Kisah Tunggul Ametung Sang Adipati Tumapel

Dengarkan Artikel Ini

“Jika kau tak mau menerimanya, keluar dari istanaku sekarang juga! Tak masalah jika kau tak mau. Tapi ingat, aku akan mengerahkan seluruh pasukanku untuk membunuhmu sesaat setelah kau menyatakan menolak. Aku jamin hidupmu tak akan tenang!”

Bagai gemuruh guntur di siang hari, suara Kertajaya menggetarkan seisi istana.

Kebingungan semakin menggerogoti pikiran Tunggul Ametung. Ia mulai cemas. Keringat mulai membasahi tubuhnya. Suasana semakin mencekam.

Di depan istana perajurit kerajaan sudah mengepung rombongan Tunggul Ametung. Tak ada satu pun yang berucap. Apakah mereka menjadi sekutu atau akan saling bunuh?

Hati dan pikiran Tunggul Ametung kian bimbang. Ia harus segera memutuskan.

“Baiklah,” akhirnya Tunggul Ametung bersuara, “aku menerima tawaran itu.”

Senyum merekah di wajah Kertajaya, kali ini lebih lebat dari sebelumnya. Sinar terang seakan menerangi ruangan utama istana itu. Mereka yang berjaga di luar pun lega karena tak harus saling bunuh.

“Sebagai awal tanda kesetiaanmu, mulai sekarang panggil aku Yang Mulia Raja Kertajaya.”

Sambil menunduk Tunggul Ametung berkata “Baik, Yang Mulia Raja Kertajaya.”

Tunggul Ametung segera menyesuaikan diri. Ia menyadari betul situasinya sudah berbalik. Raja Ketajaya benar-benar telah menundukkaannya. Ia sekarang mengerti seperti apa wibawa raja jawa. Tunggul Ametung sadar, jika ia menolak atau berkhianat Raja Kertajaya akan menghancurkannya tanpa ampun. Mungkin ia akan mati dipenggal dan kepalanya akan diarak keliling alun-alun Daha. Ia harus tunduk pada kemauan Raja Kertajaya demi dirinya, pasukannya, dan masa depan cerah yang dijanjikan.

“Baiklah. Besok kau berangkat ke Tumapel bersama rombonganmu. Oh ya, apa kau membutuhkan sesuatu?”

Tunggul Ametung yang baru menyatakan tunduk pada Kertajaya harus menyampaikan permintaannya dengan sopan dan santun.

“Yang Mulia, saya butuh kuda, tombak, dan panah. Sertakan juga 100 perajurit untuk berjaga di perbatasan, siap siaga jika pasukan adipati Tumapel melarikan diri. Hanya untuk jaga-jaga.”

“Apakah itu cukup?”

“Sebetulnya belum cukup Yang Mulia. Saya juga butuh kuda dan beberapa puluh pemanah.”

“Baiklah, akan kusiapkan semuanya. Besok pagi sebelum matahari terbit kau harus sudah berangkat. Aku akan mengirim delik sandi untuk memantau situasi.”

“Terima kasih Yang Mulia.”

“Dan ingat, jangan berani berkhianat padaku. Pengkhianatan akan berakhir dengan kesengsaraan, kestiaan akan menghasilkan kejayaan. Camkan itu baik-baik!”

Keesokan harinya Tunggul Ametung berangkat ke Tumapel bersama gerombolannya. Ia harus berhasil dalam misi ini, bagaimana pun caranya. Ini adalah misi besar, pertarungan hidup dan mati.

Sementara itu di dalam istana Kertajaya tersenyum. Ia merasa berhasil memperdaya Tunggul Ametung. Jika Tunggul Ametung menang, ia akan memperoleh kesetiaan Tumapel. Jika gagal ia hanya kehilangan sedikit pasukannya. Jika adipati Tumapel menuduhnya, ia akan berdalih bahwa Tunggul Ametung telah merampok pasukannya dan memperdaya mereka. Lalu ia akan menyerang Tumapel dengan dalih adipati Tumapel telah menyebarkan fitnah. Semua sudah dalam genggaman Kertajaya, apa pun hasilnya.

Sesampainya di Tumpael pasukan Tunggul Ametung langsung menyerang istana kadipaten. Orang-orang lari ketakutan. Ia dan pasukannya mendapat perlawanan tangguh dari pasukan adipati. Perang itu berlangsung selama sehari penuh, tak behenti walau malam datang. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Darah mengucur melumuri jalanan. Tubuh tersayat, mayat yang tak lagi utuh, dan organ dalam berserakan seperti sampah. Orang-orang yang sekarat segera dieksekusi.

Tak ada yang menyangka perang itu akan berjalan cukup lama. Untungnya Tunggul Ametung dibantu pasukan Kediri. Jika tidak, ia pasti sudah tewas sejak awal.

Pada akhirnya perang itu dimenangkan oleh Tunggul Ametung. Adipati Tumapel tewas di tangannya. Pasukan adipati yang masih hidup diikat dan dikumpulkan di depan istana.

“Wahai pasukan adipati brengsek. Aku akan memberi tawaran pada kalian. Setia padaku atau kukirim kalian ke Daha sebagai budak Raja Kediri.”

“Kami tak sudi mengikutimu, perampok! Bagaimana mungkin kau bisa dibantu pasukan Kediri?” Salah satu dari mereka berbicara.

“Aku bukan lagi perampok. Aku adalah pimpinan elit pasukan Raja Kertajaya. Aku ke sini atas perintahnya.”

“Jadi kau sekarang…”

“Cukup! Sekarang tentukan pilihan kalian. Ikut denganku atau menjadi budak selamanya?!”

Beberapa dari mereka memilih mengikuti Tunggul Ametung. Sisanya dikirim ke Kediri sebagai budak. Beberapa dieksekusi mati.

Setelah berhasil menjalankan misinya, Tunggul Ametung diangkat menjadi adipati Tumapel yang baru. Ia segera mereformasi birokrasi dan menerapkan pajak yang tinggi. Siapa pun yang berani menentangnya akan ditangkap dan dibunuh. Berkat kesetiannya pada Raja Kertajaya, Tunggul Ametung memperoleh sumber daya militer yang melimpah. Dan sebagai tanda setianya pada Kediri ia rutin mengirimkan upeti ke Daha, bahkan jumlahnya terus menibgkat tiap tahun.

Makin lama Tunggul Ametung makin sewenang-wenang. Sebagaimana diceritakan di awal, ia sangat gemar mengoleksi perempuan cantik. Sifatnya itu membuat rakyat cemas. Orang tua yang memiliki anak perempuan memilih menyembunyikan anaknya di luar Tumapel.

Entah sudah banyak perempuan yang ia kumpulkan di istana. Anehnya tak satu pun dari mereka yang mampu menyentuh hati sang adipati baru itu. Perempuan-perempuan itu hanya dijadikan objek seksual semata.

Tunggul Ametung tak pernah merasakan jatuh cinta. Hingga suatu hari ia bertemu perempuan di desa Panawijyan. Perempuan itu bernama Ken Dedes.

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca