Masjid Agung Kota Tegal, Antara Kebesaran dan Bukti Sejarah Perjuangan Pangeran Diponegoro
Bagian belakang masjid ini belum pernah direnovasi dan masih mempertahankan kesan kuno hingga saat ini.
Masjid Agung Tegal memiliki dua lantai di bagian depannya dan mampu menampung lebih dari 4000 jamaah.
Lantai bawah digunakan sebagai ruang utama masjid, sedangkan lantai atasnya digunakan untuk berbagai kegiatan keislaman, seperti pengajian bagi kaum bapak dan kaum ibu setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu setelah Subuh.
Pengajian Al-Qur’an untuk para remaja biasanya diadakan setiap hari Rabu, Kamis, dan Sabtu malam. Sedangkan pengajian umum diselenggarakan setiap hari Senin setelah Subuh.
Sebagai masjid yang terletak di pusat kota Tegal, setiap kali waktu shalat fardu lima tiba, masjid ini selalu dipadati oleh jamaah yang ingin melaksanakan shalat berjamaah.
Terutama umat Islam di sekitar masjid yang dikenal sangat taat beragama, termasuk para pegawai Pemerintah Kota Tegal dan instansi pemerintah lainnya.
Menariknya, Masjid Agung ini berjarak tidak terlalu jauh dari pendopo Walikota Kota Tegal, sekitar 150 meter ke arah barat laut.
Panggilan azan dikumandangkan melalui pengeras suara yang dipasang di puncak menara masjid setiap kali waktu shalat tiba.
Namun, jika kita telusuri sejarah Masjid Agung Tegal dengan lebih dalam, terdapat satu keunikan tersendiri yang terjadi di sana.
Pada tahun 1980-an, ketika waktu berbuka puasa tiba selama bulan Ramadan, tradisi membakar petasan raksasa di halaman masjid menjadi momen yang ditunggu-tunggu.
Hal ini dilakukan sebagai tanda bahwa waktu magrib atau berbuka puasa telah tiba.
Namun, seiring dengan perkembangan zaman yang semakin canggih, tradisi membakar petasan raksasa yang terlihat mubazir tersebut akhirnya ditiadakan.
Sebagai gantinya, waktu berbuka puasa diumumkan melalui azan yang dikumandangkan melalui pengeras suara di menara masjid setinggi 32 meter, dan juga disiarkan melalui radio dan televisi yang saat ini semakin banyak.
Masjid Agung Tegal adalah bukti hidup perjuangan dan kesetiaan Pangeran Diponegoro dalam mempertahankan kebenaran.
Melalui keunikan sejarahnya dan keindahan arsitektur yang masih terpancar hingga saat ini, masjid ini tetap menjadi tempat ibadah yang bersejarah dan terhormat bagi umat Islam di Kota Tegal dan sekitarnya. (yud)
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


