Mufti Besar Arab Saudi Soroti Kemampuan Beradaptasi Hukum Islam Di tengah Kemajuan Teknologi

Riyadh — 1miliarsantri.net : Mufti Agung Arab Saudi Abdulaziz bin Abdullah Al-Sheikh telah menyoroti kemampuan beradaptasi hukum Islam dalam mengatasi masalah kontemporer dan menekankan meningkatnya tanggung jawab para cendekiawan Muslim di tengah kemajuan teknologi. Hal tersebut disampaikan ketika dia berbicara pada pertemuan ke-23 Dewan Fiqh Islam dan Liga Dunia Muslim (MWL) di Riyadh, Arab Saudi. Al-Sheikh menekankan pentingnya para ulama Islam mengatasi tantangan di era modern. Al-Sheikh juga menekankan perlunya penelitian yang ketat, mendorong penggunaan teknologi untuk meningkatkan kolaborasi di antara otoritas agama. Majelis tersebut bertujuan mengatasi masalah-masalah kontemporer yang dihadapi oleh umat Muslim dan minoritas dan mengeluarkan putusan mengenai mereka. “Keputusan-keputusan ini akan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibagikan melalui saluran media untuk memperjelas prinsip-prinsip Islam dan menunjukkan kemampuan beradaptasi fiqih Islam,” ungkapnya. Sesi pembukaan menekankan perlunya upaya kolaboratif di antara para cendekiawan dan badan-badan keagamaan untuk mengatasi tantangan-tantangan yang muncul dan meningkatkan stabilitas dan kebahagiaan masyarakat. Sekretaris Jenderal MWL Mohammed bin Abdul Karim Al-Issa menyoroti fokus majelis pada masalah hukum kontemporer dan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh para ulama terkemuka. Al-Issa menekankan sangat penting bagi para cendekiawan Islam terkemuka untuk mengatasi tantangan baru, sebagai bagian dari tugas ilmiah mereka. “Perlunya penelitian dan interpretasi menyeluruh untuk memperjelas putusan hukum, selaras dengan tanggung jawab agama,” terang Al-Issa. Al-Issa juga menyoroti pentingnya menunjukkan fiqih Islam dapat menangani masalah yang muncul. Dia mencatat Dewan Fiqh Islam adalah yang tertua dari jenisnya dalam sejarah Islam, dan keanggotaan didasarkan pada prestasi akademik. Kepala MWL menegaskan kembali bahwa majelis tersebut telah mendapatkan kepercayaan atas sejarah panjangnya dan kontribusinya sangat dihormati dan dibahas di kalangan akademis dan penelitian. Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Hissein Ibrahim Taha menyoroti pentingnya Arab Saudi menjadi tuan rumah pertemuan penting para tokoh agama dan cendekiawan terkemuka dari dunia Islam ini. Dia juga menekankan peran Arab Saudi dalam mendukung tren positif dan menjaga komunitas Muslim dari berbagai tantangan. Dia memuji persatuan di antara ulama Islam dari berbagai negara, dan menekankan pengabdian kolektif mereka terhadap keyakinan mereka. “Perlunya keilmuan kontemporer untuk menjaga dunia Islam selaras dengan perkembangan global,” pungkas Taha. (dul) Baca juga :

Read More

Seorang Bayi di Gaza Lahir dari Ibu yang Sudah Meninggal Dunia

Gaza — 1miliarsantri.net : Pejabat kesehatan Palestina mengatakan seorang bayi perempuan berhasil dilahirkan dengan selamat dari seorang ibu yang meninggal dunia bersama suami dan putrinya dalam serangan Israel ke Kota Rafah. Sebanyak 19 orang tewas dalam serangan tersebut. Pejabat kesehatan setempat mengatakan, korban tewas dalam serangan pada dua rumah itu termasuk 13 anak dari satu keluarga. Bayi itu lahir dengan berat 1,4 kilogram dan dilahirkan melalui proses sesar. Dokter yang merawatnya Mohammed Salama mengatakan kondisi bayi dalam keadaan stabil dan terus membaik. Ibunya, Sabreen Al-Sakani hamil 30 minggu. Pita yang direkatkan di dada bayi yang ditempatkan di inkubator di rumah sakit Rafah bersama bayi lainnya itu bertuliskan: “Bayi dari syahid Sabreen Al-Sakani.” Pamannya Rami Al-Sheikh mengatakan kakak bayi itu, Malak yang tewas dalam serangan tersebut ingin menamakan adiknya Rouh yang artinya jiwa dalam bahasa Arab. “Gadis kecil Malak bahagia adiknya tiba di dunia,” ungkap Al-Sheik. Dilansir laman Reuters, Salama mengatakan bayi itu akan berada di rumah sakit selama tiga sampai empat pekan. “Setelah itu kami akan melihat kepergiannya, dan ke mana anak ini akan pergi, ke keluarganya, ke bibi atau ke paman atau kakek-neneknya, Ini tragedi terbesar, bahkan bila anak ini selamat, ia lahir yatim-piatu,” terang dokter itu. Pejabat kesehatan Palestina mengatakan 13 anak tewas dalam serangan ke rumah kedua milik keluarga Abdel Aal. Dua perempuan juga tewas dalam serangan tersebut. Ditanya tentang korban jiwa di Rafah, juru bicara militer Israel mengatakan berbagai target milisi diserang di Gaza termasuk kompleks militer, pos peluncuran dan orang-orang bersenjata. “Semuanya perempuan dan anak-anak, seluruh identitas saya dihapus, bersama istri saya, anak-anak dan semuanya. Apakah anda melihat satu pria pada semua yang tewas ini?” kata seorang pria yang anggota keluarga tewas dalam serangan itu, Saqr Abdel Aal, di samping jenazah yang ditutup kain kafan putih. Mohammad al-Behairi mengatakan putri dan cucunya masih di bawah reruntuhan. “Merasa sedih, depresi, kami tidak memiliki apa-apa lagi untuk ditangisi, perasaan apa yang harus kami miliki? Ketika anda kehilangan anak-anak anda, ketika anda kehilangan orang-orang tercinta, bagaimana rasanya?” katanya. Lebih dari setengah 2,3 juta populasi Gaza berdesak-desakan di Gaza. Mencari perlindungan dari serangan-serangan Israel yang menghancurkan sebagian besar kantong pemukiman itu selama enam bulan terakhir. Israel mengancam akan menggelar serangan darat ke Rafah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim pejuang Hamas harus ditumpas untuk memastikan kemenangan Israel di Gaza. Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mendesak Israel tidak menggelar serangan skala besar ke Rafah untuk menghindari korban jiwa sipil lebih banyak. Kementerian kesehatan Palestina mengatakan sudah lebih dari 34 ribu orang tewas dalam serangan Israel. Kementerian mengatakan dalam 24 jam terakhir Israel membunuh 48 orang Palestina dan melukai 79 orang lainnya di seluruh Jalur Gaza. Badan Kedaruratan Sipil Palestina mengatakan timnya menemukan 60 jenazah dari Rumah Sakit Nasser di Khan Younis di selatan Jalur Gaza. Jenazah-jenazah itu ditemukan beberapa pekan setelah pasukan Israel mundur dari kompleks medis tersebut. Total jumlah jenazah yang berhasil digali dari halaman rumah sakit itu sejak 12 April lalu menjadi 210 jenazah. Dalam pernyataannya badan kedaruratan mengatakan masih sekitar 2.000 orang hilang di bawah reruntuhan di Khan Younis dan 1.000 orang di daerah Jalur Gaza tengah. Mereka tidak bisa mengevakuasi jenazah-jenazah itu karena kekurangan alat dan mesin berat untuk memindahkan reruntuhan. Militer Israel belum memberikan komentar. Di Tepi Barat, Israel mengatakan tentara mereka melepaskan tembakan ke tiga orang Palestina yang menyerang mereka. Kementerian kesehatan Palestina mengatakan tiga orang itu tewas. (zul) Baca juga :

Read More

Setidaknya Setiap 10 Menit Terdapat 1 Anak Terbunuh di Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Setiap 10 menit satu anak terbunuh di Jalur Gaza, demikian menurut penilaian Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) pada Sabtu (20/4/2024) lalu. Untuk itu saat ini fokus menghentikan serangan Israel di Palestina menjadi fokus utama konflik Timur Tengah. “Sejumlah besar anak-anak juga terluka di tengah serangan intens dan membabi buta. Gencatan senjata segera menjadi harapan terakhir yang tersisa,” tulis UNRWA di X. Sebagaimana diketahui, tanpa menghiraukan putusan sela Mahkamah Internasional (ICJ), Israel terus melakukan serangan di Gaza, di mana sedikitnya 34.049 warga Palestina terbunuh dan 76.901 orang terluka sejak 7 Oktober. Mayoritas mereka adalah wanita dan anak-anak, menurut otoritas kesehatan Palestina. Serangan Israel telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza terpaksa mengungsi di tengah krisis makanan, air bersih dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur di sana telah rusak atau pun hancur. Permusuhan masih terjadi dan pengiriman bantuan masih belum cukup mengatasi bencana kemanusiaan tersebut. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, mengatakan ketegangan antara Israel dan Iran seharusnya tidak mengalihkan perhatian dari situasi di Gaza. Ia juga menegaskan bahwa prioritas komunitas internasional adalah harus mengakhiri pendudukan Israel atas wilayah Palestina. Hal tersebut disampaikan Fidan pada saat berada di Istanbul dalam kunjungan bersama Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry. Shoukry juga mendesak Iran dan Israel untuk menahan diri. Kunjungan Shoukry ke Turki terjadi di tengah ketegangan tinggi di Timur Tengah setelah serangan Israel terhadap Iran. Israel tidak mengatakan apa-apa tentang insiden itu. Berbicara pada konferensi pers bersama dengan Fidan, Shoukry mengatakan wilayah tersebut prihatin dengan eskalasi yang sedang berlangsung. “Kami telah memperingatkan perluasan konflik sejak awal. Kami telah meminta kedua belah pihak (Iran dan Israel) untuk menahan diri,” imbuhnya dilansir dari Arab News pada Selasa (23/4/2024). Fidan mengatakan penyebab utama ketidakstabilan di Timur Tengah adalah pendudukan Israel atas wilayah Palestina dan dukungan Barat untuk Israel. “Perkembangan apa pun yang dapat mengalihkan perhatian kita dari fakta ini harus diabaikan. Prioritas kami harus mengakhiri pendudukan Israel di Palestina dan solusi dua negara,” ungkapnya. Fidan mengatakan, dia dan Shoukry membahas upaya untuk memberikan lebih banyak bantuan kemanusiaan ke Gaza. Secara terpisah, Shoukry mengatakan Mesir akan menjadi tuan rumah delegasi Turki untuk mempersiapkan kunjungan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi ke Turki di masa mendatang. Para menteri bertemu ketika badan pertahanan sipil Gaza mengatakan serangan Israel menewaskan sembilan anggota keluarga Palestina, termasuk enam anak-anak, di kota selatan Rafah. Lima anak berusia satu hingga tujuh tahun dan seorang gadis berusia 16 tahun termasuk di antara yang meninggal, bersama dengan dua wanita dan seorang pria, menurut Rumah Sakit Al-Najjar kota. “Sembilan martir, termasuk enam anak, ditarik keluar dari puing-puing setelah angkatan udara Israel menyerang rumah keluarga Radwan di Tal Al-Sultan di Rafah,” kata juru bicara badan Pertahanan Sipil Gaza, Mahmud Bassal dalam sebuah pernyataan. (zul) Baca juga :

Read More

Dua Relawan Medis MER-C Merasakan Suara Ledakan Hampir Setiap Waktu

Gaza — 1miliarsantri.net : Dua Relawan Medis MER-C dr. Fahmi Anshori, SpOT dan dr. Reyfal Khaidar bersama dua relawan MER-C lainya di Jalur Gaza Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan telah melakukan kunjungan ke RS Syuhada Al Aqsa untuk melakukan assessment, guna memastikan kondisi RS tersebut sebelum kedua dokter bertugas. “Karena kondisi yang terbatas, ruang kebidanan yang ada di RS Syuhada Al Aqsa saat ini digunakan untuk ruang operasi,” terang Dr. Reyfal di Gaza, Senin (22/4/2024). Pada kesempatan itu, kedua relawan medis MER-C melakukan tindakan operasi korban fraktur tulang paha yang disebabkan oleh reruntuhan rumahnya yang hancur terkena bom. Sementara itu, Dr. Fahmi mengatakan, ada situasi berbeda saat bertugas di Gaza Tengah di mana suara ledakan lebih sering terdengar dibandingkan di Gaza Selatan, yang sekarang memang menjadi satu-satunya wilayah aman serta memungkinkan bagi tim medis untuk bertugas. “Kalau di Gaza Selatan itu kita mendengar ledakan bom setiap jam, kalau di Gaza Tengah ini setiap menit. Ini cukup mendebarkan tapi Alhamdulillah Allah masih menjaga kita,” ungkap Dr. Fahmi. Ia mengungkap, untuk alasan keamanan WHO melarang Tim melakukan perjalanan saat malam hari dan menginap di Rumah Sakit, sehingga operasi yang dilakukan masih terbatas dan tim harus segera kembali ke Gaza Selatan sebelum matahari tenggelam. Dr. Fahmi menyerukan kepada dokter maupun relawan yang ingin membantu warga Gaza secara langsung bisa melalui MER-C yang saat ini tim medis di Jalur Gaza sangat membutuhkan bantuan. Sebelumnya pada Senin (18/3/2024), sebelas (11) relawan medis MER-C berhasil memasuki Jalur Gaza, tim pertama ke wilayah tersebut sejak serangan Israel pada 7 Oktober 2023. Tim ke-2 sebanyak empat orang relawan menyusul masuk ke Jalur Gaza pada 3 April 2024. MER-C secara berkelanjutan terus mengirimkan relawannya untuk bertugas di Jalur Gaza yang tergabung dalam Emergency Medical TIM (EMT). (zul) Baca juga :

Read More

Barbados Resmi Akui Palestina Sebagai Negara, Tapi Tak Menampik Tetap Berhubungan Dengan Israrl

Gaza — 1miliarsantri.net : Barbados mengumumkan keputusan resminya yang mengakui Palestina sebagai sebuah negara pada Jumat (19/4/2024) lalu. Keputusan itu sekaligus menjadikan Barbados sebagai negara ke-11 anggota Masyarakat Karibia (CARICOM) yang mengakui kedaulatan Palestina. “Bagaimana kita mengatakan menginginkan solusi dua negara jika kita tidak mengakui Palestina sebagai sebuah negara?” terang Menteri Luar Negeri Barbados Kerrie Symmonds dalam pernyataannya. Namun, Symmonds mengatakan keputusan tersebut tidak berdampak pada hubungan Barbados dengan Israel. Dia menekankan bahwa negara kepulauan tersebut selalu menegaskan bahwa harus ada solusi dua negara di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada saat yang sama, dia mengkritik fakta bahwa Barbados tidak pernah mengakui Palestina sebelumnya. “Saya pikir, sebuah kesalahan yang telah kami buat selama bertahun-tahun dan harus memperbaikinya. Dan sekarang, kami secara resmi telah menghubungi Negara Palestina untuk mengisyaratkan niat kami mengakui mereka sebagai sebuah Negara secara resmi,” imbuhnya. Negara Palestina resmi dideklarasikan oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Aljazair pada 15 November 1988. Indonesia termasuk negara pertama yang mengakui kemerdekaan Palestina. Sementara itu, Ketua Parlemen Arab Adel bin Abdulrahman Al-Asoumi mengecam ketidakmampuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengeluarkan resolusi yang memungkinkan Negara Palestina memperoleh keanggotaan penuh di PBB. Melalui pernyataan yang dikeluarkan pada Sabtu (20/4/2024), Al-Asoumi mengkritik penggunaan veto oleh Amerika Serikat, yang dianggapnya berkontribusi pada perampasan hak sah rakyat Palestina memiliki negara dan menjadi anggota penuh PBB. Al-Asoumi juga menekankan perlunya memungkinkan rakyat Palestina untuk sepenuhnya menggunakan semua hak sah melalui pengakuan internasional atas negara Palestina dan untuk mengibarkan bendera Palestina di markas besar PBB. Tak sampai di situ, dia juga meminta masyarakat internasional untuk memikul tanggung jawab hukum dan sejarah untuk mengakhiri pendudukan brutal di wilayah Palestina. Al-Asoumi meminta mereka membantu upaya mencapai solusi akhir dan adil terhadap masalah Palestina, yang mencakup pembentukan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota negaranya. Ia menegaskan kembali dukungannya bagi hak-hak sah rakyat Palestina di forum regional dan internasional. Amerika Serikat pada Kamis (18/4/2024) memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut keanggotaan penuh Palestina di PBB. Dewan yang terdiri dari 15 anggota itu mengadakan pertemuan di New York untuk melakukan pemungutan suara terhadap rancangan resolusi yang diajukan Aljazair, yang merekomendasikan penerimaan Negara Palestina sebagai anggota PBB. Keanggotaan itu diblokir kendati memperoleh 12 suara dukungan. Dua negara, yaitu Inggris dan Swiss, menyatakan abstain. Untuk dapat disahkan, resolusi Dewan Keamanan PBB memerlukan sedikitnya sembilan suara setuju dan tidak ada veto dari lima anggota tetapnya, yakni AS, Inggris, Perancis, Rusia, atau China. (zul) Baca juga :

Read More

Israel Menggunakan Taktik Memutar Audio Tangisan Bayi Lewat Drone

Gaza — 1miliarsantri.net : Drone Israel kini menggunakan taktik baru yang “aneh” untuk menyasar para warga Palestina. Israel, kini memutar rekaman audio tangisan bayi dan wanita untuk memikat warga Palestina ke lokasi di mana mereka dapat dijadikan sasaran. Pada Ahad dan Senin, (7-8/4/2024) malam, penduduk kamp pengungsi Nuseirat di bagian utara Gaza terbangun karena suara tangisan bayi dan wanita yang berteriak minta tolong. Ketika mereka keluar untuk mencari sumber tangisan dan memberikan bantuan, drone Israel dilaporkan melepaskan tembakan langsung ke arah mereka. Samira Abu al-Leil, seorang warga kamp pengungsi, mengatakan, dia mendengar drone Israel melepaskan tembakan selama dan segera setelah memutar rekaman suara tersebut. Serangan ini berlangsung selama beberapa menit dan terjadi berulang beberapa kali pada Senin malam. “Saya mendengar seorang wanita menangis dan berteriak minta tolong sambil berkata, ‘Tolong saya, anak saya menjadi martir’. Suara-suara itu datang dari jalan dan sangat aneh,” kata pria berusia 49 tahun itu. Menurut saksi mata, setidaknya tujuh hingga 10 orang terluka akibat kebakaran drone dalam semalam. “Beberapa orang bergegas keluar untuk menyelamatkan, hanya untuk ditembak oleh drone berjenis quadcopter yang terus berkeliaran sepanjang malam,” sambungnya. Warga tidak dapat membantu para korban, karena “drone Israel terus menembaki apapun yang bergerak”. Namun, ambulans berhasil mencapai daerah tersebut dan membawa mereka ke rumah sakit. “Pada malam hari, jalanan biasanya kosong dan laki-laki berada di dalam rumah mereka. Ketika drone melepaskan tembakan, mereka hanya mengenai atap dan jalan, mereka tidak menemukan orang untuk ditembak. Jadi mereka memainkan suara-suara ini karena mereka mengetahui sifat masyarakat kita; mereka tahu bahwa laki-laki akan mencoba memberikan bantuan. Mereka ingin mereka keluar sehingga mereka bisa menembaknya,” ungkapnya. Leil menambahkan, hampir setiap hari, peluru drone Israel menghantam atap, pintu, dan jalan di depan rumah mereka. Namun kemarin pagi, Israel menembakkan semacam bom peledak dengan pecahan peluru yang menyebar ke mana-mana di lingkungan para pengungsi, hingga menyebabkan banyak warga terluka. Israel menggunakan quadcopters, drone yang dikendalikan dari jarak jauh yang telah digunakan secara luas terhadap pejuang Palestina dan warga sipil di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2024. Teknologi ini secara bertahap menggantikan pasukan darat, membantu dalam identifikasi target, penargetan individu, dan mengamankan wilayah di mana tentara Israel ditempatkan. Selain itu, quadcopter dapat memantau posisi depan, menargetkan individu di dalam tempat tinggal, dan membubarkan kerumunan di ruang publik. Peristiwa penting yang melibatkan penggunaan quadcopter terjadi selama “pembantaian tepung” pada 11 Januari, di jalan al-Rasheed dekat garis pantai Kota Gaza. Banyak saksi menceritakan quadcopter menembaki ratusan orang yang menunggu kedatangan truk bantuan. Muhammad Abu Youssef, 19, mengatakan, bahwa sekitar jam dua pagi pada hari Senin dia mendengar tangisan bayi. Namun, karena orang-orang mengunggahnya di media sosial untuk meningkatkan kesadaran akan sumber suara-suara tersebut, dia memilih untuk tidak keluar rumah. “Ada suara berbeda yang datang dari quadcopter. Mereka membuat keributan, beberapa rekaman dapat dipahami dan ada pula yang tidak. Aksi tersebut berlangsung sekitar 30 hingga 60 menit, kemudian quadcopter mulai melepaskan tembakan dan menembakkan bom di lingkungan sekitar,” kata Youssef. Sebuah video yang direkam oleh seorang warga kamp pengungsi Nuseirat, dan beredar di media sosial, memperlihatkan suara tangisan bayi, sementara warga tersebut menjelaskan bahwa suara tersebut adalah rekaman suara yang diputar oleh quadcopter Israel. “Kami tidak keluar, karena kami mengetahui bahwa ini hanyalah rekaman yang diputar oleh quadcopter untuk memikat kami agar keluar. Selama tiga hari terakhir, setidaknya ada 12 orang terluka akibat tembakan quadcopter. Pagi ini saja, kami menyelamatkan enam orang yang terluka di lingkungan sekitar. Luka-lukanya serius, beberapa ditembak langsung di kepala,” Youssef melanjutkan. Menurut warga, rekaman audio tersebut juga mencakup lagu-lagu dalam bahasa Ibrani dan Arab. Termasuk lagu anak-anak, suara bentrokan dan tank yang bergerak, suara orang-orang bersenjata Palestina, dan suara penjual produk pembersih lokal yang berkeliaran di sekitar Gaza. Selama lebih dari sepekan, tentara Israel telah melakukan serangan militer intensif di bagian barat laut Nuseirat, menargetkan individu, rumah dan lingkungan dengan artileri, tembakan udara dan laut, serta tembakan quadcopter. (zul/AP) Baca juga :

Read More

PBB Targetkan Kumpulan Dana Bantuan Untuk Gaza Hingga Rp 45,7 Triliun

Gaza — 1miliarsantri.net : Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Selasa (16/4/2024) lalu, mengumumkan pihaknya akan meluncurkan seruan global untuk mengumpulkan bantuan senilai 2,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 45,7 triliun untuk Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel. Kepala Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di Wilayah Palestina yang Diduduki Andrea De Domenico mengatakan dua juta yang selamat dari genosida Israel di Gaza tengah berjuang untuk hidup setiap hari. Namun, hanya sedikit bantuan yang bisa dibawa ke wilayah kantong yang penduduknya sejak lama hidup dalam blokade Israel itu. “Kenyataannya hanya ada sedikit bantuan yang bisa kita bawa ke Gaza untuk mengatasi pengungsian dan kelaparan,” terang De Domenico, Jumat (19/4/2024). De Domenico menuturkan seruan global untuk dana bantuan telah diluncurkan pada Rabu. Seruan tersebut adalah “untuk mendukung tiga juta orang yang teridentifikasi di Tepi Barat dan Gaza.” Sebanyak 90 persen dari bantuan tersebut akan disalurkan ke Gaza dan PBB pada awalnya berencana meminta dana empat miliar dolar AS (Rp 65,2 triliun) tetapi dikurangi karena terbatasnya kemampuan distribusi bantuan. Menurutnya, kelaparan di Gaza disebabkan karena tidak adanya makanan, kebersihan, air dan fasilitas kesehatan. “Ketidakpastian menjadi kenyataan sehari-hari bagi masyarakat di Gaza,” sambungnya. Lebih lanjut ia menyampaikan keluarga yang datang ke selatan Gaza telah mengungsi sebanyak tujuh kali dan dua hari lalu timnya melihat ribuan orang mengantre ke arah utara. Terkait desas-desus pasukan Israel telah mengizinkan atau akan mengizinkan orang untuk kembali ke Utara, ia membenarkan bahwa beberapa warga memang menerima panggilan telepon yang dimaksudkan untuk menyarankan agar mereka dapat kembali. “Lalu ketika ribuan orang muncul, militer Israel langsung menembaki lokasi tersebut karena mereka cukup kaget dengan jumlahnya,” imbuhnya. Tak hanya itu, PBB juga menilai Israel melakukan kombinasi strategi untuk menghindari narasi “kami menghalangi bantuan.” Bahkan Israel berkali-kali melakukan “permainan saling menyalahkan” dan menambahkan “Kami menerimanya. Kami terus berhubungan dengan mereka dan tujuan kami adalah untuk menyelesaikan masalah ini dan memberikan (bantuan).” (zul/AP) Baca juga :

Read More

Nostradamus Dalam Bukunya Les Prophéties Meramalkan Sebuah Perang Terjadi Pada 2024

Gaza — 1miliarsantri.net : Lewat bukunya berjudul Les Prophéties, Michel de Nostredame pernah memprediksi akan terjadinya perang besar pada 2024. Ramalan itu seperti akan terwujud jika merujuk pada eskalasi ketegangan di Timur Tengah saat ini, di mana Israel dikabarkan akan melancarkan serangan balik menyusul serangan Iran pada Ahad (14/4/2024) lalu. Les Prophéties dirilis pada 1555 dan hingga kini, Nostradamus dinilai telah berhasil memprediksi beberapa kejadian yang kemudian terjadi pada masa depan seperti kemunculan Adolf Hitler, peristiwa pembunuhan Presiden AS, John F Kennedy, hingga pandemi Covid-19. Untuk 2024, dalam bukunya, Nostradamus menulis, “Musuh berwarna merah akan menjadi pucat karena takut, membuat lautan penuh dengan ketakutan.” Prediksi itu awalnya diyakini akan berhubungan dengan ketegangan antara China dan Taiwan, atau peristiwa pembajakan kapal-kapal di Laut Merah oleh kelompok Houthi. Akan tetapi, seperti dirangkum oleh Metro.co.uk, pada Senin (15/4/2024), warganet kini meyakini, nubuat Nostradamus terkait dengan konflik teranyar antara Iran dan Israel. Dalam nubuat lainnya, Nostradamus memprediksi, “Raja dari Pulau-Pulau” akan “dipaksa turun takhta”. Segera setelah perang besar, Raja baru akan ditunjuk, dan Dia, untuk waktu yang panjang, akan menentramkan bumi. Dalam sebuah wawancara dengan Daily Mail pada awal tahun ini, seorang penulis bernama Mario Reading mengatakan, bahwa “Raja dari Pulau-Pulau” yang dimaksud Nostradamus bisa merujuk pada Raja Charles III yang saat ini bertakhta. Charles kemungkinan akan mewariskan takhta kepada Pangeran Harry menyusul tekanan hebat terhadap Raja Charles dan Ratu Camilla. Media sosial belakangan memang dipenuhi atas spekulasi dan prediksi akan terjadinya Perang Dunia III setelah Iran menyerang Israel sebagai balasan serangan udara atas kantor konsulat mereka di Damaskus Suriah. Sebanyak lebih dari 300 misil dan drone dikirim Iran ke Israel pada Ahad dini hari lalu. Iran menyebut operasi balasan ke Israel sebuah kesuksesan. Teheran pun menegaskan, serangan mereka ke Israel sesuai dengan Piagam PBB terkait legitimasi bagaimana pertahanan-diri suatu negara. Lewat unggahan di X, Iran pun sudah mengingatkan Amerika Serikat untuk menjaga jarak. “Merujuk pada Artikel 51 Piagam PBB, aksi militer Iran adalah respons atas serangan rezim Zionis terhadap kedaulatan diplomatik kami di Damaskus,” demikian keterangan pemerintah Republik Islam Iran. Kepala militer Israel berjanji, negaranya akan merespons serangan Iran yang melibatkan ratusan drone, rudal balistik dan jelajah. Letnan Jenderal Herzi Halevi mengatakan, Israel masih mempertimbangkan untuk merespon serangan akhir pekan lalu. Di pangkalan udara militer Nevatim, Senin (15/4/2024) Halevi mengatakan serangan rudal dan drone Iran “akan bertemu dengan sebuah respons.” Israel mengatakan, Navetim mengalami sedikit kerusakan dalam serangan Iran. Saat ini Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sedang membahas kemungkinan respons bersama kabinet perangnya. Sementara itu pemimpin dunia mendesak Israel tidak membalas serangan Iran. Pemimpin negara-negara Barat mendesak Israel tidak membalas serangan Iran yang melibatkan ratusan drone dan rudal akhir pekan lalu. Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron mengatakan Inggris tidak mendukung serangan balasan. Sementara, Senin (15/4/2024) Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Paris akan mencoba, “menyakinkan Israel kami harus tidak meresponnya dengan meningkatkan ketegangan.” Kanselir Jerman Olaf Scholz juga meminta Israel untuk “berkontribusi de-eskalasi” situasi di Timur Tengah. “Iran harus menghentikan agresinya,” kata Scholz dalam kunjungannya di Cina. Jerman merupakan sekutu setia Israel. Ditanya apakah ia mencoba membujuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak menggelar respons militer, ia mengatakan terdapat kesepakatan keberhasilan Israel menghalau serangan Iran dengan bantuan sekutu “benar-benar luar biasa.” “Keberhasilan ini mungkin juga tidak boleh dibuang begitu saja. Oleh karena itu kami menyarankan untuk berkontribusi pada de-eskalasi itu sendiri,” tambahnya. Adapun, Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak mengatakan, “Semua pihak harus menahan diri” untuk menghindari spiral kekerasan di Timur Tengah. Di media sosial X, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi mengatakan ia berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian. Retno mengatakan ia menyampaikan keprihatinannya atas situasi yang mengkhawatirkan di Timur Tengah dan menyerukan kepada semua negara terkait untuk menahan diri dan meredakan situasi. “Saya juga berkomunikasi dan bertukar pesan dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Yordania, Mesir, UEA (Uni Emirat Arab), Turki, Belanda, dan Jerman. Saya mendorong semua pihak untuk menggunakan pengaruh mereka untuk menyerukan penahanan diri dan meredakan situasi,” katanya. Serangan Ahad (14/4/2024) lalu menjadi serangan pertama Iran ke wilayah Israel meski dua negara sudah bermusuhan sejak revolusi 1979. Iran membalas serangan udara Israel ke kantor konsulat Iran di Suriah yang menewaskan tujuh perwira termasuk dua jenderal Garda Revolusi pada 1 April lalu. (zul/AP) Baca juga :

Read More

Beberapa Catatan Penyerangan Yang Dilakukan Israel dan Iran

Teheran — 1miliarsantri.net : Israel memberikan sinyal akan membalas serangan yang dilakukan Iran pada Ahad (13/4/2024) dini hari. Teheran meluncurkan 300 rudal dan drone sebagai balasan dihantamnya kantor diplomatik mereka di Suriah oleh Israel pada 1 April lalu. Jika Israel akhirnya membalas dengan serangan militer, maka ini bukanlah yang pertama mereka lakukan. Bertahun-tahun Israel menjalankan beragam serangan terutama menargetkan program nuklir Iran yang mereka curigai akan menghasilkan bom nuklir. Iran menegaskan program nuklir yang mereka kembangkan merupakan nuklir sipil bukan militer. Berikut serangan-serangan Israel terhadap Iran, dari serangan drone, serangan siber, hingga pembunuhan pada ilmuwan-ilmuwan Iran yang dirangkum Aljazirah, Rabu (17/4/2024). Januari 2010: Profesor fisika di Tehran University, Masoud Ali-Mohammadi, dibunuh dengan bom jarak jauh yang dipasang di sepeda motornya. Media pemerintah Iran mengeklaim AS dan Israel sebagai dalangnya. Iran menyebu Mohammadi merupakan ilmuwan nuklir. November 2010: Profesor Fakultas Teknik Nuklir pada Shahid Beheshti University, Teheran yaitu Majid Shahriari meninggal dunia dalam ledakan mobil saat menuju tempat kerjanya. Istrinya terluka. Presiden Mahmud Ahmadinejad menuding ini serangan Israel dan AS. Januari 2012: Mostafa Ahmadi Roshan, lulusan teknik kimia dibunuh dengan bom yang ditempatkan di mobilnya oleh seorang pesepeda motor di Teheran. Iran kembali menuding AS dan Israel. Roshan merupakan ilmuwan nuklir yang mengawasi departemen yang bertanggung jawab atas pengayaan uranium di fasilitas nuklir di Natanz. November 2020: ilmuwan nuklir ternama, Mohsen Fakhrizadeh dibunuh dalam serangan di jalan yang terjadi di pinggiran Teheran. Ia dijatuhi sanksi oleh PBB pada 2007 dan AS pada 2008. Mei 2022: Kolonel Hassan Sayyad Khodaei dari Garda Revolusi Iran ditembak lima kali di luar rumahnya, Teheran. Majid Mirahmadi, anggota Dewan Keamanan Nasional meyakini pembunuhan ini dirancang Israel. Juni 2010: Virus Stuxnet ditemukan di komputer-komputer yang berada di pembangkit nuklir Iran, Kota Bushehr. Virus ini kemudian menyebar ke fasilitas lainnya. Sekitar 30 ribu komputer di 14 fasilitas terdampak hingga September 2010. Setidaknya 1.000 dari 9.000 sentrifugal di fasilitas pengayaan uranium Natanz dihancurkan. Melalui penyelidikan, Iran menuding Israel dan AS berada di balik serangan virus itu. April 2011: Virus Stars terdeteksi oleh badan pertahanan siber yang disusupkan untuk menhancurkan fasilitas nuklir Iran. Lagi-lagi, Iran menyalahkan AS dan Israel atas serangan virus ini. November 2011: Iran menemukan virus baru, Duqu yang basisnya ada pada Stuxnet. Para pakar mengungkapkan, Duqu dibuat untuk menghimpun data untuk serangan siber selanjutnya. Mereka meyakini virus ini mempunyai kaitan dengan Israel. April 2012: Iran menyalahkan AS dan Israel atas malware yang disebut Wiper, yang menghapus hard drives komputer milik Kementerian Perminyakan dan National Iranian Oil Company. Mei 2012: Iran mengumumkan adanya virus Flame yang digunakan untuk mencuri data dari komputer pemerintah. The Washington Post melaporkan, Israel dan AS biasa menggunakannya untuk mengumpulkan data intelijen. Moshe Yaalon yang kemudian menjabat wakil perdana menteri tak mengonfirmasi keterlibatan Israel dalam kasus ini tetapi mengakui Israel akan menggunakan berbagai cara untuk merusak sistem nuklir Iran. Oktober 2018: Pemerintah Iran menyatakan telah memblokir invasi gerenasi baru virus Stuxnet. Mei 2020: Serangan siber berdampak pada komputer yang mengendalikan lalu lintas maritime di Pelabuhan Shahid Rajaee, Iran selatan. Ini menyebabkan kapal-kapal mengantre panjang. The Washington Post mengutip sejumlah pejabat AS bahwa Israel dalang serangan ini, meski Israel tak mengakuinya. Januari 2018: Agen-agen Mossad menyergap fasilitas keamanan di Teheran, mencuri arsip-arsip rahasia mengenai nuklir Iran. Pada April 2018, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan 100 ribu file rahasia yang membuktikan Iran memiliki program senjata nuklir. Februari 2022: Mantan perdana menteri Israel Naftali Bennett mengakui dalam opini yang diterbitkan The Wall Street Journal pada Desember 2023 bahwa Israel menyerang drone Iran dan membunuh komandan senior Garda Revolusi pada tahun sebelumnya. Mei 2022: Drone-drone kamikaze menargetkan kompleks militer Parchin yang berada di tenggara Teheran. Serangan ini menewaskan seorang insinyur dan menghancurkan sebuah bangunan berisi drone-drone yang dikembangkan Kementerian Pertahanan Iran. Januari 2023: Sejumlah drone bunuh diri dikerahkan menyerang fasilitas militer Iran di Isfahan tetapi berhasil ditepis dan tak menyebabkan kerusakan apapun. Dubes Iran untu PBB Amir Saeid Iravani menyatakan penyelidikan mengungkapkan Israel bertanggung jawab atas serangan ini. Februari 2024: Jaringan pipa gas di Iran diserang. Menteri Perminyakan Iran Javad Owji menuding ledakan itu merupakan hasil tindakan Israel. (gty) Baca juga :

Read More

Warga Gaza Berseru “AllahuAkbar” Saat Drone dan Roket Iran Menyerang Israel

Gaza — 1miliarsantri.net : Serangan drone dan rudal Iran ke Israel mendapatkan sambutan hangat dari warga Gaza. Mereka menganggap ini balasan dari serangan Israel ke Gaza. Meski ada pula yang menyebut serangan ini sekadar ‘show’ tak menyebabkan kerusakan berarti bagi Israel. ‘’Untuk pertama kalinya, kami melihat roket yang tak mengahntam wilayah kami. Roket-roket itu mengarah ke wilayah Palestina yang diduduki Israel,’’ ujar Abu Abdallah, Selasa (16/4/2024). Ia pun berharap persoalan di Gaza usai. Dirinya berharap jika Iran atau negara manapun terlibat perang menjadi solusi bagi Gaza. Amerika mestinya menyelesaikan masalah Gaza sampai ke akarnya. Banyak warga Gaza merasa diabaikan oleh negera-negara tetangga mereka di Timur Tengah sejak Israel melakukan serangan ke Gaza yang menyebabkan lebih dari 33 ribu orang meninggal dunia. Sebaliknya, mereka merasa memperoleh dukungan dari pihak lain. Yakni dukungan dari Iran dan proksi di kawasan khususnya sekutu Iran di antaranya Hizbullah di Lebanon yang juga merupakan sekutu pemerintahan Hamas di Gaza. Potongan gambit menunjukkan dukungan warga Gaza atas serangan Iran ke Israel. Dalam tayangan yang beredar terlihat banyak warga Gaza, termasuk yang ada di dalam tenda penampungan, bersuit dan menyerukan kalimat ‘Allahu Akbar’ menunjukkan kegembiraan ketika langit terang karena roket Iran dan upaya pencegatan oleh Israel. ‘’Siapapun yang memutuskan menyerang Israel, berani menyerang Israel saat semua dunia melayani Israel adalah pahlawan bagi warga Palestina tak peduli apakah kami berbagi atau berbeda ideologi dengan Iran,’’ ungkap Majed Abu Hamza (52). Ayah tujuh anak dari Gaza City menggambarkan situasi terkini diwilayah tersebut. ‘’Kami telah dibantai selama enam bulan dan tak satupun berani melakukan sesuatu. Sekarang Iran, setelah konsulatnya diserang, menyerang balik Israel. Ini membuat hati kami bergembira,’’ ujar Abu Hamza. Iran melakukan serangan ke Israel untuk membalas kantor diplomatik mereka di Suriah pada 1 April lalu. Serangan ini menewaskan komandan Garda Revolusi. Hamas yang terlibat perang dengan Israel sejak 7 Oktober lalu, mendukung serangan Iran. Hamas menyebut serangan ini hak alamiah dan pantas dilakukan Iran untuk membalas tindakan Israel. The Palestinian Popular Resistance Committee, kelompok bersenjata yang bersama Hamas melawan Israel di Gaza, menyatakan keterlibatan Iran bisa memacu semangat. Ia pun menyatakan, ’’Bagi Israel, serangan ini merupakan paku terakhir bagi peti mati mereka. ’’Meski demikian, tak semua mendukung serangan Iran ini, yang menyatakan serangan tersebut merupakan upaya Iran menjaga kedaulatan mereka. ‘’Tirai diturunkan untuk menyelamatkan muka… Warga Palestina satu-satunya yang harus membayar harganya dengan darah dan tubuh mereka,’’ kata Munir al-Gaghoub, salah satu petinggi faksi Fatah yang mendukung pemerintahan Presiden Mahmud Abbas di Facebook-nya. Beberapa orang di media sosial meyakini serangan ini sudah disetujui AS agar tak menimbulkan korban. Mereka menunjuk pada sampainya rudal dan drone ke Israel selama beberapa jam. Ini memberi waktu luas bagi Israel untuk menembak jatuh rudal dan drone itu. (zul) Baca juga :

Read More