Kisah Sedih Pangeran Diponegoro Saat Lebaran Tiba

Dengarkan Artikel Ini

Diponegoro sempat memaki-maki De Kock yang tidak ramah lagi. Ia bahkan sempat memberi kode kepada panglimanya, Basah Martonegoro, tetapi Haji Isa Badarudin mengingatkannya.

Maka niat membunuh De Kock pun ia urungkan. Ia memilih menerima nasib.

Di hari-hari terakhir sebelum ia bersedia berangkat ke Magelang, ia berpindah-pindah di hutan hanya ditemani seorang punakawan. Oa sedang terserang malaria pula.

Orang-,orang dekatnya sudah banyak yang menyerah. Hal itu membuat Diponegoro merasa telah kehilangan pengikut.

Tapi ketika ia berangkat ke Magelang, para prngikutnya berbondong-bondong hatang untuk mengiring. Harga diri Diponegoro sebagai Sultan Ngabdulkamid terangkat kembali.

Tapi begitu De Kock berencana menangkapnya perasaannya terpuruk lagi. Ia merasa seperti emas yang mengambang terbawa arus air sungai.

Nelangsa amat hati Diponegoro di hari Lebaran kedua kali ini. Niat baik bersilaturahim kepada Do Kock yang lebih tua darinya berakhir tidak sesuai keinginannya.

Ia merasa tidak dihargai sama sekali. Pada pertemuan pertama dengan De Kock pada 8 Maret 1830, Diponegoro juga merasa tidak dihargai karena De Kock tidak menyapanya dengan panggilan sultan.

De Kock lalu mengirim Diponegoro ke Semarang hari itu juga menggunakan kereta kuda yang juga sudah disiapkan jauh hari. (jeha)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca