Museum Islam Nusantara Diharapkan Bisa Mempererat Akulturasi

Dengarkan Artikel Ini

Abdul Azis menambahkan, fase ketiga di abad 19 yang memunculkan tokoh-tokoh kharismatik seperti Mbah Maksum, Mbah Baedowi, dan juga Mbah Kholil, yang ketiganya berdakwah melalui pesantren.

Museum Islam Nusantara tidak berdiri di lingkungan Muslim, sebab di belakang bangunan merupakan daerah Pecinan. Tercatat, ada 200 lebih bangunan Tionghoa kuno, salah satunya adalah Rumah Merah, yang bisa diakses semua masyarakat.

Mengenai Lasem, lanjut Azis, dikenal sebagai Kota Pustaka dan Kota Toleransi, di mana keharmonisan antara Tionghoa, Arab, dan pribumi terjalin sejak ratusan tahun lalu.

Pemilihan lokasi museum yang berada di kawasan Pecinan, diakui Abdul Azis sebagai ciri dan identitas masyarakat Lasem yang penuh toleransi.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca