Serangan Udara Israel Tewaskan Dua Sandera di Rafah

Gaza — 1miliarsantri.net : Brigade Ezzedine al-Qassam, sayap militer Hamas, mengumumkan bahwa serangan udara Israel di Rafah telah menewaskan dua sandera Israel yang ditahan di Gaza. Kelompok tersebut, dalam video yang diunggah di saluran Telegram mereka, tidak mengungkapkan nama-nama orang yang dikatakan tewas atau memberikan bukti apapun. Pernyataan Brigade Ezzedine al-Qassam menyebutkan, “Pemerintah Israel tidak ingin para sandera kalian kembali, kecuali dalam peti mati.” Israel berhasil menyelamatkan empat sandera yang ditahan Hamas dalam operasi pembebasan sandera di al-Nuseirat, Gaza tengah, pada tanggal 8 Juni. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 250 warga Palestina tewas dalam serangan tersebut. Perang di Gaza dimulai ketika militan Hamas menyerang Israel selatan pada tanggal 7 Oktober, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang, menurut perhitungan Israel. Israel membalas dengan serangan militer ke Jalur Gaza yang telah menewaskan lebih dari 37.000 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Israel menyatakan bahwa kampanye mereka bertujuan untuk melenyapkan Hamas sebagai ancaman dan membebaskan para sandera yang masih ditahan. (zul) Baca juga :

Read More

Seluruh Dunia Sudah Mengetahui Kejahatan Israel

Gaza — 1miliarsantri.net : Kejahatan perang dan genosida yang terus dilanjutkan Israel di Jalur Gaza membuat negara itu semakin terasing di antara negara-negara dunia. Dengan korban jiwa yang telah mencapai lebih dari 37 ribu jiwa, kebanyakan anak-anak dan perempuan, banyak negara kini terbuka matanya atas kejahatan negara Zionis tersebut. Warga Palestina dan negara-negara mayoritas Muslim sejak lama menyoroti kejahatan penjajahan Israel sejak 1948 silam. Namun, dengan kekejaman terkini yang mendapat sorotan penuh di berbagai media, negara-negara barat tak bisa lagi memalingkan muka. “Sudah terlalu lama komunitas internasional memalingkan muka. Mereka berpikir bahwa tanpa menyelesaikan konflik ini kita bisa hidup damai dan stabil. Apa yang terjadi selama delapan bulan ini telah membuka mata dunia,” kata Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez pada konferensi pers semalam. PBB menambahkan tentara Israel ke dalam “daftar hitam” negara-negara yang melakukan kekerasan terhadap anak-anak dalam konflik bersenjata pekan lalu. Chris Guinness, mantan juru bicara badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), mengatakan ini adalah “daftar yang paling memalukan”. Menurutnya, masuk ke dalam “daftar hitam” PBB yang berisi negara-negara yang melakukan kekerasan terhadap anak-anak akan meningkatkan isolasi negara tersebut dan semakin menggerus reputasi internasionalnya. “Ini adalah daftar hitam terburuk yang dialami Israel karena pembunuhan anak-anak melanggar tabu. Beberapa kelompok dan negara yang masuk dalam daftar ini antara lain Boko Haram, ISIS, al-Qaeda, Rusia, Myanmar. Hal ini menempatkan Israel dalam daftar rezim dan kelompok yang paling mengerikan di dunia. Hamas dan Jihad Islam juga ada di sana, termasuk pemukim Israel atas apa yang mereka lakukan di Tepi Barat,” ungkap Gunness. Menurutnya, semakin terungkapnya kejahatan Israel akan memiliki konsekuensi. Ia mengingatkan bahwa komunitas internasional Mahkamah Internasional (ICJ), Mahkamah Pidana Internasional (ICC), dan laporan Dewan HAM PBB yang akan memukul Israel. “Saya pikir seiring dengan perkembangannya, isolasi dan status paria Israel akan terus berlanjut, dan terus ditegaskan kembali,” katanya. “Akan ada konsekuensi ketika masyarakat melihat secara keseluruhan apa yang terjadi,” tambahnya. Pada hari Senin, Dewan Keamanan PBB dengan suara bulat menyetujui resolusi pertamanya yang mendukung rencana gencatan senjata, namun baik Israel maupun Hamas belum sepenuhnya menyetujuinya. Sementara, Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) mendesak dunia bertindak atas kejahatan Israel. Seruang ini muncul ketika pimpinan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pekan ini memperingatkan bahwa 8.000 anak-anak Palestina di bawah usia lima tahun telah didiagnosis menderita kekurangan gizi akut di Gaza. “Pemerintah kami (AS) terlibat dalam salah satu kekejaman paling biadab yang terjadi di hadapan dunia dalam beberapa tahun terakhir,” Wakil Direktur Eksekutif CAIR Edward Ahmed Mitchell mengatakan dalam sebuah pernyataan. Organisasi Kesehatan Dunia telah memverifikasi bahwa ribuan anak di Gaza kini menghadapi kelaparan karena dukungan pemerintahan Biden terhadap kampanye genosida dan pembersihan etnis pemerintah Israel. “Cukup sudah. Sudah waktunya bagi Presiden Biden untuk berhenti melakukan kekejaman ini, mulai menggunakan pengaruh Amerika, dan memaksa pemerintah Israel untuk mengakhiri perang genosida,” lanjutnya. Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) telah memperingatkan bahwa gambaran kebrutalan perang Israel di Gaza bakal menjadi hal biasa sehingga ada bahaya kengerian tersebut menjadi “normal”. “Kita semua sudah terbiasa dengan gambaran kebrutalan dan kehancuran di Gaza sehingga hal ini kini menjadi hal yang normal,” kata Suze van Meegen, kepala operasi NRC. Bahkan setelah lebih dari delapan bulan kekerasan, skala dan keganasan serangan terhadap warga sipil di Wilayah Tengah Gaza minggu lalu sama sekali tidak normal. Tidaklah normal jika seluruh penduduk hidup dalam ketakutan dan kesedihan yang luar biasa. Tidaklah wajar jika Anda merasa keselamatan Anda berada pada risiko yang lebih besar di sekolah atau rumah sakit dibandingkan di tempat lain. Tidak normal jika suatu komunitas menguburkan ratusan orang setiap minggunya,” kata van Meegen. Penggunaan ‘zona kemanusiaan’ yang dideklarasikan secara sepihak sebagai medan pertempuran minggu lalu mengkhianati segala bentuk perlindungan sipil atau penghormatan terhadap ruang kemanusiaan. Direktur hak-hak anak HRW, Jo Becker, mengatakan dimasukkannya Israel ke dalam daftar negara-negara yang melakukan “pelanggaran berat terhadap anak-anak” dalam konflik bersenjata oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres “sepenuhnya dapat dibenarkan”. Meskipun PBB telah mengaitkan 8.700 korban anak-anak dengan militer Israel antara tahun 2015 dan 2022, pada 2023, skala pelanggaran tampaknya terlalu besar untuk diabaikan oleh Sekretaris Jenderal. Becker mengatakan Sekretaris Jenderal PBB telah dikritik di masa lalu karena “menghilangkan beberapa pihak dari ‘daftar yang memalukan’ meskipun ada bukti pelanggaran dalam laporan PBB”. Kini, Dewan Keamanan PBB harus meminta pertanggungjawaban mereka dan memperjelas bahwa anak-anak dilarang terlibat dalam konflik bersenjata. (zul) Baca juga :

Read More

Berulang Kali Pasukan IDF Dijebak dan Diledakkan di Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Perlawanan para pejuang Palestina di Jalur Gaza masih terus berlangsung di tengah bombardir tanpa henti yang dilakukan pasukan penjajahan Israel (IDF). Dua grup pasukan penjajah disebut kembali jadi sasaran jebakan bom di Jalur Gaza. Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas, mengumumkan Jumat (14/6/2024) malam bahwa para pejuangnya mampu meledakkan sebuah rumah dan terowongan dengan bahan peledak d, di al-Zaytun di Kota Gaza. Operasi itu diklaim menewaskan sejumlah pasukan dan membuat lainnya terluka. Al-Qassam mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka meledakkan sebuah rumah yang telah dipasangi jebakan, setelah sebuah pasukan membarikade diri di dalamnya, di sebelah timur lingkungan Al-Zaytoun. Mereka menambahkan bahwa pejuangnya melihat helikopter Black Hawk mendarat di sekitar rumah untuk mengevakuasi korban luka dan tewas. Al-Qassam juga mengumumkan bahwa para pejuangnya mampu meledakkan lubang terowongan yang telah dipasangi jebakan oleh pasukan Israel, membunuh dan melukai anggotanya, di sebelah timur al-Zaytun di Kota Gaza. Brigade Al-Qassam juga mengatakan bahwa mereka menargetkan kumpulan pasukan pendudukan yang menembus timur lingkungan Al-Zaytun dengan mortir 120 mm. Kamis (13/6/2024), Al-Qassam menyiarkan adegan yang dikatakannya menunjukkan pihaknya membom pasukan pendudukan yang memasuki wilayah timur lingkungan Al-Zaytun dengan mortir. Al-Qassam juga mengatakan bahwa pihaknya juga menargetkan pasukan musuh yang ditempatkan di selatan dan barat daya lingkungan Tal Al-Sultan di kota Rafah, selatan Jalur Gaza, dengan mortir. Diumumkan juga bahwa tank Merkava Israel menjadi sasaran misil Al-Yassin 105 di Tal Al-Sultan, sebelah barat kota Rafah. Sebelumnya, Brigade Al-Qassam mengumumkan dalam video pendek terbunuhnya dua tahanan Israel dalam pemboman Israel di kota Rafah beberapa hari lalu. Selama lebih dari delapan bulan, Israel melanjutkan perangnya di Gaza. Menurut Aljazirah Arabia, para ahli internasional menggambarkan perang pemusnahan, yang menyebabkan 37 ribu lebih orang menjadi syuhada dan puluhan ribu lainnya terluka. Serangan Israel juga menghancurkan sekitar 70 persen infrastruktur sipil, termasuk rumah, sekolah, dan rumah sakit. Israel terus melakukan serangan meskipun terdapat beberapa resolusi internasional dari Dewan Keamanan PBB dan Mahkamah Internasional untuk menghentikan operasi militer. Ini bukan kali pertama pasukan Israel dijebak di rumah dan diledakkan. Baru sepekan lalu, Brigade al-Qassam mengumumkan bahwa para pejuangnya mampu meledakkan sebuah rumah jebakan tempat pasukan Israel bersembunyi di kamp Shabura di kota Rafah, selatan Jalur Gaza. Serangan itu disebut membunuh dan melukai anggota IDF. Pasukan penjajahan Israel mengakui empat tentara Israel tewas akibat ledakan di sebuah bangunan jebakan di Rafah, Gaza selatan pada Senin (10/6/2024) itu. Salah satu yang tewas disebut adalah komandan kompi dari Brigade Givati. Lembaga pemikir pertahanan yang berbasis di AS, Institute for the Study of War (ISW) dan Critical Threats Project (CTP), mengatakan bahwa amandemen proposal gencatan senjata Hamas baru-baru ini menunjukkan bahwa kelompok bersenjata Palestina “yakin bahwa mereka menang di Jalur Gaza” . “Pejabat senior Hamas telah berulang kali menyatakan keyakinan bahwa Hamas akan selamat dari perang, meskipun ada tekanan militer Israel. Pasukan Hamas di seluruh Jalur Gaza tetap efektif dalam pertempuran dan berusaha untuk membentuk kembali kekuatan mereka. Hamas juga mulai mencoba menegaskan kembali otoritas politiknya di beberapa wilayah,” kata ISW/CTP dalam laporan mereka di Gaza. Para pemantau juga mencatat bahwa pasukan Israel menyelesaikan operasi selama seminggu di lingkungan Zeitoun dan Sabra di Kota Gaza pada hari Kamis dan bahwa Israel kini telah “melakukan setidaknya lima operasi pembersihan berbeda” di Zeitoun sejak dimulainya perang. Pejuang Hamas melancarkan serangan roket dan mortir terhadap pasukan Israel yang dikerahkan di sepanjang Koridor Netzarim pada hari Kamis, sementara para pejuang melakukan serangan mortir terhadap pasukan Israel yang bergerak ke arah barat Rafah. Jihad Islam Palestina menembakkan roket ke kota-kota Ashdod dan Ashkelon di Israel, serta sejumlah kota-kota kecil di Israel, dan menyerang pasukan Israel di perbatasan Karem Abu Salem (Kerem Shalom) dengan Gaza. Sementara itu, unit rudal Brigade Abu Ali Mustafa dari kelompok Front Populer Pembebasan Palestina (PFLP) menargetkan kumpulan IDF di sekitar penyeberangan Karem Abu Salem di timur Rafah dengan rentetan roket 107 mm sebagai tanggapan atas kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina. Jumat (14/6/2024) pagi, Brigade al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, menargetkan pasukan pendudukan Israel di Rafah tengah menggunakan granat anti-personel Barq. Media militer Brigade al-Quds merilis rekaman yang mendokumentasikan penargetan tentara dan peralatan Israel di kota tersebut. Brigade Syuhada al-Aqsa yang terafiliasi dengan Fatah menargetkan pasukan pendudukan Israel di sekitar penyeberangan Karem Abu Salem, sebelah timur Rafah, dengan tembakan mortir berat. Di Netzarim, Brigade al-Quds menargetkan pusat komando dan kendali pasukan pendudukan Israel dengan roket 107mm. Brigade Martir al-Aqsa juga menargetkan pos komando pasukan pendudukan Israel lainnya di daerah tersebut dengan beberapa mortir. Brigade Perlawanan Nasional-Pasukan Omar al-Qasim, sayap militer Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina, membenarkan bahwa mereka juga menargetkan posisi Israel di sebelah barat Netzarim dengan mortir. (zul) Baca juga :

Read More

Pejabat Israel Klaim Hamas Menolak Proposal Gencatan Senjata

Gaza — 1miliarsantri.net : Seorang pejabat Israel memberikan pernyataan Hamas menolak proposal gencatan senjata di Jalur Gaza dari Presiden AS Joe Biden. Respons penolakan Hamas diterima Israel melalui perantara. Hamas disebutkan mengubah semua parameter utama dalam proposal, sehingga proposalnya berbeda jauh dari yang diajukan Biden. Hamas secara formal merespons terkait proposal gencatan senjata Amerika Serikat untuk perang delapan bulan di Jalur Gaza. Israel mengatakan respons tersebut sama dengan penolakan, sementara seorang pejabat Hamas menyatakan bahwa kelompok Palestina itu hanya mengulangi tuntutan lama yang tidak terpenuhi oleh rencana saat ini. Mesir dan Qatar menyatakan telah menerima respons Hamas terhadap proposal yang diajukan oleh Presiden AS Joe Biden pada 31 Mei, namun tidak mengungkapkan isinya. Amerika Serikat menyatakan bahwa Israel juga menerima proposalnya, tetapi Israel belum mengatakannya secara terbuka. Israel, yang terus melakukan serangan di bagian tengah dan selatan Gaza, di antara yang paling berdarah dalam perang ini, berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak akan berkomitmen untuk mengakhiri kampanye mereka di Gaza sebelum Hamas dihancurkan. Sebelumnya, seorang pejabat non-Israel yang mengetahui masalah ini, yang menolak untuk diidentifikasi, mengatakan bahwa Hamas mengusulkan jadwal baru untuk gencatan senjata permanen dengan Israel dan penarikan pasukan Israel dari Gaza, termasuk Rafah. (zul) Baca juga :

Read More

Diambang Perang Terbuka Hizbullah – Israel

Tell Aviv — 1miliarsantri.net : Militer Israel menyatakan pada Selasa (4/6/2024) malam bahwa keputusan melakukan perang terbuka dengan kelompok Hizbullah di Lebanon memasuki pembahasan tahap akhir. Sementara pihak Hizbullah menyatakan siap meladeni ancaman perang terbuka tersebut. Ancaman perang ini terkait saling balas serangan antara kedua pihak yang kian intens di perbatasan Lebanon Israel. Sejak awal pekan ini, rudal-rudal Hizbullah telah menyebabkan kebakaran hebat di utara Israel. Hizbullah menyatakan serangan-serangan itu untuk menekan agar Israel mundur dari Gaza. Kabinet perang Israel bertemu pada Selasa malam untuk membahas perkembangan terbaru di sepanjang perbatasan dengan Lebanon di tengah kritik terhadap pemerintah karena gagal membawa keamanan ke wilayah tersebut setelah konflik selama berbulan-bulan. Kepala Staf IDF Letjen Herzi Halevi mengatakan pada Selasa bahwa Israel makin dekat dengan keputusan mengenai serangan harian Hizbullah di Israel utara. Pihaknya siap setelah proses pelatihan yang sangat baik hingga tingkat Staf Umum untuk melakukan serangan di utara. “Kami mendekati titik di mana keputusan harus dibuat, dan IDF siap dan sangat siap untuk mengambil keputusan ini. Kami telah menyerang selama delapan bulan, dan Hizbullah harus membayar harga yang sangat, sangat tinggi. Kekuatannya telah meningkat dalam beberapa hari terakhir dan kami bersiap setelah melalui proses pelatihan yang sangat baik untuk melakukan serangan di utara,,” terang Halevi di pangkalan militer di Kiryat Shmona. Sebelumnya, menteri sayap kanan Israel Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir juga mendesak tindakan militer yang lebih jauh ke Lebanon. “Tidak akan ada perdamaian di Lebanon jika tanah kami terkena dampaknya dan orang-orang di sini dievakuasi. Mereka membakar kita di sini, kita harus membakar seluruh benteng Hizbullah, menghancurkannya. Perang,” kata Ben-Gvir setelah tur di kota utara Kiryat Shmona dalam pernyataan video yang dibagikan di X. Ben-Gvir dan Smotrich adalah anggota kabinet keamanan Israel tetapi bukan anggota kabinet perang. Sebaliknya Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem menyatakan bahwa pihaknya siap melawan jika Israel menginginkan perang habis-habisan. “Keputusan kami bukan untuk memperluas perang, namun kami akan melawannya jika hal itu dipaksakan kepada kami. Setiap perluasan perang Israel di Lebanon akan mengakibatkan kehancuran, kehancuran, dan pengungsian di Israel,” kata Qassem. Qassem membantah laporan mengenai penarikan pasukan elit ‘Pasukan Radwan’ dari perbatasan dengan Israel, dan menekankan bahwa Hizbullah baru menggunakan “sebagian kecil dari kemampuannya, sebanding dengan sifat pertempuran.” Tim pemadam kebakaran Israel pada Selasa terus memadamkan api besar, yang dipicu oleh roket yang ditembakkan dari Lebanon selatan. Kebakaran melanda beberapa permukiman dan lokasi militer di Galilea Atas dan Dataran Tinggi Golan, sehingga memaksa evakuasi. Tentara Israel melaporkan bahwa pasukannya mampu mengendalikan titik api, namun situasinya tetap berbahaya, dengan api masih berkobar di sekitar beberapa pemukiman, termasuk Kiryat Shmona, di mana api telah mencapai beberapa perumahan. Penyebaran api memerlukan diterjunkannya sejumlah besar pemadam kebakaran serta pasukan tentara dan polisi. Banyak warga yang dievakuasi dari Kiryat Shmona dan permukiman lainnya. Tentara Israel membenarkan bahwa enam tentara cadangan terluka karena menghirup asap. Namun menurut Aljazirah, Rumah Sakit Sefad mengonfirmasi bahwa mereka menerima sedikitnya 16 orang yang terluka dalam kebakaran Kiryat Shmona, termasuk tujuh tentara. Sejak tanggal 8 Oktober, pasukan pimpinan Hizbullah hampir setiap hari menyerang komunitas dan pos militer Israel di sepanjang perbatasan, dan kelompok tersebut mengatakan bahwa mereka melakukan hal tersebut untuk menekan Israel agar menghentikan serangan ke Gaza. Sejauh ini, bentrokan di perbatasan telah mengakibatkan 10 kematian warga sipil di pihak Israel, serta tewasnya 14 tentara dan cadangan IDF. Ada juga beberapa serangan dari Suriah, tanpa ada korban jiwa. Hizbullah telah menyebutkan 328 anggotanya yang dibunuh oleh Israel selama pertempuran yang sedang berlangsung, sebagian besar di Lebanon tetapi beberapa juga di Suriah. Di Lebanon, 62 anggota kelompok Hizbullah lainnya, seorang tentara Lebanon, dan puluhan warga sipil telah terbunuh. Israel telah menduduki sebagian wilayah Lebanon selama beberapa dekade dan baru meninggalkan negara itu pada tahun 2000, menyusul perlawanan keras Lebanon di bawah kepemimpinan Hizbullah. Mereka berusaha untuk menduduki kembali Lebanon pada tahun 2006 namun gagal dalam apa yang dianggap Lebanon sebagai kemenangan besar melawan Israel. Namun Israel tetap menduduki sebagian wilayah Lebanon, yakni wilayah Peternakan Sheeba. Hizbullah telah berjanji untuk memulihkan setiap inci wilayah Lebanon yang telah diduduki Israel bertentangan dengan hukum internasional. (zul/AFP) Baca juga :

Read More

Menteri Pertahanan Israel Mengundurkan Diri

Israel — 1miliarsantri.net : Mantan jenderal dan menteri pertahanan Israel, Benny Gantz mengumumkan pengunduran dirinya dari pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah gagal mendapatkan persetujuan Netanyahu atas rencana pasca-perang untuk Gaza, yang dituntutnya pada bulan Mei. Keputusannya untuk mundur tidak diperkirakan akan menjatuhkan pemerintahan, sebuah koalisi yang mencakup partai-partai religius dan ultra-nasionalis, tetapi menandai pukulan politik pertama bagi Netanyahu delapan bulan setelah perang Gaza melawan militan Palestina Hamas. “Netanyahu menghalangi kami untuk mencapai kemenangan yang sebenarnya. Itulah sebabnya kami meninggalkan pemerintahan darurat hari ini dengan hati yang berat,” ungkap Gantz. Perdana Menteri Israel itu merespons dalam beberapa menit, mengatakan: “Benny, ini bukan waktunya untuk meninggalkan pertempuran – ini waktunya untuk menyatukan kekuatan.” Pada hari Sabtu, beberapa jam setelah pasukan Israel menyelamatkan empat sandera dari Gaza, Netanyahu telah mendesak Gantz untuk tidak mengundurkan diri. Gantz, yang berusia 65 tahun dianggap sebagai favorit untuk membentuk koalisi jika pemerintahan Netanyahu dijatuhkan dan pemilu awal diadakan. Partai Persatuan Nasional yang berhaluan tengah yang dipimpinnya sempat mengajukan rancangan undang-undang pekan lalu untuk membubarkan Knesset, parlemen Israel, dan mengadakan pemilihan umum dini. Mantan panglima tentara itu, salah satu rival utama Netanyahu sebelum bergabung dengan kabinet perang, berkali-kali mendesak Israel untuk mencapai kesepakatan guna membebaskan semua sandera dan menjadikannya “prioritas.” Sejak gencatan senjata selama seminggu pada November, yang menyaksikan pembebasan puluhan sandera, Israel gagal mencapai kesepakatan lebih lanjut dan terus melanjutkan kampanye militer yang sengit di Gaza. “Israel dengan jelas tidak menjadikannya prioritas, jadi itu adalah patahan utama pertama ketika Gantz mengindikasikan bahwa dia akan pergi,” kata analis politik Mairav Zonszein. Meski pemerintahan Netanyahu tidak terancam runtuh, keluarnya Gantz membuat pemerintah kehilangan “elemen moderat” satu-satunya dalam koalisi secara keseluruhan, katanya. “Netanyahu akan tersisa hanya dengan menteri-menteri sayap kanan jauh, dan masih harus dilihat peran apa yang akan mereka mainkan.” Salah satu di antaranya, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, segera menuntut untuk masuk ke kabinet perang menggantikan Gantz. Netanyahu juga menghadapi tekanan yang semakin besar dari sekutu koalisi sayap kanannya, yang mengancam akan mengundurkan diri dari pemerintahan jika dia melanjutkan kesepakatan pembebasan sandera yang digariskan Presiden AS Joe Biden bulan lalu. Ben Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich bersikeras agar pemerintah tidak memasuki kesepakatan apa pun dan melanjutkan perang hingga tercapai tujuan akhir menghancurkan Hamas. Koalisi berkuasa dengan mayoritas tipis 64 dari 120 kursi di parlemen Israel dan bergantung pada suara sayap kanan. Perang di Gaza dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober, yang mengakibatkan tewasnya 1.194 orang, sebagian besar warga sipil, menurut perhitungan AFP berdasarkan angka resmi Israel. Militan juga menawan 251 sandera, 116 di antaranya masih di Gaza, termasuk 41 orang yang militer katakan telah tewas. Serangan balasan militer Israel telah menewaskan setidaknya 37.084 orang di Gaza, juga sebagian besar warga sipil, menurut kementerian kesehatan wilayah itu. (mir) Baca juga :

Read More

Paus Fransiskus Desak Perdamaian Hamas dan Israel

Gaza — 1miliarsantri.net : Paus Fransiskus mendesak agar bantuan kemanusiaan segera bisa terkirim ke warga Palestina di Gaza serta meminta agar Israel dan Hamas segera menerima proposal gencatan senjata dan pelepasan sandera. Dalam pemberkatan Minggu siang, Paus Fransiskus juga berterima kasih kepada Yordania, yang minggu ini akan menjadi tuan rumah konferensi bantuan kemanusiaan internasional untuk warga Palestina. “Saya mendorong komunitas internasional untuk bertindak secara mendesak, dengan segala cara, untuk membantu warga Gaza yang telah lelah akibat perang. Bantuan kemanusiaan harus diizinkan untuk mencapai mereka yang membutuhkan, dan tidak seorang pun boleh menghalanginya,” ungkapnya. Dia bernostalgia pada ulang tahun ke-10 dari doa perdamaian yang diselenggarakannya di Taman Vatikan. Kegiatan ini dihadiri oleh Presiden Israel saat itu Shimon Peres dan pemimpin Palestina Mahmoud Abbas. “Pertemuan ini menunjukkan bahwa berjabat tangan itu mungkin, dan untuk membuat perdamaian, Anda membutuhkan keberanian – jauh lebih banyak keberanian daripada untuk membuat perang,” katanya. Paus Fransiskus mendukung proposal gencatan senjata dan berharap syarat-syaratnya segera diterima oleh kedua belah pihak, meskipun dia mengakui negosiasi “tidak mudah.” “Saya berharap proposal perdamaian di semua front yang telah diajukan dan untuk pelepasan sandera akan segera diterima demi kepentingan warga Palestina dan Israel,” pungkasnya. (zul) Baca juga :

Read More

Tentara Israel Kembali Serang Fasilitas Sekolah

Gaza — 1miliarsantri.net : Pasukan zionis Israel melancarkan serangan pada hari Jumat (7/6/2024) terhadap sebuah sekolah yang dioperasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di wilayah yang berdekatan dengan Kota Gaza. Ini merupakan fasilitas pengungsian kedua yang diserang zionis Israel dalam kurun waktu dua hari berturut-turut. Tentara Israel mengatakan serangan itu menargetkan “teroris” Hamas yang beroperasi dari kontainer di lingkungan sekolah yang dioperasikan oleh badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, di kamp pengungsi al-Shati di utara Gaza. Sebuah Kantor media mengatakan pesawat Israel telah menyerang sekolah itu, menewaskan tiga orang dan melukai tujuh orang. Pada Kamis, serangan Israel menghantam sekolah UNRWA lainnya, di Gaza tengah, di mana rumah sakit mengatakan 37 orang tewas. UNRWA telah menjadi kunci dalam operasi bantuan di Jalur Gaza yang dikepung selama perang delapan bulan antara Israel dan Hamas, dan fasilitas lembaga di seluruh wilayah itu telah dijadikan tempat pengungsian bagi warga sipil yang mengungsi. Tentara Israel telah berulang kali menuduh Hamas dan militan Gaza lainnya bersembunyi di sekolah dan rumah sakit, tuduhan yang disangkal oleh kelompok itu. Hamas dalam sebuah pernyataan mendesak penyelidikan internasional “atas kejahatan ini” dan menuntut “pertanggungjawaban dan hukuman” bagi pemimpin Israel. Banyak bangunan UNRWA memiliki cukup ruang untuk menampung banyak orang, dan warga Gaza telah mengungsi di sana dengan berpikir fasilitas PBB relatif aman dari pemboman. Namun juru bicara UNRWA Juliette Touma mengatakan kepada AFP pada Jumat bahwa “lebih dari 180 fasilitas UNRWA, di antaranya banyak tempat pengungsian bagi pengungsi, telah diserang sejak perang dimulai.” “Akibatnya, lebih dari 440 orang tewas saat berlindung di bawah bendera PBB,” katanya. UNRWA membagikan koordinat semua bangunannya di Gaza kepada semua pihak dalam konflik, termasuk tentara Israel, tambah Touma. Sebagai informasi, perang antara Israel dan Hamas telah dimulasi sejak 7 Oktober, yang mengakibatkan 1.194 orang tewas, sebagian besar warga sipil, menurut perhitungan AFP berdasarkan angka resmi Israel. Invasi balasan Israel telah menewaskan setidaknya 36.731 orang di Gaza, juga sebagian besar warga sipil, menurut kementerian kesehatan wilayah itu. (zul/AFP) Baca juga :

Read More

Hamas Meragukan Kesungguhan Rencana Gencatan Senjata Biden untuk Gaza

Gaza — 1miliarsantri.net : Seorang pejabat senior Hamas pada Kamis menyatakan bahwa rencana gencatan senjata Gaza yang diusulkan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden adalah “hanya kata-kata” dan kelompok militan Palestina tersebut belum menerima komitmen tertulis terkait gencatan senjata tersebut. Minggu lalu Biden mengajukan apa yang dilabelinya sebagai rencana tiga fase Israel yang akan mengakhiri konflik, membebaskan semua sandera, dan mengarah pada rekonstruksi wilayah Palestina yang hancur tanpa Hamas berkuasa. Namun Osama Hamdan, pejabat Hamas yang berbasis di Beirut, mengatakan: “Tidak ada proposal — mereka hanya kata-kata yang diucapkan Biden dalam pidatonya.” “Sejauh ini, Amerika belum menyajikan apa pun yang terdokumentasi atau tertulis yang mengikat mereka pada apa yang dikatakan Biden dalam pidatonya,” katanya dari ibu kota Libanon itu. Hamdan mengatakan Biden “mencoba menutupi penolakan Israel” atas kesepakatan lain yang ditawarkan lebih awal pada Mei, yang telah disetujui Hamas. Dia mengatakan Hamas bersedia menerima kesepakatan apa pun yang memenuhi tuntutan utama gerakan mereka, yaitu gencatan senjata permanen di Gaza dan penarikan total pasukan Israel dari wilayah itu. Segera setelah Biden mengungkapkan rencananya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan peta jalan itu hanya “sebagian”. Amerika Serikat, bersama dengan Qatar dan Mesir, telah terlibat dalam negosiasi selama berbulan-bulan atas rincian gencatan senjata di Gaza. Perang di Gaza dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober, yang mengakibatkan 1.194 orang tewas, kebanyakan warga sipil. Militan juga menyandera 251 orang, 120 di antaranya masih di Gaza, termasuk 41 orang yang menurut tentara telah tewas. Invasi militer Israel di Gaza sejak itu telah menewaskan setidaknya 36.654 orang, juga kebanyakan warga sipil, menurut kementerian kesehatan wilayah tersebut. (zul) Baca juga :

Read More

Biden Umumkan Proposal Gencatan Gaza ke Publik Tanpa Izin Israel

Washington — 1miliarsantri.net : Presiden Joe Biden telah mengumumkan proposal gencatan senjata Gaza kepada publik tanpa terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel. Proposal ini, yang dikembangkan bersama oleh Israel dan Amerika Serikat, juga telah dikirimkan kepada Hamas sebelum Biden membuat pengumuman tersebut. Keputusan untuk mengumumkan secara sepihak – sebuah langkah yang tidak biasa bagi Amerika Serikat terhadap sekutu dekat – adalah disengaja, kata para pejabat, dan mempersempit ruang bagi Israel atau Hamas untuk mundur dari kesepakatan tersebut. “Kami tidak meminta izin untuk mengumumkan proposal itu. Kami memberitahu Israel bahwa kami akan memberikan pidato tentang situasi di Gaza. Kami tidak masuk ke detail besar tentang apa itu,” kata seorang pejabat senior AS, yang diberi anonimitas untuk berbicara secara bebas tentang negosiasi tersebut. Selama berbulan-bulan, negosiator dari AS, Mesir, dan Qatar telah berusaha untuk menengahi penyelesaian konflik yang telah menewaskan puluhan ribu orang, tetapi kesepakatan terbukti sulit dicapai. Proposal yang diumumkan Jumat lalu menyerukan gencatan senjata awal selama enam minggu dengan penarikan militer Israel dari daerah berpenduduk Gaza dan pembebasan beberapa sandera sementara “pengakhiran permanen permusuhan” dinegosiasikan melalui mediator. Proposal ini berusaha membangun kesepakatan yang diterima Hamas sebelumnya tahun ini dengan menjaga gencatan senjata tetap berlaku selama negosiasi berlanjut, dengan tujuan mencapai penghentian permusuhan permanen, tuntutan Hamas yang sudah lama. Pengumuman Biden dan pembingkaiannya tentang proposal sebagai kesepakatan yang “ditawarkan Israel”, dimaksudkan untuk meningkatkan harapan untuk gencatan senjata dan menekan Netanyahu, kata Jeremi Suri, seorang profesor sejarah dan urusan publik di University of Texas di Austin. “Biden mencoba memaksa Netanyahu untuk menerima proposal itu,” papar Suri. Ketika ditanya apakah pengumuman Biden merupakan upaya untuk menekan Netanyahu, seorang pejabat Israel mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mencegah Israel menghancurkan Hamas dan kemampuan pemerintahannya. “Gagasan bahwa tekanan akan menyebabkan Israel bertindak bertentangan dengan kepentingan nasionalnya adalah konyol,” kata pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonimitas. “Tekanan harus diberikan pada Hamas.” Berbicara kepada wartawan pada hari Senin, juru bicara Dewan Keamanan Nasional John Kirby membantah bahwa administrasi sedang mencoba “menjebak” pemimpin Israel itu. Pada Selasa malam, Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan memberi tahu wartawan bahwa mediator masih menunggu tanggapan Hamas. Dan meskipun Ophir Falk, penasihat kebijakan luar negeri Netanyahu, mengatakan segera setelah pengumuman Jumat bahwa Netanyahu telah menyetujui proposal tersebut, pemimpin Israel itu kemudian membuat komentar publik yang menimbulkan keraguan bahwa dia sepenuhnya mendukungnya. Pada hari Rabu, menteri sayap kanan ekstrem Itamar Ben-Gvir mengatakan partainya akan “mengganggu” koalisi pemerintahan sampai Netanyahu mengungkapkan detail kesepakatan Gaza yang diusulkan. Di pihaknya, Biden menghadapi tekanan untuk mengakhiri pertempuran di Gaza. Partai Demokratnya telah terpecah atas dukungannya terhadap serangan Israel ke daerah itu, dengan pemilih di negara-negara kunci yang menjadi ajang pertarungan mengancam tidak akan mendukungnya dalam pertandingan ulang melawan calon Republik Donald Trump pada November. Perang dimulai pada 7 Oktober ketika pejuang Palestina yang dipimpin Hamas membunuh lebih dari 1.200 orang di Israel, sebagian besar warga sipil, dan menyandera lebih dari 250 orang, menurut perhitungan Israel. Kampanye militer Israel yang menyusul telah meninggalkan Gaza dalam kehancuran dan menewaskan lebih dari 36.000 orang, menurut otoritas kesehatan Palestina. Terlepas dari hambatan-hambatan itu, para pejabat AS mengatakan bahwa dengan mengumumkan proposal Israel secara terbuka, Biden dapat memulai kembali diskusi. “(Biden) berpikir penting untuk memaparkan detail secara publik sehingga seluruh dunia dapat melihat apa yang ada di sini dan seluruh dunia dapat melihat betapa seriusnya Israel dalam hal ini, dan untuk memperjelas bahwa Hamas benar-benar perlu menerima proposal ini,” kata salah satu pejabat. Dengan demikian, Biden menggunakan taktik yang telah digunakannya sebelumnya dalam dekade-dekade sebagai politisi: membuat pengumuman publik tentang kesepakatan dengan harapan menggerakkan pihak-pihak ke depan, kata sejarawan Thomas Alan Schwartz dari Universitas Vanderbilt. “Dengan mengatakan Israel telah setuju, dia menempatkan Israel dalam posisi yang sulit untuk mengatakan tidak. Dalam arti itu, dia mungkin telah mencoba memengaruhi kebijakan domestik di Israel,” kata Schwartz. (riz) Baca juga :

Read More