Ketika Sultan Agung Mataram Merenungkan Pilihan ‘Sunat atau Mati’ untuk Tawanan

Dengarkan Artikel Ini

“Siapakah orang Belanda yang melarang saya berbuat demikian?” tanya Sultan Agung.

“Seorang Belanda yang tidak mau dikhitan,” jawab pejabat keraton yang menyampaikan protes Verhulst kepada Sultan Agung.

Lebih dari sebulan kemudian, Verhulst termasuk tawanan yang tertangkap ketika hendak melarikan diri pada 1632. Sejak 1631, Mataram memiliki tawanan orang-orang Belanda mencapai 83 orang.

Verhulst dan kawan-kawan mencoba melarikan diri ketika ia dipekerjakan di kepabeanan Trayem, di perbatasan Kedu-Yogyakarta sekarang. Setelah upaya pelariannya itu, Verhulst dan kawan-kawan kemudian dipasung di dalam tahanan.

Pada Januari 1635, pasung Verhulst dilepas. Bersama 10 tawanan lainnya ia dipekerjakan di kepabeanan Jogoboyo.

Di kepabeanan inilah kemudian ia sukses melarikan diri bersama kawan-kawannya pada pukul tiga dini hari, Mei 1636. Ia bisa mencapai Banten, menggunakan perahu lewat laut selatan.

Perahu mereka sempat terbalik, tetapi mereka bisa membalikkannya lagi. “Dari sebatang bambu dan bahan kain mereka membuat layar darurat dan melanjutkan perjalanan,” tulis De Graaf. (mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca