Ketika Pejabat Belanda Berkelakuan Buruk
Siapa Residen Bongos? “Menurut sumber-sumber Belanda ialah Baron de Salis yang menjadi residen Yogyakarta pada waktu itu,” tulis KRT Hardjonagoro dan kawan-kawan.
Baron de Salis juga datang di keraton untuk menemui Ratu Ageng pada malam hari. Tak ada yang berani menghalanginya.
Patih Danurejo menjadi abdi Belanda yang baik. Ia tak keberatan dengan hubungan De Salis dengan Ratu Ageng.
Apalagi panglima perang Tumenggung Wiroguno, tinggal menurut saja. Patih Danurejo dan Tumenggung Wiroguno pernah bermasalah dengan Diponegoro.
Yaitu pada saat Patih Danurejo menetapkan pengangkatan petugas pajak. Dalam proyek ini, Tumenggung Wiroguno yang menyediakan prajurit sebagai penarik pajaknya.
Banyak keluhan usng disampaikan kepada Fiponegoro. Diponegoro pun menyampaikan protes kepada Hamengkubuwono IV.
Danurejo rupanya memang pengabdi sejati Belanda. Danurejo pula yang mengerahkan anak buahnya untuk menjalankan proyek pelebaran jalan yang dibuat oleh residen.
Proyek jalan itu mengambil tanah Diponegoro. Danurejo tanpa membicarakannya dengan Diponegoro.
Kasus ini diselesaikan dengan senjata, sehingga membuat Diponegoro memilih jalan perang. Selama Perang Jawa berlangsung, Danurejo pun masih mengabdi kepada Belanda, menyetujui segala tindakan residen selingkuh dengan Ratu Ageng.
Selir Diponegoro ada juga yang nakal. Ia menjalin hubungan dengan Asisten Residen PFH Chevallier. (jeha)
Baca juga :
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
- Peringatan Hari Anak Nasional 2026: Kolaborasi Yaskat dan Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI di Bantargebang
- Hari Anak Nasional 2026: Rumah Tahfidz Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani Berkomitmen Membangun Generasi Qurani
- Selamat Hari Anak Nasional 2026
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


