام يومين يَوْم الْقِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ. “Rasulullah melarang berpuasa pada dua hari yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Muslim). Adapun larangan puasa tanggal 11, 12, 13 bulan Dzulhijjah adalah sabda Rasulullah SAW: أَيَّام التشريق أَيَّام أكل وشرب “Hari-hari tasyrik adalah hari mokan dan minum.\” (HR. Muslim). Imam Nawawi memasukkan hadits ini sebagai Shahih Muslim dalam Bab “Haramnya berpuasa pada hari tasyrik”.

Read More

Masjid Kubah Kucubung Menjadi Ikon Palangkaraya

Palangkaraya – 1miliarsantri.net : Masjid Agung Kubah Kecubung di Palangkaraya menjadi pusat perhatian masyarakat, terutama datangnya bulan suci Ramadhan. Masjid yang baru saja difungsikan ini menarik perhatian banyak orang, bukan hanya dari dalam kota sendiri, tapi juga masyarakat luar yang ingin melihat, karena masjid ini memiliki keindahan bangunan yang menakjubkan. Masjid Agung Kubah Kecubung telah menjadi salah satu ikon baru di Kota Palangkaraya. Selain keindahan bangunan, lokasi masjid yang strategis di tengah kota membuatnya mudah diakses oleh warga. Interior dan motif bangunan yang indah juga menciptakan suasana yang nyaman bagi para jamaah. Sejak difungsikannya masjid tersebut, warga selalu datang memadati untuk beribadah. Setelah itu mereka pun berswafoto dengan latar Masjid Kubah Kecubung. Dari berbagai sisi, masjid ini memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Secara tidak langsung, Masjid Kubah Kecubung menjadi lokasi religi terbaru bagi masyarakat.

Read More

Masjid Berkubah Pertama di Tanah Jawa

Tuban – 1miliarsantri.net : Masjid Agung Tuban menjadi salah satu masjid tua di Pulau Jawa. Konon, masjid ini menjadi masjid pertama di Jawa yang memakai kubah. Secara historis, Masjid Agung Tuban sudah ada sejak zaman Sunan Bonang, yakni sekitar tahun 1486. Masjid ini didirikan pada masa pemerintahan Adipati Raden Ario Tedjo atau yang dikenal dengan Syeh Abdurrahman, bupati ke-7 Tuban (1401-1419). Sebagai bangunan tua, masjid ini ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya berdasarkan Undang-undang No.10 tahun 2011) dengan nomor induk 152. Tempat ibadah umat Islam ini sempat beberapa kali renovasi. Renovasi pertama pada 1894, ketika masa pemerintahan Raden Toemengoeng Koesoemodiko (Bupati ke-35 Tuban). Saat tu Raden Toemengoeng Koesoemodiko menggunakan jasa arsitek berkebangsaan Belanda bernama BOHM Toxopeus. Sebagaimana tertulis dalam prasasti di depan masjid berbunyi: “Batoe yang pertama dari inie missigit dipasang pada hari Akad tanggal 29 Djuli 1894 oleh R. Toemengoeng Koesoemodiko Boepati Toeban. Inie missigit terbikin oleh Toewan Opzicter B.O.H.M. Toxopeus”. Masjid Agung Tuban dibangun dengan menggunakan pola lengkungan untuk menghubungkan tiang penyangga. Sehingga menghasilkan pola ruang dengan kolom-kolom. Pola ini seakan terinspirasi dari ruang dalam Masjid Cordoba, Spanyol. Menurut GF Pijper, cerita yang berkembang menyebut rujukan rancangan masjid ini adalah Hagia Sofia lstanbul. Selain berkubah, Masjid Agung Tuban juga salah satu masjid terawal yang miliki arcade. Gaya arsitektur khas nusantara dapat ditemui pada pintu dan mimbar yang terbuat dari kayu dengan ornamen ukiran khas Jawa. Di sayap mihrab terdapat tangga dari bahan kuningan mencirikan gaya khas ornamen Jawa Klasik.

Read More

Ustad Ariful Penceramah Masjid Nabawi, Asli Putera Riau

Madinah – 1miliarsantri.net : Seluruh jamaah calon haji Indonesia sangat terkesima ketika ada seorang penceramah yang menggunakan bahasa Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah Al Munawarah. Ternyata penceramah tersebut bernama Ustad Ariful Bahri, putra asli Riau yang berasal dari Air Tiris Kabupaten Kampar. Selain penceramah, Ustad Ariful juga terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Islam Madinah, jurusan S3 jurusan Akidah. Ustad Ariful terpilih bersama dua orang lainnya dari Indonesia yang telah menjalani serangkaian ujian untuk menjadi penceramah berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi. Ia menggantikan kajian selama ini yang dilaksanakan oleh Ustad DR Firanda Lc. MA dan Ustad DR Abdullah Roy Lc.MA yang merupakan juga ustad asal Indonesia. Setiap hari ba’da Maghrib hingga menjelang Isya, Ustad Ariful mengajarkan nilai-nilai keislaman kepada jamaah haji yang mayoritas merupakan orang Indonesia. Ribuan jamaah haji tampak antusias mengikuti materi yang disampaikan Ariful. Pria lulusan Doktor Bidang Aqidah itu biasa mengisi kajian di pintu (gate) 19, tidak jauh dari pintu utama Masjid Nabawi. Saat musim haji kajiannya fokus seputar manasik haji. Sedangkan di luar musim haji kajiannya fokus dua hal, yaitu keutaman-keutamaan kota Madinah dan sejarahnya. Ustad Ariful membagikan kisah dirinya bisa mengajar di Masjid Nabawi. Saat itu, dirinya tengah kuliah S3 di Universitas Islam Madinah (UIM). Pada 2019, Kampus UIM bekerja sama dengan pihak Masjid Nabawi mengirim mahasiswanya yang secara keilmuan mumpuni dan lancar berbahasa Indonesia untuk memberikan kajian di Masjid Nabawi. “Cara pemilihannya kami tidak tahu. Ini karunia Allah, ya. Mungkin karena data-data kami kan sudah ada semua di UIM,” terangnya kepada 1miliarsantri.net, Minggu (11/06/2023). Setelah mendapatkan informasi bahwa namanya tercatat sebagai mahasiswa UIM yang lolos mengisi kajian di Nabawi, baru ia diminta menghubungi salah seorang Syaikh di masjid tersebut yang mengurusi bagian dakwah.

Read More

Bukan Masjid Tiban Turen, Tapi Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah

Malang – 1miliarsantri.net : Jika kebanyakan masyarakat lebih mengenal dengan sebutan Masjid Tiban Turen, maka sebutan tersebut salah pengartian. Istilah yang sebenarnya adalah Pondok Pesantren, karena sejak awal pembangunan memang bukan masjid, melainkan Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah. Berdiri pada tahun 1963 yang waktu itu masih berada di lahan seluas 300 meter, Romo KH. Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rahmat ‘Alam, memulai mengajarkan pendidikan agama dikediaman nya Sananrejo, Turen, Kabupaten Malang. “Waktu itu Romo Kiai baru pulang dari Pesantren Sidolangu Krian milik almarhum Hadratus Syekh Sahlan Tholib, Romo Kiai mulai merintis Pesantren, yang waktu itu sudah banyak masyarakat sekitar yang ngaji kepada beliau,” terang Purwanto, Sekretaris Harian Pondok kepada 1miliarsantri.net, Senin (12/06/2023). Purwanto menambahkan, sekitar tahun 1978 mulai berdirinya pesantren awal yang masih sangat sederhana sekali, tutup gedek (bambu), atap daduk (daun pohon tebu), tiang juga terbuat dari bambu. “Pada tahun 1978 Romo Kiai mengajukan ke Pemerintah Kecamatan Turen agar kediaman beliau dijadikan Pondok Pesantren, karena pada saat itu ada peraturan tiga hari sekali harus lapor ke aparat setempat untuk jamaah atau santri yang mau bermalam di rumah warga sekitar,” lanjutnya. Disaat pembangunan masih dengan batu bata merah yang ditempelkan dengan menggunakan tanah liat. Bahkan untuk menghaluskan tembok, masih menggunakan tanah liat. Bahkan pada tahun 1978 itu masih belum berdiri pondok, melainkan bangunan rumah dan musholla untuk mengaji para santri. “Berhubung rumah Romo Kiai agak lumayan besar dan waktu itu hanya belasan santri yang mengaji, dibuatkan kamar-kamar untuk santri dari luar kota yang bermalam disana,” imbuhnya.

Read More

Siapakah Messiah dan Dajjal

Jakarta – 1miliarsantri.ner : Kata ‘Messiah’ berasal dari bahasa Ibrani yang berarti ‘yang diurapi’. Kata ini mengacu pada kebiasaan penggembala di masa lalu yang mengurapi atau melumasi kepala domba dengan ramuan minyak untuk mengusir lalat. Domba yang diurapi dimaknai sebagai “telah dijamin keselamatannya”. Praktik pengurapan kemudian diterapkan kepada raja dan imam Yahudi sebagai simbol bahwa mereka telah dijamin keselamatannya sehingga layak untuk diikuti. Kata Messiah diterjemahkan dalam bahasa Yunani dengan kata Kristos, dan dalam bahasa Arab dengan kata Al Masih. Sehingga gelar Yesus Kristus memiliki arti yang sama dengan Isa Al Masih. Sedangkan kata ‘Dajjal’ (الدَّجَّالَ‎) adalah bentuk superlatif dari akar kata ‘Dajl’ (دجل) yang berarti ‘kebohongan’ atau ‘penipuan’. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberitakan bahwa para nabi telah mengingatkan kaumnya akan fitnah Dajjal. مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَنْذَرَ قَوْمَهُ الْأَعْوَرَ الْكَذَّابَ “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan telah mengingatkan kaumnya terhadap si buta sebelah dan si pendusta (Dajjal).” (HR. Bukhari no. 6859 versi aplikasi Lidwa, no. 7408 versi Fathul Bari) Dalam Alkitab Perjanjian Lama, salah satu ciri Messiah adalah ia akan mengumpulkan orang-orang Yahudi yang terserak (diaspora). “Ia akan menaikkan suatu panji-panji bagi bangsa-bangsa, akan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang, dan akan menghimpunkan orang-orang Yehuda yang terserak dari keempat penjuru bumi.” (Yesaya 11:12) Bagi orang Yahudi, berdirinya negara Israel di Palestina merupakan syarat kedatangan Messiah. Karena negara Israel menjadi sarana untuk mengumpulkan diaspora Yahudi serta membangun kembali Haikal Sulaiman (Baitul Maqdis). Alkitab Perjanjian Lama juga mengabarkan akan adanya nabi palsu (Dajjal) yang mengajak untuk menyembah Tuhan lain (Ulangan 13:1–3). Orang Nasrani juga mengimani Alkitab Perjanjian Lama sehingga mereka mendukung keberadaan negara Israel di Palestina. Perbedaannya, orang Nasrani meyakini bahwa Yesus (Isa) adalah Messiah karena telah disebutkan dalam Alkitab Perjanjian Baru (Markus 14:61–62). Sedangkan orang Yahudi tidak mengimani Alkitab Perjanjian Baru sehingga mereka menganggap Nabi Isa adalah Messiah palsu. Alkitab Perjanjian Baru juga mengabarkan akan adanya nabi palsu (Matius 24:11) dan Messiah palsu. “Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.” (Matius 24:5) Orang Nasrani menyebut Messiah palsu (Dajjal) ini dengan nama Antikristus. Dalam hadits riwayat Bukhari (Fathul Bari, no. 3439), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut Dajjal sebagai Al Masih Ad Dajjal (الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ). Hal ini menunjukkan bahwa ketika Dajjal (Antikristus) muncul, ia akan mengaku sebagai Al Masih (Messiah). Orang Yahudi kemudian tertipu sehingga meyakini Dajjal adalah Messiah. يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا

Read More

Dapatkah Budaya Bertentangan Dengan Agama

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Seringkali ketika ada ajaran Islam yang dianggap bertentangan dengan budaya lokal, maka ajaran Islam tersebut yang harus mengalah. Budaya adalah segalanya. Semua yang bertentangan dengan budaya menjadi tak layak untuk diamalkan. Padahal, budaya adalah perkara yang dinamis. Budaya berubah mengikuti trend atau gaya mutakhir dari sedikit orang yang berkarya (Arnold Toynbee menyebutnya minoritas kreatif) yang mampu menawarkan kewajaran baru. Contohnya pakaian orang Jawa kuno. Kewajaran cara berpakaian mereka berbeda dengan kewajaran yang dianut saat ini. Pakaian orang Jawa kuno terungkap dari sastra, relief candi, dan prasasti. Dalam relief Karmawibhangga di Candi Borobudur, kebanyakan perempuan digambarkan tak menutupi payudara. Dalam Kakawin Sumanasāntaka, perempuan bangsawan digambarkan memakai kain yang menutupi sampai batas atas payudara. Namun budaya berubah, interaksi dengan budaya lain membuat perempuan Jawa mengenal kewajaran baru dalam berpakaian. Mereka mulai mengenal pakaian yang menutupi payudara, bahu, dan punggung. Jenis pakaian itu lalu disebut kebaya. Denys Lombard dalam bukunya, Nusa Jawa: Silang Budaya, mengatakan bahwa kebaya berasal dari bahasa Arab. Kata abaya dalam bahasa Arab digunakan untuk menyebut pakaian yang menutupi dada, bahu, dan punggung. Hal ini menunjukkan bahwa kedatangan bangsa Arab turut mengubah budaya berpakaian perempuan Jawa, sehingga mereka menutupi bagian dada, bahu, dan punggungnya. Perubahan budaya pakaian perempuan Jawa tersebut diawali dari jumlah sedikit, di wilayah pesisir, yang kemudian meluas hingga pedalaman. Islam pun mengajarkan bahwa perubahan budaya dapat dilakukan secara bertahap. Seperti ketika Islam mengubah budaya minum khamar di kalangan bangsa Arab. Tahap pertama, anjuran untuk menjauhi khamar karena mudaratnya lebih besar dibanding manfaatnya (QS. Al-Baqarah: 219).

Read More

Masjid Al Muharram Brajan Yogyakarta, Pelopor Gerakan Sedekah Sampah

Yogyakarta – 1miliarsantri.net : Banyak tempat yang selalu memberikan kesempatan kepada jamaah nya untuk bersedekah di Masjid atau Musholla, tapi berbeda dengan Masjid Al Muharram yang menjadikan sampah menjadi salah satu upaya untuk bersedekah sekaligus berkontribusi pada pelestarian lingkungan sekitar. Masjid yang berada di Kampung Brajan, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, ini telah menginisiasi Gerakan Sedekah Sampah (GSS) sejak 2013 silam. Gerakan ini diinisiasi oleh Ustaz Ananto Isworo, Takmir Masjid Al Muharram tepat pada 1 Ramadhan. Keprihatinannya mengenai sampah sudah dirasakan Ananto sejak pindah ke Brajan pada 2005 silam. Saat itu, Kampung Brajan dikenal sebagai kampung yang kumuh. Banyak anak jalanan yang menghuni kampung tersebut. Ustad Ananto terkejut mengetahui bahwa ia pindah ke lokasi yang tidak ramah. “Kampung tempat saya tinggal ini volume sampah nya cukup besar dan tidak terkelola dengan baik. Sebelumnya kalau buang ke kebun dan tanah, ketika hujan ya jadi banjir, ada angin sampah jadi nggak karuan,” terangnya. Awal mencetuskan program ini tidaklah mudah mengingat kata ‘sedekah’ tidak sebanding dengan ‘sampah’. Warga merasa heran dengan nama program tersebut. Ustad Ananto harus menunjukkan ke orang-orang bahwa semiskin apa pun, mereka tetap bisa bersedekah, yakni dengan memberikan sampah yang bisa didaur ulang ke masjid. Dana hasil pengumpulan sampah dari gerakan tersebut kemudian dikembalikan lagi ke masyarakat. Ada tiga program yang dikelola dengan menggunakan dana gerakan ini. Pertama, santunan beasiswa pendidikan yatim piatu dan dhuafa. Ini merupakan program yang pertama kali digerakkan melalui dana GSS. Awalnya dari tidak percaya dengan gerakan ini, tetapi ketika mereka merasakan SPP anak-anak mereka dibantu, warga pun mulai ikut membesarkan GSS. “Target kami waktu itu membebaskan mereka dari persoalan tidak bisa bayar SPP. Sekarang alhamdulillah rata-rata ekonominya sudah membaik, jadi tidak diutamakan lagi, kami cari yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.

Read More