Ini Adab Mengkritik Dalam Ajaran Islam
“Sesungguhnya setan telah putus asa membuat orang-orang yang shalat menyembahnya di Jazirah Arab. Namun setan masih bisa melakukan tahrisy di antara mereka” (HR. Muslim no. 2812).
Melakukan provokasi atau tahrisy ini termasuk namimah (adu domba). Al Imam Ibnu Katsir mengatakan:
“Namimah ada dua macam: terkadang berupa tahrisy (provokasi) antara orang-orang dan mencerai-beraikan hati kaum Mu’minin. Maka ini hukumnya haram secara sepakat ulama” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/371, Asy Syamilah).
- Tinggalkan Jika tidak Paham
Tinggalkan bidang yang tidak dipahami atau tidak menjadi fokusnya, sebab lebih baik menyerahkan urusan tersebut kepada orang yang memang ahlinya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, beliau mengatakan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW sedang berkumpul berdiskusi suatu kaum, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui dan bertanya, “Kapankah hari kiamat tiba?”
Namun Nabi SAW tetap melanjutkan pembicaraannya. Beberapa orang berkata, “Dia mendengar kata-katanya, tetapi dia tidak menyukai apa yang dia katakan.” Dan ada pula yang berkata, “Dia tidak mendengarkan perkataannya.”
Hingga akhirnya Nabi SAW menyudahi pembicaraannya sambil bersabda, “Di manakah orang-orang yang bertanya tentang hari kiamat?” Orang (yang bertanya) menjawab, “Saya ya Rasulullah!”
Maka Nabi SAW bersabda, “Bila kamu sudah kehilangan kepercayaan, maka tunggulah hari kiamat.” Orang itu bertanya, “Bagaimana kepercayaan itu bisa hilang?” Nabi SAW bersabda, “Jika urusan itu tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah hari kiamat.” (HR.Bukhari)
- Tidak Berpura-pura Paham
Tidak menjadi orang yang memalsukan diri menjadi sosok yang paham pada apa yang dibicarakan. Juga tidak menyampaikan kritik palsu karena ketidaktahuannya atas kebenaran atau karena ketidakmampuannya membela kebenaran. - Menyadari Ketidaktahuan Diri
Perlu ada kesadaran bahwa tidak semua orang memenuhi syarat untuk melakukan dialog yang sehat dan tepat, yang menghasilkan sesuatu yang baik dan matang. Orang yang tidak tahu itu tidak sama dengan orang yang mengetahuinya. Maka, orang yang tidak tahu sebaiknya tidak mengkritik orang yang tahu.
Kisah Nabi Ibrahim dan ayahnya dapat menjadi contoh, yang diabadikan dalam Surat Maryam ayat 43:
“Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (yat)
Baca juga :
- Piala Dunia FIFA 2026: Afrika Selatan Lolos Dampingi Meksiko Menuju Fase Gugur
- Formasi Drone “Ubur-Ubur” Iran Diduga Lumpuhkan F-15 Amerika, Pengakuan Pilot Picu Kekhawatiran Baru soal Perang Drone
- Wisuda Bimba Opung ASA Kidz Station 2026: Momen Haru, Ceria, dan Penuh Kenangan dalam Pelepasan Generasi Hebat
- Wisuda Tahfidz Kelas IX dan Kenaikan Kelas VII & VIII MTs dan SMP Islam Al-Huda Rawasapi Berlangsung Meriah
- Gol Cepat Saibari Bawa Maroko Menang 1-0 Lawan Skotlandia di Fase Grup Piala Dunia 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


