Keunikan Sang Qadhi Iyadh: Adab Ulama terhadap Istrinya
Ketika sang istri meletakkan talam untuk menu hidangannya, sang Qadhi menemukan kitab temannya yang sedang ia pinjam tersebut hangus dibakarnya. Istrinya membakar kitabnya karena emosi dan amarah yang tak tertahan akibat suaminya telah mengabaikannya semalaman penuh demi membaca kitab tersebut.
Sang Qadhi mengambilnya disertai rasa sedih atas apa yang dilaluinya. Tanpa pikir Panjang, Sang Qadhi bergegas mengambil pena dan kertas kemudian mulai menulis segala apa yang ia ingat dari bacaannya semalam.
Setelah selesai, ia langsung bergegas pergi membawa tulisannya itu menuju rumah sang ahli fiqh seraya berkata: “bacalah kitab itu, adakah sesuatu yang kurang di sana?” Temannya kemudian membaca, membolak-balikkan halaman perhalaman hingga selesai lalu menjawab “tidak, tidak ada yang kurang sama sekali!”
Qadhi Iyadh dengan ingatannya yang sangat kuat berhasil menghafal dengan sempurna seluruh apa yang ia baca dalam waktu satu malam.
Demikianlah salah satu kisah sabarnya para ulama menghadapi amarah istrinya. Sang Qadhi memilih diam dan melakukan aksinya tanpa memperpanjang masalah. Sebab di sisi lain, ia telah melakukan kesalahan karena abai dengan istrinya.
Muamalah dalam rumah tangga juga memerlukan adab untuk mencapai ridha Allah. Imam al-Qurthubi pernah menuliskan di kitabnya al-Jami’ Li Ahkam al-Quran: janganlah murka pada istri yang kemurkaannya dapat membawanya pada perceraian. Lebih baik seseorang memafkan kesalahan-kesalahan istrinya dengan kebaikan-kebaikan yang telah istrinya perbuat, tak mengindahkan apa yang ia tak sukai dari istrinya dengan mengutamakan sesuatu yang ia sukai dari istrinya. (yus)
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


