Suara Kemerdekaan Palestina Sudah Bergaung di Bandung 69 Tahun Lalu

Dengarkan Artikel Ini

Sukarno berbicara tentang kolonialisme dalam “pakaian modern dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual, kontrol fisik yang nyata oleh komunitas kecil tapi asing di dalam suatu bangsa”.

Meskipun Uni Soviet, yang secara substansial berada di Asia, tidak diundang, mereka mengirim pesan dan salam untuk mendukung konferensi tersebut. Zhou Enlai dari Cina menawarkan kerja sama, pengakuan, dan toleransi. Delegasi Cina termasuk seorang pemimpin Cina yang beragama Islam.

Pada saat yang sama, CIA mengirim mantan kolaborator Muslim Soviet dengan Nazi (yang usia Perang Dunia II direkrut CIA) ke Konferensi Bandung untuk melakukan propaganda menentang dugaan perlakuan buruk Uni Soviet terhadap Muslim Soviet untuk meruntuhkan posisi Soviet di antara negara-negara non-blok.

Seorang pejabat pemerintahan Eisenhower mengidentifikasi operasi CIA di Bandung sebagai langkah “Machiavellian”. Tidak seperti solidaritas besar-besaran yang ditunjukkan beberapa negara Asia yang merdeka di PBB pada 1947 pada Palestina. Pada 1955, propaganda Barat dan Israel yang menyatakan negara Yahudi adalah reparasi adil dari Eropa untuk Holocaust berhasil menyusup ke sejumlah negara Asia dan Afrika yang merdeka.

Keberhasilan propaganda ini adalah negara-negara tersebut kini mendukung persamaan hak antara penduduk asli Palestina dan penjajah Yahudi mereka menyamakan antara penjajah dan yang dijajah. Tidak ada negara jajahan pemukim kulit putih di Afrika yang bisa lolos dari kecaman seperti yang dilakukan Israel pada tahun-tahun itu.

Komunike akhir yang dikeluarkan Konferensi Bandung mencakup kecaman terhadap kolonialisme pemukim Eropa dan penolakan terhadap penentuan nasib sendiri serta dukungan terhadap hak-hak rakyat Aljazair, Maroko, dan Tunisia untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri.

Sedangkan untuk rakyat Palestina, komunike tersebut menyatakan “dukungannya terhadap rakyat Arab Palestina dan menyerukan implementasi Resolusi PBB tentang Palestina dan pencapaian penyelesaian damai atas masalah Palestina”.

Ini bukanlah seruan yang radikal, namun lebih sesuai dengan bahasa yang digunakan oleh para delegasi. Sebagai contoh, konferensi ini juga menyampaikan simpati dan dukungannya yang hangat terhadap sikap berani yang diambil oleh para korban diskriminasi rasial, terutama oleh orang-orang Afrika, India, dan Pakistan di Afrika Selatan.

Memang, tidak ada penyebutan mengenai koloni-koloni pemukim lainnya di Afrika, baik Portugis (Angola dan Mozambik), maupun Inggris (Kenya, Rhodesia, Sierra Leone, Afrika Timur), bahkan tidak ada penyebutan mengenai apa yang terjadi di Liberia, salah satu peserta konferensi.

Namun, Bandung merupakan momen penting dalam membangun aliansi di antara negara-negara Asia dan Afrika yang menentang kebijakan imperialisme, yang terus diupayakan oleh Amerika Serikat dan Eropa Barat.

Sementara ancaman, tekanan, dan intrik imperialis merusak aliansi tersebut selama beberapa dekade berikutnya, jatuhnya Soviet dan Blok Timur memberikan anugerah bagi anti-imperialisme.

Namun, dalam dua dekade terakhir, blok-blok suara anti-imperialisme yang perlahan namun pasti kembali bangkit di PBB. Manifestasi terbarunya adalah menolak keras dukungan AS dan Eropa terhadap genosida Israel di Gaza.

Tampaknya, sekeras apapun upaya AS dan Eropa, tidak ada ancaman atau tekanan yang dapat menghentikan gelombang solidaritas anti-kolonial terhadap rakyat Palestina. (zul/AP)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca