Banyak Anak Putus Sekolah karena Masuk Pesantren, Kok Bisa?
Jakarta — 1miliarsantri.net : Faktor budaya menjadi salah satu penyebab tingginya anak putus sekolah di Cianjur, Jawa Barat. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut, jika orang tua tidak bisa menyekolahkan anaknya, mereka akan memasukkan anak-anak mereka ke pondok pesantren.
“Budaya yang berkembang di Cianjur itu orang tua ketika tidak mampu memasukkan anaknya ke sekolah formal, mereka kemudian memasukkan anak ke ponpes (pondok pesantren), sementara di ponpes ya sebenarnya dia (anak) bersekolah, belajar ilmu agama, kitab kuning, Alquran, hadits, fikih,” terang Anggota KPAI Aris Adi Leksono, saat dihubungi di Jakarta, Rabu (28/8/2024).
Meski bagi persoalannya sebagian pondok pesantren salafiyah tidak terdata dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik), sehingga para santrinya menjadi anak putus sekolah.
“Ponpes ini kadang tidak menyelenggarakan pendidikan formal, sehingga anak di pesantren murni belajar tentang salafiyah, ilmu agama dan mereka di situ tidak terdaftar dalam dapodik, sehingga mereka terdata sebagai anak yang putus sekolah,” tambah Aris Adi Leksono.
Faktor lain tingginya anak putus sekolah di Cianjur karena anak-anak lebih memilih bekerja membantu orang tua. Anak-anak juga mengalami perundungan di sekolah sehingga memilih untuk tidak sekolah.
“Jarak sekolah terutama SMP yang terlalu jauh yakni 8 kilometer dari tempat tinggal, dan kurangnya pengetahuan orang tua tentang pentingnya pendidikan,” lanjutnya.
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


