Berbagai Petuah Karya Syekh Nawawi al Bantani Yang Selalu Menguatkan Keimanan
Seperti tampak pada judulnya, Al-Futuhat al-Madaniyah juga menjabarkan perihal kehidupan madani, baik dalam konteks keumatan maupun kebangsaan. Syekh Nawawi dalam karyanya ini menjelaskan beberapa akhlak yang berkaitan dengan kehidupan bernegara. Misalnya, mengemban kekuasaan dengan adil—tercantum pada poin ke-50. Dai asal Tanara, Banten, itu menegaskan, seorang pemimpin harus membuat keputusan dengan benar agar maslahat di tengah masyarakat.
Menurut ulama kelahiran tahun 1813 Masehi tersebut, penting itu menghindari hawa nafsu yang hanya membawa seorang pemimpin pada kepentingan segelintir dan mengabaikan kemaslahatan luas. Kepemimpinan akan dipertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat kelak.
Masyarakat pun akan menilai, apakah pemerintahan berjalan dengan baik atau tidak. Allah juga akan mengganjar seorang amir yang amanah dengan pahala atau bahkan siksaan—bila ia berkhianat.
Termasuk akhlak berbangsa adalah patuh kepada pemimpin (ulil amr). Meskipun pemimpin itu adalah seorang budak buruk rupa, masyarakat wajib menaatinya, selama apa yang diperintahkan adalah kebaikan.
Dalam menjelaskan poin ke-51 ini, Syekh Nawawi menuliskan kisah seorang non-Muslim memasuki sebuah daerah. Ketika itu dia melihat masyarakat ramai berkerumun untuk menyaksikan pemimpin mereka datang. Orang tersebut ikut berkumpul. Ketika itu dia tercengang, karena pemimpin yang dimuliakan itu dulunya dia kenal sebagai budak.
Sejak itu, dia menyadari bahwa Allah dengan kuasa-Nya mampu membolak-balik keadaan manusia. Dia kemudian mengikrarkan keimanan kepada Allah dan Rasulullah SAW.
Secara tersirat Syekh Nawawi menjelaskan bahwa iman tak sekadar tertanam dalam hati atau sebatas kata-kata manis. Lebih dari itu, keyakinan harus terwujud dalam laku-kata yang terpuji, yang tidak menyakiti hati orang lain, mendukung kemajuan hidup, dengan dasar keimanan yang kokoh.
Meski ditulis oleh intelektual yang hidup pada abad ke-19, kitab ini tetap menyuguhkan solusi yang relevan atas persoalan akhlak dan kepribadian Muslimin kini. Al-Futuhat al-Madaniyah menyegarkan pemahaman kita tentang aplikasi keimanan dalam kehidupan sehari-hari, dalam laku-kata kepada sesama makhluk, termasuk di dalamnya alam tempat semua makhluk tinggal.
Dengan membaca kitab ini, seseorang dapat sedikit memahami akhlak tasawuf yang menjadi ruh pembentuk kepribadian Muslim taat kepada Sang Pencipta. Kitab ini juga mengarahkan pembacanya untuk memahami bagaimana bermuamalah kepada sesama.
Yang lebih penting lagi, Syekh Nawawi juga mengajarkan akhlak berbangsa untuk mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang adil, berdaulat, dan makmur. Ini menandakan sang alim mencintai negerinya dan ingin umat Islam di mana pun menjadi bagian dari perubahan kehidupan yang berkembang atau madani.
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


