Serangan Hamas ke wilayah Israel Berkaitan Dengan Ketidakadilan Selama 75 Tahun
Setidaknya tercatat, 700 kali kekerasan pemukim Israel ke warga Palestina di Tepi Barat pada 2023. Pemukim Israel mengambil alih paksa rumah-rumah warga Palestina.
Pengusiran ini bahkan tak jarang hanya jadi tontonan pihak keamanan Israel. Selain itu di Yerusalem, kelompok Ultranasionalis Yahudi memaksa masuk kompleks Masjid Al Aqsa untuk melakukan perjalanan yang dianggap provokatif.
Di luar itu, faktor lain sedang terjadi proses normalisasi hubungan Arab Saudi-Israel yang dimediasi Amerika Serikat. Jika Arab Saudi setuju dan mengakui kedaulatan Israel, negara-negara Arab lainnya akan melakukan hal yang sama.
Hal ini akan merugikan kelompok-kelompok pejuang Palestina. Selain itu, Israel tengah dilanda perpecahan politik. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang terlibat skandal korupsi, mencoba mengubah sistem peradilan di Israel.
demonstrasi dari oposisi dan warga Israel pun bermunculan pada awal 2023. Ia juga mengeluarkan Undang-Undang yang membuat perdana menteri tidak bisa dipecat.
Mantan Komandan NATO, James Stavridis menyebut perpecahan politik dalam negeri Israel jadi peluang potensial Hamas dan pendukungnya untuk melakukan serangan.
Sementara itu kurang dari 24 jam usai diserang Hamas, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan kabinet Israel resmi mendeklarasikan perang. Ini menjadi deklarasi perang pertama Israel, setelah 50 tahun Perang Yom Kippur di tahun 1973. Deklarasi perang ini artinya militer Israel diberikan lampu hijau untuk mengerahkan kekuatan secara signifikan. (ngat)
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


