Gaza yang Dijanjikan: Kota Pintar Bernilai Miliaran Dolar, Bentuk Penjajahan Wajah Baru

Dengarkan Artikel Ini

Bagi rakyat Gaza, tawaran itu sederhana: serahkan tanah, dan sebagai gantinya dapatkan rumah permanen. Namun bagi banyak orang Palestina, tanah bukanlah properti biasa—ia adalah warisan, identitas, bahkan kehormatan. Menukar tanah dengan token digital tampak modern di mata investor, tetapi bagi warga Gaza yang sudah kehilangan begitu banyak, itu adalah perampasan terselubung.

Relokasi “Sukarela”: Mengurangi Gaza

Rencana ini juga menyelipkan skema relokasi “sukarela”. Sekitar seperempat penduduk Gaza diproyeksikan meninggalkan tanah mereka. Sebagai kompensasi, tiap orang akan diberi paket $5.000, plus subsidi sewa dan makanan selama empat tahun. Alasan yang diajukan sederhana: lebih murah membiayai mereka di luar negeri daripada membangun rumah baru untuk semua.

Namun, relokasi semacam itu menimbulkan pertanyaan: apa arti “sukarela” bila pilihan yang ada hanya menerima uang lalu pergi, atau bertahan dalam ketidakpastian? Skema ini tampak efisien bagi investor, tapi bagi rakyat Gaza, ia adalah pengusiran halus—mengulang tragedi panjang pengungsian Palestina.

Gaza Bebas Hamas, atau Gaza Terkontrol?

Keamanan disebut sebagai syarat utama. Hamas harus dilucuti, bahkan jika itu berarti perang besar. Setelahnya, keamanan Gaza akan diatur oleh kontraktor swasta, sebagian warga terpilih, serta militer Israel. Pada tahap akhir, mungkin Gaza diberi pasukan sendiri, tapi tetap berada dalam kerangka perjanjian dengan Israel dan Trust. Gaza “baru” ini dibuat bebas dari Hamas, tapi sekaligus tetap dalam kendali luar—“bebas”, tapi tidak merdeka.

Baca Juga :
Robot Militer Israel Bawa 5 Ton Bahan Peledak, Gaza Hancur Jadi Puing-Puing: Gaza yang Dijanjikan: Kota Pintar Bernilai Miliaran Dolar, Bentuk Penjajahan Wajah Baru

Janji yang Menawan, Bayangan yang Menghantui

Janji proyek ini memang memukau: satu juta lapangan kerja, 13 ribu ranjang rumah sakit baru, perumahan permanen 100%, dan PDB yang diproyeksikan naik sebelas kali lipat. Gaza yang kini bernilai nyaris nol diperkirakan melonjak hingga $324 miliar dalam sepuluh tahun.

Namun, bayangan yang mengintai jauh lebih gelap: apakah rakyat Gaza akan menjadi subjek dari kemakmuran ini, atau sekadar objek? Apakah mereka akan benar-benar menikmati hasil, atau justru hanya menjadi penonton dari kota pintar yang dibangun di atas tanah mereka sendiri?

Penutup – Refleksi

Rencana The GREAT Trust memperlihatkan wajah ganda: di satu sisi ada janji kemakmuran futuristik, di sisi lain ada ancaman hilangnya tanah, sejarah, dan identitas. Angka-angka pembangunan memang tampak cemerlang, tapi tanpa keterlibatan rakyat Gaza, ia menjadi bentuk baru penjajahan.

Pertanyaan akhirnya pun menggantung: apakah pembangunan yang tidak berakar pada aspirasi rakyat bisa disebut kebangkitan? Gaza memang bisa dipoles dengan jalan tol megah dan resort mewah, tapi luka sejarah tak bisa ditutup begitu saja dengan kaca dan beton.

Refleksi ini mengingatkan bahwa kemajuan tanpa keadilan hanyalah fatamorgana. Gaza yang dijanjikan tidak boleh lahir dengan menyingkirkan Gaza yang sejati—tanah yang diwariskan, diperjuangkan, dan dijaga oleh rakyat Palestina dari generasi ke generasi. Pada akhirnya, masa depan yang bermakna hanya bisa lahir dari keberanian sebuah bangsa mempertahankan martabatnya di tengah badai sejarah. (***)

Penulis : Abdullah al-Mustofa

Editor : Toto Budiman

Sumber :The Washington Post & The Guardian


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca