Setelah Membunuh 7.000 Santri dan Kiainya, Amangkurat I Beri Imbalan 3.000 Pikul Beras kepada Kompeni

Dengarkan Artikel Ini

Kompeni yang mengangkatnya membuat perjanjian baru dengan Amangkurat II. Semakin lemahlah posisi Mataram.

“Setelah kekuasaan yang sebenarnya berada dalam tangan Kompeni dan tentara Mataram sendiri pada hakikatnya pun telah berada di bawah komando Kompeni, mulailah dilancarkan gerakan ‘membasmi pemberontak’,” tulis Hamka.

Trunojoyo, Karaeng Galesong, dan Pangeran Giri terus terdesak. Kompeni juga memanfaatkan Arung Palaka yang lebih mmilih berpihak kepada Kompeni untuk melawan Karaeng Galesong.

Setelah Karaeng Galesong dikalahkan oleh Arung Palaka, Kompeni dengan mudah mendesak Trunojoyo dan pengikutnya ke lereng Gunung Kelud. Di kepung tentara Kompeni, Trunojoyo akhirnya menyerah pada 27 Desember 1679.

“Saya serahkan diriku kepadamu, Kapten. Karena aku lihat engkau sekarang satria yang teguh janji. Aku hanya menyerah kepadamu, bukan kepada Susuhunan. Engkau harus memperlakukan aku sebagai tawanan perang,” ujar Trunojoyo kepada Kapten Jonker, yang memimpin pengepungan terhadap Trunojoyo.

Kapten Jonker adalah orang Ambon yang menjadi tentara Kompeni. Atas desakan Kompeni, Kapten Jonker tidak bisa memenuhi janjinya kepada Trunojoyo. Ia lalu menyerahkan Trunojoyo kepada Kompeni.

Oleh Kompeni, Trunojoyo diserahkan kepada Susuhunan Amangkurat II. Nasib Trunojoyo kemudian ditentukan oleh keris Amangkurat II pada 1680.

Kapten Jonker pun sakit hati sehingga ia berbalik menentang Kompeni di Batavia pada 1689. (mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca