Sejarah Perjalanan Haji Waktu Tempo Dulu
Jamaah haji dari Tanah Jawa misalnya, terlebih dahulu harus menuju Pelabuhan di Batavia (wilayah Jakarta saat ini). Selanjutnya menuju pelabuhan terakhir di Nusantara yakni Aceh. Di sana mereka menunggu kapal ke India untuk ke Hadramaut, Yaman atau langsung ke Jeddah (Arab Saudi).
Perjalanan laut itu biasa makan waktu enam bulan dan bahkan lebih, karena harus berganti kapal atau mencari bekal tambahan dengan bekerja di negeri tertentu. Dalam perjalanan, para musafir tidak jarang harus berhadapan dengan berbagai macam bahaya seperti ombak yang besar.
Pada masa awal perjalanan haji, tidak mengherankan apabila calon jamaah haji dilepas kepergiannya dengan derai air mata. Karena khawatir mereka tidak akan kembali lagi.
Itulah sekelumit catatan tentang kaum Muslimin Nusantara zaman dahulu yang telah berhasil menunaikan ibadah haji. Dari kisah-kisah tersebut tergambar bahwa ibadah haji biasanya hanya terjangkau kaum elite seperti kalangan istana atau keluarga kerajaan, karena memerlukan biaya yang sangat besar.
Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan adanya masyarakat kalangan bawah yang juga telah berhasil menunaikan ibadah haji, namun tidak tercatat dalam sejarah. Kerajaan memiliki peranan penting dalam pengelolaan pemberangkatan haji. Kehadiran tata kelola haji diawali dari kalangan elite yang memiliki kebutuhan kenyamanan serta keamanan perjalanan. (jeha)
Baca juga :
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
- Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Kolaborasi Yaskat dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI di Bantargebang
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


