Beberapa Tokoh Lintas Agama 30 Negara Lakukan Pertemuan Bahas Pemanasan Global

Abu Dhabi — 1miliarsantri.net : Isu pemanasan global dan perubahan iklim dibahas dalam pertemuan tokoh lintas agama dari 30 negara di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Indonesia diwakili oleh Ketua Bidang Dakwah dan Ukhwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis. Menurut Kiai Cholil, konferensi ini berlangsung selama dua hari sejak Senin 6 November 2023. Semua pemuka agama diberi kesempatan membahas tentang pemanasan global dan perubahan iklim. “Saya mewakili MUI menyampaikan tentang kepedulian umat Islam Indonesia untuk menjaga lingkungan dan perubahan iklim. Karena menjaga lingkungan berarti menjaga kehidupan umat. Kalau sampai Tahun 250 pemanasan global tidak dapat diturunkan maka akan banyak bencana alam seperti banjir, longsor dan kerusakan pulau,” terangnya saat dihubungi 1miliarsantri.net, Senin (06/11/2023) Dia menyampaikan, MUI telah memiliki lembaga khusus untuk menjaga lingkungan hidup dan mengeluarkan fatwa untuk menjaga lingkungan hidup dan pemanasan global. Seperti fatwa tentang penambangan yang ramah lingkungan, air daur ulang dan penggunaan dana infaq dan zakat untuk program pemulihan lingkungan hidup, air bersih dan sanitasi. “Tokoh agama punya tanggung jawab untuk mengubah perilaku manusia. Apalagi tokoh agama memiliki banyak pengikut, maka sangat tepat menjadikan manusia sebaga subjek bukan objek teknologi demi menjaga stabilitas alam,” ungkapnya. Dalam konferensi itu, Cholil juga mengetuk hati nurani para pelaku eksploitasi alam dengan teknologi yang merusak alam. Begitu juga dengan pelaku perang yang menyebabkan kerusakan bumi dan menimbulkan pemanasan global. “Artinya, untuk mengatasi kerusakan dan perubahan iklim perlu ada kerja sama dari semua pihak. Sebab, alam ini adalah rumah yang kita tempati secara bersama-sama,” pungkasnya. (dul) Baca juga :

Read More

Dompet Dhuafa bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Mengembangkan Instrumen Sukuk Wakaf

Jakarta — 1miliarsantri.net : Generasi milenial saat ini sudah melek dengan pasar modal karena dinilai menawarkan beragam keuntungan dan kemudahan. Tentunya hal ini menjadi daya minat bagi milenial untuk masuk ke pasar modal. Melihat potensi ini, Dompet Dhuafa bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) mengembangkan instrumen sukuk wakaf dengan menerbitkan CWLS (Cash Waqf Linked Sukuk) sebagai sarana para milenial untuk berwakaf. Konsep CWLS dinilai cukup berhasil dalam menggerakkan aset wakaf lebih produktif. “Dompet Dhuafa terus belajar berupaya mengembangkan wakaf sebagai pilar ekonomi syariah yang potensinya diperkirakan mencapai Rp200 triliun di Indonesia,” kata Ketua Pengurus Dompet Dhuafa Republika Rahmat Riyadi dalam diskusi “Milenial Berwakaf dalam Pasar Modal: Cerdas Spiritual, Cerdas Finansial” di Jakarta, Jumat (3/11/2023). Menurutnya, jika angka tersebut dapat direalisasikan, maka akan menjadi pilar yang luar biasa bagi ekonomi Islam. Sebagai informasi, Dompet Dhuafa setiap tahunnya hanya mampu mengumpulkan wakaf sebanyak Rp20 miliar. Dibandingkan dengan potensi yang besar, angka tersebut masih terlalu kecil. Namun, Rahmat optimistis program ini mampu memaksimalkan potensi wakaf sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat. Kepala Divisi Pasar Modal Syariah Irwan Abdalloh mengatakan pasar modal syariah dapat menyandingkan sisi ekonomi, mencari keuntungan dan sosial secara beriringan. Ia menjelaskan, kegiatan wakaf di pasar modal tidak keluar dari aturan yang berlaku di mana pelaku utamanya adalah nazir. “Ketika seseorang ingin berwakaf di pasar modal, dapat dilakukan melalui sekuritas yang kemudian disampaikan dan dikelola oleh nazir,” jelas Irwan. Irwan pun menekankan bisnis sekuritas tidak akan berubah. Bila perusahaan ingin memasukkan instrumen wakaf, maka wajib menggandeng pengelola wakaf atau nazir. (rid) Baca juga :

Read More

Wapres Berharap MUI Bisa Bersikap Netral Dalam Menyikapi Pemilu Mendatang

Jakarta — 1miliarsantri.net : Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan kunjungan sekaligus bersilaturahmi ke Wakil Presiden RI, KH Ma’ruf Amin di Istana Wapres Jakarta. Dalam pertemuan ini dibahas suasana politik menjelang Pemilu 2024 yang akan digelar tiga bulan lagi, tepatnya 14 Februari 2024. Adapun jajaran Pimpinan MUI yang diterima Wapres dalam pertemuan tersebut adalah Wakil Ketua Umum MUI K.H. Marsudi Syuhud, Wakil Ketua Umum Buya Basri Bermanda, Ketua MUI Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Ulama KH Abdullah Jaidi, Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrorun Niam Sholeh dan Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan. Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Masduki Baidlowi menyampaikan pada pertemuan tersebut Kiai Ma’ruf ingin ulama di MUI mengambil peran menyejukkan situasi politik yang kian menghangat menjelang hari pemungutan suara. “Wapres berharap ulama dan semua pihak berperan aktif mendinginkan suasana politik di lapisan bawah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” terang Kiai Masduki kepada 1miliarsantri.net usai pertemuan tersebut. Kiai Masduki menuturkan, salah satu contoh hal yang perlu diantisipasi menjelang pemilu adalah maraknya perdebatan di media sosial yang kian meresahkan. “Misalnya di medsos banyak sekali perdebatan-perdebatan yang seakan-akan silaturahmi tidak lebih penting ketimbang sebuah pilihan politik praktis yang jangka pendek,” imbuhnya. Lebih lanjut, Kiai Masduki mengungkapkan, menjelang pemilu 2024 Wapres juga berharap para pimpinan MUI harus tetap membawa lembaga yang menaungi para ulama ini untuk tetap mengambil sikap netral, di samping pilihan politik pribadi individu. “Wapres berharap para pimpinan MUI diseluruh Indonesia sebagai institusi supaya bersikap netral. Kalau ada yang berhubungan terkait dengan hak politiknya silahkan sebagai individu, monggo untuk bersikap politik,” ucapnya. Kiai Masduki menambahkan, saat ini potensi terjadinya perpecahan di tengah masyarakat akan semakin meruncing, terutama menjelang bergulirnya Pemilu Pilpres dan Wapres. “Memasuki tahun politik ini kemungkinan cenderung panas dan ada pembelahan-pembelahan di masyarakat. Untuk itu diharapkan agar MUI bisa menjadi penengah dan bersikap netral dalam mengantisipasi hal tersebut,” pungkasnya. (wink) Baca juga :

Read More

Komite Fatwa Badan Pengembangan Halal Eropa, Menghadiri Halaqah Dakwah MUI

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ketua Komite Fatwa Badan Pengembangan Halal Eropa, Dr. Muhammad Ali Ba’alau menghadiri Halaqah Dakwah MUI pada Rabu (1/11/2023) di Kantor MUI, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, ia membeberkan empat kaidah fikih minoritas. Pertama, Dr. Ba’alau menjelaskan fikih minoritas hanya berlaku bagi muslim yang hidup di negara dengan mayoritas penduduknya non-muslim. Fikih ini akan berbeda dengan fikih yang berlaku di negara berpenduduk mayoritas muslim. “Pertama adalah kaidah mempermudah dan menghilangkan atau menghindari kesulitan (at-taysir wa raf’u ‘anil haraj), ” terangnya. Contoh dari kaidah ini, terang Dr. Ba’alau ialah kebolehan menjamak shalat Magrib dan Isya meski tidak dalam kesulitan. Praktik ini kerap terjadi ketika musim panas di negara-negara Eropa. “Saat musim panas di Britania, malam hari hanya berlangsung selama 5 jam dan siang hari selama 19 jam dan pada keadaan seperti ini sulit untuk membedakan kapan waktu Magrib usai dan kapan masuknya waktu Isya sampai subuh tiba,” jelasnya. Karena samarnya antara waktu magrib dan isya tersebut, ucap Dr. Ba’alau, Komite Fatwa Eropa membolehkan menjamak shalat maghrib dan isya meski tidak dalam perjalanan atau sebab lain yang biasanya menjadi alasan jamak shalat diperbolehkan. “Hal ini untuk mempermudah masyarakat di sana dan dalam rangka menerapkan kaidah mempermudah dan menghilangkan kesulitan,” kata dia. Kaidah kedua, kata dia, adalah adanya kebutuhan yang setara dengan hukum darurat (al-hajah tunazzalu manzilata ad-dharurah). Contoh penerapan kaidah ini adalah ketika masyarakat Eropa dihadapkan pada mahalnya biaya tempat tinggal sehingga mereka terpaksa mencicilnya lewat Bank Ribawi. “Tempat tinggal adalah kebutuhan darurat, oleh karena itu, kami menerbitkan fatwa mengenai kebolehan bertransaksi di Bank Ribawi untuk kebutuhan yang memang darurat,” lanjutnya. Ketiga, imbuh dia, adalah kaidah fatwa dapat berubah tergantung zaman, situasi, dan kondisi (taghayyurul fatwa bittaghayyuriz zaman wal hal). Penerapannya dalam fikih minoritas, jelas Dr. Ba’alau, adalah kebolehan seorang muslim dalam menerima warisan non-muslim. “Seperti kita tahu, dalam fikih disebut tidak boleh seorang muslim menerima warisan non-muslim dan sebaliknya. Akan tetapi, karena kita hidup di wilayah yang mayoritas penduduknya non-muslim, perihal waris jadi diperbolehkan mengacu pada pendapat sahabat Ali,” terangnya. Kaidah keempat dari fikih minoritas adalah mempertimbangkan dampak masa depan, (al-‘ibratu bil maalat). Misalnya ketika sekolah-sekolah di sebagian negara Eropa melarang siswinya mengenakan hijab. “Karena mempertimbangkan pentingnya pendidikan bagi perempuan dan dampak yang lebih berbahaya jika mereka tidak dapat menempuh studi yang layak, akhirnya diputuskan jika dalam keadaan tersebut para siswi diperbolehkan melepas hijab, ” ungkap Dr. Ba’alau. Sebagai pengingat, fatwa-fatwa ini hanya berlaku di wilayah tersebut dan tidak berlaku di negara yang mayoritasnya muslim seperti Indonesia. (rid) Baca juga :

Read More

Lautan Manusia Memakai Pakaian Serba Putih dan Atribut Palestina Banjiri Kawasan Monas

Jakarta — 1miliarsantri.net : Aksi ungkapan rakyat Indonesia bela Palestina dilakukan di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (05/11/2023) yang dihadiri sekitar dua juta masaa dari berbagai penjuru daerah. Pukul 06.10 WIB tampak massa aksi terlihat berbondong-bondong mulai datang dari Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat (Jakpus) dan massa aksi kebanyakan mengenakan pakaian didominasi warna putih. Massa aksi terdiri dari berbagai kalangan dari anak-anak hingga orang tua. Tampak massa aksi juga sudah memakai atribut membela Palestina. Atribut tersebut yakni syal bendera Palestina maupun ikat kepala bertuliskan ‘Save Palestina’. Tampak per pukul 06.26 WIB massa aksi masih terus berdatangan. Massa aksi longmarch berjalan langsung menuju ke Monas. Tampak beberapa pedagang atribut Palestina juga di dekat Stasiun. Terlihat massa juga berbondong-bondong membeli atribut. Pihak keamanan dari Kepokisian juga tengah berada di lokasi guna mengamankan massa aksi. Sebagaimana diketahui dan diberitakan sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menggelar Aksi Bela Palestina di Monumen Nasional (Monas) pada 5 November. MUI menyatakan aksi ini untuk menunjukkan sikap Indonesia. “Masyarakat Indonesia mengutuk terhadap agresi Israel, kemudian kita menginginkan ada perdamaian di Palestina dan dalam waktu dekat gencatan senjata yang kita inginkan,” terang Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, saat dihubungi disela-sela aksi, Minggu (05/11/2023). Dia mengatakan Aksi Bela Palestina digelar sebagai kecaman atas serangan-serangan yang terus dilakukan Israel. Pada aksi tersebut, disampaikan sejumlah tuntutan terkait bencana kemanusiaan di Palestina dan Israel. “Tuntutan paling mendesak ialah hentikan penindasan, penyerangan, dan lakukan gencatan senjata. Itu tuntutan mendesak. Karena banyak masyarakat sipil yang menjadi korban, ada anak-anak, wanita, hingga orang tua,” lanjutnya.. Per Jumat (03/11/2023), Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan korban tewas mencapai 9.061 orang. Dari jumlah korban tewas itu, sebanyak 3.760 orang di antaranya ialah anak-anak serta 2.326 perempuan. Selain itu, 32.000 orang lainnya terluka. Pada Aksi Bela Palestina ini akan didorong upaya mengakhiri konflik antara Palestina dan Israel agar tercipta perdamaian. “Berikutnya, bagaimana bisa menciptakan perdamaian, jangan memperkeruh, ambil inisiatif dari organisasi keagamaan negara-negara terdekat untuk menyelesaikan konflik ini,” sambungnya.. Tak cuma orasi dan doa bersama, dalam Aksi Bela Palestina juga akan dilakukan penggalangan bantuan baik berupa dana maupun pakaian layak pakai dan beberapa jenis obat-obatan dan makanan untuk disalurkan kepada korban di Palestina. Cholil mengatakan bantuan yang diterima untuk korban akan disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). “Kemudian memberi bantuan kemanusiaan yang bisa kita berikan, baik atas nama dorongan agama untuk membantu orang lain atau atas dorongan kemanusiaan,” pungkasnya. (deka) Baca juga :

Read More

Jutaan Umat Muslim Indonesia Gelar Aksi Peduli Palestina di Monas

Jakarta — 1miliarsantri.net : Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama beberapa ormas keagamaan yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina akan menggelar aksi damai solidaritas Palestina pada Ahad (5/11/2023) di Monumen Nasional (Monas) Jakarta. Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung sejak pukul 06.00 WIB hingga 10.00 WIB. Aksi akan diikuti lebih dari 2 juta massa dan ada sejumlah orasi dari para tokoh-tokoh lintas agama. Menlu RI Retno Marsudi akan hadir dalam aksi tersebut. Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan aksi merupakan bentuk dukungan kepada Palestina. Menurut Sudarnoto, masyarakat Indonesia tegak lurus sesuai amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan. “Pemerintah Indonesia tidak akan bergeser sedikitpun untuk terus mendukung Palestina,” tegas Sudarnoto kepada wartawan dalam konferensi pers di Kantor MUI, Jakarta, Kamis (02/11/2023). Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah KH Cholil Nafis mengatakan Aksi Bela Palestina merupakan bentuk kepedulian sesama muslim. Dikatakan Kiai Cholil, 93 persen penduduk Palestina adalah muslim. “Yang dibunuh (Israel) orang muslim yang tidak bersalah. Sesama muslim diibaratkan satu bangunan,” terang Kiai Cholil. Kendati demikian, lanjut Kiai Cholil, kejadian di Palestina adalah kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel. Sehingga sejatinya siapa pun yang mengaku manusia, apapun agamanya akan menentang yang dilakukan Israel. Kiai Cholil mengajak semua lapisan masyarakat untuk ikut terlibat. Aksi ini mendapat dukungan penuh dari organisasi seperti PGI, Permabudhi hingga organisasi lintas agama lainnya. Kiai Cholil mengimbau agar masyarakat atau organisasi yang mengikuti aksi tidak membawa bendera partai politik dan atribut yang bertentangan dengan NKRI. “Bawa bendera ormasnya masing-masing. Enggak boleh bawa bendera partai politik. Jangan ada provokasi,” himbau Kiai Cholil. Sementara itu, Koordinator Lapangan Aksi KH Bachtiar Nasir menerangkan izin penggunaan Monas sudah dikantongi panitia. Menurut UBN, sapaan akrab KH Bachtiar Nasir, aksi ini bukan aksi 212. Aksi Bela Palestina ini merupakan rangkaian aksi yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya. “Yang menyelenggarakan majelis agama yang dibackup oleh MUI. Diharapkan peserta berbaju putih,” pungkas UBN. (wink) Baca juga :

Read More

PP Muhammadiyah Serahkan Bantuan ke Palestina

Yogyakarta — 1miliarsantri.net : Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyerahkan bantuan rakyat Indonesia untuk Palestina yang dihimpun di Lazismu melalui Muhammadiyah Aid ke mitra lokal di Palestina. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan, dua periode bantuan untuk Palestina ini terkumpul dana Rp40 miliar. Periode pertama dari 2018 sampai sebelum pecah perang kembali 2023, Muhammadiyah sudah menyalurkan bantuan untuk Palestina sebesar Rp27 miliar. Sementara bantuan kedua yang akan disalurkan Muhammadiyah sebesar Rp13 miliar akan diserahkan kepada wakil dari Palestina. “Kami PP Muhammadiyah menyampaikan terima kasih kepada seluruh keluarga besar persyarikatan dan para simpatisan, serta seluruh keluarga yang memberikan keprihatinan untuk Palestina,” ujar Haedar dikutip dari laman Muhammadiyah, Sabtu (04/11/2023). Dana yang terkumpul akan diserahkan dalam berbagai bentuk barang dan program kemanusiaan. Penggalangan dana periode kedua untuk Palestina ini sementara dicukupkan, dan akan bersambung dengan penggalangan untuk program-program lain. “Kami selain mengembangkan dan mengumpulkan dana untuk charity, kedermawanan, juga ke depan akan terus melakukan program empowerment dan resolusi konflik,” lanjut Haedar. Pada kesempatan ini Haedar Nashir juga mengapresiasi sikap Pemerintah Indonesia untuk Palestina. Menurutnya, melalui pernyataan Menlu, Retno LP Marsudi di PBB merupakan bukti sikap tegas, kokoh, dan istikamah membela Palestina dan mengutuk agresi dan penjajahan Israel. “Kami sekali lagi memaklumatkan bahwa pengumpulan dana untuk Palestina merupakan bentuk keprihatinan Muhammadiyah, dan nanti kami harapkan berbagai pihak untuk melakukan gerakan yang sama,” katanya. Teknis penyerahan bantuan Muhammadiyah ke Palestina memakai beberapa skema, pertama melalui mitra-mitra lokal yang sudah bergabung dalam program sebelumnya. Mitra-mitra lokal dapat menyalurkan bantuan dari stok obat dan makanan yang dikirim dari daerah-daerah di Palestina luar kota Gaza. Kedua dengan mengirimkan bantuan dari Indonesia yang berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia yang akan mengirim bantuan melalui mesir dan palang merah. Bantuan melalui Pemerintah Indonesia akan diberangkatkan akhir pekan ini. Muhammadiyah akan mengirimkan bantuan berupa 2400 kaleng RendangMu dan 600 paket Family Kit yang berisi Selimut, handuk dan pakaian dalam. Untuk pengiriman barang akan dilakukan dengan menggunakan Pesawat Hercules menuju Mesir dan akan diserahkan melalui palang merah oleh pemerintah sebagai bagian pengiriman bantuan Rakyat Indonesia untuk Palestina. Pengiriman bantuan yang akan diberangkatkan dari Halim Perdana Kusuma ini akan dilepas langsung oleh Presiden RI. (mif) Baca juga :

Read More

MUI Targetkan Program Standardisasi Dai Mencapai Level Internasional

Jakarta — 1miliarsantri.net : Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis menargetkan program Standardisasi MUI bisa mencapai level Internasional di masa depan. Hal itu dia sampaikan saat membuka Standardisasi MUI ke-26. Menurutnya, setiap da’i merupakan duta agama Islam. Oleh karena itu, setiap dai wajib punya kompetensi mumpuni yang terstandard. Apa yang dibicarakan dai, ujar Kiai Cholil, berisikan nilai dan ajaran Islam. “Kegiatan Standardisasi Dai yang dikomandoi Komisi Dakwah MUI ini bertujuan menyamakan persepsi, hingga angkatan 26 ini alhamdulillah sekitar 1700 da’i telah terstandardisasi MUI. Semoga di masa depan ada Standardisasi Dai skala internasional, kegiatan yang sudah berlangsung selama ini menjadi langkah awal menuju ke level itu,” terang Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah Depok ini. Dia menambahkan, ntuk menuju arah itu, dai harus membuktikan inovasi metode berdakwah. Inovasi menunjukkan dai paham lingkungan sekitar dan kondisi keumatan saat ini. Inovasi itu juga membuktikan bahwa program Standardisasi Dai MUI bermanfaat memperbaiki kualitas dai di Indonesia. “Inovasi metode berdakwah menjadi salah satu bagian yang akan dipelajari dalam kegiatan standardisasi, dakwah tidak sembarangan dan harus memiliki strategi agar tersampaikan dengan baik kepada umat,” lanjutnya. Selain metode berdakwah, Kiai Cholil juga menyampaikan materi lain terkait Islam wasathiyah serta hubungan Islam dan nasionalisme dalam konteks beragama. Islam dan nasionalisme, kata dia, tidak dapat dipisahkan. MUI berulangkali menyatakan NKRI harga mati. Karena itu, wilayah dakwah dapat diisi pula dengan nilai-nilai kebangsaan. “Dengan membaca Fatihah, mari kita buka acara hari ini, semoga apa yang kita lakukan mendatangkan kebaikan bagi kita sendiri, umat dan juga bangsa,” pungksnya. (rid) Baca juga :

Read More

Toleransi di Indonesia Menjadi Perhatian Dunia

Jambi — 1miliarsantri.net : Wakil Presiden Republik Indonesia Prof KH Ma’ruf Amin mengatakan saat ini banyak ulama dunia yang mengakui dan mengapresiasi kerukunan umat beragama di Indonesia. Meskipun begitu, Pemerintah Indonesia bersama Kementerian Agama RI hingga saat ini masih terus melakukan sosialisasi modernisasi beragama ke masyarakat. “Kita sangat serius memperkuat moderasi beragama sebagai pondasi kerukunan dan harmoni dan sudah diakui negara lain,” jelasnya saat pembukaan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Musabaqoh Hadits di Arena Utama H Abdurrahman Sayoeti, Kota Jambi, Provinsi Jambi, Senin (30/10/2023). Pengakuan tokoh agama internasional tersebut disampaikan langsung kepadanya. Bahkan kehidupan beragama di Indonesia jadi percontohan bagi banyak negara. Tak jarang perwakilan dari berbagai negara datang untuk belajar mengelola kerukunan umat beragama di Indonesia. “Banyak ulama dunia mengakui bahwa datang ke Indonesia bukan untuk mengajarkan toleransi, tapi belajar ke Indonesia bab toleransi,” imbuhnya. Kiai Ma’ruf menambahkan, beberapa ulama di Timur Tengah bahkan meminta tulisan tentang kerukunan umat beragama di Indonesia diterjemahkan kedalam bahasa Arab dan Inggris. “Kata mereka juga, tidak saatnya lagi bahasa Arab diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Justru bahasa Indonesia diterjemahkan ke Arab. Sehingga orang Arab tahu tentang Indonesia membangun kehidupan toleransi,” terangnya. Kerukunan umat beragama di Indonesia juga tidak lepas dari tingginya literasi Al-Qur’an di nusantara. Hasil survei indeks literasi Al-Qur’an Indonesia tahun 2023 yang diselenggarakan Kementerian Agama tahun 2023 mencapai angka 66 atau kategori tinggi. “Saya minta literasi Al-Qur’an Indonesia terus ditingkatkan di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi digital. Saya meyakini tantangan yang berat saat ini justru menurut generasi Qurani yang semakin kuat,” pintanya. Dikatakannya, ketika umat Islam bisa menjaga kerukunan dalam kehidupan sosial maka akan banyak hal yang bisa sumbang kan untuk Indonesia dan dunia. Sejak awal kemajuannya, umat Islam telah menyumbang banyak penemuan untuk kemajuan dunia hingga era modern. Baik di bidang kedokteran, pendidikan, seni, dan budaya, musik, teknik, bahkan seduhan kopi dilakukan tokoh Muslim di abad 14. “Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia juga mengharapkan bidang ekonomi. Targetnya jadi pusat ekonomi halal tahun 2024,” pungkasnya. (mik) Baca juga :

Read More

Kemenpora dan PCNU Sengkawang Gelar Pelatihan Wirausaha

Singkawang — 1miliarsantri.net : Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Singkawang dan Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al-Hady Singkawang menggelar pelatihan wirausaha. Kegiatan ini diikuti 50 santri dab digelar di Gedung PCNU Kota Singkawang, Jalan BLK/Rantau Jaya, Singkawang, Kalimantan Barat, Sabtu-Ahad (29-30/10/2023). Keterampilan kewirausahaan dan spirit Entrepereneurship bagi para santri dan pemuda merupakan hal penting dalam menghadapi tantangan ekonomi modern. Pelatihan ini memberikan bekal pengetahuan dan jaringan kerja, keterampilan pemasaran digital, dengan memanfaatkan teknologi. “Ini bisa dijadikan sebagai batu loncatan untuk memulai usaha dalam memasuki kehidupan sosial ketika mereka nantinya terjun ke masyarakat dan membina keluarga,” terang Ketua PCNU Kota Singkawang H Edy Purwanto Achmad. Ia mengapresiasi inisiasi Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al-Hady Singkawang dalam mendukung pengembangan kewirausahaan santri. Pelatihan ini merupakan upaya menciptakan santri untuk memiliki keterampilan (life skill), dan menjadi santripreneur yang dikelola oleh pesantrenpreneur. “Sehingga santri ketika keluar pondok nanti memiliki keterampilan khusus salah satunya yaitu pengelolaan, proses pembuatan pengemasan dan pemasaran keripik keladi,” ujarnya. Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Miftahul Ulum Al-Hady Ustadz Suhadi menyampaikan kegiatan ini menyosialisasikan kewirausahaan di kalangan yayasan pesantren. Ini juga untuk mengembangkan kegiatan kewirausahaan di kalangan yayasan atau pesantren untuk meningkatkan kemandirian para santri. “Menyebarkan semangat kewirausahaan di lingkungan pesantren dan sekitarnya. Menumbuhkan minat kewirausahaan para santri di bidang tertentu, dan mengoptimalkan peran santri dalam kehidupan masyarakat yang siap bersaing dengan dunia global,” pungkasnya. (wik) Baca juga :

Read More