Seruan Aksi Jum’at untuk Palestina: Bersatu Lawan Blokade dan Genosida di Gaza

Aksi Jum’at untuk Palestina Edisi 32: Seruan Persatuan Membela Gaza Jakarta – 1miliarsantri.net: Aksi Jum’at untuk Palestina edisi ke-32 kembali digelar di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, pada 28 November 2025. AWG menyerukan masyarakat Indonesia bersatu menuntut penghentian blokade dan genosida di Gaza. Simak informasi lengkapnya di sini. Aksi solidaritas untuk rakyat Palestina kembali digelar oleh Aqsa Working Group (AWG) dalam Aksi Jum’at untuk Palestina edisi ke-32. Dengan mengusung tema, “Bersatu Lawan Zionis Israel, Stop Blokade dan Genosida Gaza Sekarang Juga,” aksi ini menjadi wujud kepedulian masyarakat Indonesia atas tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Jalur Gaza. Melalui aksi pekan ini, AWG menyerukan agar bangsa Indonesia semakin memperkuat solidaritas, bergerak bersama, dan menuntut dibukanya blokade yang diberlakukan Zionis Israel terhadap Gaza. Selain itu, AWG juga menegaskan pentingnya penghentian tindakan genosida yang telah merenggut lebih dari 69.000 nyawa rakyat Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak. Waktu Pelaksanaan Aksi ini akan dilaksanakan pada: Jumat, 28 November 2025 / 7 Jumadil Akhir 1447Kegiatan yang diinisiasi oleh AWG akan berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Lokasi: Depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta Aksi Jum’at untuk Palestina telah menjadi agenda rutin yang diikuti masyarakat dari berbagai kalangan. Semangat persatuan, kepedulian kemanusiaan, dan dukungan terhadap pembebasan Masjidil Aqsa menjadi dorongan utama terselenggaranya kegiatan ini. Korlap : ‪+62 858-0982-9846‬ (Ja’far) Tata Tertib Aksi untuk Peserta

Read More

Kisah Inspiratif dari Tenda Pengungsi Gaza ‘Empat Bersaudari Sukses Menghafal Al-Quran’ di Tengah Perang dan Kelaparan

Gaza – 1miliarsantri.net: Di tengah kecamuk perang yang tak henti-hentinya melanda Jalur Gaza, sebuah kisah inspiratif muncul dari tenda-tenda pengungsian yang panas dan sesak, membuktikan bahwa cahaya Al-Quran dapat bersinar bahkan dalam kegelapan yang paling pekat. Empat bersaudari dari keluarga Al-Masri, yang kini menjadi penghafal Al-Quran, telah mengukir prestasi luar biasa, dengan tiga di antaranya berhasil menghafal seluruh Al-Quran Di tengah deru konflik yang tak henti, ketiganya berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an, di bawah bimbingan saudari tertua mereka. Tim Al Jazeera Mubasher, yang melaporkan langsung dari salah satu tenda pengungsian keluarga Al-Masri, bertemu dengan keempat bersaudari ini. Mereka adalah Alma (17 tahun), Hala (20 tahun), Sama (15 tahun), dan Nada (22 tahun), sang pembimbing. Nada sendiri telah menyelesaikan hafalan Al-Qurannya pada September 2023. Perjalanan Menuju Hafalan di Tengah Cobaan Perjalanan menghafal Al-Quran ini jauh dari mudah. Alma mengungkapkan bahwa prosesnya sangat sulit dan penuh banyak kesulitan, termasuk pengalaman pengungsian, kelaparan, dan pengusiran. Namun, dengan ketekunan, ia berhasil menjadi hafizah dan merasakan perasaan indah yang tak terlukiskan. Hala mengidentifikasi panas yang sangat menyengat, tempat yang sempit, kurangnya ketenangan, dan suara bom yang dekat sebagai rintangan terberat yang mereka hadapi. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa mereka mengatasi kesulitan ini dengan tekad dan kesabaran. Motivasi mereka tak hanya datang dari keinginan pribadi, melainkan juga dari harapan untuk dapat memakaikan mahkota kepada orang tua mereka di Hari Kiamat. Sama, yang termuda di antara, menggambarkan perjalanannya sebagai sulit tapi manis. Ia juga menyoroti kondisi yang memburuk: pengungsian, pengusiran, kehilangan orang-orang terkasih, kelaparan, dan ketiadaan tempat yang layak untuk menghafal akibat pendudukan Israel yang menghancurkan semua masjid. Namun, ia menyatakan, “dengan tekad dan kegigihan kami, kami berhasil mewujudkan impian kami”. Nada, Sang Pembimbing dan Pelopor Cahaya Nada, sang pembimbing, memegang peran sentral dalam keberhasilan saudari-saudarinya. Nada sangat berterima kasih kepada ayahnya, Kamel Al-Masri, yang menjadi alasan utama di balik perjalanannya dan mendukungnya secara finansial serta moral. Nada adalah benih pertama yang, setelah menghafal Al-Quran, bertekad untuk membimbing saudari-saudarinya. Perjalanan hafalan bersama ini dimulai pada Januari 2024, di tengah masa pengungsian mereka ke Rafah. Nada menyusun jadwal yang ketat untuk hafalan dan muroja’ah. Seluruh tenda pengungsian mereka pun berubah menjadi halaqah tahfiz. Nada juga menegaskan bahwa penghancuran masjid, pusat pendidikan, dan impian mereka tidak menghalangi mereka untuk menghafal Al-Quran. Menyebarkan Cahaya Al-Quran di Tengah Krisis

Read More

Israel Tembaki Warga Palestina Yang Kelaparan

Gaza — 1miliarsantri.net : Tentara Israel kembali menembaki orang-orang yang menunggu bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza pada Kamis (14/3/2024), menewaskan 20 orang dan melukai sedikitnya 155 orang lainnya. Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan, insiden tersebut terjadi di sekitar kawasan Bundaran Kuwait. Kantor berita resmi Palestina WAFA. mengonfirmasi puluhan orang tewas dan terluka. Pernyataan tersebut menyatakan bahwa serangan itu menunjukkan niat Israel yang terencana untuk melakukan aksi pembantaian baru dan mengerikan. Proses evakuasi korban tewas dan luka-luka sedang berlangsung meski kondisi di wilayah itu cukup menantang. “Jumlah korban tewas bisa bertambah karena kondisi serius korban cedera yang kini dirawat di beberapa rumah sakit terdekat,” tambahnya. Israel meluncurkan perangnya di Gaza menyusul serangan lintas batas yang dilakukan kelompok Hamas Palestina pada 7 Oktober 2023. Serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 31.300 warga Palestina dan mendorong wilayah itu ke ambang kelaparan. Israel juga memberlakukan blokade yang melumpuhkan di daerah kantong Palestina tersebut, menyebabkan penduduknya, khususnya warga di Gaza utara, berada di ambang kelaparan. Perang tersebut juga telah memaksa 85 persen penduduk Gaza menjadi pengungsi di tengah kelangkaan akut bahan makanan, air bersih dan obat-obatan, sementara sebagian besar infrastruktur daerah itu telah rusak atau hancur, menurut PBB.

Read More