Punakawan Roto Menangis Saat Mendampingi Diponegoro yang Jadi Tawanan Belanda

Dengarkan Artikel Ini

Ada keinginan Diponegoro membunuh De Kock saat itu. Karena itulah ia memberi kode kepada Basah Martonegoro untuk bersiaga.

Namun niat itu ia urungkan karena Haji Isa Badarudin yang juga mendampinginya menasihatinya agar ingat Allah. Diponegoro pun menyadari, membunuh De Kock justru akan menjadi tidak baik.

Maka, Diponegoro meluapkan amarahnya dengan memaki-maki De Kock yang selama Ramadhan sangat baik kepada Diponegoro. Tapi Diponegoro kemudian pasrah pada nasib.

Ia pun pasrah ketika kemudian dibawa naik kereta kuda menuju Semarang sebagai tawanan. Jenderal De Kock berpesan kepada anak buahnya agar mengistirahatkan Diponegoro di Ungaran.

Begitu di Ungaran, Roto menangis. Diponegoro menanyakannya kepada punakawannya itu.

Roto menyatakan teringat ibunya, sehingga ingin pulang. Tapi, dalam pandangan Diponegoro, Roto menangis bukan karena ibunya.

Ia tahu jika Roto takut pada pasukan Belanda yang mengawal mereka ke Semarang. Karenanya, Diponegoro perlu menenangkan hati Roto.

“Hai Roto, kalau kau ingin pulang, besok saja kalau di Semarang. Aku ini sesungguhnya ingin naik haji, walai sendiri. Tidak sanggup aku tunda perihal keberangkatan ke Makkah,” kata Diponegoro. (mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca