Mengenang Sosok HM Basyuni Imran, Sang Tokoh Pembaharu Sambas

Masjid Jami' Sambas
Dengarkan Artikel Ini

Pada awal masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Sekolah Sulthaniyah mampu memberikan prestasi. Sebab, murid-murid di sana rata-rata fasih berbahasa Arab. Banyak di antara mereka setelah lulus, meneruskan pendidikan di Yogyakarta, Jakarta dan Sumatra.

Majunya Sekolah Sulthaniyah memunculkan kekhawatiran Belanda. Sekolah tersebut bahkan pada akhirnya dibubarkan oleh pemerintah kolonial. Pada saat yang sama, rezim tersebut membiarkan tumbuhnya sekolah-sekolah Misi Zending di wilayah Sambas.

Usai Sekolah Sulthaniyah ditutup paksa oleh Belanda, Basyuni Imran bermusyawarah bersama pemuka negeri, termasuk Dr Sahrial dan Tuan Ali. Mereka berupaya menemukan alternatif terbaik bagi kelanjutan pendidikan para murid.

Musyawarah itu akhirnya memutuskan, Sulthaniyah dijadikan sebagai Schakel School. Bagaimanapun, corak pendidikan di sana tetap mempertahankan kekhasan agama Islam.

Schakel School (harfiah: Sekolah Peralihan) merupakan sekolah lanjutan untuk sekolah desa. Lama belajar di sana hingga lima tahun, dengan pengantar bahasa Belanda. Para tokoh itu juga menyepakati pembentukan sebuah perkumpulan yang diberi nama Tarbiyatul Islam. Basyuni Imran pun diamanahi sebagai ketuanya, dalam periode tahun 1936-1950.

Schakel School resmi berdiri pada 1 Juli 1956. Para pengajarnya merupakan tenaga pendidik ahli dan diploma pemerintah. Sistem pendidikan pun banyak mengalami perubahan dan kemajuan.

Pada 1942, Belanda terdepak dari bumi Nusantara dengan hadirnya bala tentara Nippon. Masuknya penjajahan Jepang mengubah banyak hal di Sambas. Schakel School pun terpaksa ditutup sementara.

Sesudah Indonesia merdeka, Schakel School alias Madrasah al-Sulthaniyah perlahan-lahan pulih. Selain pendidikan agama, sekolah ini juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum. Kala itu, jumlah siswa yang belajar mencapai 500 siswa.

HM Basyuni Imran terus bersemangat dalam memberikan pembinaan dan perhatian terhadap perkembangan sekolah ini. Setiap mendapatkan penghasilan, ia selalu menyisihkannya untuk membantu keperluan institusi pendidikan Islam modern tersebut.

Berkat adanya Madrasah al-Sulthaniyah, geliat pendidikan Islam di negeri Sambas semakin maju. Pada saat yang sama, masyarakat setempat pun kian tergugah untuk lebih taat dalam beragama. HM Basyuni Imran berperan besar dalam hal ini.

Sebelumnya, antusiasme umat Islam setempat untuk melaksanakan ibadah-ibadah jamaah cenderung minim. Misalnya, setiap hari Jumat selalu jumlah hadirin tidak sampai memenuhi masjid-masjid. Maka, Basyuni Imran tak lelah memberikan pencerahan kepada Muslimin. Di Masjid Agung Kesultanan Sambas, ia berlakukan aturan bahwa shalat Jumat tak akan didirikan jika jumlah jamaah kurang dari 40 orang. Lambat laun, sadarlah penduduk setempat bahwa kemakmuran masjid harus dimulai dari semangat diri mereka masing-masing untuk rutin shalat.

Kiprah sosok ini bukan hanya di Kalbar, tetapi juga skala nasional. Sejak 22 Oktober 1956, Basyuni Imran terpilih sebagai anggota Konstituante. Akrab pula dirinya dengan presiden RI, Sukarno. Bahkan, Bung Karno pernah memberikan hadiah kepadanya berupa peti berukir yang berisikan Alquran pada acara peringatan Nuzulul Qur’an di Istana Negara, Jakarta.

Pada tahun 1974, HM Basyuni Imran menderita sakit dan menjalani perawatan di RSU Sungai Jawi, Pontianak. Pada 26 Juli 1976, tokoh ini berpulang ke rahmatullah di kediamannya di Kota Pontianak.

Lautan manusia mengiringi pemakamannya sebagai bentuk penghormatan yang besar atas jasa-jasanya. Jenazah almarhum dikebumikan di Pemakaman Islam Kampung Dagang Timur, Sambas. (fq)


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca