Perbandingan Kesepakatan Transfer Data Pribadi antara Amerika Serikat dan Negara Lain; Ancaman bagi Privasi Individu di Masa Depan?

Jakarta – 1miliarsantri.net : Data pribadi kini menjadi salah satu aset paling berharga dalam ekosistem digital global. Ancaman bagi privasi individu dapat terjadi, bila negara tidak mengatur regulasi secara ketat. Kesepakatan transfer data pribadi kerap dijadikan prasyarat perjanjian dagang antar negara. Menurut laporan World Economic Forum (WEF) 2020, data pribadi bahkan disebut sebagai “minyak baru” yang menggerakkan ekonomi digital. Informasi tentang identitas, perilaku, lokasi, hingga preferensi pengguna menjadi komoditas yang memiliki nilai strategis untuk perusahaan teknologi besar dan juga negara-negara yang ingin mengoptimalkan pengawasan dan kebijakan publik. Data Pribadi: Aset Strategis di Era Digital Di Indonesia, isu permintaan transfer data pribadi WNI ke Amerika Serikat sebagai bagian dari kesepakatan tarif impor menimbulkan pertanyaan besar mengenai bagaimana pemerintah dan masyarakat memandang kedaulatan data dan perlindungan privasi. Data yang tidak dikelola dengan baik berpotensi disalahgunakan, mulai dari pelanggaran privasi individu hingga ancaman keamanan nasional. Sejatinya, ini bukan kali pertama bagi Amerika Serikat untuk melakukan kesepakatan transfer data dengan negara lain. Berikut beberapa perbandingan kesepakatan transfer data pribadi Amerika Serikat. Uni Eropa: Standar Perlindungan Data Paling Ketat dengan GDPR Uni Eropa adalah pelopor regulasi perlindungan data pribadi yang sangat ketat melalui General Data Protection Regulation (GDPR) yang mulai berlaku pada 2018. GDPR tidak hanya mengatur bagaimana perusahaan memproses data warga UE, tetapi juga membatasi transfer data ke negara-negara yang tidak memiliki standar perlindungan setara. Studi oleh European Data Protection Board (EDPB) menunjukkan bahwa GDPR memberikan efek protektif signifikan terhadap kebocoran data dan penyalahgunaan oleh pihak ketiga, serta menguatkan hak subjek data dalam mengontrol informasi pribadinya. Keseriusan UE dalam penegakan GDPR tercermin dalam denda besar yang pernah dijatuhkan kepada perusahaan teknologi raksasa, seperti Google dan Facebook, yang mencapai ratusan juta euro. Dalam konteks hubungan dengan AS, UE menuntut agar kesepakatan perdagangan tidak mengorbankan hak privasi, sehingga AS harus beradaptasi dengan mekanisme perlindungan ini, misalnya lewat Privacy Shield Framework (yang sempat dibatalkan dan direvisi). Model ini menunjukkan bahwa kedaulatan data dapat dipertahankan dengan regulasi yang tegas dan implementasi yang konsisten. Kanada: Transparansi dan Akuntabilitas dalam Pengelolaan Data Kanada menerapkan pendekatan yang berbeda, dengan menyeimbangkan perlindungan data dan fleksibilitas perdagangan. Berdasarkan Personal Information Protection and Electronic Documents Act (PIPEDA), Kanada mengharuskan organisasi untuk memberikan transparansi penuh mengenai penggunaan data dan menyediakan mekanisme pengaduan bagi individu yang merasa data pribadinya disalahgunakan. Dalam laporan Canadian Privacy Commissioner 2021, disebutkan bahwa pengawasan ketat dan proses audit reguler menjadi kunci keberhasilan pengelolaan data. Kanada juga bekerja sama dengan AS dalam Privacy Shield dan beberapa inisiatif lain, meski dengan kewaspadaan terhadap potensi pelanggaran data lintas negara. Pendekatan ini menggarisbawahi pentingnya pengawasan yang aktif dan akuntabilitas sebagai penyeimbang kebutuhan ekonomi dan hak privasi. Jepang dan APEC Cross-Border Privacy Rules (CBPR): Fleksibilitas dan Perlindungan Skema Cross-Border Privacy Rules (CBPR) yang dikembangkan oleh Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) menjadi contoh inovatif bagaimana negara-negara Asia Pasifik, termasuk Jepang, mengatur transfer data pribadi secara lintas batas tanpa mengorbankan privasi. Dalam laporan APEC Privacy Framework (2015), CBPR dijelaskan sebagai sistem sukarela yang mengatur standar perlindungan data dengan mekanisme sertifikasi perusahaan yang berpartisipasi. Jepang sendiri sebagai negara dengan teknologi maju mengadopsi CBPR untuk menjaga iklim perdagangan digital yang kondusif sambil melindungi data warga. Studi oleh Japan Privacy Commission (2022) mencatat bahwa keberhasilan CBPR terletak pada sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil dalam mengawasi dan mematuhi aturan perlindungan data. Model ini relevan bagi Indonesia yang ingin mengembangkan kebijakan yang fleksibel namun tetap protektif di tengah tekanan global. Refleksi Penting bagi Indonesia Indonesia telah melangkah maju dengan diberlakukannya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) pada tahun 2022, yang menjadi landasan hukum utama dalam pengelolaan data pribadi. Namun, implementasinya di lapangan masih menghadapi banyak hambatan serius, baik secara struktural maupun kultural. Salah satu tantangan terbesar adalah belum terbentuknya lembaga pengawas independen yang diamanatkan oleh undang-undang. Menurut laporan Tech For Good Institute (2025), kekosongan kelembagaan ini menciptakan ruang abu-abu dalam penegakan hukum dan perlindungan hak digital warga, terutama di tengah tingginya frekuensi kebocoran data di sektor publik dan swasta. Sepanjang 2023 saja, firma hukum Bahar Law Firm mencatat lebih dari 200 dugaan insiden pelanggaran data, sebagian besar melibatkan institusi pemerintah. Ironisnya, hingga satu tahun setelah insiden besar kebocoran data 337 juta penduduk di layanan Dukcapil, belum ada pelaku yang dijatuhi sanksi tegas—semua hanya berakhir pada teguran administratif. Di sisi lain, belum rampungnya regulasi teknis turunan membuat pelaksanaan UU PDP berjalan setengah hati. Banyak institusi masih bingung dalam menerapkan standar perlindungan data yang memadai, dan penunjukan Data Protection Officer (DPO) di berbagai organisasi pun kerap bersifat administratif semata, tanpa pelatihan atau kewenangan strategis. Indonesia perlu meniru langkah Uni Eropa dengan membentuk badan pengawas independen yang kuat, mampu menindak tegas pelanggaran data dan menjamin transparansi. Di samping itu, literasi digital harus menjadi agenda prioritas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, agar tidak mudah terjebak penyalahgunaan data. Transparansi dan Keterlibatan Publik dalam Negosiasi Internasional Transparansi adalah kunci dalam negosiasi internasional yang menyangkut data pribadi. Dalam artikel Policy Brief Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia (2024), ditegaskan bahwa inklusivitas pemangku kepentingan, seperti organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan pelaku industri teknologi, sangat penting agar kebijakan yang dihasilkan berimbang dan berkeadilan. Pendekatan ini tidak hanya mencegah keputusan sepihak, tetapi juga meningkatkan legitimasi dan kepercayaan publik terhadap kebijakan pemerintah. Dengan keterbukaan, masyarakat bisa memahami risiko dan manfaat transfer data, serta turut mengawal pelaksanaannya agar sesuai dengan standar perlindungan yang telah ditetapkan. Kedaulatan Digital dan Masa Depan Indonesia Dalam era di mana data pribadi menjadi komoditas bernilai tinggi, Indonesia tidak bisa hanya pasif menunggu arus global. Pengalaman negara-negara seperti Uni Eropa, Kanada, dan Jepang memberikan pelajaran penting bahwa regulasi ketat, pengawasan yang efektif, dan partisipasi publik adalah fondasi utama dalam melindungi kedaulatan data pribadi. Indonesia, dengan UU PDP yang baru, memiliki pijakan hukum yang kuat, namun harus terus memperkuat implementasi dan literasi masyarakat. Hanya dengan strategi yang matang dan inklusif, Indonesia dapat memastikan bahwa pertukaran data dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat, berlangsung secara adil dan menguntungkan, tanpa mengorbankan hak asasi dan kedaulatan digitalnya. (***) Referensi: Kontributor : Ramadani Wahyu Editor : Toto Budiman

Read More

“Pengadilan Rakyat Global” Gaza Tribunal Desak Intervensi Bersenjata PBB demi Hentikan Genosida Paling Mematikan

Gaza – 1miliarsantri.net : Di sebuah ruangan pengadilan rakyat di Gaza Tribunal Sarajevo pada Mei lalu, suara tangis saksi perempuan Gaza yang kehilangan keluarganya menjadi kesaksian hidup tentang penderitaan yang tak terbayangkan. Para hakim moral, akademisi, dan tokoh masyarakat dunia yang duduk di meja panel terdiam, lalu mencatat setiap detail. Inilah Gaza Tribunal, sebuah “juri nurani internasional” yang kini menyerukan langkah paling drastis: intervensi bersenjata PBB untuk menghentikan apa yang mereka sebut sebagai fase paling mematikan dari genosida di Jalur Gaza. Tribunal Rakyat dengan Sejarah Panjang Gaza Tribunal, atau Pengadilan Rakyat Global, dibentuk pada November 2024 di London oleh hampir 100 akademisi, intelektual, aktivis HAM, dan tokoh masyarakat sipil. Tujuannya adalah menginvestigasi dugaan kejahatan perang, genosida, dan apartheid yang terjadi di Gaza, dengan pendekatan moral dan kemanusiaan. Gaza Tribunal bukanlah lembaga resmi negara atau organisasi internasional. Ia berakar pada tradisi “pengadilan rakyat”—forum independen yang didirikan untuk memberikan putusan moral terhadap kejahatan kemanusiaan ketika institusi resmi gagal bertindak. Pendahulunya yang paling terkenal adalah Russell Tribunal on Vietnam pada 1966 yang digagas filsuf Bertrand Russell dan Jean-Paul Sartre, serta Russell Tribunal on Palestine pada 2009. Dalam kasus Gaza, tribunal ini pertama kali diluncurkan di London pada November 2024, lalu menggelar sidang lanjutan di London (Februari 2025) dan Sarajevo (Mei 2025). Sidang puncak akan digelar di Istanbul pada Oktober 2025. Dengan menghadirkan saksi dari Gaza, pakar hukum internasional, aktivis HAM, hingga jurnalis, tribunal ini berusaha menyusun dokumen moral yang kuat—“vonis nurani”—untuk dunia. “Fase Paling Mematikan” Menurut Richard Falk, mantan Pelapor Khusus PBB untuk Palestina sekaligus profesor hukum internasional di Princeton, dunia kini menghadapi kegagalan moral yang berbahaya. “Kita memasuki fase paling mematikan dari genosida di Gaza,” ujarnya. “Jika PBB dan masyarakat internasional tidak bertindak segera, maka sejarah akan mencatat ini sebagai salah satu kegagalan terbesar kemanusiaan.” Sejak Oktober 2023, lebih dari 62.000 warga Palestina terbunuh dalam serangan Israel di Gaza. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Infrastruktur sipil, rumah sakit, universitas, hingga tempat ibadah hancur. Laporan lembaga internasional menunjukkan tingkat kelaparan dan penyakit yang sangat tinggi, dengan sebagian wilayah Gaza kini dikategorikan mengalami kelaparan massal (famine). Dasar Hukum: Dari “Uniting for Peace” hingga R2P Gaza Tribunal menekankan bahwa intervensi bukan sekadar tuntutan moral, melainkan memiliki dasar hukum internasional. Tribunal mengutip Resolusi “Uniting for Peace” (1950) yang memberi kewenangan kepada Majelis Umum PBB untuk bertindak ketika Dewan Keamanan terblokir veto. Selain itu, ada juga doktrin “Responsibility to Protect” (R2P) yang diadopsi Sidang Umum PBB pada 2005. Prinsip ini menegaskan kewajiban komunitas internasional untuk melindungi populasi sipil ketika sebuah negara gagal mencegah genosida, kejahatan perang, atau pembersihan etnis. Dengan dua dasar ini, Gaza Tribunal menyerukan pengiriman pasukan internasional PBB ke Gaza untuk memberikan perlindungan langsung kepada warga sipil. Menentang “Komplisitas” Barat Salah satu kritik utama yang muncul dalam persidangan Gaza Tribunal adalah komplisitas negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan sekutu lainnya. Negara-negara ini dituduh bukan hanya menutup mata terhadap penderitaan Palestina, tetapi juga terus memasok senjata dan dukungan diplomatik bagi Israel. Namun, menurut Falk, opini publik mulai bergeser. Gelombang protes mahasiswa di kampus-kampus AS dan Eropa, boikot produk tertentu, hingga desakan embargo senjata menunjukkan bahwa solidaritas masyarakat dunia masih bisa memengaruhi kebijakan politik, sebagaimana yang pernah terjadi dalam kampanye global melawan apartheid di Afrika Selatan. Membungkam Kebenaran Tribunal juga menyoroti upaya sistematis untuk membungkam kebenaran. Beberapa pelapor khusus PBB dilabeli dan diserang, sementara jurnalis di lapangan menghadapi ancaman serius. Kasus paling mencolok adalah pembunuhan jurnalis Al Jazeera, yang memicu kemarahan global. Menurut para hakim tribunal, serangan terhadap jurnalis bukan hanya upaya membungkam saksi mata, tetapi juga bagian dari strategi menghapus narasi korban. Dukungan Turki Di tengah lemahnya respon pemerintah-pemerintah besar dunia, Gaza Tribunal memberi penghargaan terhadap sikap konsisten Turki yang secara terbuka menyebut agresi Israel sebagai genosida. Tribunal menilai keberanian Ankara—meskipun menghadapi tekanan diplomatik—menjadi salah satu suara negara yang masih berdiri tegak membela Palestina di forum internasional. Dokumentasi dan Solidaritas Global Tujuan utama Gaza Tribunal ada dua. Pertama, mendokumentasikan kejahatan secara sistematis dan otoritatif agar tidak terhapus dari sejarah. Kedua, membangun solidaritas global yang mampu mendesak lahirnya langkah konkret di PBB. Tribunal sadar bahwa putusan mereka tidak mengikat secara hukum. Namun, sejarah menunjukkan bahwa pengadilan rakyat dapat menciptakan tekanan moral dan politik yang besar. Russell Tribunal tentang Vietnam, misalnya, berperan penting dalam mengubah opini publik dunia terhadap perang AS. Harapan dan Tantangan Meski pesimistis terhadap elite politik, Falk percaya pada kekuatan rakyat. Ia mengingatkan pada gerakan anti-perang Vietnam: sesuatu yang awalnya dianggap mustahil, perlahan menjadi mungkin berkat mobilisasi publik. Hal serupa kini diharapkan terjadi untuk Gaza. Namun tantangannya sangat besar. Dewan Keamanan PBB terus terbelenggu oleh veto AS, sementara dunia Arab terpecah, dan banyak negara Muslim memilih berhati-hati demi kepentingan politik dan ekonomi. Sidang Puncak di Istanbul Sidang terakhir Gaza Tribunal dijadwalkan berlangsung di Istanbul, Oktober 2025. Di sana, para hakim moral akan mengeluarkan putusan resmi berdasarkan bukti dan kesaksian yang terkumpul dari London dan Sarajevo. Putusan itu tidak akan membawa tank ke Gaza, tetapi bisa menjadi dokumen moral yang menegaskan kebenaran sejarah dan memperkuat dasar hukum bagi langkah internasional di masa depan. Penutup Gaza Tribunal hanyalah sebuah pengadilan rakyat, tanpa kekuatan hukum, tanpa pasukan, tanpa veto. Namun ia membawa sesuatu yang sering hilang dalam diplomasi resmi: suara nurani manusia. Di tengah reruntuhan Gaza, suara ini menjadi pengingat bahwa dunia masih bisa memilih: tetap diam dan menjadi saksi pasif genosida, atau bergerak bersama dan memaksa lahirnya intervensi nyata. Seperti kata Richard Falk, “Diam di hadapan genosida adalah bentuk kesalahan. Dan kesalahan itu akan terus menghantui sejarah kita.” (***) Penulis : Abdullah al-Mustofa Editor : Toto Budiman Sumber: https://www.aa.com.tr/en/middle-east/gaza-tribunal-calls-for-armed-un-intervention-to-halt-most-lethal-phase-of-genocide-in-gaza/3662472 https://www.aa.com.tr/en/europe/bosnia-and-herzegovina-hosts-3rd-day-of-gaza-tribunal/3582743 https://1-al–shabaka-org.translate.goog/commentaries/normalizing-israeli-impunity-and-dominance-the-arab-role

Read More

Kim Keon Hee ‘Eks Ibu Negara Korea Selatan Pertama Yang Ditetapkan Sebagai Tersangka’ Ini Kronologinya

Eks Ibu Negara Korsel “Kim Keon Hee” Resmi Jadi Tersangka Dugaan Suap dan Manipulasi Saham. Korea Selatan – 1miliarsantri.net: Untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang mantan Ibu Negara, Kim Keon-hee, resmi berstatus tersangka. Kasus ini bukan sekadar heboh di media, tapi juga membuka mata kita bahwa jabatan tinggi pun tidak kebal dari hukum. Tim investigasi khusus menemukan bahwa Kim Keon-hee diduga menerima barang-barang mewah bernilai fantastis dari seorang pengusaha. Kalau kamu mengikuti berita luar negeri, kasus ini bagaikan drama politik yang penuh misteri, konflik kepentingan, dan tentu saja kemewahan. Kronologi Kasus yang Menjerat Kim Keon Hee Kasus ini mulai mencuat ketika tim investigasi melakukan penggeledahan di kediaman Kim Jin-woo, saudara ipar Kim Keon-hee, pada 25 Juli lalu. Di sana, mereka menemukan garansi jam tangan mewah merek Vacheron Constantin, nilainya mencapai puluhan juta won. Jam itu dibeli oleh seorang pengusaha berinisial Seo pada September 2022, lalu langsung diberikan kepada Kim Keon-hee. Seo mengaku pembelian itu murni atas permintaan Kim, tanpa maksud suap. Tapi, tim penyelidik mencurigai ada agenda tersembunyi di balik pemberian tersebut. Kenapa? Karena pemberian jam itu bertepatan dengan periode perusahaan Seo menandatangani kontrak operasi anjing robot dengan Dinas Keamanan Presiden. Tambah lagi, Seo punya riwayat mendonasikan KRW 10 juta untuk kampanye Yoon Suk-yeol pada 2021. Temuan Lain Berupa Kalung Mewah dan Lukisan Misterius Tak cuma jam tangan, penyelidikan juga menemukan kalung Van Cleef & Arpels dan sebuah lukisan yang diduga karya seniman Lee Woo-hwan. Kalung itu pernah menjadi sorotan saat Kim Keon-hee memakainya di KTT NATO Spanyol, Juni 2022. Masalahnya, kalung tersebut tidak tercatat dalam daftar aset resmi. Dari catatan toko Van Cleef & Arpels, model kalung yang sama dibeli oleh orang dekat petinggi Seohee Construction setelah Yoon menang pilpres pada Maret 2022. Ada fakta yang bikin kening berkerut, yakni menantu pimpinan Seohee Construction diangkat sebagai kepala staf perdana menteri pada Juni 2022, tepat sebelum perjalanan luar negeri ketika Kim mengenakan kalung tersebut. Dugaan Balas Jasa Jabatan Tim penyelidik menduga ada kaitan antara pemberian kalung dan penunjukan jabatan penting tersebut. Mereka sedang mengumpulkan bukti untuk memastikan apakah ini bagian dari balas jasa atau murni kebetulan. Pimpinan Seohee Construction dan beberapa pihak terkait rencananya akan dipanggil untuk diperiksa lebih lanjut. Kalau ini terbukti, bukan hanya Kim Keon-hee yang akan terjerat, tapi jaringan bisnis-politik di sekitarnya juga bisa terseret. Sidang Penentuan Nasib Hari ini menjadi babak baru bagi Kim Keon-hee. Ia hadir di Pengadilan Distrik Pusat Seoul untuk sidang penentuan penangkapannya. Tuduhan yang dihadapinya tidak main-main: manipulasi saham, campur tangan pemilu, dan penerimaan suap. Sidang berjalan selama 4 jam sebelum eks ibu negara itu dibawa ke Pusat Penahanan Seoul Selatan. Awalnya, ia akan ditempatkan di Pusat Penahanan Seoul di Uiwang, tapi jaksa mengajukan perubahan lokasi karena alasan fasilitas, dan pengadilan mengabulkannya. Pelajaran dari Kasus Kim Keon Hee Kalau kamu lihat kasus ini, jelas bahwa kekuasaan dan kemewahan sering jadi kombinasi berbahaya. Tidak peduli setinggi apa jabatanmu, ketika hukum bekerja, kamu tetap bisa terseret. Sebagai masyarakat, kamu bisa mengambil pelajaran bahwa transparansi itu penting, terutama bagi pejabat publik. Barang mewah yang diterima pejabat seharusnya dicatat, diumumkan, dan tidak disembunyikan. Kasus ini juga menjadi pengingat buat kita semua bahwa integritas tidak bisa dibeli. Sebagus apa pun pencitraan di depan kamera, kalau di belakang layar ada transaksi mencurigakan, cepat atau lambat akan terungkap. Kim saat masih menjadi Ibu Negara mendampingi Presiden Korsel dalam kunjungan Kenegaraan di Indonesia Kasus Kim Keon-hee bukan cuma gosip politik, tapi cerminan bagaimana kekuasaan bisa dimanfaatkan atau disalahgunakan. Sebagai warga, kamu berhak tahu dan kritis terhadap siapa pun yang memegang posisi strategis. Dengan Kim Keon-hee resmi berstatus tersangka, proses hukum ini akan menjadi ujian besar bagi sistem peradilan Korea Selatan. Apakah hukum akan berlaku adil tanpa pandang bulu? Atau kekuatan politik masih punya cara untuk memutarbalikkan keadaan? Satu hal yang pasti, kita bisa belajar satu hal penting bahwa harta dan jabatan bisa datang dan pergi, tapi nama baik dan integritas adalah investasi seumur hidup.** Penulis : Ainun Maghfiroh Editor : Thamrin Humris Foto istimewa

Read More

TNI Bawa Misi Kemanusiaan ke Gaza di Hari Kemerdekaan RI ke-80, 800 Ton Bantuan Untuk Rakyat Gaza

Bukti Persaudaraan Indonesia-Palestina, TNI Terjunkan Bantuan Kemanusiaan ke Gaza di Hari Kemerdekaan Gaza, Palestina – 1miliarsantri.net: Sejarah panjang hubungan Indonesia dan Palestina sejak masa persiapan kemerdekaan hingga Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia sangatlah istimewa. Selama bulan Agustus, TNI Bawa Misi Kemanusiaan ke Gaza di Hari Kemerdekaan RI ke-80, 800 Ton Bantuan Untuk Rakyat Gaza. Perintah Presiden RI Prabowo Subianto Mengutip Puspen TNI, Atas perintah Presiden Republik Indonesia, Tentara Nasional Indonesia melalui Satgas TNI Garuda Merah Putih-II kembali melaksanakan misi operasi bantuan kemanusiaan internasional bagi rakyat Palestina di Jalur Gaza pada Minggu (17/8/2025). Bantuan untuk rakyat Gaza yang diterjunkan di langit Gaza hari ini diangkut dua Pesawat Hercules C-130J TNI AU dari Skadron Udara 31, dengan 66 personel gabungan, dikerahkan di bawah komando Komandan Wing I Lanud Halim Perdanakusuma, Kolonel Pnb Puguh Julianto selaku Mission Commander. Solidarity Path Operation-2 (SPO-2) Kedua pesawat Hercules C-130J TNI AU dari Skadron Udara 31 yang tergabung dalam Satgas Garuda Merah Putih-II (GMP-II) mendarat di di Pangkalan Udara King Abdullah II (KAIIAB) Yordania. Satgas Garuda Merah Putih-II (GMP-II) kemudian bergabung dalam Operasi Airdrop Multinasional Solidarity Path Operation-2 (SPO-2) di bawah pimpinan Royal Jordanian Air Force (RJAF). Tim selanjutnya melaksanakan persiapan dan packing bundel sebelum melaksanakan dropping bersama negara-negara peserta SPO-2. 17,8 Ton Bantuan Diterjunkan Di Langit Gaza Angka 17,8 Ton dipilih sebagai simbol tanggal dan bulan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Bangtuan kemanusiaan tersebut diterjunkan di atas langit Gaza dalam momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Kolonel Pnb Puguh Julianto selaku Mission Commander, menyampaikan “Momentum Hari Kemerdekaan tidak hanya kita rayakan dengan upacara, tetapi juga dengan aksi nyata kemanusiaan. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita di Gaza.” Puguh melanjutkan, bantuan kemanusiaan yang dibawa mencapai total sekitar 800 ton, dengan tahap awal dropping minimal ±45 ton logistik langsung ke Jalur Gaza. Bantuan tersebut meliputi bahan makanan pokok, makanan siap saji, serta sembako dari BAZNAS, ditambah 1.000 dus makanan instan dari Kementerian Pertahanan RI. BAZNAS telah membuktikan perannya melalui berbagai program nyata. Baru-baru ini, BAZNAS bersama mitra lembaga amal Mesir, Mishr Al Kheir, berhasil menyalurkan tiga truk bantuan kemanusiaan ke wilayah Rafah, Gaza. Bantuan tersebut berisi sekitar 5.000 paket kebutuhan pokok, dari total 8.500 paket yang direncanakan, dengan nilai bantuan yang disalurkan mencapai 122.000 dolar AS. Wujud Kepedulian Bangsa Indonesia Bantuan dari Indonesia yang dibawa TNI dalam Solidarity Path Operation-2 menjadi bukti nyata solidaritas bangsa Indonesia kepada rakyat Palestina. Metode air drop digunakan untuk menjangkau wilayah-wilayah yang sulit ditembus melalui jalur darat. Tugas yang diemban oleh TNI, dengan kehadiran Satgas Garuda Merah Putih-II ini sekaligus menjadi wujud kepedulian bangsa Indonesia di panggung internasional, sejalan dengan semangat peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia,” pungkas Kolonel Pnb Puguh Julianto selaku Mission Commander. Penulis : Thamrin Humris Editor : Thamrin Humris Sumber : TNI.MIL.ID dan @baznasindonesia Foto : dok. TNI.MIL.ID dan @baznasindonesia

Read More

Perut Lapar dan Janin Terancam: Kehamilan di Gaza Jadi Pertarungan Hidup-Mati

Di tenda-tenda pengungsian yang lembap dan sempit, perempuan Gaza mengandung dengan tubuh yang lapar, tanpa gizi, tanpa obat, dan tanpa kepastian apakah bayi mereka akan lahir hidup. Gaza – 1miliarsantri.net: Di sebuah tenda pengungsian yang lembap dan sempit di Gaza barat, seorang perempuan hamil berusia tiga puluhan duduk bersandar lemah. Nafasnya terengah, tubuhnya kian menyusut, dan janin dalam kandungannya nyaris tak bergerak. “Saya tidak makan makanan bergizi sejak awal kehamilan. Berat badan saya turun dari 96 kilo menjadi 75. Saya tidak tahu apakah bayi saya akan lahir sehat, cacat, atau bahkan selamat,” ujarnya dengan suara serak. Ia adalah satu dari ribuan perempuan hamil di Gaza yang berjuang bukan hanya melawan rasa sakit, tetapi juga melawan kelaparan, keterbatasan medis, dan hilangnya hak-hak dasar. Kehamilan di sana adalah pertarungan antara hidup-mati. Dalam kata-katanya sendiri, kondisi mereka adalah “bencana”. Tubuh yang Mengikis Diri Sendiri Selama enam bulan kehamilannya, ia tak pernah mencicipi susu, buah, atau vitamin. Tidak ada pemeriksaan USG, tidak ada akses laboratorium untuk mengetahui kondisi janinnya. Pemeriksaan darah terakhir menunjukkan kadar hemoglobin hanya 8, tanda anemia parah. “Saya pusing setiap hari, tubuh saya terasa mengikis dari dalam. Saya tidak tahu apakah bayi saya masih hidup,” katanya sambil mengusap perutnya yang kian tirus. Situasi ini bukan hanya pengalaman pribadi. Menurut data organisasi kesehatan lokal, lebih dari separuh ibu hamil di Gaza mengalami malnutrisi akut, dengan gejala anemia, pusing, hingga kelelahan kronis. Hal itu diperburuk dengan hilangnya fasilitas rumah sakit akibat pemboman, serta hancurnya rantai pasokan makanan dan obat-obatan karena blokade Israel. Ketakutan Melahirkan dalam Kekosongan Di kamp pengungsian yang menampung lebih dari 350 keluarga, tangisan bayi menjadi simfoni duka yang terus terdengar. Tidak karena rewel biasa, melainkan karena perut kecil mereka kosong. Susu formula langka, harganya melonjak hingga tak terjangkau. “Popok sekarang 600 syikal. Susu tidak ada sama sekali. Bayi-bayi di sini tidak bisa tidur karena kelaparan,” kata sang ibu. Ia menyebut dua pekan lalu seorang bayi meninggal di kampnya akibat tidak mendapat susu. Ironisnya, banyak perempuan hamil kini tak lagi menantikan kelahiran dengan harap, melainkan dengan cemas. “Saya bahkan tidak ingin melahirkan. Apa yang akan saya berikan pada bayi saya? Tidak ada susu, tidak ada popok. Kalau lahir, ia hanya akan menderita,” ucapnya dengan getir. Gaza: Kehidupan yang Dimusnahkan Amina Abdulfattah Hammouda, warga kamp Jabalia, menuturkan pengalaman serupa. Ia menggambarkan tubuhnya “seperti memakan dirinya sendiri” akibat kekurangan gizi. Rania Saleh al-Hourani, pengungsi hamil lain, menambahkan bahwa lingkungan tenda pengungsian sama sekali tidak layak untuk melahirkan. “Tidak ada air bersih, tidak ada tempat aman, tidak ada pelayanan kesehatan. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa melahirkan dengan selamat di sini?” katanya. Bagi banyak perempuan Gaza, hak dasar seorang ibu hamil—ruang aman, makanan bergizi, pemeriksaan medis—telah lenyap. “Seharusnya sembilan bulan ini saya beristirahat di rumah, menyiapkan pakaian bayi, memastikan ada perawatan yang baik. Tapi sekarang saya tinggal di tenda bocor, tanpa makanan, tanpa obat. Seperti tidak ada hak bagi kami,” ungkap seorang ibu dengan getir. Ancaman Generasi yang Hilang Dokter-dokter Gaza memperingatkan bahwa anak-anak yang lahir di tengah perang ini berisiko tinggi mengalami prematuritas, cacat lahir, dan stunting permanen. Kekurangan gizi kronis sejak dalam kandungan berarti generasi Gaza berikutnya sedang tumbuh dengan tubuh rapuh, otak kurang berkembang, dan kesehatan yang terancam seumur hidup. “Setiap kelahiran kini adalah pertempuran antara hidup dan mati,” kata seorang tenaga medis di kota Gaza. “Kekurangan listrik membuat inkubator berhenti berfungsi, tidak ada obat-obatan, dan para ibu datang dalam keadaan anemia berat. Kami hanya bisa berdoa.” Dihantui Pilihan Mustahil Meski penderitaan terus memburuk, sebagian besar perempuan Gaza menolak meninggalkan tanah air. “Kami diusir dari Jabalia ke Gaza barat. Itu sudah cukup. Tapi meninggalkan Gaza ke luar negeri? Tidak mungkin. Lebih baik mati di tanah kami sendiri daripada terusir,” kata sang ibu hamil yang masih tinggal di tenda. Keputusan itu berakar dari keyakinan mendalam akan hak atas tanah air, meski harus membayar dengan penderitaan pribadi. “Selama masih ada zaitun dan za’atar di Gaza, kami tidak akan pergi. Kami akan tetap bertahan,” tambahnya. Kehamilan yang Berubah Jadi Pertarungan Hidup Di banyak belahan dunia, kehamilan adalah masa penuh harapan: mendekorasi kamar bayi, menyiapkan pakaian mungil, mengantisipasi tangisan pertama. Di Gaza, kehamilan berubah menjadi pertarungan hidup-mati. Setiap hari terasa seperti seratus tahun, penuh dengan ketakutan apakah bayi yang lahir akan bernapas, apakah ia akan mendapat susu, apakah ibunya masih akan hidup setelah persalinan. Situasi ini adalah cermin krisis kemanusiaan yang paling telanjang. Ia menunjukkan bahwa perang bukan hanya menghancurkan bangunan dan jalan, tetapi juga merenggut kehidupan paling murni—janin yang bahkan belum lahir. Gaza: Kehidupan yang Dirampas Sebelum Dimulai Di balik dinding tenda bocor dan tanah becek kamp pengungsian, ibu-ibu hamil Gaza terus menunggu hari kelahiran dengan hati yang diliputi cemas. Mereka menanti bukan dalam sukacita, melainkan dalam doa agar bayi mereka bisa sekadar bertahan hidup. “Setiap hari saya berpikir, mungkin lebih baik bayi saya tetap di dalam kandungan daripada lahir ke dunia yang penuh penderitaan ini,” kata sang ibu sambil menatap kosong ke luar tenda. Di Gaza, kehidupan bukan hanya sulit—ia sering kali dirampas bahkan sebelum sempat dimulai. Penulis : Abdullah al-Mustofa Editor : Thamrin Humris Sumber : Kanal youtube Al Jazeera dan Al Jazeera.net Foto tangkapan layar Kanal youtube : Al Jazeera dan Al Jazeera.net

Read More

Kisah Inspiratif dari Tenda Pengungsi Gaza ‘Empat Bersaudari Sukses Menghafal Al-Quran’ di Tengah Perang dan Kelaparan

Gaza – 1miliarsantri.net: Di tengah kecamuk perang yang tak henti-hentinya melanda Jalur Gaza, sebuah kisah inspiratif muncul dari tenda-tenda pengungsian yang panas dan sesak, membuktikan bahwa cahaya Al-Quran dapat bersinar bahkan dalam kegelapan yang paling pekat. Empat bersaudari dari keluarga Al-Masri, yang kini menjadi penghafal Al-Quran, telah mengukir prestasi luar biasa, dengan tiga di antaranya berhasil menghafal seluruh Al-Quran Di tengah deru konflik yang tak henti, ketiganya berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an, di bawah bimbingan saudari tertua mereka. Tim Al Jazeera Mubasher, yang melaporkan langsung dari salah satu tenda pengungsian keluarga Al-Masri, bertemu dengan keempat bersaudari ini. Mereka adalah Alma (17 tahun), Hala (20 tahun), Sama (15 tahun), dan Nada (22 tahun), sang pembimbing. Nada sendiri telah menyelesaikan hafalan Al-Qurannya pada September 2023. Perjalanan Menuju Hafalan di Tengah Cobaan Perjalanan menghafal Al-Quran ini jauh dari mudah. Alma mengungkapkan bahwa prosesnya sangat sulit dan penuh banyak kesulitan, termasuk pengalaman pengungsian, kelaparan, dan pengusiran. Namun, dengan ketekunan, ia berhasil menjadi hafizah dan merasakan perasaan indah yang tak terlukiskan. Hala mengidentifikasi panas yang sangat menyengat, tempat yang sempit, kurangnya ketenangan, dan suara bom yang dekat sebagai rintangan terberat yang mereka hadapi. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa mereka mengatasi kesulitan ini dengan tekad dan kesabaran. Motivasi mereka tak hanya datang dari keinginan pribadi, melainkan juga dari harapan untuk dapat memakaikan mahkota kepada orang tua mereka di Hari Kiamat. Sama, yang termuda di antara, menggambarkan perjalanannya sebagai sulit tapi manis. Ia juga menyoroti kondisi yang memburuk: pengungsian, pengusiran, kehilangan orang-orang terkasih, kelaparan, dan ketiadaan tempat yang layak untuk menghafal akibat pendudukan Israel yang menghancurkan semua masjid. Namun, ia menyatakan, “dengan tekad dan kegigihan kami, kami berhasil mewujudkan impian kami”. Nada, Sang Pembimbing dan Pelopor Cahaya Nada, sang pembimbing, memegang peran sentral dalam keberhasilan saudari-saudarinya. Nada sangat berterima kasih kepada ayahnya, Kamel Al-Masri, yang menjadi alasan utama di balik perjalanannya dan mendukungnya secara finansial serta moral. Nada adalah benih pertama yang, setelah menghafal Al-Quran, bertekad untuk membimbing saudari-saudarinya. Perjalanan hafalan bersama ini dimulai pada Januari 2024, di tengah masa pengungsian mereka ke Rafah. Nada menyusun jadwal yang ketat untuk hafalan dan muroja’ah. Seluruh tenda pengungsian mereka pun berubah menjadi halaqah tahfiz. Nada juga menegaskan bahwa penghancuran masjid, pusat pendidikan, dan impian mereka tidak menghalangi mereka untuk menghafal Al-Quran. Menyebarkan Cahaya Al-Quran di Tengah Krisis Bahkan di tengah pengungsian, semangat Nada untuk menyebarkan Al-Quran tak padam. Ketika mereka kembali ke Khan Younis, sebuah mushola sederhana didirikan dari terpal dan nilon. Mushola ini menarik sejumlah besar siswi, lebih dari 240 siswi, sebuah berkah dari Allah. Bersama sejumlah pengajar yang mumpuni, Nada mengembangkan program terpadu bekerja sama dengan “Dar Al-Itqan”. Program ini tidak hanya fokus pada hafalan Al-Quran, tetapi juga akidah, sirah nabawiyah, tajwid, dan pendidikan Islam. Tujuannya adalah untuk mencetak generasi Qurani. Pusat pendidikan mereka, “Fatayat Al-Quran,” telah berhasil meluluskan lebih dari 20 penghafal Al-Quran. Nada mengungkapkan bahwa Al-Quran adalah penghibur dalam hiruk pikuk kehidupan mereka, bahkan mushaf-mushaf ini mereka bawa serta saat mengungsi dari rumah mereka. Pesan Harapan dan Wajah Sejati Gaza Nada meneteskan air mata, perpaduan antara kebahagiaan dan kebanggaan, saat ia melihat impian ayahnya menjadi kenyataan. Baginya, hafalan Al-Quran “menguatkan kami, menguatkan rakyat kami,” dan akan melahirkan generasi Qurani. Pesan mereka untuk semua orang yang ingin menghafal Al-Quran sangatlah jelas: “Mulailah dengan niat yang tulus karena Allah SWT, dan jangan menyerah menghadapi kesulitan dan kondisi apapun, dan yakinlah bahwa Allah akan mempermudah jalanmu”. Nada menambahkan, “Tidak ada kondisi yang lebih sulit dari kondisi yang kami alami”. Kamel Al-Masri, sang ayah, menyatakan kebanggaan, kehormatan, dan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT yang telah membimbing putri-putrinya menghafal Al-Quran, menjadikan rumah mereka mercusuar Al-Quran. Ia menyoroti inisiatif Nada yang, di hari pertama mereka tiba di tempat pengungsian, langsung bertanya, “Ayah, di mana masjid terdekat? Aku ingin mendirikan halaqah tahfiz Al-Quran”. Ayah mereka dengan tegas menyatakan bahwa ini adalah wajah sejati Gaza. Di zaman di mana perilaku premanisme, pencurian, keserakahan, dan penimbunan marak, keluarga Al-Masri menunjukkan bahwa ini adalah wajah sejati Gaza: hafalan Al-Quran, tarbiyah, dan keteguhan. Ia menekankan bahwa Gaza tetap menghasilkan prestasi, meskipun berada dalam perang, kelaparan, kehancuran, dan pengeboman. Kisah empat bersaudari putri Al-Masri adalah bukti nyata ketahanan, harapan, dan tekad luar biasa yang dapat tumbuh bahkan di tengah kehancuran. Mereka adalah cahaya yang bersinar dari tenda-tenda pengungsian rakyat Palestina di Gaza, menunjukkan kepada dunia bahwa semangat Al-Quran dan pencarian ilmu takkan padam oleh kesulitan apapun.*** Penulis : Abdullah al-Mustofa Editor : Thamrin Humris Sumber : Kanal youtube Al Jazeera Mubasher Foto tangkapan layar Kanal youtube Al Jazeera Mubasher

Read More

Signal Perang Dunia di Ujung Konfrontasi Nuklir, Trump Kirim Dua Kapal Selam Nuklir AS ke Rusia.

Indramayu – 1miliarsantri.net : Signal Dunia kembali dihadapkan pada eskalasi geopolitik berbahaya setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan pengerahan dua kapal selam bersenjata nuklir ke perairan dekat Rusia pada 1 Agustus 2025. Langkah ini langsung memicu reaksi global karena dianggap sebagai sinyal kesiapan militer AS untuk menghadapi potensi konfrontasi nuklir dengan Rusia dan sekutunya. Dilansir dari kanal YouTube Islam Populer, keputusan ini merupakan respons terhadap pernyataan provokatif Dmitry Medvedev, mantan Presiden Rusia yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia. Medvedev secara terbuka menyinggung keberadaan sistem nuklir otomatis legendaris Rusia yang dikenal dengan nama “Dead Hand” atau “Tangan Mati.” Ancaman Sistem Dead Hand dan Pengerahan Kapal Selam Nuklir AS Sistem Dead Hand adalah peninggalan era Perang Dingin yang dirancang untuk meluncurkan seluruh arsenal nuklir Rusia secara otomatis apabila pusat komando militer mereka dihancurkan dalam serangan awal. Target sistem ini mencakup kota-kota besar dan instalasi militer di negara-negara Barat seperti Washington DC, London, Paris, Berlin, hingga markas NATO di Brussels. Medvedev menyebut bahwa sistem tersebut masih aktif, yang langsung memicu kekhawatiran internasional. Pernyataan ini dianggap bukan sekadar retorika, tetapi sinyal serius bahwa Rusia siap menanggapi setiap bentuk agresi militer dengan kekuatan destruktif besar-besaran. Menanggapi ancaman tersebut, Presiden Trump memerintahkan pengerahan dua kapal selam bersenjata nuklir yang diyakini berasal dari kelas Ohio atau Virginia. Kapal selam ini memiliki kemampuan membawa rudal balistik Trident II yang dapat menjangkau lebih dari 12.000 km dan membawa hulu ledak nuklir berkekuatan tinggi. Kapal selam ini berfungsi sebagai bagian penting dari strategi pertahanan nuklir Amerika Serikat karena kemampuannya melakukan serangan balasan (second strike) dari lokasi tersembunyi di bawah laut. Langkah ini tidak hanya menjadi simbol kekuatan, tetapi juga peringatan bahwa AS tidak akan tinggal diam dalam menghadapi ancaman nuklir dari Rusia. Poros Timur Bergerak dan Reaksi Global Ketegangan semakin meningkat ketika laporan menyebut bahwa Angkatan Laut Tiongkok mengirim dua kapal perusak dan satu kapal amfibi ke wilayah perairan dekat Rusia. Tindakan ini dinilai sebagai bentuk dukungan strategis terhadap Moskow dan memperkuat aliansi tidak resmi yang dikenal sebagai Poros Timur, melibatkan Rusia, Tiongkok, dan Iran. Sementara itu, NATO segera menggelar pertemuan darurat di Brussels untuk merespons perkembangan ini. Inggris meningkatkan kesiapan di pangkalan udara RAF, Jerman dan Prancis menyuarakan keprihatinan mendalam, dan Jepang serta Korea Selatan memperkuat sistem pertahanan rudal mereka. India, yang selama ini bersikap netral, turut menyerukan pengendalian senjata nuklir global dan mendorong dimulainya kembali dialog diplomatik internasional. Situasi ini mengingatkan banyak pihak pada Krisis Rudal Kuba tahun 1962. Namun, para analis menilai krisis kali ini jauh lebih kompleks karena melibatkan aktor geopolitik multipolar dan rendahnya rasa saling percaya antara Donald Trump dan Vladimir Putin. Dampak dari ketegangan ini tidak hanya dirasakan di panggung militer dan politik, tetapi juga menghantam perekonomian global. Harga minyak mentah melonjak tajam akibat kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global. Pasar saham di Eropa dan Asia mengalami fluktuasi besar, sementara para investor global berbondong-bondong mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap aman seperti emas, obligasi pemerintah AS, dan dolar. Perusahaan multinasional mulai mengeluarkan peringatan tentang potensi gangguan rantai pasokan dan menyerukan penyelesaian damai melalui diplomasi. Mereka khawatir krisis ini akan berdampak pada stabilitas ekonomi global secara jangka panjang. Trump memberikan tenggat waktu hingga 15 Agustus 2025 kepada Rusia untuk menunjukkan tanda-tanda penurunan eskalasi. Jika tidak, seluruh aset militer AS di Eropa Timur akan ditingkatkan ke status siaga penuh. Para pengamat menilai bahwa momen ini bisa menjadi titik balik antara deeskalasi melalui diplomasi atau justru konfrontasi terbuka yang melibatkan senjata nuklir. Dengan situasi yang terus memanas, dunia kini hanya bisa menunggu dan berharap agar retorika provokatif tidak berubah menjadi tindakan mematikan yang mengancam seluruh peradaban manusia. (***) Penulis: Rodatul Hikmah Editor: Glancy Verona Foto by AI

Read More

Suara Lantang Basem Al-Habel: ‘Jurnalis Tuli dari Gaza’ di Tengah Kekejaman Genosida Israel

Gaza – 1miliarsantri.net : Di sebuah ruangan sempit dengan dinding retak dan cahaya yang nyaris tak masuk, bagi Basem Al-Habel (30) suara ledakan hanya terdengar samar. Bukan karena jaraknya jauh, melainkan karena dunia bagi seorang jurnalis tuli dari Gaza memang setengah hening. Pendengarannya tinggal 50 persen — tapi suara lantang Basem Al-Habel mengalahkan suara dentuman bom. Sekalipun dia tidak dapat membedakan antara teriakan dan suara angin. “Ketika saya memakai alat bantu dengar, saya hanya mendengar sedikit suara pengeboman,” katanya melalui bahasa isyarat, diterjemahkan oleh kerabatnya. “Saya tidak tahu pasti apa yang sedang terjadi.” Bahkan di tengah kekejaman Genosida Israel kepada masyarakat Palestina, kondisi disabilitas tuna rungu tidak membuatnya memilih diam dan pasrah untuk menjelaskan fakta kebenaran. Gaza yang Terkepung, Perut yang Kosong Bertahun-tahun hidup dalam pengepungan telah membuat Gaza rapuh. Perang terakhir mengiris sisa-sisa kehidupan yang ada. Bagi keluarga Basem, roti dari badan bantuan adalah sumber makan utama. “Saya harus mengambil roti dari badan bantuan untuk memberi makan keluarga,” ujarnya. “Itu pun kadang tidak cukup.” Blokade dan serangan telah melumpuhkan jalur distribusi. Pasar-pasar yang dulu hidup kini lengang, kios-kios terkunci, dan aroma rempah yang dulu memenuhi udara telah menghilang. Warga harus berjalan jauh dan berdesakan di antrean panjang untuk memperoleh makanan. Misi dari Balik Lensa Di tengah kelangkaan makanan dan rasa aman, Basem berpegang pada satu misi: membuat dunia melihat Gaza. Dengan kamera ponsel sederhana, Basem merekam fragmen kehidupan di Gaza yang jarang tersorot: bocah kurus memeluk roti setengah basi, lelaki tua mengais tepung bercampur pasir, dan tenda-tenda robek yang kalah melawan terik dan dingin. Setiap video yang ia unggah bukan sekadar dokumentasi, melainkan jeritan diam yang menembus batas bahasa. “Ketika saya ‘berbicara’ dan mengunggah video, saya ingin seluruh dunia melihat bagaimana keadaan kami,” katanya. Media sosial menjadi jendela keluar, sebuah jalur rahasia bagi kisah rakyat Gaza agar tak terkubur di balik angka statistik ‘dingin’. Kesabaran di Tengah Kekosongan Pekerjaan Perang memutuskan jalur nafkah. Basem, yang pernah mengandalkan pekerjaan serabutan, kini menghadapi tembok pengangguran. “Saya terus mencari pekerjaan, meskipun ada perang. Tapi tidak ada yang membantu saya,” ujarnya. Bagi tuna rungu, tantangannya berlapis: minimnya peluang kerja diperparah hambatan komunikasi. “Orang tuna rungu sulit mendapatkan pekerjaan karena mereka tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain kecuali melalui penerjemah,” jelasnya. Hidup di Ruang yang Menyesakkan Kediaman Basem hanyalah satu ruangan sempit dengan dinding lembap dan atap bocor. Di musim panas, udara menjadi pengap; di musim dingin, dingin merayap hingga ke tulang. “Ruangan ini sangat sempit dan kami menderita di dalamnya,” katanya. “Anda pikir ini mudah? Tidak. Justru sebaliknya.” Di Gaza, rumah layak huni telah menjadi kemewahan. Serangan udara menghancurkan ribuan bangunan, memaksa keluarga menumpang di rumah kerabat atau tinggal di puing-puing yang diubah menjadi tempat tinggal darurat. Kolaborasi yang Mengubah Arah Awalnya, Basem tidak tahu harus mulai dari mana. Dorongan keluarga mengubah segalanya. “Kami mulai mendorongnya,” kata seorang kerabatnya. “Dia mulai menonton video dan melihat adegan-adegan penting.” Setiap kali ia melihat peristiwa yang layak dilaporkan, Basem merekamnya dan menyerahkannya pada kerabatnya. Sang kerabat menulis teks, lalu Basem menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Video itu diunggah, menembus batas-batas Gaza. Mengubah Keterbatasan Jadi Senjata Bagi Basem, disabilitas bukan titik akhir. Di Gaza, penyandang disabilitas sering terpinggirkan — laporan PBB 2022 mencatat lebih dari 48 ribu warga Gaza memiliki disabilitas, banyak di antaranya tersisih dari dunia kerja. Namun, Basem menemukan jalannya. Video tanpa suara yang ia buat justru menjadi kekuatan: gambar bergerak, teks, dan bahasa isyarat yang memaksa penonton memperhatikan. Kesunyian itu, bagi Basem, ‘berbicara’ paling nyaring. Harapan yang Bertahan di Tengah Reruntuhan “Saya ingin seluruh dunia mendukung kami agar perang ini berakhir,” ujarnya. Basem membayangkan hari ketika ia bisa beristirahat tanpa bom di kejauhan, bertemu orang dari luar Gaza, dan berjalan di jalanan yang bebas dari ketakutan. “Saya ingin Gaza menjadi seperti negara lain,” katanya. Gema Sunyi yang Menembus Dunia Basem Al-Habel (30), jurnalis tuli dari Gaza melakukan reportase langsung di tengah puing bangunan “Apa yang ia lakukan sangat penting,” kata seorang aktivis hak disabilitas dari Eropa. “Ia memberi wajah dan cerita bagi penyandang tunarungu di zona perang.” Bagi pengikutnya, Basem adalah saksi bisu yang merekam tragedi sekaligus ketabahan. Perjalanan yang Belum Selesai Bagi dunia, Gaza mungkin hanya berita. Bagi Basem, Gaza adalah rumah — retak, tapi tetap berdiri. Selama ia masih bisa merekam, ia akan terus ‘berbicara’, dalam kesunyian yang menggetarkan dunia. Epilog: Panggilan Yang Tak Bisa Diabaikan Ketika bom merobek langit dan kelaparan menjadi kenyataan sehari-hari, Basem berdiri—bahkan dalam sunyi, suaranya terdengar paling nyata. Gerakan tangannya bukan sekadar isyarat: ia adalah perlawanan visual, panggilan kemanusiaan. Tatapannya adalah cermin penderitaan dan harapan, dan videonya bukan sekadar dokumentasi, tetapi seruan yang menggetarkan hati: untuk melihat, mendengar, dan merespons. Di medan perang tanpa keadilan, suara bukan hanya soal kata. Bahasa harapan—yang muncul dari tangan yang terbuka dan mata yang tegar—itulah yang pantas didengar. (***) Penulis : Abdullah al-Mustofa Editor : Toto Budiman Sumber: Official Youtube Channel of United Nations IG Basem Al-Habel (Jurnalis Tuna Rungu dari Gaza) https://www.instagram.com/basem.in.sign

Read More
Brigade-Al-Qassam-Siap-Tempur

Gaza di Persimpangan: Perlawanan Palestina dan Rencana Pendudukan Israel yang Memicu Badai Kecaman Global

Gaza – 1miliarsantri.net : Langkah terbaru Israel untuk menguasai penuh Kota Gaza menjadi titik balik baru dalam konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Keputusan kabinet keamanan Israel ini, yang diumumkan pada Jumat malam, memicu gelombang reaksi keras dari berbagai belahan dunia, sementara para analis memperingatkan dampak kemanusiaan dan politik yang akan semakin memburuk. Rencana tersebut meliputi pendudukan wilayah strategis di timur Gaza, pembentukan pemerintahan sipil non-Hamas, serta pemindahan paksa hingga satu juta warga Palestina ke wilayah selatan. Menurut laporan Al Jazeera (8/8/2025), sejumlah kawasan di Gaza Timur sudah porak-poranda akibat serangan udara dan artileri, sementara penumpukan pasukan Israel di sekitar kota menunjukkan persiapan menuju kontrol total. Pakar Militer: Perlawanan Bersenjata, Pilihan Satu-satunya Brigadir Jenderal Elia Hanna, analis militer asal Lebanon, menegaskan bahwa opsi diplomasi nyaris tertutup. “Perlawanan bersenjata kini menjadi satu-satunya pilihan realistis bagi rakyat Palestina,” ujarnya dalam wawancara dengan Al Jazeera (8/8/2025). Hanna memprediksi pendudukan ini akan memicu perlawanan sengit yang bisa menguras sumber daya militer Israel sekaligus menambah tekanan politik dalam negeri di Tel Aviv. Narasi Sesat Israel: ‘Membebaskan Gaza dari Hamas’ Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membela rencana ini dengan mengatakan, “Our goal is not to occupy Gaza, our goal is to free Gaza from Hamas” (AP News, 8/8/2025). Menurut Netanyahu, operasi ini bertujuan “demiliterisasi” dan menciptakan pemerintahan sipil yang tidak terafiliasi Hamas. Namun, banyak pengamat menilai pernyataan ini kontradiktif dengan realitas lapangan, di mana penguasaan penuh Israel berarti kontrol politik, militer, dan administratif yang mendalam. Kecaman Dunia Internasional Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengecam rencana Israel sebagai “eskalasi berbahaya” yang mengancam keselamatan warga sipil (AP News, 8/8/2025). Komisioner Tinggi HAM PBB Volker Türk menegaskan bahwa tindakan ini melanggar hukum internasional, termasuk putusan Mahkamah Internasional tentang hak penentuan nasib sendiri Palestina (DW, 8/8/2025). Sejumlah negara turut mengecam, diantaranya : Australia, Italia, Jerman, Selandia Baru dan Inggris menolak tegas rencana Israel untuk menduduki Kota Gaza di Jalur Gaza, Palestina. Melalui pernyataan bersama, para menteri luar negeri ke lima negara itu menyebutkan operasi militer Israel akan semakin memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sangat parah serta membahayakan nyawa para sandera. Prancis memperingatkan risiko kebuntuan politik (The Guardian, 8/8/2025). Sementara Inggris menyebut langkah itu “salah” dan kontraproduktif (The Guardian, 8/8/2025). Serta Australia menegaskan pengusiran warga melanggar hukum humaniter internasional (The National, 8/8/2025). Turki menyebutnya ini merupakan “pukulan besar bagi perdamaian” (Anadolu Agency, 8/8/2025). Sedangkan Cina menyerukan gencatan senjata segera (Channel News Asia, 8/8/2025). Kemudian pemerintah Jerman memilih menangguhkan ekspor senjata ke Israel (DW, 8/8/2025). Pemerintah Indonesia sendiri menegaskan tindakan ini ilegal menurut Piagam PBB (Antara News, 8/8/2025). Krisis Kemanusiaan di Depan Mata Data dari badan-badan kemanusiaan menunjukkan ancaman bencana baru. Lebih dari 61.000 warga Palestina telah tewas sejak konflik pecah kembali, dan PBB melaporkan 98 anak meninggal akibat malnutrisi akut. Situasi ini digambarkan sebagai “kelaparan sejati” yang mengintai seluruh Gaza (The Guardian, 8/8/2025). Pemindahan paksa dalam skala besar berpotensi memicu gelombang pengungsi menuju Mesir dan Yordania, mengancam stabilitas kawasan. Ketegangan di Dalam Negeri Israel Meski mendapat dukungan dari sebagian besar menteri sayap kanan, rencana Netanyahu memicu perpecahan internal. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Letjen Eyal Zamir, dilaporkan menolak rencana pendudukan penuh karena khawatir akan “perang tanpa akhir” dan keselamatan sandera yang masih ditahan di Gaza (El País, 8/8/2025). Sementara itu, beberapa menteri menilai Netanyahu justru tidak cukup keras, menuduhnya mengorbankan “keamanan demi politik” (Reuters, 8/8/2025). Motif Politik di Balik Langkah Militer Analis politik yang dikutip The New Yorker menilai ada kemungkinan bahwa eskalasi ini tidak semata didorong pertimbangan militer, tetapi juga untuk memperkuat posisi politik Netanyahu di tengah tekanan domestik. Dengan memusatkan perhatian publik pada ancaman eksternal, kritik terhadap penanganan insiden 7 Oktober dan skandal korupsi yang membelit dirinya dapat teredam. Langkah Selanjutnya: Pertarungan di Arena Diplomasi Dewan Keamanan PBB telah menjadwalkan rapat darurat untuk membahas situasi ini. Beberapa negara Eropa dan negara Teluk mendesak resolusi yang menuntut penghentian rencana pendudukan. Namun, veto dari anggota tetap seperti AS kemungkinan menjadi penghalang utama bagi langkah diplomatik yang efektif. Gaza di Ujung Krisis Pendudukan penuh Kota Gaza oleh Israel berpotensi menjadi babak paling destruktif dalam sejarah konflik Israel–Palestina pasca-1948. Bagi rakyat Palestina, seperti kata Brigjen Elia Hanna, perlawanan bersenjata mungkin menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa. Bagi dunia, tantangannya adalah mencegah krisis kemanusiaan yang semakin dalam dan mendorong terciptanya jalur diplomasi yang nyata—sebelum Gaza benar-benar runtuh, bukan hanya secara fisik, tetapi juga sebagai simbol harapan bagi perdamaian di Timur Tengah. (***) Penulis : Abdullah al-Mustofa Editor : Toto Budiman Foto : Al Jazeera, Fox News Channel

Read More