Kisah Rakyat Grobogan Iringi Kakek Sultan Agung Tantang Musuh Adipati Pajang

Dengarkan Artikel Ini

Orang-orang Selo menegaskan bahwa yang membuat surat adalah Adipati Pajang. Maka sudah selayaknya Aryo Penangsang yang menyeberang sungai untuk melawan Adipati Pajang.

“Bukan pahlawan namanya kalau hanya berhenti di pinggir sungai,” teriak orang-orang Selo meledek Adipati Jipang.

Semakin mendidihlah darah Aryo Penangsang. Ia pecut kudanya agar segera mencebur ke sungai untuk sampai di lokasi rakyat Grobogan dari Selo.

Namun, setibanya di seberang sungai, ia tak mendapti Adipati Pajang Joko Tingkir. Ia pun mengamuk karena merasa telah diperdaya.

Rakyat Grobogan pun makin bergemuruh soraknya kendati banyak yang terkena amukan Aryo Penangsang. Aryo Penangsang makin jumawa melihat banyak yang tewas kena amukannya.

Danang Sutowijoyo yang kelak menjadi raja Mataram dengan nama Panembahan Senopati segera menghadapi Adipati Jipang. Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Penjawi mengiringi Sutowijoyo yang membawa tombak Ki Plered.

Aryo Penangsang tak bersedia melawan Sutowijoyo. Ia menyuruhnya untuk menyingkir. Diremehkan, Kakek Sultan Agung itu pun marah. Ia lalu menyerang Aryo Penangsang mendadak.

Aryo Penangsang tidak mampu mengendalikan kudanya. Kuda betina sengaja dilepas sehingga membuat kuda Aryo Penangsang semakin tidak terkendali.

Sutowijoyo yang kelak menjadi kakek Sultan Agung itu berhasil menyarangkan tombaknya ke tubuh Aryo Jipang. Aryo Jipang tersungkur jatuh bersama kudanya.

Kabar kematian Aryo Penangsang segera dikirim ke Pajang. Joko Tingkir pun meminta Ki Ageng Pemanahan untuk melaporkannya kepada Ratu Kalinyamat. Maka, Ratu Kalinyamat pun menyudahi tapa telanjang yang ia lakukan. (mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca