Ketika Bung Karno Memulangkan Istri Pertamanya, Putri HOS Cokroaminoto
Cinta itu juga masih ada ketika ia memulangkan Utari kepada orang tuanya.Demikian juga perasaan cinta Utari kepada Bung Karno, juga masih ada.
“Tapi Ibu, semuanya itu bukanlah cinta sebagai suami istri. Hanya cinta sebagai cintanya orang yang bersaudara. Saya belum mengerti suatu apa ketika orang minta saya untuk menjadi suaminya Utari, cuma saya bergirang karena saya dan Utari akan menjadi teman hidup selamanya,” kata Bung Karno.
Bung Karno dan Siti Utari menikah sebelum Bung karno bersekolah di Bandung. Sebelum memenuhi permintaan Tjokroaminoto, Bung Karno pulang ke Blitar, meminta pendapat dari orang tuanya.
Terserah kepada engkau.” Demikian jawaban dari ayah dan ibu Bung Karno. Bung Karno pun menikah pada usia 17 tahun. Ia kemudian harus pindah ke Bandung, karena diterima di THB.
Baru dua bulan di Bandung, ada kabar Tjokoraminoto ditangkap Belanda, Bung Karno pun keluar dari THB dan pulang ke Surabaya.
Ia menjadi kepala rumah tangga Tjokoaminoro dengan bekerja sebagai juru tulis di Staats Spoor. Gajinya 265 gulden per bulan.
Tetapi, enam bulan berikutnya, Bung Karno berselisih paham dengan ibu mertuanya, membuat Bung Karno kembali ke Bandung. Ia mendaftar lagi ke THB.
Selama di Bandung, pergaulan politiknya bertambah. Ia sering bertukar pikian dengan Tjipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Suwardi Surjaningrat. Wawasannya bertambah dari tiga orang sekuler itu.
Tapi hal itu justru membuat diriya berselisih dengan Tjokroaminoto, guru politik pertamanya, yang berpegang teguh pada Islam. Perselisihan kecil ini ternyata membawa pula akibat terhadap Siti Utari. Bung Karno lalu ceraikan Siti Utari, istri pertamanya.
“Tapi siapa yang bisa menduga dan mengira, setelah saya bertambah umur saya memperoleh tambah keyakinan bahwa anara saya dan Romo Tjokron terdapat perbedaan azas dan paham dalam politik masyarakat pergerakan Indonesia,” kata Bung Karno kepada sang ibu.
Ia telah memiliki keyakinan politik yang berbeda dengan keyakinan politik Tjokroaminoto. “Kemudian mendapat kesimpulan, tidaklah pantasn kalau dunia percaturan pergerakan politik ini nantinya akan menjadi berhadap-hadapan antara matu dan mertua. Tidak pantas, Ibu,” kata Bung Karno.
Maka, Bung Karno memperkirakan Siti Utari akan lebih berpihak kepada ayahnya kepada suaminya. “Andaikata ia memilih berpihak kepada saya sebagai suaminya, saya juga sangat menyesal karena dengan demikian ia akan tercatat sebagai anak yang tidka berbakti kepada orang tuanya,” kata Bung Karno.
Dengan keadaan rumah tangga seperti ini, Bung karno merasa tak bisa memiliki keluarga yang baik. “Harapan apakah yang akan kami peroleh dari anak-anak kami kemudian hari?
Oleh karena itu, Ibu, saya menjadi bingung dan gelisah dan senantiasa diliputi kegala kesangsian,” kata Bung Karno.
Jalan pemecahan yang didapat Bung Karno adalah: ia ceraikan anak Tjokroaminoto, Siti Utari, dengan baik-baik. Perpisahan itu itu diputuskan berdua dengan Utari.
“Ibu, tidak disangka, kiranya bukan saya saja yang berpendapat demikian. Kiranya Utari pun berpendapat demikian juga. Ia pun mengetahui bahwa di antara saya dan Utari ada perpisahan jurang,” kata Bung Karno.(kur)
Baca juga :
- RTO/RTQ Opung dan Yayasan Asa Bestari Mulia Rabbani: ‘Selamat Atas Diselenggarakannya SPU LPPTKA BKPRMI’
- LPPTKA BKPRMI Kabupaten Bekasi Gelar Silaturahmi Pembinaan Unit (SPU)
- Gaido Group dan Yayasan Masjid Pantai Nusantara Sepakati Kolaborasi Ekonomi Syariah, Dorong Lahirnya 1 Juta Pengusaha
- Ukhuwah Goals: Wujud Cinta yang Menghidupkan Hati Melalui Do’a
- Boikot FIFA Mengguncang Dunia! Spanyol dan Portugal Ancam Tinggalkan Gianni Infantino, Krisis Terbesar Jelang Piala Dunia?
Eksplorasi konten lain dari 1miliarsantri.net
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


