Masjid Agung Lamongan, Selain Sebagai Masjid Tertua, Juga Sebagai Destinasi Wisata Religi
Lebih jauh, Yunani mengungkapkan, peran masjid agung Lamongan bagi perkembangan Lamongan, khususnya umat Islam juga tidak bisa dianggap kecil. Pasalnya, tambah Yunani, Candra Sengkala berdirinya Kabupaten Lamongan diduga ada di Masjid Agung Lamongan ini, yaitu ‘masjid ambuko sucining manembah’ seperti yang pernah ditulis oleh Tim Penggali Sejarah Hari Jadi Lamongan.
“Saat ini sudah dilakukan perluasan tanah masjid di sebelah selatan hingga Jalan Basuki Rahmad serta dibuatkan pintu gerbang sebelah selatan itu,” imbuhnya.
Tidak banyak yang tahu pula, di dalam masjid ini ada 4 nisan makam yang merupakan makam aulia yang berada di sisi utara masjid. Empat nisan tersebut adalah nisan Kiai Mahmoed, nisan kosong yang rencananya untuk istri Kiai Mahmoed yang hingga kini belum diketahui, nisan Kiai Mastoer Asnawi dan nisan yang berisi peralatan pertukangan milik dari Mbah Yai Mahmoed.
“Kompleks makam yang aslinya ini dulu berada di luar ruangan, saat ini menjadi di dalam ruangan masjid Agung, termasuk menara masjid lama yang bangunannya menyerupai menara Madinah juga menjadi berada di dalam masjid,” paparnya.
Kepala Disparbud Lamongan Siti Rubikah membenarkan jika di areal Masjid Agung Lamongan ada sejumlah benda cagar budaya yang dilindungi dan sudah tercatat dalam SK Bupati Lamongan tentang benda cagar budaya dan juga dalam data BPCB. Benda cagar budaya yang berada di masjid dengan kapasitas 5600 jemaah tersebut, rinci Rubikah, di antaranya adalah Gentong air yang terbuat dari batu.
“Dan 2 buah alas yang terbuat dari batu atau biasa disebut batu pasujudan yang kini telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya,” kata Siti Rubikah.
Berada di pusat kota Lamongan, tepatnya di barat Alun-alun Lamongan di Jalan K.H Hasyim Asyari, Masjid Agung Lamongan menyimpan Mushaf Al-Qur’an berbahan kertas terbesar di dunia.
Yunani CN mengungkapkan Al-Qur’an raksasa berbahan kertas ini memiliki ukuran 2,4 meter x 1,5 meter dengan ketebalan kertas 17 cm. Al-Qur’an ini, menurut Yunani, adalah karya KH. Rusdi Aliuddin, pengasuh Madrasah Diniyah Nurul Iman, Desa Sidorejo, Kecamatan Deket.
“Mushaf Alquran ini dikerjakan selama kurang lebih 2 tahun,” papar Yunani.
Yunani merinci ukuran huruf yang ada pada Al-Qur’an memiliki tinggi sekitar 7 cm dan dibuat dengan kertas canson 300 gram yang diimpor dari Perancis dengan berat 350 kilogram. Tiga puluh juz dalam Al-Qur’an raksasa ini diukir dengan pena berbahan ranting bambu dan menghabiskan 10 liter tinta.
“Al-Qur’an ini sendiri dibuat berkat kerjasama antara Pemerintah Kabupaten Lamongan serta pengurus Masjid Agung Lamongan,” tambahnya.
Jika anda berkunjung ke masjid agung Lamongan ini, mushaf Al-Qur’an terbesar ini berada di sisi kanan masjid dan terlindungi dengan pagar kaca. Dari luar mushaf itu berada, terdapat keterangan nama penulis serta bahan-bahan yang digunakan untuk membuat Al-Qur’an ini.
“Al-Qur’an ini diresmikan pada 18 April 2019 lalu,” pungkasnya. (diq)
Baca juga :
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
- Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Kolaborasi Yaskat dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI di Bantargebang
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


