Napak Tilas Pesantren di Selatan Jawa
Ditegaskan Hermanu, fakta yang selama ini belum banyak diketahui secara luas oleh publik adalah mengenai melalui jalur apa Islam bisa merembes begitu luas di wilayah selatan Jawa itu. Tampaknya tak hanya berkat usaha keras dan sabar dari para ulama, serta berkat ikatan jaringan tarikat, maupun disolidkan dengan jaringan kawin mawin antarkeluarga ulama serta santrinya, peran jalur perdagangan melalui Sungai Bengawan Solo yang memanjang dari Surabaya hingga Surakarta jelas tak bisa diabaikan.
”Harap diketahui sepanjang Sungai Bengawan Solo itu dari zaman dahulu tersebar begitu banyak pesantren. Pusat Kerajaan Mataram yang berada di pedalaman Jawa dihubungkan dengan sungai itu. Selama masih aktif dilayari dari Surabaya ke Solo itu ada 40 tempat persinggahan pedagang (bandar). Bandar terakhirnya itu berada di Mojo (pinggiran Solo) yang merupakan kampung komunitas keturunan Arab,” kata Hermanu.
Peran ulama dan pesantren yang ada di pinggiran sungai itu makin penting ketika para penguasa Kerajaan Mataram juga ikut belajar agama Islam di tempat itu. Bahkan, kerap kemudian terjadi hubungan yang sangat erat antara dunia pesantren dan kerajaan.
”Harap diketahui Paku Buwono IV adalah raja yang pernah belajar di sebuah pesantren yang letaknya tak jauh dari Bengawan Solo. Dia bahkan dikenal sebagai raja Jawa yang sangat santri. Setiap Jumat pergi ke masjid dan di setiap harinya, ia selalu memakai baju jubah berwarna putih. Kesantrian ini kemudian dilanjutkan oleh Raja Paku Buwono VI, IX, dan X.Bahkan, Paku Buwono X malah dikenal raja yang sangat melindungi pergerakan Sarekat Islam,” ujar Hermanu.
Namun, memang sewaktu era sebelumnya, yakni Sunan Amangkurat I dan II, hubungan ulama dengan kerajaan sempat memercikkan masalah. Saat itu, antara ulama dan Raja Amangkurat I (Raden Mas Sayidin) malah terlibat perbedaan pendapat serius soal suksesi kekuasaan. Para ulama dianggap membangkang kepada raja dan kemudian banyak di antara mereka beserta anggota keluarganya (konon sampai 5.000 orang) dihabisi nyawanya.
”Para ulama yang selamat menyingkir dari pusat kerajaan. Mereka memang banyak pergi ke arah selatan dan barat, seperti Kedu, Banyumas, dan Cilacap. Di sana mereka mendirikan pesantren baru. Jadi, meski para ulama ini dihabisi, jaringan mereka secara diam-diam terus bergerak. Jaringan ini semakin solid dan kemudian muncul kembali dalam perlawanan Pangeran Diponegoro. Jaringan itu terus ada sampai sekarang,” katanya.
Sisa jaringan ulama itu masih bisa teraba sekarang ketika mengunjungi Pesantren Somalangu, Desa Sumber Adi, di Kebumen, yang terkait dengan Kesultanan Demak dan Mataram. Bahkan karena berusia sangat tua, hampir 600 tahun, pesantren Somalangu yang didirikan Syekh Abdul Kahfi al-Hasani (ulama berasal dari Yaman yang datang ke Jawa sekitar tahun 1475 M) ternyata punya ikatan yang kuat dengan banyak pesantren yang kemudian muncul di wilayah Banyumas dan Cilacap.
Pada kenyataan lain, kuatnya ikatan jaringan ulama di wilayah ini yang sama juga terasa ketika mengunjungi pesantren di Leler Banyumas, Kesugihan Cilacap, hingga pesantren di Banyumas Barat-Utara. Namun, khusus di Banyumas Utara, di sana terasa ada peran dari jaringan ulama Kesultanan Cirebon dan Demak. Belakangan ikatan jaringan ulama di pantai utara Jawa, seperti Jepara dan Rembang, juga ikut andil di dalamnya.
Luas dan liatnya jaringan ulama di wilayah selatan Jawa itu kini pun tecermin dengan sangat jelas ketika melihat jumlah pesantren yang kini eksis yang ternyata mencapai 1.039 buah.
Data dari Kementerian Agama diketahui di Cilacap ada 133 pesantren, Banyumas (22 pesantren), Purbalingga (57 pesantren), Banjar Negara (98 pesantren), Kebumen (67 pesantren), Purworejo (91 pesantren), Wonosobo (148 pesantren), Magelang (126 pesantren), Boyolali (77 pesantren), Klaten (30 pesantren), Sukoharjo (27 pesantren), Wonogiri (21 pesantren), Karanganyar (24 pesantren), dan Sragen 68 pesantren.
”(Namun) Sampai kini di wilayah selatan Jawa itu saya melihat Islam sebagai kekuatan yang tidak diberdayakan oleh negara. Bahkan, kerap dimusuhi seperti di zaman Soeharto yang lebih memilih mengakomdasi kekuatan militer dan Cina daripada menggandeng mereka,” pungkas Hermanu. (tho)
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


