Seorang Brigadir Jenderal Israel Terrluka Akibat Serangan Pejuang Palestina

Gaza — 1miliarsantri.net : Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer kelompok Hamas, menyatakan berhasil menghancurkan sedikitnya sembilan tank canggih Merkava milik pasukan penjajahan Israel (IDF) dalam serangan selama akhir pekan lalu. Hal ini seturut serangan serentak para pejuang Palestina menghalang serbuan Israel di tiga front pertempuran di Jalur Gaza. Faksi perlawanan Palestina menghadapi serangan pasukan pendudukan Israel di berbagai titik di Gaza; dari Jabalia di utara Jalur Gaza, wilayah al-Zaytoun di tenggara Kota Gaza, dan Kota Rafah di bagian selatan Jalur Gaza. Sejak Ahad (12/5/2024) pagi, pejuang pejuang Palestina terlibat dalam konfrontasi sengit dengan pasukan pendudukan di Kamp Jabaliya timur di Gaza utara. Brigade al-Qassam, sayap militer Hamas, mengumumkan penghancuran 10 kendaraan militer Israel, termasuk sembilan tank dan satu pengangkut personel lapis baja setelah mereka menembus ke arah timur menuju Jabalia. Brigade juga menembaki kumpulan dan kendaraan pasukan pendudukan Israel di daerah tersebut dengan tembakan mortir yang berat. Sejak awal serangan darat ke Gaza, puluhan tank dan kendaraan tempur pasukan Israel telah hancur diserang pejuang di Gaza. Secara rinci, Almayadeen melansir, pejuang al-Qassam melakukan operasi kompleks di dekat situs al-Mabhouh, sebelah timur Kamp Jabaliya, menargetkan tank Merkava dengan roket al-Yassin 105. Pasukan pendudukan kemudian melarikan diri ke sebuah rumah yang telah dijadikan jebakan oleh Perlawanan, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di antara barisan mereka. Dalam operasi kompleks lainnya, pejuang al-Qassam melawan pasukan khusus Israel dengan alat peledak dan menyerang pengangkut personel lapis baja Israel dengan peluru Tandem di timur Kota Jabalia, yang memastikan adanya korban di antara barisan pasukan tersebut. Pejuang al-Qassam menyerang pasukan khusus Israel lainnya yang bermarkas di sebuah rumah dekat Aula Mazaya, sebelah timur Kamp Jabaliya, dengan peluru TBG, menyebabkan korban jiwa di antara pasukan tersebut, dan menargetkan tank Merkava 4 dengan roket al-Yassin 105 di area yang sama. Di lokasi al-Mabhouh, Brigade menyerang tank Israel dengan roket al-Yassin 105, menyebabkan tank tersebut terbakar, dan menargetkan pasukan Israel yang maju di sana dengan mortir. Di lokasi yang sama, pejuang al-Qassam membombardir pasukan pendudukan Israel dan kendaraan militer mereka dengan mortir berat. Brigade Al-Qassam mengumumkan secara langsung menargetkan tank Merkava Israel dengan rudal anti-tank, di sebelah timur Kamp Jabaliya, dan media militernya kemudian menerbitkan rekaman operasi tersebut. Dalam pernyataan terpisah, Brigade tersebut mengkonfirmasi bahwa pejuangnya menargetkan lima tank Merkava dengan roket al-Yassin 105 di sebelah timur Kamp Jabaliya. Mereka mengeklaim satu tank Israel terbakar dan anggota awaknya tewas atau terluka. Tentara Israel mengatakan pada Ahad bahwa 50 perwira dan tentaranya terluka dalam pertempuran di Gaza dalam satu hari. Yang terluka termasuk Brigadir Jenderal Yogev Bar Sheshet, wakil pengamat sistem keamanan Israel, dalam pertempuran di lingkungan Zaytoun di Kota Gaza pada Jumat. Times of Israel melaporkan bahwa Shesht, perwira IDF berpangkat tertinggi yang terluka dalam pertempuran di Gaza, dibawa ke Rumah Sakit Ichilov untuk perawatan. Laporan media Israel mengatakan dia menemani tim komando lanjutan brigade infanteri Nahal di lingkungan Zaytoun. Tentara Israel saat ini melakukan serangan di Jabaliya di Jalur Gaza utara, di lingkungan Zaytoun di Kota Gaza dan di lingkungan timur Rafah di selatan. Ketiga operasi tersebut dilakukan dengan kedok penembakan intensif yang mengakibatkan kematian dan cederanya puluhan warga Palestina serta puluhan ribu orang mengungsi. Menurut laporan Channel 13 pada Sabtu, Kepala Staf IDF Letjen Herzi Halevi mencatat perlunya pasukan kembali ke Jabaliya sembari melontarkan kritik terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu karena gagal merumuskan dan mendeklarasikan strategi pascaperang. “Kami sekarang beroperasi kembali di Jabaliya. Selama tidak ada proses diplomatik untuk membentuk badan pemerintahan di Jalur Gaza selain Hamas, kita harus melancarkan kampanye lagi dan lagi di tempat lain untuk membongkar infrastruktur Hamas,” tutup Halevi. (zul) Baca juga :

Read More

Semua Rumah Sakit di Jalur Utara Gaza Berhenti Beroperasi

Gaza — 1miliarsantri.net : Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza mengatakan semua rumah sakit di utara Jalur Gaza sudah berhenti beroperasi. Israel menggelar pengeboman di Kota Gaza dan kamp pengungsi Jabalia yang berada di utara kantong pemukiman itu sejak Sabtu (11/5/2024) malam. Berhentinya operasi rumah sakit-rumah sakit itu terjadi setelah PBB memperingatkan rumah sakit di seluruh Gaza dapat berhenti beroperasi karena kehabisan bahan bakar. Menurut PBB, sejak Ahad (12/5/2024) tidak ada truk bantuan yang masuk Jalur Gaza sejak 5 Mei lalu. Israel memblokir penyeberangan Rafah di selatan Gaza. Sebelumnya Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan empat petugas medis termasuk orang-orang yang ditemukan tewas dibunuh di rumah sakit al-Shifa. Dalam pernyataannya, Sabtu kemarin kementerian mengatakan total petugas medis yang tewas dibunuh sepanjang perang Israel di Gaza menjadi 492 orang. Kementerian mengatakan pasukan Israel juga menahan 42 petugas medis dari rumah sakit itu. Sehingga total petugas medis yang ditahan menjadi 310 orang. Kementerian menambahkan para petugas medis ditahan dalam “kondisi yang mengerikan” yang mengancam nyawa mereka. Kementerian juga mencatat kematian dokter bedah Adnan al-Bursh yang tewas saat ditahan pasukan Israel. “(Israel harus) segera membebaskan semua petugas medis dan bertindak cepat untuk menyelamatkan yang tersisa dari fasilitas medis kami,” beber kementerian. Sebanyak 80 jenazah ditemukan di tiga pemakaman massal di Rumah Sakit al-Shifa sehingga total jenazah yang ditemukan dari pemakaman massal di rumah sakit itu menjadi 510 jenazah. Kementerian mengatakan terdapat “bukti kuat” beberapa korban “dieksekusi” dengan ditembak dari jarak dekat. Sebab terdapat luka tembak di kepala dan dada mereka. Awal pekan ini, para pejabat Palestina mengatakan mereka menemukan pemakaman massal baru di Rumah Sakit al-Shifa, yang dikepung pasukan Israel pada Maret lalu. Pemakaman massal ketujuh yang ditemukan di seluruh Gaza sejak dimulainya perang Israel. (zul) Baca juga :

Read More

Negosiasi Gencatan Senjata di Gaza Berakhir Tanpa Kesepakatan

Gaza — 1miliarsantri.net : Militer Israel telah meningkatkan serangannya di Kota Rafah, Gaza selatan, dan menyerang Kota Gaza, serta melumpuhkan operasi bantuan kemanusiaan di seluruh wilayah Palestina seiring negosiasi gencatan senjata berakhir tanpa adanya kesepakatan. Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan pada hari Jumat bahwa 110.000 warga Palestina telah meninggalkan Rafah. Pasukan Israel telah bergerak ke timur kota dalam operasi pertempuran jarak dekat dan melakukan serangan udara. “Banyak pihak ketakutan. Mereka telah mengkhawatirkan hal ini sejak lama dan sekarang hal ini sudah terjadi. Ada pemboman terus-menerus. Banyak asap di langit Gaza, dan banyak warga Palestina yang pindah,” ujar Direktur Perencanaan UNRWA Sam Rose. Dia menambahkan, Israel menjadikan Gaza sebagai sasaran “pengepungan abad pertengahan” dalam perang “bumi hangus”. Pasukan Israel awal pekan ini juga menguasai penyeberangan perbatasan Rafah, menutup pintu masuk penting bagi bantuan kemanusiaan. “Tidak ada bantuan yang masuk ke Gaza sejak hari Minggu. Tidak ada bantuan, tidak ada bahan bakar, tidak ada perbekalan, tidak ada apa-apa. Dan kami sekarang benar-benar kehabisan cadangan terakhir,” kata Rose. “Kami masih punya beberapa hari lagi bahan cadangan yang bisa kami sediakan. Namun segala sesuatunya akan segera mati tanpa bahan bakar, tanpa air. Jadi situasinya benar-benar menyedihkan,” tambahnya. Akibat serangan Israel, pasien dan staf terpaksa keluar dari rumah sakit di Rafah, menyebabkan banyak warga Palestina yang sakit dan terluka tidak bisa mendapatkan perawatan. “Rumah Sakit Al-Najjar tidak berfungsi. Dan Rumah Sakit Kuwait [di Rafah] hanya untuk trauma dan keadaan darurat. Kami tidak punya tempat tidur, tidak ada rumah sakit untuk merujuk [orang-orang], terutama untuk pasien kritis,” tambahnya. Lebih lanjut, para saksi juga melaporkan serangan udara dan pertempuran di lingkungan Kota Gaza, yang menargetkan Zeitoun, Sabra, Nassr, Tal al-Hawa, dan kamp pengungsi Shati. Setidaknya tiga orang tewas dan lima lainnya luka-luka setelah serangan Israel menghantam sebuah rumah keluarga di pusat Kota Gaza, menurut kantor berita Wafa. Sementara itu, Delegasi Israel dan Hamas telah meninggalkan ibu kota Mesir, Kairo, setelah dilakukan negosiasi akhir gencatan senjata, yang dimediasi oleh Qatar, Amerika Serikat, dan Mesir. Hamas mengatakan pada hari Jumat bahwa “bola sekarang sepenuhnya” berada di tangan Israel. Kementerian Luar Negeri Mesir mengatakan kedua belah pihak harus menunjukkan “fleksibilitas” untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tawanan yang ditahan di Gaza dengan tahanan Palestina. Hamas mengatakan kesepakatan itu akan mencakup penarikan pasukan Israel dari Gaza, pemulangan warga Palestina yang menjadi pengungsi akibat perang, dan pertukaran tawanan dengan tawanan, dengan tujuan “gencatan senjata permanen”. Kelompok tersebut mengatakan mereka tetap berpegang pada persyaratan tersebut, sedangkan Israel telah “mengajukan keberatan terhadap beberapa isu utama Hamas”. Tuntutan Hamas untuk menghentikan pertempuran selama 12 minggu adalah poin utama yang menjadi hambatan bagi Israel selama perundingan gencatan senjata minggu ini. (zul) Baca juga :

Read More

Sebanyak 110 Ribu Warga Mengungsi dari kota Rafah

Gaza — 1miliarsantri.net : Sebanyak 110 ribu orang terpaksa mengungsi dari Kota Rafah di Jalur Gaza selatan. Kondisi ini terjadi akibat operasi yang dilakukan militer Israel, kata Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) pada Jumat (10/5/2024). UNRWA juga kembali mendesak gencatan senjata segera di wilayah tersebut. “Saat pasukan Israel gencar membombardir Rafah, pengungsian paksa terus terjadi. UNRWA memperkirakan sekitar 110 ribu orang saat ini telah meninggalkan Rafah untuk menyelamatkan diri. Namun, tidak ada tempat yang aman di Jalur Gaza dan kondisinya mengerikan. Satu-satunya harapan adalah gencatan senjata segera,” tulis UNRWA di platform X. Pada Senin (6/5/2024) malam hingga Selasa (7/5/2024) militer Israel memulai operasi militer di wilayah timur Kota Rafah dan mengambil alih sisi Gaza di persimpangan Rafah dengan Mesir. Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mengaku telah menyetujui ketentuan perjanjian gencatan senjata yang diusulkan mediator Mesir dan Qatar. Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu malah menyatakan bahwa perjanjian tersebut tidak dapat diterima. Saat ini lebih dari satu juta orang diyakini mengungsi di Kota Rafah. Pada Kamis (9/5/2024) surat kabar Politico, yang mengutip berbagai sumber, melaporkan bahwa negosiasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Kairo ditangguhkan, termasuk karena operasi militer Israel di Rafah. Akan tetapi, Penasihat Komunikasi Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby mengatakan negosiasi masih berlangsung meski Direktur CIA William Burns hengkang. Pada 7 Oktober 2023 Hamas meluncurkan serangan roket besar-besaran terhadap Israel dan menerobos perbatasan serta menyerang permukiman sipil dan basis militer. Akibatnya, hampir 1.200 warga Israel tewas dan sekitar 240 orang lainnya disandera selama serangan berlangsung. Israel lantas melakukan serangan balasan, memerintahkan pengepungan total terhadap Gaza dan mulai melakukan invasi darat dengan tujuan melenyapkan petempur Hamas dan menyelamatkan para sandera. Sejauh ini, lebih dari 34.900 warga Palestina terbunuh dalam serangan yang dilakukan militer Israel di Gaza, menurut otoritas setempat. Sementara itu, lebih dari 100 sandera diyakini masih ditahan Hamas di Gaza. (zul) Baca juga :

Read More

AS Hentikan Pengiriman Senjata ke Israel

Washington — 1miliarsantri.net : Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menghentikan pengiriman senjata ke Israel sebagai perlawanan terhadap tindakan nyata pasukan Israel yang menyerang kota Rafah di Gaza selatan. Hal tersebut disampaikan seorang pejabat senior pemerintah. Biden telah berusaha untuk mencegah serangan skala penuh yang dilakukan Israel terhadap Rafah, tempat ratusan ribu warga Palestina mencari perlindungan dari pertempuran yang terus terjadi di Gaza sampai saat ini. Mengutip pejabat AS yang tidak ingin disebutkan namanya yang mengatakan bahwa Washington mulai “dengan hati-hati meninjau usulan transfer senjata tertentu ke Israel yang mungkin digunakan di Rafah” pada bulan April ketika tampaknya Israel hampir mengambil keputusan atas serangan itu. “Sebagai hasil dari peninjauan tersebut, kami telah menghentikan satu pengiriman senjata pada pekan lalu. Terdiri dari 1.800 bom seberat 2.000 pon [907kg] dan 1.700 bom seberat 500 pon [227kg]. Kami secara khusus fokus pada penggunaan akhir bom seberat 2.000 pon tersebut dan dampak yang mungkin ditimbulkannya di lingkungan perkotaan yang padat seperti yang telah kita lihat di wilayah lain di Gaza. Kami belum membuat keputusan akhir tentang bagaimana melanjutkan pengiriman ini,” ungkap pejabat tersebut. Reuters melaporkan bahwa terdapat empat sumber mengatakan pengiriman tersebut, yang telah tertunda selama setidaknya dua minggu, juga memuat Joint Direct Attack Munitions (JDAMs) buatan Boeing, sebuah alat yang menempatkan sistem panduan presisi pada bom, serta Bom Diameter Kecil. Mengutip pejabat yang tidak disebutkan namanya, The Wall Street Journal melaporkan sebelumnya pada hari Selasa bahwa AS telah menunda pengiriman sekitar 6.500 JDAM. Penundaan ini terjadi pada saat Washington secara terbuka menekan Israel untuk menunda rencana serangannya di Rafah sampai Israel mengambil langkah-langkah untuk mencegah jatuhnya korban sipil. Sebagai informasi, Gedung Putih dan Pentagon sampai saat ini menolak mengomentari penundaan pengiriman tersebut. (riz) Baca juga :

Read More

AS Dinilai Remehkan Ancaman Serangan Israel Ke Penyeberangan Rafah

Washington — 1miliarsantri.net : Amerika Serikat (AS) tampaknya meremehkan serangan mematikan Israel di Rafah, dengan mengatakan bahwa serangan tersebut sifatnya “terbatas” meskipun ada kekhawatiran atas nasib lebih dari 1,5 juta warga Palestina yang berlindung di kota Gaza selatan. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller kepada wartawan pada Jumat (10/5/2024) mengatakan bahwa AS masih menentang serangan besar-besaran Israel terhadap Rafah. Israel telah meningkatkan pemboman terhadap Rafah pada Senin, dan menewaskan puluhan orang setelah memerintahkan sekitar 100.000 penduduk di wilayah timurnya untuk mengungsi. Pasukan Israel juga menyerbu sisi Palestina di perbatasan Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir, yang berfungsi sebagai pintu gerbang utama bantuan kemanusiaan. “Operasi militer yang mereka lancarkan tadi malam hanya ditargetkan di gerbang Rafah. Bukan operasi di wilayah sipil yang mereka perintahkan untuk dievakuasi. Jadi kami akan terus menegaskan bahwa kami menentang operasi militer besar-besaran di Rafah,” ungkap Miller. Meski begitu, Miller mengakui bahwa serangan terhadap penyeberangan tersebut “tampaknya merupakan awal” dari serangan yang lebih besar. Serangan Israel menutup penyeberangan Rafah, sehingga semakin memperparah aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza. Sejak 9 Oktober, Israel telah mengintensifkan blokade terhadap wilayah tersebut, sehingga menyebabkan wilayah kantong Palestina berada di ambang kelaparan. Penyeberangan Rafah juga berfungsi sebagai pintu masuk bagi pekerja kemanusiaan yang masuk ke Gaza, dan orang-orang yang sakit kritis dan terluka menggunakannya untuk meninggalkan wilayah tersebut dan menerima perawatan di luar negeri. (riz) Baca juga :

Read More

Militer Israel Sudah Menguasi Semua Jalur Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Militer Israel telah menguasai Jalur Gaza di perbatasan Rafah dengan Mesir, dan melancarkan serangan di kota selatan tersebut seiring prospek kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas belum menemui titik temu. Brigade 401 Israel memasuki penyeberangan Rafah pada Selasa pagi, sehari setelah kelompok Palestina yang memerintah Gaza yakni Hamas mengatakan mereka menerima proposal gencatan senjata yang dimediasi Mesir-Qatar. Israel, sementara itu, bersikeras bahwa kesepakatan itu tidak memenuhi tuntutannya. Penyeberangan Rafah sangat penting bagi bantuan dan bagi mereka yang bisa melarikan diri ke Mesir. Para pemimpin Israel sudah lama mengantisipasi operasi militer di kota selatan, tempat sekitar 1,4 juta warga Palestina, termasuk lebih dari 600.000 anak-anak, berlindung, meskipun ada peringatan dari PBB, Amerika Serikat, Uni Eropa dan organisasi kemanusiaan internasional bahwa serangan tersebut akan menjadi bencana besar. Rekaman yang dirilis oleh militer Israel menunjukkan sebuah tank memasuki penyeberangan Rafah. Rincian video tersebut sesuai dengan ciri-ciri lokasi penyeberangan yang diketahui dan menunjukkan bendera Israel berkibar dari tank yang merebut daerah tersebut. Militer Israel mengatakan dalam jumpa pers pagi hari Selasa bahwa pasukan khusus mereka sedang memindai daerah tersebut dan mereka telah beroperasi sejak Senin malam di Rafah timur. Israel juga mengatakan sebagian besar orang telah dievakuasi dari wilayah operasi militer. Warga Palestina diinstruksikan melalui pesan teks berbahasa Arab, panggilan telepon dan selebaran untuk bergerak menuju al-Mawasi di pantai Laut Mediterania, di mana pihsk militer mengatakan telah mendirikan zona kemanusiaan dengan rumah sakit, tenda dan pasokan medis. Evakuasi dilakukan ketika militer Israel meningkatkan pemboman terhadap kota tersebut. Tank dan pesawat menggempur beberapa daerah dan setidaknya empat rumah di Rafah semalam, serta menewaskan 20 warga Palestina dan melukai beberapa lainnya, menurut pejabat kesehatan Palestina. Kemudian, tiga orang juga tewas dalam serangan udara Israel di sebuah rumah milik keluarga al-Darbi di sebelah barat kota Rafah. Militer Israel mengklaim pihaknya menyita penyeberangan Rafah setelah menerima informasi intelijen bahwa penyeberangan tersebut “digunakan untuk tujuan teroris”. Dikatakan bahwa selain membunuh 20 pejuang dan menghancurkan infrastruktur Hamas di daerah tersebut, pasukannya juga menemukan “tiga poros operasional”. “Pasukan Tim Tempur Divisi 401 dan Tim Tempur Divisi Brigade Givati terus beroperasi di wilayah tersebut melawan teroris dan infrastruktur teroris,” katanya dalam sebuah postingan di X. Tidak ada bukti yang diberikan untuk mendukung pernyataan tersebut, namun militer menuduh daerah sekitar penyeberangan Rafah digunakan untuk melancarkan serangan mortir yang menewaskan tiga tentara Israel dan melukai lainnya di dekat penyeberangan Karem Abu Salem, yang Israel sebut sebagai penyeberangan Kerem Shalom pada Minggu lalu. Namun sayap bersenjata Hamas mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz mengatakan negaranya sudah lama “menghancurkan” Hamas jika bukan karena tawanan yang ditahan di Gaza. “Masuknya tentara ke Rafah mendukung dua tujuan utama perang: membebaskan tawanan dan mengalahkan Hamas,” katanya di X. Di sisi lain, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian meminta Israel untuk “memperhatikan tuntutan besar komunitas internasional, berhenti menyerang Rafah, dan melakukan apa pun untuk menghindari bencana kemanusiaan yang lebih serius di Jalur Gaza”. Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi juga memperingatkan bahwa Israel “membahayakan kesepakatan [dengan Hamas] dengan membom Rafah”. Raja Yordania Abdullah II juga mengatakan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dalam pertemuan pribadi pada hari Senin bahwa serangan Israel di Rafah akan menyebabkan “pembantaian baru” terhadap warga sipil Palestina dan dapat menyebabkan perluasan konflik regional. (zul) Baca juga :

Read More

Banyak Mahasiswa Belgia dan Belanda Turut Gelar Aksi Pro Palestina

Amsterdam — 1miliarsantri.net : Beberapa mahasiswa di Belgia dan Belanda menduduki sebagian universitas Ghent dan Amsterdam sebagai protes perang Israel di Gaza. Para mahasiswa Eropa bergabung dalam aksi serupa di seluruh dunia yang dimulai di kampus-kampus Amerika Serikat (AS). Pada Selasa (7/5/2024) juru bicara University of Ghent (UGnet) mengonfirmasi laporan media setempat. Ia mengatakan sekitar 100 mahasiswa menduduki sebagian universitas tersebut. Ia menambahkan para mahasiswa mengatakan unjuk rasa akan digelar sampai 8 Mei. UGent tidak menyetujui permintaan mahasiswa menggelar unjuk rasa. Namun sejumlah pegawai dan profesor menandatangani surat terbuka mendukung protes tersebut dan mengecam keputusan universitas untuk melanjutkan hubungan dengan Israel. Media Belanda melaporkan mahasiswa University of Amsterdam (UvA) meminta kampus mereka dan Vrije Universiteit Amsterdam (VU) untuk menghentikan kerja sama ekonomi dan akademik dengan Israel. Sebelumnya dilaporkan mahasiswa-mahasiswi universitas terkemuka di Inggris, Oxford dan Cambridge mendirikan tenda-tenda protes pro-Palestina. Penyelenggara mengatakan aksi ini bagian dari solidaritas dengan rakyat Palestina. Mereka tidak menentukan sampaikan kapan tenda-tenda protes ini akan berdiri. Dikutip Aljazirah sekitar 50 mahasiswa mendirikan tenda-tenda protes di Oxford. Para mahasiswa juga mendirikan tenda media, penyegaran dan penyambutan. Mahasiswa Oxford keturunan Yahudi-Amerika Kendall Gardner mengatakan salah satu tuntutan utama mahasiswa adalah universitas “divestasi dari semua entitas dan pemilik saham yang mendukung atau terlibat dalam penjajahan, apartheid dan genosida Israel di Gaza.” Mereka juga menuntut Universitas Oxford berkomitmen untuk membangun kembali sektor pendidikan tinggi Gaza yang dipimpin Palestina. (ryl) Baca juga :

Read More

Lebih dari Satu Juta Warga Terpaksa Meninggalkan Rumah

Rafah — 1miliarsantri.net : Didera hujan dan ketakutan akan bom yang terus dilancarkan tentara Israel, warga sipil Palestina keluar dari tenda-tenda atau rumah di Rafah. Mereka mencari tempat pengungsian ke tempat lain menjelang operasi militer Israel ke kota paling selatan Jalur Gaza itu. Sebagian warga memasukan anak-anak dan barang-barang mereka ke gerobak keledai, beberapa ke mobil, sisanya hanya berjalan kaki. Kasur ditumpuk di atas kap mobil dan memasukan kursi roda di bagasi. Banyak pengungsi yang sudah pindah lebih dari satu kali selama serangan Israel ke Gaza tujuh bulan terakhir. Sebagian besar kantong pemukiman itu menjadi reruntuhan bangunan yang hancur dibom. “Penjajah Israel memberitahu warga untuk pergi Rafah dan ini tempat yang aman. Hari ini mereka memberitahu kami untuk keluar dari Rafah, kemana orang-orang akan pergi,” kata salah satu pengungsi Abu Ahmed, Selasa (7/5/2024). Hal ini ia sampaikan saat berada di samping tenda-tenda pengungsi yang berlumpur karena diguyur hujan semalaman. Israel memerintahkan warga Palestina untuk melakukan evakuasi dari Rafah pada Senin dini hari. Tampaknya sebagai persiapan serangan untuk menyerang kota perbatasan Gaza-Mesir itu. Israel mengklaim terdapat ribuan pasukan Hamas di Rafah dan kemungkinan lusinan sandera yang ditawan selama serangan mendadak 7 Oktober 2023. Lebih dari satu juta yang orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat serangan-serangan Israel mengungsi ke Rafah. Militer Israel memberitahu mereka untuk pindah ke tempat yang disebut “perluasan zona humaniter” sejauh 20 kilometer. Meski warga masih berkemas dan pindah, suara ledakan serangan udara sudah terdengar di timur Rafah. Asap dan debu memberikan latar belakang menakutan selama evakuasi paksa. “Kami tidak tidur sejak pukul 2 pagi karena pengeboman itu, dan kami bangun di pagi hari untuk menemukan hujan mengguyur deras, kami tenggelam dalam hujan, pakaian dan barang-barang kami, kami keluar ke jalan. Kami juga bangun untuk berita yang lebih buruk, seruan untuk meninggalkan Rafah. Genosida terbesar akan terjadi, bencana terbesar akan terjadi di Rafah,” kata salah satu pengungsi Aminah Adwan. Sementara itu Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan sudah lebih dari 34 ribu orang tewas akibat serangan Israel ke kantong pemukiman rakyat Palestina itu sejak Oktober lalu. (zul) Baca juga :

Read More

Dibutuhkan Waktu Panjang dan Biaya Besar Untuk Membangun Kembali Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Untuk membangun Gaza kembali pasca perang Israel dengan Hamas, selain membutuhkan waktu jangka panjang dalam kurun waktu sekitar 20 tahun, menurut PBB dibutuhkan juga biaya mencapai 50 Miliar dollar atau setara dengan 800 Triliun rupiah menurut kurs sekarang. “Harga pembangunan kembali meningkat secara eksponensial akibat pertempuran yang terjadi setiap hari, biaya tersebut untuk menyediakan tempat penampungan sementara dan layanan dasar lainnya setelah perang berakhir setidaknya berjumlah 2 Miliar dollar,” terang Abdullah Al Dardari, Direktur Negara – negara Arab di Program Pembangunan PBB kepada media, Senin (06/05/2024). Pernyataan Al Dadari tersebut menyusul dengan terbitnya laporan Program Pembangunan yang memperingatkan bahwa Gaza dapat berakhir dengan kehilangan generasi, mengingat perkiraan penggantian fasilitas layanan kemanusiaan yang telah banyak yang hancur seperti sekolah, rumah sakit, dan fasilitas penunjang lainnya. Bahkan, membutuhkan puluhan tahun untuk mengembalikan kondisi seperti sebelum perang dimulai. Jutaan warga sipil telah mengungsi akibat perang yang dimulai setelah kelompok militan Hamas saling menyerang dengan Israel pada 7 Oktober. Lebih dari 34.000 warga Palestina telah terbunuh dalam kampanye militter yang dilakukan oleh Israel untuk menghancurkan Hamas yang telah menghancurkan Jalur Gaza, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas. Telah banyak korban sipil yang berjatuhan akibat serangan yang diluncurkan oleh Israel di antaranya anak – anak, perempuan, serta lansia. Selain itu, infrastruktur yang hancur akibat roket – roket misil yang diluncurkan sehingga banyak warga sipil yang menempati tempat tersebut kehilangan tempat tinggalnya. Berbagai upaya untuk mencapai kedamaian antara Israel-Hamas dan negara – negara Timur Tengah ikut membantu untuk memediatori kedua belah pihak yang sedang berkonflik tersebut. Terdapat tawaran – tawaran negosiasi seperti melaksanakan gencatan senjata hingga membebaskan para sandera yang ditahan oleh masing – masing pihak. (zul) Baca juga :

Read More