Pengorbanan dan Perjuangan Nyai Hj. Madichah di wilayah Banten

Dengarkan Artikel Ini

KH Abdul Latief berada di Makkah selama 6 tahun dan berada di sana sejak tahun 1912 lalu kembali ke Indonesisa pada 1918. Dalam rentan waktu antara 1918 sampai 1924, KH Abdul Latief memberikan pengajian kepada masyarakat di Cibeber, Cilegon.

Banyak masyarakat yang tertarik untuk mengikuti pengajiannya, bahkan dari masyarakat luar Banten, tapi juga dari daerah luar lain sering mengikuti pengajian nya. Sehingga tahun 1924, KH Abdul Latief mendirikan pesantren atas sumbangan mertuanya. Dari pernikahannya dengan Nyi Rahmah, hanya disebutkan bahwa dikaruniai empat orang anak yakni Nyi Hj. Ma’ajah, Nyi Hj. Madichah, KH. Ahmad Najiullah Latiefie dan KH. Ridwan Abdul Latief.

“Dari penjelasan tersebut, dapat dijelaskan bahwa Nyi Hj. Madichah merupakan putri kedua dari KH. Abdul Latief. Nyi Hj. Madichah lahir 4 tahun kemudian setelah pernikahan kedua orang tuanya pada penjajahan Pemerintahan Hindia Belanda,” tukas Maskuroh.

Dari data tersebut, Maskuroh memperkirakan Nyi Madichah lahir pada tahun 1922. Menurutnya, pada waktu itu belum banyak masyarakat yang mengenyam pendidikan formal kecuali dari kalangan bangsawan.

Nyi Madichah waktu itu hanya mengenyam pendidikan nonformal yaitu di pesantren orang tuanya. Akibatnya, ia disebutkan tak bisa menulis latin dan hanya bisa menulis tulisan Arab. Ayah Nyi Madichah merupakan sosok yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangannya.

Mulai dari di pesantren hingga kegiatan majelis taklim, ia mendapatkan ilmu dari ayahnya. Ia selalu ikut kegiatan majelis taklim ayahnya baik di daerah di Cibeber maupun di luar Cibeber. Materi yang diberikan oleh ayahnya tentang pemikiran madzhab as-Syafi’yah yaitu berhaluan dengan ahlusunnah wal jama’ah.

Dari ilmu-ilmu yang didapatkan dari ayahnya tersebut, Nyi Madichah kemudian meneruskan peran ayahnya tersebut baik di madrasah maupun di majelis taklim. Sekitar tahun 1970-an ia telah membina santriwati sekitar 300 orang.

Ia lalu dinikahkan dengan salah satu putra dari murid ayahnya, KH Ahmad Matin, yakni KH Arifudin dari Jombang. Kendati sudah menikah dan sibuk mengurus keluarga, Nyi Madichah tetap tidak meninggalkan aktivitas mengajarnya di pesantren dan di majelis-majelis taklim. (her)


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca