Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan, Pejuang Wanita Aisyiyah

Dengarkan Artikel Ini

Perjuangan Siti Walidah dan suaminya dalam mengembangkan organisasi tidaklah mudah. Suatu ketika saat melakukan perjalanan ke Banyuwangi, Nyai Ahmad Dahlan dan suami mendapat ancaman pembunuhan dari kelompok konservatif. Namun, tekad bajanya untuk mendidik perempuan tak pernah surut.

Sekolah Aisyiyah dipengaruhi oleh ideologi Ahmad Dahlan, yaitu Catur Pusat. Catur Pusat memiliki pengertian pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah, pendidikan di masyarakat, dan pendidikan di tempat ibadah.

Organisasi Aisyiyah kemudian berkembang pesat dan saat kongres, Nyai Dahlan selalu memimpin baik di Boyolali, Purwokerto, bahkan hingga ke wilayah Jawa Timur. Saat KH Ahmad Dahlan wafat pada 1923, Nyai Ahmad Dahlan meneruskan perjuangan suaminya lewat Aisyiyah.

Tahun 1926 saat Konggres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya, Nyai Dahlan membuat catatan sejarah. Dialah wanita pertama yang tampil memimpin kongres tersebut. Saat itu, dalam sidang Aisyiyah yang dipandunya duduk puluhan pria di samping mimbar.

Mereka merupakan wakil pemerintah dan perwakilan organisasi yang belum memiliki organisasi kewanitaan dan wartawan. Seluruh pembicara dalam sidang tersebut merupakan kaum perempuan, hal yang tidak biasa pada masa itu. Pengaruhnya saat itu sempat tercatat pada media massa sebagai berita utama. Eksesnya semakin banyak kaum perempuan yang bergabung dengan Aisyiyah. Pengaruh Aisyiyah pun meluas di seluruh nusantara.

Pada masa revolusi kemerdekaan, Aisyiyah sempat dilarang oleh Pemerintah Jepang saat itu. Namun, perjuangan Nyai Ahmad Dahlan beralih kepada pelayanan pejuang kemedekaan. Ia juga menyerukan kepada para siswa Muhammadiyah untuk bangkit melawan penjajah. Namun, perjuangannya harus terhenti hingga usianya mencapai 74 tahun pada 31 Mei 1946.

Jenazahnya dimakamkan di pemakaman di belakang Masjid Besar Kauman Yogyakarta. Menteri Sekretaris Negara Mr AG Pringgodigdo dan menteri Agama Rasjidi mewakili pemerintah memberikan penghormatan terakhir saat pemakaman. Nyai Ahmad Dahlan juga mendapat anugerah Pahlawan Nasional oleh presiden Soeharto sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 42/TK Tahun 1971. (mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca