Masjid Agung Lamongan, Selain Sebagai Masjid Tertua, Juga Sebagai Destinasi Wisata Religi

Dengarkan Artikel Ini

Di dalam masjid ini juga terdapat mushaf Al-Qur’an terbesar yang berada di sisi kanan masjid. mushaf Al-Qur’an ini memiliki ukuran 240 x 155 sentimeter buah karya dari Ustaz Rusdi Aliuddin, pengasuh Madrasah Diniyah Nurul Iman, Desa Sidorejo, Kecamatan Deket. Mushaf Al-Qur’an yang memiliki ketebalan 17 cm itu memiliki berat sekitar 350 kg dan untuk melindunginya, mushaf Al-Qur’an raksasa itu disimpan dalam kotak kaca.

“Setiap hari mushaf Alquran besar itu selalu dibaca,” imbuhnya.

Masjid Agung Lamongan yang berada di jantung kota Lamongan ini menjadi satu dari sekian masjid di Lamongan yang kerap menjadi pilihan wisata religi di Lamongan. Lokasinya yang strategis dan keindahan arsitekturnya membuat kita kerasan untuk berlama-lama di masjid ini.

Di samping itu kini masjid agung terus berbenah. Kalau dulunya pusat masjid berada di empat tiang itu, kini diperluas ke barat masjid dengan pembangunan mimbar masjid serta teras masjid.

Masjid Agung Lamongan didirikan pada 1908 di atas tanah wakaf milik Mbah Yai Mahmoed. Ketika itu Lamongan dipimpin oleh seorang Adipati yang bernama Djojodinegoro.
Berdasarkan catatan sejarahnya, Masjid Agung Lamongan didirikan tahun 1908 didirikan oleh Mbah Yai Mahmoed yang mewakafkan tanahnya untuk didirikan masjid pada masa Lamongan dipimpin seorang adipati bernama Djojodinegoro.

“Ini adalah masjid tertua di Lamongan, didirikan pertama 1908 dengan status wakaf dari ulama mbahyai Mahmud, yang menurut sejarah adalah orang asli Bojonegoro, yang kemudian oleh Mbahyai Mahmoed diserahkan untuk dikelola ke KH Mastur Asnawi usai mukim selama 20 tahun mukim di Mekah,” lanjut Yunani.

Setelah dikelola oleh Mbah Yai Mastur, ungkap Yunani, Mbah Yai Mastur mengajak bersama para kiai, ulama dan tokoh masyarakat di Lamongan untuk gotong royong membangun masjid tersebut. Cikal bakal masjid yang menggunakan empat buah kayu jati yang dipergunakan sebagai soko guru masjid itu didatangkan dari berbagai daerah. Tiga buah kayu jati di antaranya didatangkan dari Asembagus, Situbondo dan 1 lagi berasal dari Demak, Jawa Tengah.

“Kayu jati tersebut diangkut dengan cikar atau pedati dan sudah disambut dengan meriah begitu tiba di perbatasan kota,” kisah Yunani.


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca