Ketika Pangeran Diponegoro Tidak Jadi Membunuh Jenderal Belanda

Dengarkan Artikel Ini

Di kapal ini, Diponegoro menerima suguhan makan berupa kentang. Dalam perjalanan ke Manado, Diponegoro sempat menendang kaki Roto, karena Roto menyebut kentang itu sebagai kentang sabrang (kentang pengasingan), bukan kentang walanda (kentang belanda).

Setelah jadi, tugas pertama kapal ini adalah mengantarkan Van der Capelen, gubernur jenderal Hindia Belanda yang mengakhiri tugasnya pada 1826, pulang ke Belanda.

Tiba di Batavia, rombongan Residen Batavia menyambutnya. Sangat banyak kereta kuda yang datang mengakut para pejabat di Batavia itu.

Menyambut kedatangan Diponegoro itu, mereka berbaris memberi hortmat. Namun, tak ada tembakan kehormatan dari meriam-meriam.

Padahal, setiap menyambut pangeran-pangeran dari Jawa yang bertamu di Batavia, selalu ada tembakan kehormatan dari meriam. Gubernur Jenderal Van den Bosch juga tidak terlihat datang untuk menyambutnya.

Diponegoro pun bertanya-tanya, ke mana perginya Van den Bosch, sehingga tidak menyambut dirinya? Padahal ia sudah memberi tahu akan berangkat ke Makkah untuk beribadah haji.

“Lalu apa maunya?” tanya Diponegoro ingin tahu alasan Van den Bosch mengundangnya ke Batavia.

Diponegoro pun meminta Mayor De Stuers dan Kapten JJ Roefs yang mendampinginya dari Semarang untuk melaporkan kepada Van den Bosch bahwa dirinya sudah ada di Batavia.

Esok harinya, Mayor De Stuers dan Kapten JJ Roefs menemui Diponegoro tanpa disertai van den Bosch. Diponegoro tahu dari dua perwira Belanda itu bahwa Van den Bosch ada di Bogor. (mif)

Baca juga :


Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Berikan Komentar Anda

Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca