Israel Gunakan Bom Termobarik yang Kontroversial

Dengarkan Artikel Ini

Selain itu, AS pernah menguji bom seberat 9.800 kilogram yang dijuluki “Induk Segala Bom” pada 2003. Empat tahun kemudian, Rusia memperkenalkan alat serupa yang dikenal sebagai “Bapak Segala Bom” yang dapat menghasilkan ledakan yang setara dengan bom konvensional seberat 44 ton dan menjadikannya sebagai alat peledak non-nuklir terbesar di dunia.

Pada 1999, Rusia menggunakan senjata tersebut selama perang di Chechnya, sehingga mengundang kecaman dari Human Rights Watch. Selain itu, senjata Termobarik buatan Rusia dilaporkan digunakan dalam perang saudara Suriah oleh rezim Bashar al-Assad.

Kontroversi seputar senjata-senjata ini terus berlanjut, ketika duta besar Ukraina untuk AS Oksana Markarova menuduh Rusia menggunakan senjata Thermobaric dalam invasi ke Ukraina. Informasi yang tersedia untuk umum menguatkan klaim ini, karena Kementerian Pertahanan Inggris (MOD) mengungkapkan bahwa Rusia menggunakan senjata termobarik di Ukraina.

Kementerian Pertahanan melaporkan, Rusia mengakui penggunaan sistem senjata TOS-1A, yang menggunakan roket termobarik, sehingga menimbulkan efek pembakar dan ledakan. Militer Rusia menyebut unit-unit ini sebagai penyembur api berat yang mampu meluncurkan roket hingga jarak 9 kilometer.

Sedangkan dalam perang di Gaza, tim Euro-Med Monitor di Gaza melaporkan penggunaan persenjataan Termobarik oleh Israel, khususnya bom vakum dalam serangannya. Senjata ini mengakibatkan kehancuran yang luas dan kemampuan untuk meratakan bangunan bertingkat. (zul-AP)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca