Hadits ke-17 Arbain Nawawi: Perintah Berbuat Baik
“Barang siapa yang mencincang sesuatu yang punya ruh, lalu dia tidak bertobat, maka dengannya Allah akan mencincangnya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad No. 5661)
Berkata Jabir bin Abdullah Radhlallahu ‘Anhu:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَيْهِ حِمَارٌ قَدْ وُسِمَ فِي وَجْهِهِ فَقَالَ لَعَنَ اللَّهُ الَّذِي وَسَمَهُ
“Bahwasanya lewat dihadapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seekor Keledai yang diwajahnya diberikan cap (tanda). Maka beliau bersabda: ‘Allah melaknati orang yang membuat cap padanya’.” (HR. Muslim No. 2117)
Faedah Hadits
- Ihsan berasal dari kata: ahsana-yuhsinu-ihsanan. Artinya: berlaku dan berbuat baik kepada orang lain. Lawannya adalah isa’ah, yang berasal dari kata: asa’a-yusi’u-isa’ah. Artinya: berlaku dan berbuat buruk kepada orang lain. Orang berbuat ihsan itu sesungguhnya berbuat baik kepada dirinya sendiri. Karena dialah nanti yang akan memetik serta menikmati buah dari kebaikannya itu. Baik di dunia maupun di akhirat.
- Adakalanya seorang muslim harus membunuh orang lain. Dalam keadaan demikian, Allah Swt. memberikan perintah kepada kita untuk melakukan pembunuhan itu dengan cara yang baik.
Hal ini secara teori mudah, namun praktiknya tidak akan mudah. Karena orang membunuh itu biasanya ada unsur balas dendam sebagai balasan sakit hati yang luar biasa. Sehingga orang membunuh itu pada umumnya selalu ada dorongan untuk menyakiti dan menyiksa.
Di sinilah urgensi perintah Allah kepada orang Islam untuk selalu berlaku ihsan. Di mana dia berlaku ihsan itu sebagai bukti akan keagungan agama Islam yang sempurna. Termasuk ketika harus menghilangkan nyawa orang lain.
Di sini pula nyata kelihatan bahwa agama Islam adalah agama yang realistis. Dalam kehidupan yang demikian kompleks semuanya bisa saja terjadi. Kita semua pasti ingin kekasaran dan kekejaman itu dinihilkan, namun tuntutan sertanya kenyataan hidup seringkali tidak sejalan dengan keinginan. Ada saat tertentu di mana kita harus memilih pilihan yang pahit. Dalam keadaan demikian, hendaknya kita tetap fokus pada tujuan.
Bila tujuannya adalah membunuh atau menghilangkan nyawa seseorang, jangan sampai tujuan itu terselipi dengan tujuan yang lain. Misalnya tujuan menyiksa dengan cara memperlama proses kematian. (yan)
Baca juga :
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
- Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Kolaborasi Yaskat dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI di Bantargebang
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


