Lebih Dari 10.000 Pasien Kanker di Gaza Berjuang Tanpa Perawatan Medis

Gaza — 1miliarsantri.net : Lebih dari 10.000 pasien kanker di Gaza saat ini tidak mendapatkan perawatan medis yang diperlukan setelah Rumah Sakit Persahabatan Palestina-Turki ditutup secara paksa akibat agresi teroris Israel. Para pejabat kesehatan di Jalur Gaza mengatakan, pasien kanker di sana mengalami kondisi yang tak tertahankan dan tidak manusiawi, tidak memiliki akses untuk mendapatkan pengobatan khusus untuk kanker. Lantai tiga dan terakhir Rumah Sakit Persahabatan Palestina-Turki, satu-satunya rumah sakit di Gaza yang menangani pasien kanker, menjadi sasaran serangan udara Israel pada akhir Oktober lalu, menyebabkan kerusakan yang signifikan dan membuat rumah sakit tersebut tidak dapat beroperasi. Dibiayai oleh pemerintah Turki, rumah sakit ini merupakan salah satu fasilitas medis terbesar di Palestina yang didedikasikan khusus untuk merawat pasien kanker di Gaza. Dengan luas 34.800 meter persegi dan terdiri dari tiga lantai, rumah sakit ini memiliki 180 tempat tidur. Ketiadaan fasilitas medis yang sangat penting ini memperburuk situasi yang sudah menantang bagi pasien kanker di Gaza. (zul) Baca juga :

Read More

Hamas Menangguhkan Upaya Untuk Membahas Pertukaran Sandera dengan Israel

Gaza — 1miliarsantri.net : Kelompok Perlawanan Palestina, Hamas dilaporkan telah menghentikan pembicaraan yang sedang dirintis tentang kesepakatan pertukaran sandera di Mesir. Keputusan ini diambil setelah Israel dengan sengaja membunuh pemimpin senior Hamas, Saleh al-Arouri, pada Selasa (2/1/2024) kemarin di pinggiran kota Beirut, Dahiyeh. Hamas menangguhkan upaya mediasi setelah peristiwa pembunuhan tersebut. Kunjungan delegasi Israel ke Kairo untuk membahas kesepakatan pertukaran sandera baru yang dipersingkat, kata sebuah sumber Mesir The New Arab, Al-Araby Al-Jadeed. Pembunuhan Arouri dinilai akan memberikan pukulan besar bagi harapan kesepakatan pertukaran sandera baru yang dicapai. Pejabat Israel telah mengatakan dalam beberapa hari terakhir, ada kemajuan diskusi pada putaran baru pertukaran sandera tersebut. Para pemimpin Israel telah dikutuk oleh masyarakat luas karena bagaimana mereka mengatur pembebasan sandera Israel, yang diambil selama serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober. Dalam beberapa bulan sejak mereka ditawan, beberapa sandera telah terbunuh dalam perang di Gaza, oleh pasukan Israel. Kesepakatan pertukaran sandera-tahanan yang dicapai pada akhir November dengan bantuan negara-negara yang menengahi, termasuk Mesir dan Qatar, sebanyak 78 sandera Israel dibebaskan dan 240 tahanan Palestina dibebaskan. Padahal, Hamas sebelumnya dilaporkan bersedia kembali ke meja perundingan dengan permintaan gencatan senjata selama 20-30 hari. Informasi tersebut ditulis media Israel Axios yang mengutip Direktur Mossad David Barnae jika Hamas mengajukan penawaran tersebut sebagai imbalan atas pembebasan sebanyak 50 tawanan termasuk anak-anak, wanita dan orang tua. Axios mengutip para pejabat Israel yang mengatakan bahwa mediator Qatar menyampaikan kepada “Israel” bahwa Hamas telah “sementara setuju” untuk melanjutkan diskusi mengenai perjanjian baru untuk pembebasan lebih dari 40 orang tawanan di Gaza. Hal ini akan menjadi imbalan atas gencatan senjata selama satu bulan, menurut tiga pejabat Israel. Aksi kriminal Israel yang membunuh Wakil pemimpin Hamas, Saleh al-Arouri, dalam serangan drone ke kantor Hamas di Mecherfeh di Beirut selatan, Lebanon, Selasa (2/1/2024) malam lalu membuat rencana pertukaran sandera buyar. Setidaknya enam orang tewas dalam serangan itu. Hamas telah mengonfirmasi kematian Arouri. Dua komandan Brigade Al-Qassam, yakni sayap militer Hamas, turut terbunuh bersama Arouri dalam serangan Israel. Kelompok Hizbullah Lebanon, yang sejak pecahnya perang di Gaza pada 7 Oktober 2023 lalu ikut terlibat dalam konfrontasi dengan Israel, mengatakan bahwa kematian Arouri tidak akan dibiarkan begitu saja. “Ini serangan serius terhadap Lebanon dan perkembangan yang berbahaya selama perang,” kata juru bicara Hizbullah. Arouri menjadi pemimpin Hamas paling senior yang dibunuh Israel sejak pecahnya perang di Gaza pada 7 Oktober 2023. Menyusul kematian Arouri, Hamas dilaporkan telah membekukan pembicaraan tentang gencatan senjata di Israel. “Hamas mengatakan kepada mediator tentang keputusannya untuk membekukan semua diskusi mengenai gencatan senjata di Gaza atau pertukaran sandera dengan Israel,” kata seorang sumber Palestina. Penjabat Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, mengutuk serangan pesawat nirawak (drone) Israel ke Beirut yang membunuh wakil pemimpin Hamas, Saleh al-Arouri. Dia menilai, serangan tersebut merupakan upaya untuk menarik Lebanon lebih jauh ke dalam konflik antara Israel dan Hamas. “Ledakan ini adalah kejahatan baru Israel yang bertujuan untuk membawa Lebanon ke fase konfrontasi baru setelah serangan harian yang sedang berlangsung di selatan (Lebanon), yang menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka,” kata Mikati, dikutip laman Asharq Al-Awsat, Kamis (4/1/2024). Dia menambahkan, serangan Israel ke Beirut tak diragukan lagi bertujuan menarik Lebanon dalam eskalasi konflik antara Israel dan Hamas. “Kami mengimbau negara-negara yang berkepentingan untuk menekan Israel agar menghentikan tindakannya. Kami juga memperingatkan terhadap kelompok politik Israel yang terpaksa mengekspor kegagalannya di Gaza ke perbatasan selatan untuk menetapkan fakta-fakta baru dan aturan-aturan keterlibatan,” ucapnya. Mikati mengatakan, Lebanon tetap berkomitmen terhadap legitimasi internasional yang relevan, terutama Resolusi PBB 1701. Namun dia menganggap Israel telah melanggar aturan tersebut karena mereka masih tidak puas dengan tingkat kematian dan kehancuran yang terjadi. “Jelas bagi semua orang bahwa keputusan perang ada di tangan Israel, dan sangat penting untuk menahan dan menghentikan agresinya,” ujarnya. Mikati mengungkapkan, dia telah memerintahkan Menteri Luar Negeri Lebanon Abdullah Bou Habib untuk menyampaikan keluhan atas serangan Israel ke Beirut ke Dewan Keamanan PBB. Menurutnya, serangan itu merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon. (zul) Baca juga :

Read More

Mahkamah Internasional Gelar Sidang Dugaan Genosida Israel Pekan Depan

Gaza — 1miliarsantri.net : Mahkamah Pidana Internasional atau International Court of Justice (ICJ) akan memulai persidangan perdana dugaan genosida yang dilakukan Israel di Jalur Gaza pada 11-12 Januari 2024 mendatang. Afrika Selatan (Afsel) selaku pihak yang membawa kasus tersebut ICJ akan menghadiri persidangan tersebut. “Kami akan hadir di pengadilan ICJ pada tanggal 11 bulan ini. Kami akan memaparkan kasus kami mengenai mengapa kami berpikir berdasarkan semua bukti termasuk niat khusus dari kejahatan genosida, kami menemukan bahwa berdasarkan banyak pernyataan dari para pemimpin bahwa ada niat khusus,” terang Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Afsel Zane Dangor, Rabu (03/01/2024). Israel pun akan hadir dalam persidangan di ICJ untuk membantah tuduhan Afsel. Pada 29 Desember 2023, ICJ mengumumkan Afsel telah mengajukan permohonan kepada mereka. Afsel meminta ICJ menunjukkan tindakan sementara terhadap Tel Aviv karena negara tersebut dipandang telah melanggar kewajibannya berdasarkan Konvensi Pencegahan dan Hukuman Kejahatan Genosida (Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide) terhadap warga Palestina di Gaza. Dalam siaran persnya, ICJ mengungkapkan permohonan Afsel menyatakan tindakan dan kelalaian Israel bersifat genosida. Karena tindakan tersebut dilakukan dengan maksud khusus yang diperlukan untuk menghancurkan warga Palestina di Gaza sebagai bagian dari kelompok nasional, ras, dan etnis Palestina yang lebih luas. “Perilaku Israel, melalui organ-organ negaranya, agen-agen negaranya, dan orang-orang serta badan-badan lain yang bertindak berdasarkan instruksi atau di bawah arahan, kendali, atau pengaruhnya, sehubungan dengan warga Palestina di Gaza, merupakan pelanggaran terhadap kewajiban-kewajibannya berdasarkan Konvensi Genosida,” tambah ICJ mengutip permohonan Afsel. Dalam permohonannya, Afsel menuduh Israel gagal mencegah genosida. Israel telah terlibat, sedang terlibat, dan berisiko terlibat lebih lanjut dalam tindakan genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza. Selain mengajukan permohonan, Afsel meminta ICJ menunjukkan langkah-langkah sementara untuk melindungi hak-hak rakyat Palestina dari kerugian yang parah dan tidak dapat diperbaiki berdasarkan Konvensi Genosida. Tujuannya adalah memastikan kepatuhan Israel terhadap kewajibannya berdasarkan Konvensi Genosida, yang melarang terlibat dalam, mencegah, dan menghukum genosida Israel mengecam keras Afsel karena telah melaporkannya ke ICJ atas tuduhan melakukan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. Tel Aviv menganggap tindakan Afsel tersebut sebagai bentuk pencemaran nama baik “Klaim Afsel tidak memiliki dasar faktual dan hukum, serta merupakan eksploitasi pengadilan (ICJ) yang tercela dan menghina,” kata Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Israel, 29 Desember 2023 . Israel menuduh Afsel bekerja sama dengan “organisasi teroris”, mengacu pada kelompok perlawanan Hamas yang berbasis di Gaza. Tel Aviv pun menuding Afsel menyerukan penghancuran negara Israel. Kemenlu Israel mengklaim, tentara mereka yang beroperasi di Gaza berkomitmen mematuhi hukum internasional dan bertindak sesuai hukum tersebut. Israel mengatakan bahwa pasukannya di Gaza hanya membidik Hamas dan situs-situs militernya. Hingga saat ini Israel dan Hamas masih terlibat pertempuran cukup sengit di Gaza. Lebih dari 22 ribu warga Gaza telah terbunuh sejak Israel memulai agresinya pada 7 Oktober 2023. Sementara korban luka melampaui 57 ribu orang. Agresi Israel ke Gaza juga menyebabkan 60 persen infrastruktur di wilayah tersebut rusak atau hancur. Sementara hampir 2 juta penduduk Gaza terpaksa mengungsi dan menghadapi krisis pangan, air bersih, serta obat-obatan. (zul Baca juga :

Read More

Teroris Israel Hancurkan Situs Bersejarah Ribuan Tahun di Palestina

Gaza — 1miliarsantri.net : Hampir tiga bulan lamanya teroris Israel membombardir Jalur Gaza. Pengeboman tersebut tidak hanya menciptakan duka bagi warga sipil, namun juga menghancurkan sejumlah situs bersejarah. Dalam tayangan Aljazeera, Ahad (31/12/2023), terlihat sejauh mana kerusakan yang terjadi pada situs-situs bersejarah di Kota Gaza akibat serangan langsung Israel terhadap tempat-tempat terkenal dan bersejarah di wilayah Gaza. Video ini memulai tampilannya dengan menunjukkan bagaimana Hammam As-Samra, tempat bersejarah di Jalan Omar Al-Mukhtar di Kota Gaza, menjadi puing-puing yang terselimuti debu akibat serangan jet tempur Israel. Hammam As-Samra adalah situs bersejarah yang memiliki nilai sejarah, berfungsi sebagai tempat perawatan kesehatan dan area rekreasi vital bagi warga yang terkepung di Gaza. Hammam ini adalah satu-satunya hammam bersejarah yang masih ada dari masa Kesultanan Utsmaniyah, dibangun dan direnovasi sekitar 865 tahun yang lalu, menurut pernyataan Yusuf Al-Wazir, pejabat administratif Hammam As-Samra. Di tengah video, tampak jejak kerusakan yang signifikan di Masjid Al-Omari Al-Kabir, yang menjadi sasaran oleh pasukan Israel. Mereka menyerang menara masjid, lapangan, ruang sejarah, dan koleksinya. Masjid Al-Omari Al-Kabir adalah salah satu masjid tertua dan terkemuka di Gaza. Didirikan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, masjid ini merupakan yang ketiga terbesar di Palestina setelah Masjid Al-Aqsa dan Masjid Ahmad Pasha Al-Jazzar. Sebelumnya, masjid ini adalah kuil pada zaman Romawi, dan setelah penaklukan Islam, berubah menjadi gereja sebelum akhirnya menjadi salah satu masjid utama di Gaza. Kemudian, kerugian tragis sejarah di Istana Al-Basha di lingkungan Al-Daraj. Seluruh fasilitasnya mengalami kerusakan dan kehancuran karena serangan Israel. Istana ini, yang menggabungkan dua bangunan dari periode Mamluk (1260-1516) dan Ottoman (1516-1917), menyimpan museum yang memamerkan artefak unik dari zaman “Yunani, Romawi, Bizantium, dan Islam.” Ribuan pengunjung mengunjungi istana ini setiap tahun. Menteri Kebudayaan Palestina menyatakan bahwa serangan Israel di Gaza telah sepenuhnya menghancurkan satu-satunya hammam bersejarah yang tersisa di wilayah tersebut, yang memiliki sejarah hampir seribu tahun. Pihak berwenang di Jalur Gaza telah menyerukan kepada UNESCO dan organisasi internasional lain yang peduli terhadap perlindungan situs-situs bersejarah dan budaya untuk mengutuk serangan yang disengaja oleh tentara Isael terhadap situs-situs bersejarah dan bersejarah di Gaza. Lebih dari 200 situs bersejarah telah menjadi target Israel, yang berasal dari berbagai zaman, mencerminkan akar budaya dan warisan bangsa Palestina. (zul) Baca juga :

Read More

Palestina Menjadikan 2023 Sebagai Tahun Paling Mematikan

Gaza — 1miliarsantri.net : Biro Pusat Statistik Palestina menyebut jumlah kematian warga Palestina di tahun 2023 lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sejak 1948. Kantor berita Xinhua mencatat, terdapat 22.404 warga Palestina tewas pada 2023, dimana 22.141 di antaranya meninggal dunia akibat konflik Israel-Hamas di Gaza yang terjadi sejak 7 Oktober 2023 lalu. Angka itu, menurut laporan biro, 98 persen korban jiwa warga Palestina berada di Gaza, dengan korban hampir 9.000 anak-anak dan 6.450 perempuan. Sementara di Tepi Barat, ada 319 warga Palestina yang tewas sejak konflik 7 Oktober lalu. Melansir The Siasat Daily, Senin (01/01/2024), Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa rakyatnya akan tetap teguh dan mematuhi hak-hak sah dan tidak akan menerima penggusuran dari tanah mereka. Dalam sebuah pernyataan yang menandai peringatan 59 tahun berdirinya gerakan Fatah, Abbas mengatakan Otoritas Palestina, yang dipimpinnya, tidak akan menyerahkan satu inci pun wilayah mereka, dan tidak akan mengabaikan tanggung jawabnya terhadap Gaza. Solusi militer, kata Abbas, alih-alih membawa perdamaian dan keamanan malah akan mengganggu stabilitas kawasan dan seluruh dunia. Abbas pun menyerukan solusi politik berdasarkan hukum dan resolusi internasional yang mengakui hak kebebasan dan kemerdekaan rakyat Palestina. (zul) Baca juga :

Read More

Pejuang Hamas Meminta Gencatan Senjata Selama 30 Hari

Gaza — 1miliarsantri.net : Kelompok perlawanan Palestina Hamas dilaporkan bersedia kembali ke meja perundingan dengan permintaan gencatan senjata selama 20-30 hari. Informasi tersebut ditulis media Israel Axios yang mengutip Direktur Mossad David Barnae jika Hamas mengajukan penawaran tersebut sebagai imbalan atas pembebasan sebanyak 50 tawanan termasuk anak-anak, wanita dan orang tua. Pada gilirannya, Axios mengutip para pejabat Israel yang mengatakan bahwa mediator Qatar menyampaikan kepada “Israel” bahwa Hamas telah “sementara setuju” untuk melanjutkan diskusi mengenai perjanjian baru untuk pembebasan lebih dari 40 orang tawanan di Gaza. Hal ini akan menjadi imbalan atas gencatan senjata selama satu bulan, menurut tiga pejabat Israel. Laman tersebut yang dikutip kantor berita asal Lebanon Al-Mayadeen, melaporkan bahwa para pejabat Israel memperlakukan pesan tersebut “dengan sangat hati-hati.” Mereka berharap adanya klarifikasi lebih lanjut pada akhir pekan untuk menentukan “keseriusan” niat Hamas. Dalam catatan tersebut, seorang pejabat Israel mengatakan bahwa pesan Qatar masih dalam tahap awal. “Tetapi pesan ini positif karena, untuk pertama kalinya sejak perjanjian sebelumnya berakhir, Hamas memberi sinyal bahwa mereka siap untuk kembali ke meja perundingan. Kami bergerak dari situasi membeku hingga menjadi sangat dingin.” Selain itu, situs berita Israel lainnya “Walah” melaporkan bahwa “Israel” menyampaikan kesiapannya untuk melakukan gencatan senjata di Jalur Gaza selama sepekan. Usulan ini bergantung pada kesediaan untuk membebaskan tahanan Palestina, dengan syarat lebih dari 40 tawanan Israel yang ditahan oleh perlawanan Palestina di Jalur Gaza juga dibebaskan. Laman tersebut menyoroti bahwa proposal ini adalah yang pertama dari “Israel” sejak penghentian perjanjian sebelumnya beberapa pekan lalu, menyusul gagalnya gencatan senjata selama sepekan. Para pejabat Israel menyatakan bahwa usulan tersebut menandakan “komitmen Israel untuk memulai kembali perundingan.” Keluarga para tawanan Israel, yang ditahan oleh perlawanan Palestina di Jalur Gaza, telah meningkatkan seruan mereka untuk segera mencapai kesepakatan pertukaran. Tuntutan ini meningkat setelah insiden al-Shujaiya, bersamaan dengan pembunuhan tawanan oleh IDF, dan perlawanan yang membenarkan kematian beberapa tawanan Israel akibat pemboman yang terus berlanjut di Jalur Gaza. Penting untuk dicatat bahwa pemimpin gerakan Hamas, Osama Hamdan, menekankan bahwa para pemimpin pendudukan menyatakan, “Tidak akan melihat tahanan mereka hidup kecuali ada penghentian agresi terhadap Gaza secara komprehensif, dan negosiasi dilakukan sesuai dengan kepentingan dari rakyat kita.” Delegasi tingkat tinggi Hamas dilaporkan telah tiba di Kairo, Mesir, pada Jumat (29/12/2023). Mereka hendak mengikuti perundingan gencatan senjata dengan Israel yang dimediasi Mesir. Dilaporkan laman Al Arabiya, seorang pejabat Hamas yang enggan dipublikasikan identitasnya mengungkapkan, dalam pertemuan di Kairo, delegasi Hamas akan memberikan tanggapan dari faksi-faksi Palestina, termasuk beberapa pengamatan mengenai proposal Mesir. Proposal tersebut mengatur pembentukan pemerintahan teknokrat Palestina, setelah melalui pembicaraan dengan semua faksi Palestina, yang akan bertanggung jawab mengatur dan membangun kembali Gaza pasca perang. “(Hamas juga) mencari penarikan militer Israel sepenuhnya (dari Gaza),” ujar pejabat Hamas tersebut. Terkait proposal yang diajukan kepada Hamas dan kelompok Jihad Islam, Kepala Layanan Informasi Negara Mesir Dia Rashwan mengungkapkan, rencana dalam proposal itu dimaksudkan untuk menyatukan pandangan semua pihak terkait. “Dengan tujuan mengakhiri pertumpahan darah warga Palestina,” ucapnya. Sebelumnya Rashwan menyampaikan bahwa Mesir sedang menunggu tanggapan atas usulan tersebut dari pihak-pihak yang terlibat. Dia mengatakan, Kairo akan memberikan rincian tentang rencana tersebut setelah tanggapan tersebut diterima. Terkait perundingan di Kairo, pada Kamis (28/12/2023) lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, saat ini pemerintahannya sedang menjalin kontak untuk membebaskan warga Israel yang masih disandera Hamas. “Kami masih dalam kontak sampai momen ini. Situasinya tidak dapat dijelaskan secara rinci, dan kami berupaya memulihkan semuanya,” kata Netanyahu dalam pertemuan dengan keluarga para sandera, dikutip laman Middle East Monitor. Netanyahu tak menjelaskan lebih detail tentang sifat kontak tersebut. Namun negosiasi antara Israel dan Hamas biasanya dijembatani oleh Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat (AS). Pada Kamis lalu, keluarga dari orang-orang yang masih disandera Hamas menggelar aksi unjuk rasa. Mereka menyerukan dan mendesak pemerintahan Netanyahu untuk segera membebaskan mereka. Menurut statistik Israel, Hamas menculik sekitar 239 orang ketika mereka melakukan operasi infiltrasi ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu. Pada 24 November hingga 1 Desember 2023 lalu, Israel dan Hamas sempat memberlakukan gencatan senjata kemanusiaan. Selama periode tersebut, kedua belah pihak melakukan pertukaran pembebasan tahanan dan sandera. Hamas membebaskan 105 sandera. Mereka terdiri dari 80 warga Israel dan sisanya adalah warga asing. Sebagai imbalan atas pembebasan para sandera, Israel membebaskan 210 tahanan Palestina. Pada 9 Desember 2023 lalu, Israel mengatakan Hamas masih menahan 137 sandera di Gaza. Sementara itu Hamas menolak terlibat dalam negosiasi pembebasan sandera dengan Israel sebelum agresi di Jalur Gaza dihentikan total. Hamas pun menuntut Israel mengikuti persyaratan yang diajukannya. (zul) Baca juga :

Read More

Para Wartawan Perang di Gaza Lebih Memilih eSIM Untuk Mempermudah Akses Komunikasi dan Mengirim Berita

Gaza — 1miliarsantri.net : Di tengah terputusnya jaringan internet dan komunikasi selama serangan dan pembantaian yang dilancarkan teroris Israel di Jalur Gaza, warga Palestina, khususnya wartawan, beralih menggunakan kartu SIM elektronik (eSIM) untuk berkomunikasi dan menyampaikan berita mereka serta situasi di Gaza ke dunia luar. Elektronik SIM atau eSIM adalah kartu SIM yang tertanam di dalam motherboard ponsel atau perangkat pintar. Hal itu memungkinkan pengguna menggunakan satu atau lebih nomor telepon secara bersamaan tanpa perlu menggunakan kartu SIM tradisional. Kartu ini bekerja dengan prinsip sederhana: pengguna harus memindai “kode QR” yang dikirim dari luar menggunakan kamera ponsel untuk menghubungkan mereka ke jaringan telekomunikasi eksternal, yang umumnya berasal dari Israel atau kadang-kadang Mesir. Menurut salah satu pedagang, wartawan dan koresponden di Gaza menggunakan kartu SIM elektronik lebih banyak untuk menyampaikan gambaran yang akurat ke dunia luar, juga digunakan oleh petugas ambulans sipil yang perlu berkomunikasi untuk mengetahui lokasi serangan Israel guna membantu korban dan menyelamatkan korban luka. Kartu SIM elektronik juga diminta oleh anggota Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), yang menggunakannya dalam pekerjaan mereka. Seorang wartawan menegaskan bahwa jika bukan karena kartu SIM elektronik, warga Palestina akan terputus dari dunia dan tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi di Gaza. Selama menjalankan tugas jurnalistik mereka, mereka kadang-kadang melakukan liputan langsung melalui jaringan 4G dan 5G. Dia menyatakan bahwa cara-cara ini membantu wartawan berkomunikasi dengan dunia luar dan menyampaikan suara dan gambar. Banyak orang Palestina di luar negeri berkomunikasi melalui eSIM untuk mengetahui berita Gaza dan berita tentang keluarga dan kerabat mereka. Menurut wartawan ini, setelah jaringan telekomunikasi Palestina terputus, eSIM menjadi satu-satunya yang terhubung ke jaringan seluler internasional. Seorang wartawan lain mengkonfirmasi bahwa terputusnya komunikasi di Gaza membuat mereka beralih ke kartu SIM elektronik, tetapi dia berbicara tentang masalah besar yang dihadapi mereka terkait dengan penerimaan sinyal. Dia mengatakan bahwa mereka terpaksa pergi ke tempat tinggi atau daerah perbatasan terbuka untuk mengirimkan materi jurnalistik mereka, sebuah proses yang memerlukan koneksi internet yang kuat. Wartawan mendapatkan kartu SIM elektronik dari teman-teman mereka di luar negeri, seperti Amerika Serikat dan Eropa, yang dikirim kepada mereka dalam bentuk “kode” dan dimasukkan ke dalam perangkat mereka. Wartawan menyatakan bahwa proses penginputan memerlukan waktu 2 hingga 3 jam karena lambatnya koneksi internet. (zul) Baca juga :

Read More

Ahmad Murtaja Pemuda Gaza Gunakan Tulisan Satir Guna Hadapi Kematian

Gaza — 1miliarsantri.net : Ahmad Murtaja, seorang pemuda berusia 28 tahun, menggunakan tulisan satir sebagai senjata untuk menghadapi kematian di Jalur Gaza. “Saya menulis dengan satir karena kita tidak boleh menganggap serius dunia ini. Apakah yang terjadi pada kami nyata?” ungkap Ahmad Murtaja, Jumat (29/12/2023). Dalam pembantaian yang dilakukan teroris Israel di Jalur Gaza selama tiga bulan berturut-turut, Ahmad melihatnya sebagai “situasi konyol” yang dihadapi oleh semua orang di seluruh dunia. Ahmad mengatakan, situasi sekitar membuatnya terprovokasi untuk melakukan sesuatu. Rasa ketidakberdayaan di hadapan semua yang terjadi sangat sulit dan menyakitkan, bahkan, jika tidak mengalami penderitaan fisik seperti korban oleh hujan peluru yang terus menerus menimpa wilayah kecil ini, baik di darat, udara, maupun laut. “Saya bukan seorang penulis, saya hanya orang yang terprovokasi oleh kenyataan, jadi saya menulis dengan satir karena kita tidak boleh menganggap serius dunia ini,” sambungnya. Ahmad dan keluarganya selamat dari serangan udara teroris Israel yang menghancurkan rumah mereka di distrik Shejaiya di timur Kota Gaza, Jalur Gaza utara. Mereka mencari tempat berlindung di dalam kota, dan setiap kali, menit-menit krusial menentukan kelangsungan hidup mereka dari kematian yang pasti. Ahmad adalah lulusan psikologi dari Universitas Islam di Gaza. Belum menikah, ia tinggal bersama keluarganya di distrik Shejaiya, yang namanya mencuat dalam berita perang sebagai salah satu distrik yang paling banyak diserang dan dihancurkan di Gaza. Distrik ini, menurut pengakuan para pemimpin Israel, menghadapi perlawanan sengit dari pejuang Palestina. Akibat satu serangan hebat di distrik ini, Ahmad menemukan dirinya terkubur di bawah reruntuhan, selamat secara ajaib. “Kami selamat lagi, mungkin ini yang ketiga atau keempat, saya tidak tahu, tetapi kami masih bernafas, dan setiap kali kami selalu berada satu langkah di depan kematian,” imbuhnya. Akibat serangan yang keras di distrik Shejaiya, Ahmad dan keluarganya mengungsi beberapa kali, dan setiap kali mereka dikejar oleh sabuk api. Mereka selalu meninggalkan tempat tinggalnya sebelum bangunan yang ditempati runtuh akibat serangan. Hingga mereka menetap di sebuah tempat yang dikelola oleh Perserikatan PBB di bagian barat Kota Gaza. Lebih dari 100 ribu pengungsi berada di tempat ini dan sekitarnya, menurut perkiraan Ahmad. Meskipun ada bendera biru PBB berkibar di atas tempat tersebut, tempat itu telah ditinggalkan oleh staf dan petugasnya sejak Ahmad dan yang lainnya mengungsi dari kota Gaza dan sekitarnya pada 13 Oktober 2023. Tentang alasan perasaan ketidakamanan ini, Ahmad merujuk pada lima menit yang memisahkan antara dirinya dan kematian ketika roket dan peluru mortir menghantam sekolah yang dioperasikan oleh UNRWA, tempat yang menampung ribuan pengungsi. “Kami meninggalkan sekolah dengan cepat, dan lima menit kemudian, bangunan tempat kami berlindung hancur karena serangan langsung Israel,” lanjutnya. Semua peristiwa ini mendorong Ahmad untuk menulis dan mendokumentasikan catatan harian perang, namun dengan gaya satirnya yang khas. “Beginilah kehidupan saya sebelum perang. Saya melihat segala sesuatu di sekitar saya dengan sindiran. Kehidupan tidak layak lebih dari itu,” ungkapnya Ahmad mengutip novel “Pesta Kegilaan” karya penulis terkenal Milan Kundera, yang mengatakan, “Kita tidak boleh mengambil dunia ini terlalu serius.” Ahmad bertanya, “Apakah yang terjadi pada kami nyata?” (zul) Baca juga :

Read More

Zionis Israel Serang dan Tembaki Pengungsi yang Sedang Berlindung di Sekolah

Gaza — 1miliarsantri.net : Mayat-mayat ditumpuk. Peluru meninggalkan bekas lobang di beberapa dinding. Bagian lainnya tampak hangus karena terbakar api. Keluarga-keluarga pengungsi saat itu sedang berlindung di sekolah Shadia Abu Ghazala yang dikelola PBB di sebelah barat kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara. Tentara penjajah Israel tiba-tiba datang memasuki gedung tersebut. Menurut para saksi dan keluarga mereka yang terbunuh dalam serangan pada awal bulan Desember itu, tentara pengecut Israel langsung melakukan pembantaian. ‘’Para saksi mata mengatakan beberapa orang, termasuk perempuan, anak-anak dan bayi, dibunuh dengan gaya eksekusi oleh pasukan Israel ketika mereka berlindung di dalam sekolah,’’ terang Aljazeera. Video dan gambar yang diperoleh Aljazeera, menunjukkan mayat-mayat yang ditemukan pada 13 Desember itu menumpuk di dalam sekolah. Setelah beberapa hari, anggota keluarga korban dan para penyintas serangan brutal Israel tersebut baru bisa kembali ke sekolah untuk mencari orang yang mereka cintai. Seorang ayah dari salah satu korban mengatakan dia sedang tidur bersama istri dan enam anaknya ketika tentara Israel tiba-tiba menyerbu sekolah tersebut. ‘’Mereka memasuki ruang kelas tempat kami berada dan menembak langsung ke arah mereka yang hadir tanpa mengucapkan sepatah kata pun,” ujarnya. Pria tersebut yakin dia diperintahkan untuk meninggalkan sekolah karena alasan usia tuanya. ‘Tentara Popok’ (IDF, Israel Diapers Force) mengusir sekitar 20 orang dari sekolah, melucuti pakaian mereka, dan menginterogasi mereka. Rekaman video tersebut menunjukkan bekas darah dan sisa-sisa barang milik korban yang ada bersama mereka sebelum dibantai. Sementara, peluru menembus dinding kelas tempat ditemukannya mayat. Saeed Jumaa yang adik perempuannya jadi korban pembantaian bersama suami dan anak-anaknya, mengatakan tentara pengecut Israel membunuh mereka dengan menembak mereka secara langsung. Menurut Jumaa, tentara Israel menulis sesuatu dalam bahasa Ibrani di wajah keponakannya. “Kami tidak mengerti maksudnya. Kami terburu-buru menguburkan mereka beberapa hari kemudian karena jenazah mereka sudah membusuk. Di dalam kamar ada suami saudara perempuan saya. Di sampingnya, ada putra mereka Maysara dan Ahmed. Adikku di pojok sedang memeluk anak-anaknya yang tersisa. Pasukan Israel membunuh mereka dengan menembak mereka secara langsung,’’ kata Jumaa. Saksi lain yang menemukan mayat-mayat di ruang kelas, mengatakan tidak ada tanda-tanda serangan rudal atau peluru apa pun di dalam ruang kelas. Ia menambahkan bahwa para korban ditembak langsung oleh pasukan darat Israel. Secara total, setidaknya tujuh mayat ditemukan di dalam tiga ruang kelas berbeda. Empat berada di satu ruangan, dua di kamar kedua, dan satu di kamar ketiga. (zul/AZ) Baca juga :

Read More

Warga Gaza Sudah Tidak Ada Lagi Tempat Untuk Berlindung

Gaza — 1miliarsantri.net : Ketua tim Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB, Gemma Connell, mengatakan banyak warga Palestina di Gaza yang mengikuti perintah tentara Israel untuk mengungsi dan pindah ke tempat yang ditetapkan sebagai zona aman tidak dapat tempat di lahan yang sudah sangat padat. Connell sudah bertugas di Gaza selama beberapa pekan. Ia menggambarkan situasi ini sebagai “papan catur manusia.” Di mana ribuan pengungsi harus kembali mencari tempat perlindungan dan tidak ada jaminan tujuan mereka akan aman. Selama beberapa pekan terakhir Amerika Serikat (AS) menekan Israel mengambil langkah lebih jauh untuk memperkecil jumlah korban sipil dengan menetapkan zona aman dan memastikan rute kemanusiaan yang dapat digunakan pengungsi melakukan perjalanan dengan aman. “Warga menuju selatan dengan memasukan matras dan semua benda mereka ke dalam van dan truk dan mobil untuk mencoba dan menemukan tempat aman,” kata Connell di Deir al-Balah, Gaza tengah, Kamis (28/12/2023). Dia menambahkan bahwa dirinya sudah berbicara dengan banyak orang, ruang yang tersisa di Rafah ini sangat kecil, orang-orang tidak tahu kemana lagi mereka harus pergi dan pergerakan orang rasanya seperti papan catur manusia karena ada perintah evakuasi di tempat lain. “Orang-orang melarikan diri dari satu area ke area yang lain, tapi mereka juga tidak aman di sana,” imbuh Connell. Militer Israel mengklaim mereka meminta warga pindah dari medan tempur tapi Hamas dengan sistematis mencegah upaya tersebut. Juru bicara militer Israel mengatakan Hamas menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia, tuduhan yang dibantah keras kelompok pembebasan Palestina itu. Connell menceritakan kematian anak laki-laki berusia 9 tahun bernama Ahmed di Rumah Sakit al-Aqsa di Deir Al-Balah. Di rumah sakit itu ribuan orang terluka akibat serangan udara Israel dirawat. “Ia (Ahmad) tidak berada di area yang diperintahkan dievakuasi, ia berada di tempat yang seharusnya aman, tidak ada tempat yang aman di Gaza,” tambah Connell. Ia menambahkan serangan udara terbaru Israel terjadi saat ia berada di rumah sakit dan ia melihat sendiri korban luka dibawa ke sana. Connell memperlihatkan pesan notifikasi dari militer Israel yang memerintahkan warga di Gaza tengah untuk melakukan evakuasi. Pesan itu mengatakan Angkatan Bersenjata Israel (IDF) akan segera beroperasi di pemukiman mereka dan meminta mereka mengungsi “sementara dan pindah ke tempat perlindungan sementara” di Deir al-Balah. “IDF akan bertindak melawan Hamas di mana pun mereka beroperasi, dengan berkomitmen penuh pada hukum internasional, sambil membedakan antara teroris dengan warga sipil, dan mengambil semua langkah pencegahan untuk meminimalisir korban dari warga sipil,” kata juru bicara IDF. Pemerintah AS berulang kali mengatakan mereka berharap Israel menurunkan skala operasi ke tahapan intensitas serangan lebih rendah dengan lebih teliti dalam menetapkan target. Namun Israel mengintensifkan serangannya. Malam Natal menjadi malam paling mematikan bagi warga Gaza selama perang yang sudah berlangsung selama 11 pekan. Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan serangan udara Israel di selatan dan tengah Gaza menewaskan lebih dari 100 warga Palestina, sehingga total korban jiwa menjadi hampir 20.700 orang. Saat warga Palestina berduka kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji untuk terus memerangi Hamas. (zul) Baca juga :

Read More