Masjid Ghamamah Madinah, Tempat Bersejarah yang Memberi Banyak Hikmah!
Surabaya – 1miliarsantri.net: Dalam perjalanan pertama kali menjajaki Masjid Nabawi melalui gate 310, ada satu masjid di sekitar sana yang berhasil membuat hati terkesima. Langit sore menjelang maghrib ada awan-awan putih berkerumun di kubah masjid Ghamamah. Bahkan banyak merpati yang singgah di kubah, sesekali terbang beriringan menciptakan keindahan di sore itu. Karena baru pertama kali di Madinah, jadi penasaran kenapa Masjid Ghamamah/Al-Musalla (melihat penjelasan di papan sejarah depan masjid) begitu memikat hati. Peristiwa Awan Mendung yang Menjadi Rahmat Nama “Ghamamah” sendiri berarti “awan mendung”. Julukan ini merujuk pada peristiwa istimewa yang dialami Rasulullah ketika melaksanakan shalat Ied di lapangan tempat masjid ini berdiri. Dikisahkan bahwa Rasulullah pernah melaksanakan shalat Idul Fitri dan Idul Adha di Masjid Ghamamah. Saat itu, masyarakat Madinah berkumpul untuk beribadah bersama. Menariknya, ketika beliau memimpin shalat, sebuah awan menaungi sehingga tempat itu tidak terik meski di bawah sinar matahari. Hal ini menjadi isyarat betapa kasih sayang Allah menaungi Nabi dan umatnya. Doa Nabi Meminta Hujan Saat Madinah Paceklik (Shalat Istisqa) Salah satu peristiwa paling terkenal di Masjid Ghamamah adalah ketika Madinah mengalami musim paceklik panjang. Tanah gersang, sumur-sumur mengering, dan hewan ternak mati kekurangan air. Dalam kondisi sulit itu, Rasulullah berdiri di Masjid Ghamamah dan memanjatkan doa meminta hujan. Doa yang pernah dibacakan Nabi Muhammad ketika memohon turunnya hujan pernah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah: اللَّهمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ Artinya: “ Ya Allah, turunkanlah hujan kepada hamba-hamba-Mu dan binatang-binatang (ciptaan)-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang sebelumnya mati (gersang).” Tak lama setelah beliau menengadahkan tangan, awan mendung berkumpul dan hujan turun dengan derasnya. Masyarakat pun bersujud syukur. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa doa seorang hamba yang ikhlas mampu mendatangkan pertolongan Allah. Nabi bersabda: الدُّعَاءُ سِلاَحُ المُؤْمِنِ وَعِمَادُ الدِّيْنِ وَنُوْرُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ “Sesungguhnya doa adalah senjata orang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” (HR. Hakim). Kisah Nabi Muhammad Kecil di Tengah Kekeringan Menariknya, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, Muhammad kecil sudah pernah merasakan pahitnya musim paceklik. Sejarah mencatat, ketika itu kakeknya, Abdul Muthalib membawanya bersama kaum Quraisy untuk berdoa meminta hujan. Doa Abdul Muthalib bersama cucunya terkabul, hujan pun turun setelah sekian lama musim kemarau di Makkah. Kisah ini menunjukkan bahwa sejak kecil, Nabi Muhammad sudah menjadi sosok yang dihubungkan dengan rahmat Allah. Kehadirannya membawa harapan di tengah kesulitan, sebagaimana hujan yang menghidupkan kembali tanah yang mati. Baca juga: Sejarah Jilbab Dalam Peradaban Pra-Islam Hikmah Peristiwa di Masjid Ghamamah


