Latar Berdirinya NU Tak Lepas dari Peristiwa Komite Hijaz, yang dikirimkan ke Saudi

Dengarkan Artikel Ini

“Beliau merupakan salah seorang dari sedikit ulama di abad ke-20 yang telah berhasil mencetak ribuan kiyai, yang kemudian menyebar ke berbagai pelosok tanah air,” katanya suatu hari.

Ada faktor penting yang melatarbelakangi dibentuknya Komite Hijaz. Saat itu perkembangan politik Islam secara makro tidak menguntungkan posisi kalangan Islam yang berpaham ‘mazhab’. Suasana politik di Timur Tengah, misalnya, menempatkan gerakan Wahabi di atas angin. Situasi di Indonesia saat itu juga kurang menguntungkan para ulama di pesantren yang secara teguh mempertahankan mazhab.

Ketika itu sering muncul pertentangan pendapat — terutama yang menyangkut masalah khilafiah — antara NU dan Muhammadiyah. Bahkan, pada saat kongres (IV dan V) umat Islam di Yogyakarta (21 sampai 25 Agustus 1925), dan di Bandung (5/2-1926), dalam mencari input untuk kongres Islam di Makkah, aspirasi kalangan pesantren samasekali tidak tertampung. Peran kalangan ‘modernis’ saat itu memang lebih besar.

Sebagai contoh adalah usul kalangan ulama pesantren yang disampaikan KH Wahab Hasbullah agar tradisi bermazhab tetap diberi kebebasan oleh penguasa Arab Saudi. Ternyata usul ini tidak masuk agenda kongres. Ulama pesantren juga mengusulkan agar beberapa makam penting di kota-kota suci Makkah dan Madinah, mulai dari makam Rasul sampai makam sahabat dan tempat-tempat bersejarah lainnya, dapat dipelihara dengan baik. Karena materi usulan itu tidak masuk dalam agenda kongres, maka didirikanlah Komite Hijaz.

Tujuannya untuk menyampaikan aspirasi para ulama kepada penguasa Arab Saudi. Dalam rapatnya di Surabaya yang dihadiri para tokoh generasi awal NU, diputuskan KH Bisri Syansuri dan KH Adnan (Kudus) yang akan berangkat menemui Raja Arab Saudi. Tapi, pemberangkatan delegasi itu tertunda karena waktu pelaksanaan ibadah haji berakhir.

Di kemudian hari berangkatlah Syekh Ahmad Chanaim Al-Misri ke Makkah untuk menyampaikan keputusan dari rekomendasi rapat Komite Hijaz kepada Raja Ibnu Suud. Usulan ini berhasil dan diterima penguasa Arab Saudi. Ibnu Suud bahkan memberikan jaminan bahwa ia akan berusaha memperbaiki pelayanan ibadah haji sejauh perbaikan itu tidak melanggar aturan Islam.

Sejak berada di Makkah, Kiai Hasyim sudah bertekad untuk mempersatukan ummat dan bersumpah memperjuangkan Islam. dalam buku Al ‘Alamah Muhammad Hasyim Asy’ari, pengarang Indonesia yang lama bermukim di Arab Saudi, Muhammad Asad Shahab, menulis bahwa sebelum kembali ke Indonesia, dalam bulan Ramadhan, Kiai Hasyim sempat bertemu dengan beberapa sahabatnya dari Afrika, Asia dan negara-negara Arab.

Di antara mereka terdapat Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan. Dalam pertemuan itu terjadi kesepakatan di antara mereka untuk mengangkat sumpah di depan multazam di Kabah. Mereka bertekad untuk berjuang di jalan Allah demi tegaknya agama Islam.

Mereka juga bertekad untuk mempersatukan umat Islam dalam kegiatan penyebaran ilmu pengetahuan serta pendalaman ilmu agama Islam. Sumpah di Multazam, yang diyakini merupakan tempat doa yang dikabulkan Allah, akhirnya menjadi kenyataan.

Kyai Hasyim, demikian pula Ali Jinnah dan beberapa pemuda Islam lainnya, sejak saat itu berjuang untuk membebaskan diri dari belenggu penjahan. Di tanah air, KH Hasyim, pada 1899, mendirikan pesantren Tebuireng. Di pesantren inilah ia menggembleng dan menghimpun pemuda-pemuda muslim yang tangguh dan mampu memelihara, melestarikan, mengamalkan, serta mengembangkan ajaran Islam ke seluruh pelosok Nusantara.

Pada masa revolusi fisik, ketika kota Surabaya dikuasai Belanda,utusan Bung Tomo — para lasykar pejuang — menginjakkan kakinya di pintu gerbang pesantren Tebuireng. Mereka langsung masuk ke kediaman KH Hasyim Mereka menghaturkan salam Bung Tomo agar Kiyai Hasyim segera mengungsi keluar Jombang. Tapi, ia tetap bertahan di pesantrennya. (jeha)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca