Mengenal Sosok Maulana Syekh Abdurrahman bin Abdullah al-Khalidi, Kakek Proklamator Mohammad Hatta
Bukannya marah, Syekh Abdurrahman justru hanya tersenyum. Dengan ramah, ia menerima kedatangan mereka. Mulailah dipegang ayam-ayam itu. Lisannya tampak menggumamkan sesuatu. Namun, doa yang dirapalkan Syekh Abdurrahman sejatinya adalah munajat kepada Allah SWT, agar para pemuda tersebut diberikan hidayah.
Setelah didoakan, ayam-ayam itu diserahkan kepada mereka. Amatlah gembira orang-orang itu. Sesampainya di arena aduan, ayam yang telah “didoakan” itu ternyata menang.
Anak-anak muda ini semakin percaya dan hormat kepada Syekh Abdurrahman. Rasa respek itu menimbulkan kedekatan. Dan, lambat laun, hari demi hari perangai mereka berubah menjadi lebih baik. Kebiasaan sabung ayam ditinggalkannya sama sekali.
Untuk kepentingan syiar Islam, Syekh Abdurrahman mendirikan kompleks pendidikan tradisional Islam. Kalau di Jawa, lembaga demikian disebut sebagai pesantren. Namun, orang-orang Sumatra Barat menamakannya surau.
Pembangunan surau itu sangat didukung masyarakat Nagari Batuhampar. Mereka bergotong royong untuk mewujudkannya.
Rumah-rumah penduduk menjadi ramai karena diinapi santri Syekh Abdurrahman. Karena sudah tak muat di rumah penduduk, sang alim pun memperluas kompleks surau itu. Kawasan ini perlahan namun pasti menyerupai sebuah desa baru, yang akhirnya dinamakan Kampung Dagang (kampung para perantau; perantau penuntut ilmu).
Kampung Dagang memiliki fasilitas yakni surau gadang (masjid utama). Di depannya, terdapat kolam ikan. Kemudian, di sekitarnya sebuah rumah gadang didirikan. Pada sekeliling surau dan rumah gadang itu, ada surau-surau kecil yang umumnya bertingkat dua. Jumlahnya mencapai 30 unit.
Puluhan surau kecil itu menjadi tempat tinggal anak-anak muda yang menuntut ilmu pada Syekh Abdurrahman. Mereka disebut sebagai orang siak–sepadan dengan sebutan santri. Mereka tidak dimintai biaya. Menurut Mansur Malik, jumlah murid yang belajar pada Syekh Abdurrahman mencapai dua ribu orang.
Dalam buku Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III, Prof Azyumardi Azra menjelaskan, sistem yang dibangun Syekh Abdurrahman merupakan surau besar. Secara garis besar, metode pengajaran yang diterapkan di sana tak ubahnya kebanyakan pesantren di Jawa. (yan)
Baca juga :
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
- Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Kolaborasi Yaskat dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI di Bantargebang
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


