Ki Juru Martani Kakek Sultan Agung Berjalan di Permukaan Laut

Dengarkan Artikel Ini

Karena itu, mereka memiliki doa menyambut kelahiran bayi. Mapawelingu la kiri awangu, mata lodu, mamai palehu mamai padangganggu. Artinya, yang datang dari kaki langit, matahari, yang datang untuk bertukar dan berdagang.

Bayi, bagi orang Sumba juga diibaratkan datang dari kaki langit. Mencapai daratan lewat nenu di atas permukaan laut.

Begitulah doa itu terucap ketika sirih-pinang sudah disajikan di ruang sudut kiri belakang rumah. Itulah tempat di rumah Sumba untuk perempuan yang hendak melahirkan.

Sang pendoa duduk di tiang persembahan meminta persalinan lancar. Lanjutan dari doa itu: Pakunduhuya na katiku tenamu, patanjiya na kamurimu. Artinya: Luruskanlah haluan perahumu dan luruskanlah arahmu.

Ketika Ki Juru Martani meminta kakek Sultan Agung pergi ke laut selatan, Ki Juru Martani memintanya untuk meluruskan niat. Tak boleh orang yang bercita-cita menjadi penguasa Tanah Jawa, enak-enakan tidur saat bertapa.

Saat, Ki Juru Martani datang di Lipuro, kakek Sultan Agung sedang tidur-tiduran di batu pertapaan. Dari aktivitas pertapaan inilah kakek SUltan AGung bisa berjalan di atas permukaan laut.

Saat tidur-tiduran itulah muncul bintang jatuh berupa cahaya yang menimpa kakek Sultan Agung. (mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca