Akibat Kekurangan Gizi dan Makanan, Sejumlah Anak di Gaza Meninggal

Dengarkan Artikel Ini

Project Hope, sebuah kelompok kemanusiaan yang mengoperasikan klinik di Deir el-Balah di Gaza tengah, mengatakan bahwa 21 persen wanita hamil dan 11 persen anak-anak di bawah usia lima tahun yang dirawat dalam tiga minggu terakhir menderita kekurangan gizi.

“Orang-orang melaporkan hanya makan roti putih karena buah, sayuran, dan makanan padat nutrisi lainnya hampir mustahil ditemukan atau terlalu mahal,” kata Project Hope.

Dalam komunike bersama pada hari Rabu, Qatar dan Perancis menekankan penolakan mereka terhadap serangan militer Israel di Rafah di Gaza selatan dan menggarisbawahi “penolakan mereka terhadap pembunuhan dan kelaparan yang diderita oleh rakyat Palestina di Jalur Gaza”.

Mereka menyerukan pembukaan semua penyeberangan ke Gaza, termasuk di utara, “untuk memungkinkan para pelaku kemanusiaan melanjutkan aktivitas mereka dan terutama pengiriman pasokan makanan dan menjanjikan upaya bersama sebesar $200 juta untuk mendukung penduduk Palestina”.

Jan Egeland, sekretaris jenderal Dewan Pengungsi Norwegia, juga mengatakan Israel harus mengizinkan truk bantuan masuk ke Gaza untuk mengatasi krisis kemanusiaan yang mengerikan.

“Ratusan truk bantuan mengantri untuk menyeberang ke Gaza di penyeberangan Rafah dan Kerem Shalom [Karem Abu Salem] menuju penduduk sipil yang kelaparan,” kata Egeland dalam sebuah postingan di media sosial, dengan sebuah video yang menunjukkan sejumlah truk bantuan berbaris.

Menurutnya, belum ada satu hari pun pihak nya berhasil menyeberangkan 500 truk yang dibutuhkan. Sistem ini rusak dan Israel bisa memperbaikinya demi orang-orang yang tidak bersalah.

Kelompok bantuan medis Doctors Without Borders, juga dikenal sebagai Medecins Sans Frontieres (MSF), mengatakan bahwa para pekerja medis berjuang untuk melayani ratusan ribu pengungsi di Gaza yang hidup dalam kondisi mengerikan tanpa tempat tujuan.

“Layanan kesehatan telah diserang dan hancur. Seluruh sistem sedang runtuh. Kami bekerja dari tenda dan mencoba melakukan apa yang kami bisa. Kami merawat yang terluka. Dengan adanya pengungsian, luka-luka masyarakat pun ikut tertular. Dan saya bahkan tidak berbicara tentang luka mental. Orang-orang putus asa. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan,” tutup Meinie Nicolai dari MSF. (zul/AZ)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca