‘Sahabatku’ Telah Mati di Gaza, Tautan Terakhirku Dengan Dunia Luar

Dengarkan Artikel Ini

Satu karung tepung di sini bisa seharga $700. Sebuah iPhone? $4.200. Bahkan ponsel kualitas terendah di toko darurat harganya lebih mahal daripada biaya membangun tokonya. Semua harus dibayar tunai, di tempat di mana hampir tak ada yang gratis kecuali udara — dan itu pun, kalau saja bisa, mungkin akan dipajaki oleh mereka yang mengurung kami.

Membeli ponsel baru berarti ikut membenarkan sistem yang menindas kami, dengan uang kami sendiri. Jadi aku bertahan dengan yang ada, sampai ia mati di tanganku.

Pemadaman Total

Kematian ponselku terjadi bersamaan dengan pemadaman komunikasi total selama dua minggu pada bulan Juni — kebijakan yang diberlakukan Israel.

Tanpa ponsel, ambulans tak bisa dipanggil. Pesan darurat tak bisa dikirim. Seorang yang terluka bisa mati dalam gelap, tak seorang pun tahu.

Ada ironi pahit: perintah pengusiran dari Israel dikirim secara online, padahal jaringan telah mereka putus.

Tangan yang memutus tali nyawa digital kami adalah tangan yang sama yang memblokade tanah kami selama puluhan tahun. Dan jika mereka bisa memutus udara yang kami hirup, aku yakin mereka akan melakukannya.

Bangkit dari Kehilangan

Sekarang, kadang tanganku masih bergerak refleks untuk meraih ponsel — hanya untuk menyentuh kehampaan. Aku tetap tanpa ponsel, terkepung secara digital dan fisik.

Di saat seperti itu, aku membandingkan belenggu yang kupikul dengan kelimpahan penjajah. Mereka punya satelit, rudal berpemandu presisi, dan akses tak terbatas pada teknologi.

Aku? Aku hanya ingin memberi tahu dunia bahwa aku masih di sini.

Ponsel itu bukan sekadar benda. Ia adalah pedangku, perisaiku, saksiku. Dan kehilangan itu seperti kehilangan sebagian dari diriku sendiri.

Namun di hadapan tirani, menyerah bukan pilihan.

Aku menatap langit malam yang dipenuhi drone dan pesawat tempur, dan berbisik,

Karena kami menolak dibantai dalam diam. Selama aku masih memiliki selembar kertas dan setetes tinta, aku akan terus berkata benar — meski dunia mencoba memutus semua suara kami.

Penulis : Abdullah al-Mustofa

Editor : Toto Budiman

Foto : by AI

Sumber :

Ahmed Al-Najjar adalah seorang jurnalis dan akademisi Palestina yang berbasis di Khan Younis, Jalur Gaza Selatan. Ia melaporkan tentang genosida Israel yang sedang berlangsung.

https://www.aljazeera.com/features/2025/8/7/i-lost-my-link-to-the-outside-world-as-israel-continues-to-bomb-us-in-gaza


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca