Menguji Keampuhan Sumpah Pemuda Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa

Dengarkan Artikel Ini

“Walaupun ada basa yang satu (serupa), menjadi ada persatuan basa itu dan lebih jauh pun serupa pula agama dan adat istiadatnya, tetapi kalau perasaan dan budinya berlainan, hingga keperluannya pun jadi berbeda pula, maka persatuan yang berarti paham serukun seia sekata itu pun takkan bisa menjadi,” tulis Darmokondo.

Darmokondo lalu memberi contoh. Jika seorang pelajar memiliki segala sesuatu yang bisa digunakan untuk mendukung pertemuan dengan pelajar yang lain, mereka tetap tak akan bisa bertemu jika yang satu berperasaan budak dan yang lain berperasaan ksatria.

Maka, bagi Darmokondo, persatuan bangsa Indonesia itu bisa tercipta jika ada satu perasaan. Yaitu perasaan menggunakan hak rakyat jajahan menuntut kemerdekaan.

Pandangan ini tentu berlawanan dengan tekad para pemuda lewat Sumpah Pemuda yang mereka buat di Kongres Pemuda Indonesia II. Setelah mengakui satu nusa dan satu bangsa, mereka menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.

M Tabrani selaku pencetus bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan menegaskan, bahwa pergerakan persatuan Indonesia akan cepat tercapai jika ada bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Ide persatuan Indonesia tidak segera menjalar ke berbagai pelosok karena adanya perbedaan bahasa. (jeha)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca